My Soul

My Soul
#11 Melindungimu



Bukannya buku kembali ke tempat semula, namun buku yang akan di kembalikan menggeser tumpukan buku lainnya hingga berjatuhan ke arah kepalanya.


Edrea nampak meringkuk memejamkan mata memegangi kepalanya sendiri seperti sudah memastikan kalu buku buku itu akan jatuh mengenai tubuhnya.


Ada perasaan yang bergerak di dalam hatinya, memaksa jelo yang sedari tadi hanya berdiri memperhatikan edrea berlari melindungi kepala edrea dengan tubuh jangkungnya.


Ke dua tangan jelo di letakkan di rak buku untuk menahan tubuhnya sendiri.


Sedangkan punggungnya di dorong ke arah kepala edrea berusaha melindungi kepalanya yang tingginya tak melebihi bahu jelo.


Jelo sedikit menundukkan kepala berusaha menahan tumpukan buku yang menghujani pundaknya.


 


Azel dan basti hanya saling lempar pandang, raut kekecewaan terlihat di wajah mereka.


Bukannya berhasil membuli malah menolong wali kelasnya itu.


"Hah, , payah!!!" gumam azel.


Edrea membuka matanya kembali, ketika merasakan buku buku yang berjatuhan tak mengenai tubuhnya. Namun buku buku itu sudah tergeletak di lantai.


Edrea merasa kaget ketika melihat ke dua tangan di sebelah kanan dan kirinya seperti mengepung tubuh edrea dari arah belakang.


Mngurung tubuhnya untuk tidak bergerak.


Merasa seseorang yang berdiri di belakangnya bertubuh tegap dan tinggi jika di lihat dari posisi tangannya yang berada segaris dengan tinggi badannya..


Senyum tipis menghiasi wajah edrea ketika wajah orang yang menolongnya itu melintas di benaknya.


Teo, guru olah raga.


Edrea mencoba bergerak mundur, namun tubuhnya terhenti karena tertahan tubuh tegap yang ada di belakangnya, suhu tubuhnya meningkat seketika.


Nafasnya berusaha menyapu rambut edrea dari atas.


Jelo nampak terkesima, tersenyum tipis ketika aroma sampho dari rambut edrea tercium di hidungnya, memberi kesan yang berbeda di dalam dadanya


Edrea mencium aroma tubuh maskulin dari arah belakang yang membuat bulu kuduk edrea sedikit merinding.


 


Merasa tidak asing dengan aromanya.


Kini senyum edrea menghilang, dia sudah menerka nerka siapa pemilik aroma tubuh yang sedang menggerayangi menelusup memaksa masuk ke dalam hidung.


Untuk memastikan dia menengadahkan kepala, terlihat wajah dari arah terbalik tepat berada di atasnya.


Edrea membalikkan tubuh dengan cepat dan mendorong jelo menjauh darinya.


"Sedang apa kamu di sini?" edrea berucap dengan suara tertahan karena melihat situasi mereka sedang berada di dalam perpustakaan.


Jelo membungkuk di depan edrea memaksa edrea untuk bergerak mundur seperti memberi jarak antara dirinya dan tubuh jelo.


Jelo mengambil buku yang berjatuhan di bawah lantai.


"Menolongmu??, , kamu pikir buat apa lagi?" jawabnya, jelo meraih tangan wali kelasnya itu dan meletakkan buku yang di ambilnya ke atas telapak tangan edrea.


"Aku masih menunggumu mengembalikan leontinku!" bisi jelo kemudian, sebelum pergi keluar dari perpustakaan.


Dada edrea berdebar, dia tidak percaya muridnya itu bergerak melewati batas.


"Katanya mau buly dia, kenapa malah membantunya??" basti meraih pundak jelo dengan aura wajah yang kecewa.


Jelo hanya diam, dia tidak menjawab pertanyaan basti.


Jelo merasa aura yang dibawa oleh edrea seperti membangunkan jiwanya yang telah tertidur lama, benar benar memaksa jelo selalu ingin dekat dengan wali kelasnya itu.


♡♡♡


Selesai jam kelas, jelo mengendarai motornya keluar dari sekolah.


 


Dia menghentikan laju motor di depan edrea yang sedang berdiri di halte tempat biasanya dia menunggu bus.


"Naiklah, aku akan mengantarmu pulang!" ucapnya tanpa ada rasa keraguan kepada perempuan yang notabennya adalah wali kelasnya.


Tubuh edrea memaku seketika, dia tidak percaya muridnya itu memberi tumpangan kepadanya.


"Heh, , sok baik, , aku tahu arahmu ini sebenarnya kemana" edrea mencoba mengalihkan pandangan.


"Betarti benar donk, , kalau kamu yang mengambil leontinku!" jelo terus berusaha memaksa edrea untuk mengaku.


Edrea sok sokan tidak mendengar parkataan jelo, dia terus berusaha mengalihkan pandangan ke arah lain.


"Cepat naik, atau aku akan menyeretmu secara paksa" jelo semakin menaikkan nada bicarannya.


"Sikap apa ini!!!, , berani beraninya berbicara tidak sopan di depan orang yang lebih tua"


Edrea tidak mengindahkan perintah muridnya itu, namun melihat beberapa orang di sekitarnya seperti sedang mengguncingkan dirinya, sehingga memaksa edrea untuk segera naik ke motor jelo.


"Memangnya kamu tahu, rumahku di mana! sok sokan pake nganter segala lagi" ucap edrea dengan nada yang tinggi berusaha agar jelo mendengar pecakapannya, karena suara knalpot begitu menggelegar di rongga telinga.


"Kalau kamu tidak memberi tahuku, bagaimana aku bisa tahu alamatmu!"


"Bisa nggak duduknya majuan lagi" ucap jelo sambil sesekali melihat wajah edrea dari arah sepion yang sengaja di alihkan ke arah wajah edrea.


Bukannya menuruti perintah jelo, edrea malah pura pura tidak mendengar perkataan jelo.


Jele menarik sedikit gasnya secara cepat, hingga memaksa tubuh edrea yang hampir terjatuh dengan cepat langsung memeluk tubuh jelo dari belakang.


Ada aura ketakutan di wajah edrea, dadanya serasa mau copot karena saking kagetnya.


Namun, nampak wajah jelo menyeringai menikmati rasa senang dari balik helemnya.


 


Di tengah perjalanan ada beberapa pengendara motor yang mencoba menghentikan motor jelo.


Motor besar yang mirip dengan motor yang di tunggangi jelo


Bahkan salah satu dari mereka kini menghadang motor jelo dari arah depan.


Memaksa jelo harus menghentikan laju motornya. Jelo turun dari motornya dan melepaskan helem.


Aura wajahnya berubah terlihat mengerikan kali ini.


Nampak pentolan geng motor berjalan ke arah jelo sambil memasang wajah garang.


"Kita harus tanding ulang balapan kemarin" suara menggelegar keluar dari mulut orang yang terlihat seperti atlit angkat besi.


Bahkan otot jelo tidak ada apa apanya di banding otot yang ada di lengan pentolan grub itu.


Penampakannya terlihat sangar di mata edrea.


"Sebenarnya kalian butuh uang berapa?" ucap jelo dengan nada santai namun kental akan penghinaan di dalamnya.


"Kamu sedang menghinaku?" ucap laki laki itu dengan nada penuh emosi.


"Bukannya memang uang yang kalian butuhkan, , aku akan memberikan dua kali lipat, tapi kalian harus menyingkir dari hadapanku" ucap jelo dengan tenang ke arah pentolan geng motor itu. Dia sedang tidak dalam moodnya untuk meladeni mereka.


Tanpa basa basi lelaki yang berdiri di hadapan jelo langsung melayangkan pukulannya ke arah pipi jelo, hingga nampak ujung bibirnya terlihat bercak darah kental seketika.


Warnanya yang kontras dengan warna kulit pipinya membuat bibir yang terluka itu terlihat sangat jelas dan memerah.


Jelo menyentuh ujung bibirnya sambil menikmati rasa nyeri di sebagian pipinya yang langsung menyulut emosi di dalam dirinya.


Edrea langsung berdiri di depan tubuh jelo seperti memberi sebuah perisai untuk tubuhnya.


Dengan berani membentangkan ke dua tanganya seolah memperingatkan kepada laki laki yang berpenampilan garang itu untuk tidak menyentuhnya kembali.


"Hentikan!!, , jangan berani memukul muridku, atau aku akan menuntut kalain" ucapnya dengan nada menantang.


Sekstika emosi jelo melenyap bersamaan dengan suara edrea yang terus nerocos ke arah laki laki itu.


Mendengar edrea sedang memasang badan untuk dirinya, jelo merasa geli, melihat tubuh mungil edrea mencoba berdiri di depannya seolah sedang berusaha menjadi penyelamat.


Bukanya marah, jelo malah terlihat sedang tersenyum geli ke arah edrea yang membelakanginya itu.


"Dari mana dia mendapatkan keberaniannya itu"


Nampak beberapa teman dari orang yang berpenampilan garang itu, turun dari motor semua dan berjalan mendekat ke arah mereka berdua, seperti sedang bersiap siap mengeroyok jelo yang hanya sendirian.


Edrea nampak sedikit bergeming, dia merasa ketakutan melihat beberapa tubuh berotot yang berdiri di depannya.


Edrea bergerak ke arah belakang sampai terpentok tubuh jelo yang berada di belakangnya.


Jelo semakin geli melihat tangan edrea yang tedinya penuh semangat kini seperti sedang memeluk dirinya sendiri karena ketakutan.


Tidak lama, Sebuah mobil hitam berhenti tepat di sebelah motor jelo.


Nampak beberapa orang turun dari mobilnya dengan setelan jas lengkap yang khas akan anak buah dari brahm ayahnya.


Mereka langsung menghadang kawanan geng motor yang berusaha mengeroyok tuannya itu.


Berdiri berjejer di depan jelo dan edrea.


"Silahkan tuan muda, anda bisa pergi, biar kami yang bereskan mereka" ucap salah satu anak buah ayahnya.


Bukannya senang, Jelo malah berdecak jengkel melihat anak buah ayahnya datang untuk membantunya.


Mereka selalu mengintil secara diam diam kemana pun jelo pergi.


Edrea nampak kebingungan melihat orang orang yang berpakaian lengkap membantu jelo menghadapi kawanan geng yang menghadang mereka.


Jelo menarik tangan edrea untuk segera naik kembali ke motornya dan membawanya pergi.


♡♡♡


 


Motor jelo nampak berhenti di depan klinik, terlihat dia duduk di sebelah edrea yang sedang membasahi kapas dengan alkohol.


 


"Siapa mereka? apa kamu seorang yang penting?,kenapa setiap sedang bersamamu ada orang yang selalu memanggilmu tuan muda??" ucapan edrea merujuk pada orang yang tadi menolong mereka.


Dia terus menghujani jelo dengan pertanyaan yang mengganggu pikirannya.