
Bruuughhh!!!
Tumpukan buku yang rapih di tangan edrea kini berserakan di lantai depan ruang praktik kimia.
Edrea baru saja mengisi jam mata pelajaran kimia, karena harus mengganti guru yang ijin tak bisa mengajar hari itu.
Sepasang kaki berhenti di dekat buku yang berserakan, seketika mengalihkan pandangan edrea sejenak.
Sepatu merk christian louboutin edisi terbatas nampak membungkus kaki itu dengan elegan.
Berpadu dengan warna celana abu abu ciri khas murid didiknya.
Edrea menyapu kaki seorang murid yang bediri di depannya perlahan naik ke atas untuk memastikan siapa pemilik sepasang kaki itu.
"Jelo?"
Senyum jelo melebar memenuhi wajahnya ke arah edrea.
Edrea berusaha mengabaikannya, dia lebih memilih kembali merapihkan buku buku yang berserakan satu persatu.
Jelo menekuk salah satu lututnya untuk menyangga badannya dan satu lututnya lagi untuk menyangga lengannya.
Senyum manisnya masih bertahan di wajah jelo, kini matanya juga meleket ke arah mata edrea yang terus berusaha menghindar.
"Sedang apa kamu di sini?" ucap edrea seolah tak mengharapkan kehadiran jelo.
"Membantumu" jelo masih terus melihat ke arah mata edrea yang kini mulai membalas tatapan matanya dengan malas.
"Bilang mau membantu, tapi cuma ngliatin aja?" ucap edrea setelah melihat jelo hanya diam dan melihat ke arahnya.
Jelo mengambil salah satu buku yang dekat dengan jankauannya.
Bersamaan dengan itu pula edrea mengambil buku yang telah di ambil dulu oleh jelo.
Dengan kuat edrea menarik buku yang sedang di pegang erat oleh jelo.
Namun jelo tak mau melepas buku yang di peganginya, seperti dia dengan sengaja melakukan hal itu.
"Lepas!" ucap edrea seketika meminta jelo untuk melepas buku yang masih di peganginya dengan erat.
"Mm" jelo hanya menggeleng sedikit.
Dia menarik buku yang di tangannya dengan cepat dan langsung mengambil alih tumpukan buku yang sudah rapih di lantai.
Jelo berdiri dan membawa buku itu.
"Aku akan membantumu membawa buku buku ini" ucap jelo sambil melangkahkan kakinya beranjak dari tempat itu.
Edrea hanya menghelas nafas panjang. Dia berjalan mengikuti jelo dari arah belakang.
"Soal kemarin, , aku" ucapannya terputus karena jelo memotong pembicaraannya.
"Soal mengusirku dari rumahmu?? tidak perlu minta maaf" jelo berucap dengan penuh rasa percaya diri seolah dia tahu apa yang akan di katakan edrea selanjutnya.
"Siapa yang mau minta maaf denganmu" ucap edrea berusaha menepis perkataan jelo.
Jelo masuk ke ruang guru meletakkan tumpukan buku di atas meja edrea.
Sementara edrea duduk di kursi dan mulai kembali konsentrasi dengan layar digital yang ada di mejanya.
Jelo tidak lantas pergi meninggalkan edrea di ruang guru, namun dia malah menarik kursi guru lain yang ada di sebelahnya membuka lebar ke dua kakinya mengarahkan tubuhnya ke arah edrea, menyeret kursi agar lebih dekat lagi dengan edrea, menyangga kepala dengan tangannya yang bertumpu pada sebuah meja di sampingnya dan membuat dirinya senyaman mungkin berasa di kursi itu.
Edrea nampak tidak nyaman ketika jelo duduk terlalu dekat dengannya, apa lagi setelah melihat mata jelo terus menatap dengan lekat ke arahnya.
"S, , sedang apa kamu di sini?, , jam istirahat sudah habis cepat kembali ke kelasmu!" ucap edrea berusaha menguasai perasaannya yang mulai gugub.
Namun jelo tak mengindahkan perintah dari edrea, dia hanya tersenyum menikmati sikap edrea yang terlihat salah tingkah.
"Soal ciuman malam itu"
Edreak sontak langsung menutup mulut jelo dengan tangannya. Celingukan memastikan kalau tak ada yang mendengar ucapan jelo.
Beruntungnya edrea, bahwa tak ada seorang pun yang berada di ruang guru karena mereka telah mengisi jam mata pelajaran yang belum lama di mulai.
Nafasnya sedikit terengah engah karena menahan rasa jengkel di dalam hatinya.
"Jangan membahas masalah itu disini!" suara edrea terdengar lirih sambil menarik tangannya kembali.
"Kenapa?, , aku hanya ingin minta maaf" nada bicara jelo lebih terdengar mengejek.
Edrea kembali mengalihkan pandangan matanya ke arah jelo, dia hanya diam dan tak mengucapkan sepatah kata pun.
Jelo merasa heran, kemarin kemarin edrea sempat terus mengejar dirinya untuk meminta maaf atas perbuatannya itu namun kali ini giliran dirinya meminta maaf, malah edrea tak menggubrisnya sama sekali.
"Kenapa? bukannya kamu ingin mendengar permintaan maaf dariku?" ucapnya memastikan.
Edrea menghela nafas panjang.
"Aku sudah melupakan hal itu!" sejenak edrea menghentikan pembicaraan, dan kembali melihat ke arah jelo yang masih melihat ke arahnya.
"Kenapa kamu masih disini??, kembali ke kelasmu sekarang! jam pelajaran selanjutnya sudah di mulai 15 menit yang lalu!!" ucap edrea sambil mengarahkan jam tangannya ke arah mata jelo.
Jelo mengalihkan pandangan ke arah jam yang melingkar di pergelangan tangan kiri edrea, ke dua alisnya kini terlihat menyatu karena sedang memastikan pergerakan jarum jam.
Setelahnya jelo terkekeh riang seketika.
"Kenapa kamu malah tertawa?" pandangan mata edrea mulai waspada.
Dia menarik kembali tangannya dan melihat ke arah jam yang membuat jelo terkekeh saat melihatnya.
Mata edrea sedikit membulat ketika jarum jamnya tidak bergerak sama sekali.
"Ya ampun, memalukan!!! jam ku mati lagi!"
Edrea berusaha menguasai rasa malunya. Kemudian melepas jam tangannya dan memasukkan ke dalam tas.
Pipinya merona karena malu.
dreettt, , dreettt !!! ponsel milik edrea bergetar.
Dilihatnya layar ponsel miliknya yang tengah menyala dan terlihat pembimbing sedang memanggil.
Wajah edrea nampak sedikit murung mendapat panggilan dari pembimbing anin.
Perasannya mulai di landa rasa gelisah.
"Halo?" suara edrea terdengar meragu menjawab panggilanbitu.
"Maaf bu edrea, anin pingsan dan kami membawanya ke klinik dekat sekolah" suara pembimbing anin terdengar dari ujung ponsel edrea.
Jelo masih duduk sambil mengawasi wajah edrea yang kini berubah menjadi pucat.
"Aku akan segera ke sana" edrea mematikan ponselnya.
Segera dia bergegas mengemasi barang barangnya dan beranjak dari kursi.
"Mau pergi kemana kamu?" ucap jelo berusaha menghentikan langkah edrea.
"Bukan urusanmu! seharusnya kamu pergi kembali ke kelasmu sekarang!" edrea bergerak cepat keluar dari ruang guru.
Namun jelo yang masih duduk di kursi menahan edrea dengan menarik tangannya kuat kuat.
Tubuh edrea yang kecil itu sontak terhuyung dan jatuh di pangkuan jelo.
Mata edrea terbelalak, menahan gunacangan yang menggemuruh di dalam dadanya.
"Apa yang sedang boach ini lakukan??"
Edrea berusaha bangun mencoba menjauhkan dirinya cepat cepat dari tubuh jelo.
Namun jelo menahannya dan melingkarkan ke dua lengannya ke pinggang edrea.
"Ya ampun!! dia semakin berani dan terang terangan, tidak bisa di biarkan!!"
Edrea terus berusaha melepaskan diri dari pelukan jelo.
Tapi apa daya tangan mungilnya itu tak bisa memberi pengaruh sedikit pun pada lengan jelo yang sangat kuat.
Sesekali matanya waspada mengitari ruang guru untuk memastikan kalau kalau ada guru yang tiba tiba melihat ke arah mereka dengan posisi yang tak lazimnya seorang guru dengan murid.
"Jelo lepas!, , apa kamu sudah gila!! jangan melebihi batasmu" ucap anin, nafasnya terdengar memburu karena harus menahan emosinya.
Jelo tidak bergeming, pelukannya malah semakin menguat hingga memaksa tubuh edrea semakin menempel ke tubuh jelo.
Hingga wajah mereka semakin dekat.
Kini nafasnya terdengar lebih kasar, matanya menyapu wajah jelo yang berada tepat di depannya.
"Batas??" jelo berucap dengan nada kembali bertanya.
"Apa yang kamu maksud adalah batas guru dan murid??" nada bicara jelo kini terdengar menuntut ke pada edrea yang masih berada di pangkuannya. Matanya masih mengawasi perubahan ekspresi edrea dari terkejut berubah menjadi jengkel seketika.
"Kalau yang kamu maksut benar batas yang itu, , , maka tidak akan beepengaruh kepadaku!" kini suara jelo terdengar seperti sedang mengintimidasi gurunya.
Kening edrea berkerut, matanya semakin tajam ke arahnya.