My Soul

My Soul
#16 Rival



"Aku tidak akan melepas pelukanmu, sebelum kamu menjawab pertanyaanku!" ucap jelo dengan nada tenang. Tatapan matanya kini semakin lekat ke arah wajah edrea.


Edrea menghela nafas panjang.


"Anin pingsan, sekarang dia ada di klinik dekat sekolahnya" ucap edrea sambil berusaha keras menguasai emosi yang meletup letup di dadanya.


Seketika jelo melepas pelukannya, kedua lengannya menelusuri pinggang kanan dan kiri edrea dengan capat, mengangkat setengah tubuhnya agar bangkit dari pangkuannya.


Tubuh edrea yang mungil dengan sangat mudah di angakat okeh jelo walau pun hanya dengan kekuatan lengan saja.


"Aku akan mengantarmu!" ucapnya di penuhi rasa kehawatiran yang teramat ketika mendengar kabar bahwa gadis kecinya itu sedang tidak dalam keadaan baik.


Jelo beranjak dari kursinya dan melangkah berjalan menuju ke arah pintu keluar.


"Aku bisa ke sana sendiri" ucap edrea seolah meminta jelo agar tidak ikut campur dan masuk dalam kehidupan keluarganya lagi.


Jelo memaku langkahnya, memutar tubuhnya menghadap ke arah edrea.


"Aku baru saja melepaskanmu!, , apa sekarang kamu memintaku lagi untuk memelukmu" ucapan jelo tersirat sebuah ancaman di dalamnya.


Sambil melangkah maju mendekati edrea.


"Jangan! jangan!" ucap edrea dengan cepat, sambil mengangkat ke dua tangannya menghadap ke arah jelo, seolah memberitahunya untuk jangan mendekat lagi.


"Ya ampun!, , apa yang sudah aku lakukan? bagaimana mungkin aku membiarkan bocah ini mengancamku begitu saja?"


"Aku hanya akan mengantarmu, , , dan akan melihatnya dari ke jauhan" ucap jelo berusaha meyakinkan edrea.


Sementata edrea masih melihat jelo dengan tatapan waspada seolah dia tidak percaya dengan ucapan jelo kali ini.


"Kamu bisa pegang kata kataku!" tambahnya untuk lebih meyakikan edrea.


Edrea berusaha mengendalikan rasa emosi yang masih menggemuruh di dalam hatinya.


Percuma dia berusaha keras menolak keinginan muridnya itu, yang ada malah membuang buang waktu untuk segera menemui anin.


"Kamu bukannya masih ada jam pelajaran" edrea melangkah keluar dari ruang guru.


Jelo pun mengikutinya dari arah belakang.


"Aku bisa mengikuti pelajaran dengan sangat baik walaupun satu bulan penuh tidak berangkat sekolah" ucapan jelo terdengar menjengkelkan, nada bicaranya seperti sedang menyombongkan diri.


"Apa kamu sedang menyombongkan dirimu??, , kalau kamu bisa melakukan itu, lantas kenapa kamu bisa tinggal di SMA sampai setua ini?" ucap edrea dengan nada mengejek. Nampak keningnya mulai berkeriput saat mengawasi ekspresi wajah jelo.


Jelo lebih memilih diam, terus berjalan menuju tempat parkir dan tak menjawab sepatah kata pun pertanyaan edrea.


Edrea tahu muridnya itu sedang menghindar dari pertanyaannya, melihat aura gelap mulai menyelingkupi wajah jelo, edrea lebih memilih diam tak menuntut jawaban dari muridnya itu.


Seolah banyak sekali masalah yang sedang di sembunyikannya


♡♡♡


 


Edrea berlari dari arah parkir menuju ruang di mana anin sedang di rawat.


 


Wajahnya muram setelah mendapati tubuh putrinya terbaring lemas di atas ranjang.


Edrea berusaha menahan rasa kekhawatiran yang taramat.


"Suhu badannya sempat tinggi tadi, saat saya sarankan untuk minum penurun panas, tiba tiba dia jatuh pingsan" ucap pembimbing berusaha memberi tahu keadaan putrinya kepada edrea.


Edrea hanya mengangguk pelan, menyentuh kening anin yang masih terasa sedikit panas.


Kondisi tubuh anin memang sedikit tidak baik semenjak tadi malam.


Paginya waktu mau berangkat sekolah juga dia menolak untuk sarapan, hanya minum susu dan itu cuma beberapa tegug saja.


"Tadi pagi badannya belum panas, dan dia juga menolak untuk sarapan" ucap edrea.


"Memang biasa terjadi hal demikian, ketika saatnya pergantian musim, tubuh anak seusianya juga memang menjadi lebih sensitif, tapi perawat bilang, anin baik baik saja hanya perlu istirahat yang cukup" ucapan pembimbing memberikan sedikit kelegaan di hati edrea.


"Terima kasih, dan maaf sudah membuat repot kalian" ucap edrea berusaha memberi hormat kepada pmbimbing anin.


"Tidak perlu, ini juga bentuk tanggung jawab kami selaku pembimbing anin, karena anda sudah ada di sini untuk menjaganya, maka saya pamit untuk kembali ke sekolah" edrea pun mengantar pembimbing keluar dari ruangan.


Dia sempat memaku tubuhnya ketika melihat jelo masih terduduk membungkuk dengan ke dua tangannya bertumpu pada ke dua pahanya.


Hati edrea di penuhi rasa kegelisahan yang teramat. Antara ingin memberi ijin kepada jelo untuk menemui putrinya atau menyuruhnya pergi.


Namun edrea mengurungkan niatnya, dia lebih memilih kembali masuk ke dalam untuk menemani anin.


Melihat sidikit gerakan di tubuh anin, edrea langsung bergerak mempercepat langkahnya.


"Anin" ucap edrea dengan nada penuh kekhawatiran.


"Om" anin hanya mengigau, dia masih menutup matanya dengan erat sampai terlihat kerutan di area keningnya seolah sedang bermimpi buruk.


"Om" anin kembali menyebut kata itu.


Edrea nampak gelisah, dia berusaha keras melawan ke egoisan di dalam hatinya yang terus mendesak untuk tidak memberi ijin kepada jelo menemui anaknya.


Edrea baru sadar, kehadiran jelo di hidup anin sudah berada di tingkat melebihi batas seorang teman.


Edrea beranjak dari kursi dan berjalan ke luar menemui jelo yang masih utuh duduk di ruang tunggu.


Jelo melihat bayangan kehadiran edrea berjalan mendekat ke arahnya dari ujung matanya.


Seketika dia mengalihkan pandangan ke arah edrea.


"Masuklah" ucap edrea penuh keraguan.


Jelo menatap ke arah edrea dengan tatapan menyelidik, di biarkan otaknya terus mencerna ucapan edrea.


"Anin ingin bertemu denganmu" tambahnya.


Seketika jelo langsung beranjak dari tempat duduknya.


"Kamu yakin?" ucap jelo berusaha memastikan.


"Cepatlah sebelum aku berubah fikiran" ucap edrea dengan nada menuntut.


Senyum manis mewarnai bibir jelo, dia segera melangkah masuk ke dalam ruang untuk menemui anin yang masih mengigau memanggil dirinya.


"Om" ucap anin setelah berhasil membuka matanya dan melihat jelo berada di sampingnya. Kedatangan jelo memberi aura kehangatan tersendiri di hati anin.


"Iya?, , om gantengmu sudah ada disini" ucap jelo dengan nada menenangkan. Senuyum manis juga mewarnai bibir jelo.


Anin segera bangkit dan mengubah posisi tidurnya menjadi duduk di atas ranjang.


"Anin sudah baikan?" ucap jelo seolah sedang memastikan kondisi anin yang tiba tiba langsung berubah drastis setelah melihatnya.


Senyum manis nampak mewarnai bibir mungilnya. Anin tidak percaya kalau jelo tengah duduk di sampingnya. Terlihat matanya melihat ke arah edrea yang sedang mengawasi dirinya.


Pandangan mata anin seolah sedang memastikan kepada mamahnya kalau dirinya boleh lagi menemui om gantengnya itu.


Edrea mengangguk pelan seperti sedang memberi ijin kepada anin untuk bertatap muka dengan jelo.


Rona kebahagiaan nampak di wajah anin, dia memeluk jelo dengan sangat erat, meluapkan kebahagian yang yang tak bertepi.


Jelo tersenyum sembari membalas pelukan anin yang seperti tak mau lepas dan semakin erat memeluk dirinya.


"Terima kasih, karena sudah menjadi teman anin dalam waktu yang sesingkat ini, sebelumnya dia sama sekali tidak pernah seperti ini kepada lelaki mana pun" ucap edrea.


Bukan karena edrea tidak mengijinkan lelaki yang mendekatinya dekat dengan putrinya itu, namun ketika mantan suaminya mendekati anin, anin pun tak menampakkan kebahagiaan yang dia perlihatkan ketika bersama dengan jelo.


"Apa itu artinya kamu mengijinkanku untuk menemuinya lagi?" nada ketidak percayaan kental di ucapan jelo.


"Mm" edrea hanya mengangguk pelan, seolah memastikan ucapan jelo.


Anin dan jelo hanya melempar pandang mereka tertawa riang layaknya seorang anak yang baru saja mendapatkan hadiah kesukaannya.


♡♡♡


Hari sudah semakin larut, angin malam juga sudah terasa sangat dingin malam itu.


Mereka bertiga berencana pergi meninggalakn klinik.


"Aku akan mengantar kalian pulang" ucap jelo dengan nada tenang.


"Tidak perlu!!" suara ronald yang baru saja datang langsung menciptakan keheningan di antara mereka.


Aura gelap terlihat menyelingkupi wajah jelo. Dia tidak suka dengan kehadiran mantan suami dari wanita yang kini mulai menduduki tahta tertinggi di hatinya.


Dia datang menjenguk putrinya, bagaimana pun juga pihak sekolah selalu memberi kabar kepada ke dua orang tua anin tentang ke adaannya, sekalipun mereka berdua telah berpisah.


Jelo menghela nafas panjang, berusaha menguasai dadanya yang mulai bergemuruh setelah melihat laki laki yang kini mungkin akan kembali menjadi rivalnya itu berdiri berusaha memperjelas jarak antara dirinya dengan edrea.


"Keadaannya sedang tidak baik, jadi tidak mungkin dia pulang naik motormu?, , yang ada nanti anin akan semakin memburuk kesehatannya" ronald berucap dengan nada tenang namun tersirat penuh penghinan di dalamnya.


Tatapan matanya terlihat sangat menjengkelkan seolah dia merasa menang kali ini dari jelo.


Edrea tidak bergeming, dia merasa masa bodo dengan siapa yang akan mengantar mereka pulang. Kalau pun mereka berdua terus bertengkar, edrea lebih memilih naik taxi untuk pulang kembali ke rumahnya.


Dia segera menutupi tubuh putrinya menggunakan jaket berwarna merah maroon seperti warna kesukaan anin.


"Kamu sudah merasa lebih baik?" ucap edrea dengan nada lembut.


"Mm" anin hanya mengangguk pelan, wajahnya nampak murung ketika ayahnya memaksa untuk mengantarnya pulang. Namun gadis kecil itu tahu, kalau itu bukan saatnya untuk merengek. Dia lebih baik diam dan mengikuti arahan mamahnya.


Ronald segera menggendong tubuh putri kecilnya dan membawanya keluar dari ruangan itu, tak lupa dia membuang tatapan sinis dan remeh ke arah jelo.


"Lebih baik kamu pulang saja, ini sudah malam" ucap edrea dengan lembut sambil berjalan meninggalkan jelo yang masih berdiri mematung.


Jelo tak pernah merasakan perasaan seperti ini, rasa sakit karena sebuah penolakan yang bahkan tak pernah dia terima dari perempuan lain, karena yang ada jelo lah yang selalu menolak kepada setiap perempuan yang berusaha mendekatinya.


Dia tidak pernah kencan, dia tidak pernah memiliki rasa suka, rasa ingin memiliki, rasa ingin selalu berada di dekat seseorang, bahkan rada ingin menggenggam dan menggandeng tangan perempuan, semua itu tak pernah terbesit di pikirannya.


Namun edrea membangkitkan hasratnya untuk melakukan semua itu.


Dan edrea lah cinta pertama bagi jelo.