
Jelo dengan ke dua temannya, Azel dan basti menghabiskan waktu istirahatnya dengan bermain basket.
"Serius kamu udah baikkan?" Azel berucap sambil mendribel bola basket.
"Iya, lagian sekarang aku juga sudah berdiri di depan kalian, , dari mananya coba yang belum menjelaskan kalau aku sudah baikkan sekarang?" ucap Jelo menyombongkan diri.
"Hilang donk julukan anak dewanya, kalau minum satu botol aja udah pingsan!" seketika tawa Basti dan Azel pecah di buatnya.
"Bangke kamu!!" umpat Jelo sambil merebut bola yang kini sudah berada di tangan Basti.
Mereka pun bermain 3x3 dengan teman yang lain.
Nampak senyum Jelo sangat terlihat manis ketika sedang berebut bola dengan teman temannya itu.
Membuat rentetan gadis gadis yang berada di barisan penonton berteriak menyebut namanya.
Umpan yang di berikan Basti di tangkapnya dengan sangat baik dan di lempar ke ring dari jarak yang cukup jauh, jika itu pertandingan resmi maka timnya akan mendapat tambahan angka 3 poin.
Berhasil memasukkan bola dia dan teman temannya tertawa karena merasa menang dari teman lainnya.
"Give me five brooo" ucap Basti saat berlari ke arah Jelo sambil mengangkat tangannya untuk menunggu balasan tos dari Jelo.
Dari arah penonton Zeline dan ke dua temannya nampak bersorak sorai memberi semangat kepada mereka bertiga.
Tubuh Jelo memaku seketika, dia melamun sambil membuang pandangannya ke arah lain.
Dari kejauhan Zeline mengawasi wajah Jelo dia penasaran dengan apa yang membuatnya melamun. Dia mengurutkan ke mana arah pandangan mata Jelo dan di sana dia melihat wali kelasnya tengah berjalan dengan guru olah raga.
Pandangan mata Zeline nampak menyelidik ke arah Jelo yang masih melihat ke arah Edrea dengan lekat.
Buugghh!!!
Lemparan bola dari basti mendarat tepat di kepala Jelo.
"Sialan!!" umpat Jelo seketika sambil memegangi kepalanya yang sedikit terasa puyeng karena saking kerasnya lemparan bola dari Basti.
"Siapa tadi yang lempar!!" ucap jelo sambil menunjuk ke arah teman temannya.
"Bukan aku!, , tapi Basti yang lempar" ucap Azel ketika Jelo sempat menunjuk ke arahnya.
Baru saja Jelo mengambil bola yang berhenti menggelinding tidak jauh dari kakinya, Basti telah berhasil kabur keluar dari lapangan basket.
"Awas kamu ya" teriak Jelo.
Azel tertawa saat melihat Jelo berlari terpontang panting mengejar Basti sambil mengangkat bolanya tinggi tinggi untuk mencari waktu yang tepat saat akan melempar bola itu ke tubuh temannya.
"Lagian orang lagi main basket juga, pake ngelamun!!, , bukan salahku donk" teriak basti sambil menghindari lemparan bola dari Jelo.
"Ntar malem nggak usah ikut nongkrong" teriak Jelo.
"Ah!! jangan gitu donk, , tega banget, masak cuma karena kena bola jadi segitu kejamnya di kau" Basti setengah merengek ke arah Jelo.
"Di kau di kau, , Apaan sih, nggak jelas kamu Bas" ucap Azel sambil berlari mengambil bola.
"Aku bales dulu, baru ntar malem kamu boleh ikut" ucap Jelo sambil menggerakkan tangannya, seolah memberi kode ke pada Basti untuk mendekat ke arahnya.
"Pasti mau jitak kepalaku nih!!, , awas loh jangan kenceng kenceng!" basti menurut dan berjalan mendekat ke arah Jelo sambil mengelus elus kepalanya sebelum sempat di jitak oleh Jelo.
Jelo menarik kerah Basti.
"Aku tidak tega melakukannya, , Zel, aku serahkan dia padamu" ucap Jelo seolah memberikan titah kepada azel agar mengambil alih untuk menjitak kepala Basti.
"Aku siap menerima titahmu paduka raja" ucap Azel sambil berlutut di depan Jelo dengan sikap tangan seperti seorang pengawal yang sedang menerima titah rajanya.
"Kalian berdua memang sudah gila!! awas aja kalo kenceng kenceng, , aku bales kamu" gumam Basti, dia mempersiapkan diri berlutut di hadapan Jelo seperti sudah siap akan mendapatkan hukuman berat.
"Ampuni hambamu yang hina ini paduka raja" ucapnya sambil menundukkan kepala. Dan dia sadar ternyata dirinya sama gilanya dengan ke dua temannya itu.
Azel tertawa menikmati saat saat akan menjitak kepala temannya.
Azel kembali berdiri mengambil ancang ancang.
"Hah, hah" Dia menghadapkan kepalan tangannya ke arah mulut yang sudah menganga sebelum mendaratkannya ke kepala Basti.
Seperti seorang anak kecil sedang bermain pesawat yang terbuat dari kertas, sebelum di lempar pasti di tiup terlebih dulu.
Itu juga yang di lakukan oleh Azel sebelum menjitak kepala Basti.
Seketika.
Tak!!!
Basti berdiri berloncat loncat kecil sambil mengusap usap kepalanya yang terasa panas setelah di jitak oleh Azel dengan kencang.
Sementara Jelo dan Azel tertawa menikmati pemandangan di depannya.
♡♡♡
Jelo berjalan mendekat ke arah meja di mana Edrea tengah sibuk dengan mengerjakan soal.
Dia ingin sekali melanjutkan kuliahnya untuk mendapat gelar yang lebih tinggi.
Tidak ada salahnya kalau dia berusaha ingin mendapatkan beasisiwa.
Kalau pun tanpa itu, dia juga pasti berusaha untuk tetap melanjutkan kuliahnya.
Edrea menghela nafas panjang menyadari Jelo berjalan mendekat ke arahnya.
Jelo tidak bergeming, dia memilih diam dan duduk di atas meja di samping laptop wali kelasnya itu.
Mata Edrea bergerak ke atas mengawasi wajah Jelo.
"Kamu tidak bisa ya, bertingkah sopan sedikit dengan gurumu?" nada bicara Edrea terdengar bijaksana.
"Guru?" Jelo mengulangi ucapan Edrea dengan nada bertanya.
"Kamu?" tambahnya mangacu pada Edrea.
Edrea masih mengawasi wajah Jelo dengan raut wajah yang datar.
"Siapa bilang kamu guruku??" Jelo berucap dengan nada santai namun terdengar sengit di telinga Edrea.
"Kamu itu orang kesayanganku" ucapnya dengan lambat sengaja agar Edrea bisa mendengarnya dengan jelas.
Darah Edrea mendidih, bukan karena marah mendengar ucapan Jelo namun dia merasa tersipu malu.
Pipinya merona, dan memanas tiba tiba.
"Ini di sekolah, jadi jaga bicaramu!" ucapnya dengan pelan.
"Kalau di luar sekolah?, berarti aku boleh berkata semauku?"tanyanya seketika.
Edrea menghela nafas panjang. Dia berusaha menetralkan rasa gugubnya sekaligus jengkel dengan kembali fokus ke layar digitalnya.
"Kenapa wajahmu merah?" Jelo memindai wajah Edrea.
"Sakit?" ucapnya sambil menyentuh pipi dan kening Edrea secara bergantian dengan tangannya.
Edrea semakin salah tingkah.
"Aku sedang pusing mengerjakan soal, jadi lebih baik kamu pergi dari sini dan jangan mengganggu lagi" Edrea nampak kehabisan akal menghadapi sikap Jelo.
Jelo tidak bergeming dia malah semakin berani menghadapi gurunya yang sedang marah itu.
"Ada syaratnya kalau ingin aku pergi dari sini!" ucap Jelo berusaha mengajukan permintaan pada Edrea.
Kening edrea berkerut, matanya mulai mengerucut menyelidik ke arah Jelo.
"Apa?" tanyanya dengan nada berat.
"Cium aku!" ucap jelo seketika tanpa ada rasa bersalah.
Dia mendorong kepalanya mendekat ke arah Edrea yang sedang duduk di kursinya.
"Benar benar sudah kehilangan akal sehatmu kamu ya!" Edrea mendorong kepala Jelo dengan tangannya agar menjauh dari hadapannya.
Jelo terkekeh melihat sikap Edrea yang salah tingkah.
Dia tahu Edrea tidak akan bisa memenuhi keinginannya.
Jelo meraih laptop milik Edrea dan mengarahkan layarnya mengahadap ke arahnya.
Dia mengamati soal soal yang ada di layar itu.
"Aku bantu kerjakan soalnya" ucap jelo seketika.
Dengan sigap dia menyelesaikan soal soal latihan milik Edrea.
Edrea mengerutkan dahinya, setengah tidak percaya murid laki laki yang di depannya itu terlihat sedang serius mengerjakan soalnya.
"Kamu yakin bisa mengerjakan soalnya" ucap edrea dengan ragu. Pasalnya dia yang lulus kuliah dengan IPK tinggi saja masih kebingungan mengerjakan soal itu.
Jelo tidak bergeming dia tetap fokus dengan leptopnya.
Beberapa saat kemudian.
"Sudah" ucapnya sambil menghadapkan layar laptop kembali ke arah Edrea.
Edrea melongo dibuatnya, dia benar benar tidak percaya muridnya yang terkenal bodoh itu bisa menjawab semua soal dengan baik, walaupun belum di cek satu persatu namun sepertinya dia bisa menyelesaikan soalnya dengan benar.
"Bagaimana bisa kamu" seketika Edrea menghentikan ucapannya saat mengingat kembali cerita dari Tara.
"Semua ini tidak gratis!" ucap Jelo, dia sepertisudah tahu kemana arah pembicaraan Edrea selanjutnya.
"Apa maksudnya?" Edrea nampak kebingungan.
Jelo turun dari meja dan berjalan berdiri di belakang kursi Edrea. Membungkuk mensejajarkan kepalanya dengan kepala Edrea.
"Kamu harus membayarku!" ucapnya seketika membuat Edrea terkejut karena Jelo terlalu dekat dengannya.
Edrea menengok ke arah Jelo hingga tak sengaja mencium pipinya yang berada dekat dengannya.
Edrea menutup mulutnya karena terkejut.
Jelo tersenyum, dia pun menengok ke arah wajah Edrea. Jelo menarik tangan Edrea yang menghalangi bibirnya.
Jelo langsung mengecup bibir Edrea tanpa persetujuannya.
Mata Edrea membulat penuh.
"Jelo" suara geraman perempuan seketika menggema di ruangan itu.
Jelo dan Edrea menengok ke arah suara itu berasal dan mendapati Zeline tangah berdiri di depan pintu melihat ke arah mereka dengan tatapan terkejut tidak percaya.