My Soul

My Soul
#32 Rencana



“Oh ya ampuuun! Tuhan kenapa kau titipkan anak ini kepadaku kalau tahu dia akan menjadi pemalas seperti ini??” Bibi Mai terus mengoceh. “Kalau tahu hidupku akan semakin menderita karenanya kenapa dulu kau tidak ambil sekalian nyawanya!!” Setelah puas meluapkan amarah dan kekesalannya, Bibi Mai meninggalkan Yukie di halaman begitu saja. Rambut acak-acakan serta kondisi seragam yang lusuh dan kotor menambah kesedihan Yukie berlipat. Setelah beberapa tahun harus bersembunyi mencuri waktu saat ingin belajar dan kini ketika berhasil memakai seragam impiannya berharap Bibi akan bangga, namun ternyata di luar dugaan Bibi Mai justru mematahkan semangatnya. Akan tetapi mimpi yang sudah Yukie bangun sejak dari kecil tak akan mudah hilang begitu saja.


Tertatih saat berjalan menuju ke kamarnya, menahan sakit yang menghujam punggung, kepala dan juga wajahnya. Saat mengingat Bibinya sempat menampar pipi beberapa kali, Yukie cepat-cepat pergi menuju ke kamar mandi untuk berkaca. “Jangan sampai, tamparannya meninggalkan bekas!” gumamnya, langkah cepat seakan tergesa-gesa ingin segera melihat kondisi wajahnya.


Wajahnya terpaku ketika kedua bola mata mendapati bayangan dirinya yang lusuh dan berantakan. Rambutnya nyaris seperti gembel pinggir jalan yang mungkin beberapa bulan tak terjamah sisir. Semua itu bisa dia atasi namun, Yukie sepertinya lupa kalau Bibinya tadi menampar tepat di pipi dengan sangat keras sampai mati rasa hingga tak sadar kalau ujung bibirnya mengeluarkan sedikit noda merah darah. “Tidak! Besok semua murid akan melihat luka ini! Tidak, besok pasti akan menghilang... ya! Bekas ini besok pasti akan menghilang.” Yukie berusaha menenangkan diri, walaupun tahu justru besok tubuh dan wajahnya akan semakin melebam.


Setelah selesai membersihkan diri, rambut masih dalam keadaan basah Yukie melangkah keluar dari kamar mandi. Menuju ke meja tempat di mana biasanya dia membaca dan mengerjakan tugas sekolah. Ada 2 laci di bawah meja namun setelah memeriksa keduanya, Yukie tak menemukan salep atau sejenisnya untuk lukanya agar tak membengkak esok hari.


Huufftt!!! Entah berapa kali Yukie menghela nafas hari ini, dia sadar bahwa ini kali pertama dia merasa banyak pikiran. Tak mau menghiraukan salep lagi, tubuhnya yang linu-linu tak sabar ingin segera dibaringkan di atas ranjang. Sambil menatap atap pikirannya mulai sibuk mencari solusi untuk menghadapi situasi besok di sekolah.


“Tenanglah, semuanya akan baik-baik saja besok!” gumamnya menyemangati diri sendiri.


Pop!! Notif dari ponselnya menandakan ada pemberitahuan dari media sekolah.


Pop!


Pop!


Pop! Pop! Pop! Pop!


Semula Yukie tak tertarik sama sekali, karena dia juga jarang membuka sosial media sekolah yang hanya di isi berita-berita tentang murid. Namun notif semakin ramai membuat Yukie penasaran. Dia langsung menoleh cepat menatap ponsel yang ada di samping kepalanya. Tak lupa Yukie juga mengubah posisi tubuhnya tengkurap agar lebih nyaman saat membaca kabar berita di ponselnya.


“Apa yang mereka bahas? Sampai-sampai notif tak mau berhenti?!” matanya sembab dan masih merah, berharap membaca kabar berita media sekolah bisa memberikan sedikit atmosfer kebahagiaan.


Ibu jarinya terus bergerak menggulir layar mencari sumber awal berita. Namun tak lama kemudian matanya menangkap sebuah gambar, di mana dua orang yang ada di foto tersebut sangat tak asing di matanya. “E... i, ini???” Yukie tak bisa berkata-kata.


Dia berusaha mencari akun yang pertama kali mengunggah foto tersebut. Kini di layarnya memperlihatkan dengan jelas akun pemilik foto tersebut. Kira yang telah mengunggah foto itu ke media sosial hingga membuat gempar seluruh warga sekolah. Yukie hampir tak percaya tapi setelah melihat foto itu lebih teliti, dia semakin yakin. Di tambah caption dalam foto tersebut. ‘Relly-relly love you’


Ya, foto itu adalah foto saat di pantai. Di mana Kira tanpa sengaja mencium pipi Daiki.


“Me... mereka? Benarkah mereka sekarang berkencan?” Yukie tak ingin mempercayai pikirannya, demi mencari kebenarannya dia berusaha mencari jawaban di kolom komentar. Akan tetapi yang tertulis di sana justru semakin membuat dirinya kesal.


‘Woooghh! Apa sekarang kalian bersama?’


‘Aku tidak percaya ini, setelah sekian lama akhirnya kalian berkencan?’


‘Tunggu! Tunggu! Tapi sepertinya yang ada di foto ini bukan Daisuke. Apa kalian berpikir sama denganku?’


‘Oh, kau benar juga, dilihat dari caranya berpakaian saja terlihat jelas itu pasti Daiki!’


‘Oh my good, ada apa ini? Aku pikir kau akan berkencan dengan Daisuke lol!!’


‘Sama aku pikir juga begitu, karena selama ini aku mengira Daiki selalu dekat dengan gadis satu kelas dengannya.’


‘Betul, aku juga sering melihat mereka bersama-sama saat jam istirahat’


Masih banyak sekali hampir ribuan chat dalam kurun 10 menit. Semua murid tak hanya perempuan bahkan lelaki pun dibuat terkejut. Mereka membicarakan foto itu sambil saling membalas chat satu sama lain.


Yukie kembali mengubah posisinya berbaring, tapi kali ini dia memejamkan mata. Perlahan bibirnya tersenyum yang tak lama kemudian berubah menjadi tawa lirih. Lebih tepatnya tertawa atas rasa kekecewaan yang sedang dia rasakan. Tak ada seorang pun baginya untuk sekedar berbagi cerita agar hatinya lebih tenang.


Peralahan matanya kembali terbuka, melirik bunga mawar yang dia temukan malam itu. Dalam keadaan kepala sedikit miring ke samping, air mata yang menggenang tak lagi dapat di tahan. Mereka menetes mengalir keluar bebas. “Bodoh! Bagaimana bisa beberapa saat yang lalu aku bahkan masih berharap dia akan datang menolongku seperti waktu lalu. Jelas-jelas kini dia sudah memiliki gadis lain yang perlu jaga!” bodohnya Yukie dia berpikir kalau Daiki akan mencemaskan dirinya.


Matanya yang bengkak semakin terasa berat membuat Yukie tak mampu menahannya lagi. “Oh... ya ampun! Ini sangat menyakitkan!” ocehnya sebelum benar-benar masuk ke alam mimpi.


***


Tidak mungkin baginya untuk absen sekolah, akhirnya Yukie memakai masker untuk menutupi luka di bagian bibir, dan memilih berangkat pagi-pagi agar tidak bertemu dengan Daisuke yang biasanya akan bertemu di halte depan setelah mengantar Emiko.


Beruntung setelah sampai di sekolah suasana belum terlalu ramai, Yukie langsung segera menuju ke bangkunya. Namun tak membutuhkan waktu lama situasi kelas kembali ramai seperti biasa. Untuk sesaat Yukie tak begitu mengingat bagaimana kelas sudah berubah bising karena kedatangan Daiki. Semua murid menghujaninya dengan pertanyaan karena postingan Kira semalam.


Di saat semua sibuk mengerumuni Daiki, lelaki itu justru tak peduli dan hanya berdiri memamerkan wajah dingin. Tak sepatah katapun keluar dari mulutnya menjawab pertanyaan mereka.


“Benarkah kau dan Kira berkencan?”


“Itu sudah pasti, tidak perlu di tanya.”


“Iya benar, kalian juga lihat sendiri ‘kan, di foto itu kalau Kira mencium pipinya. Mana mungkin Daiki membiarkan seorang gadis menciumnya kalau tidak ada hubungan di antara mereka. Benar tidak?”


Daiki benar-benar kesal mendengar ocehan mereka, di mana dia sendiri sebenarnya belum melihat foto yang dibicarakan. Tetapi mendengar pembahasan teman sekelasnya, Daiki ingat bahwa Kira sempat mengambil foto saat tak sengaja gadis itu mencium pipinya. Di situ dia teringat bahwa Kira telah berjanji padanya kalau dia akan menyimpan foto itu untuk pribadi.


“Ahh! Sial! Gadis itu benar-benar tidak bisa dipercaya!” gumamnya, membuat semua murid yang mengerumuninya mulai semakin penasaran.


Semua fokus dengan Daiki sementara di sisi lain Ginji yang baru saja datang tak terkejut dengan keramaian yang terjadi di kelasnya. Dengan sikap santai kedua tangan disimpan dalam saku celana dia lalu berinisiatif membantu Daiki agar terlepas dari mereka. “Woi woi woi woi!!! Kembali ke bangku kelian masing-masing! Sensei sedang menuju ke mari!”


Semua murid berhamburan bergerak cepat kembali ke bangku mereka masing-masing.


Ginji merasa bangga karena merasa menjadi penolong bagi Daiki, ketika dia dengan sombongnya menunggu ucapan terima kasih dari sahabatnya itu, Daiki justru diam berlalu menuju tempat duduknya. “Ya ampun, aku tidak percaya ini... hei! Dia bahkan tidak berterima kasih padaku!” umpatnya dengan nada pelan, karena Ginji tentu tak akan membiarkan Daiki mendengarnya.


Sebesar apa pun Daiki mencoba mengacuhkan Yukie, tapi dia tak bisa untuk tak melihat kearahnya. Dia pun sadar bahwa sejak dari tadi hanya Yukie yang mengacuhkan dirinya dan memilih diam duduk di bangku. Detik sebelum langkahnya sampai di bangkunya, bola matanya bergerak melirik ke Yukie. Langkahnya seketika terhenti disertai ekspresi raut wajah terkejut melihat sikap Yukie yang dirasa berbeda.


Yukie menyadari bahwa Daiki tengah berdiri di tepi meja dan sedang memperhatikan dirinya. Itu membuatnya gugup, berharap lelaki itu akan segera kembali ke mejanya. Yukie terus menunduk menyembunyikan wajahnya.


Timbul pertanyaan besar di hatinya, karena biasanya Yukie akan berusaha mencari cara untuk kembali dekat dengannya. Akan tetapi kali ini gadis itu justru diam tak sedikitpun melihat ke arah Daiki. Dia terlihat ragu saat ingin menyapa Yukie terlebih dulu, walaupun begitu Daiki berusaha keras menekan egonya dan memilih menyapa gadis itu terlebih dulu. “Kau,—“ ucapnya terputus, sayang sekali karena Ginji yang sudah berhasil duduk di sampingnya langsung menyapa Yukie.


“Kau baik-baik saja Yukie?” tanya Ginji setelah melihat gadis itu mengenakan masker.


“E... mmm aku, aku baik-baik saja. Ghm!! Hanya sedikit flu” jawabnya terbata, sesekali tampak bola matanya melirik rendah ke arah kaki Daiki.


“Kau yakin? Kau tidak ingin pergi ke ruang kesehatan?”


“Tidak, aku sudah minum obat. Aku rasa sebentar lagi juga baikan.” Bohong, ya Yukie sedang mencari alasan agar tak perlu melepas maskernya. Pandangannya kembali terarah ke kaki Daiki yang mulai bergerak menjauh ke bangkunya. ‘Oh... syukurlah!’ jantungnya hampir meledak. Jika hubungan di antara mereka tak ada masalah mungkin saat ini Daiki sudah memaksa Yukie membuka masker dan akan mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.


***


Selama pelajaran berlangsung Daiki terus memperhatikan Yukie. Dia merasa yakin kalau ada sesuatu yang tak beres dengan gadis itu. Tetapi seberapa kuat dia berusaha mencoba tak peduli tetap saja dia sendiri tak mampu mengendalikan diri.


Jam istirahat Yukie sengaja tak ingin keluar dari kelas terlebih dulu karena ingin menunggu Daiki pergi terlebih dulu. Tetapi sayangnya lelaki itu malah duduk santai bersedekap sembari bersandar di bangku.


Merasa sadar kalau Daiki tak akan pergi beristirahat akhirnya mau tak mau Yukie beranjak berdiri dari bangku dan bergegas keluar dari kelas. ‘Dia tidak mengikutiku, kan?’ batinnya, gelisah merasa khawatir kalau-kalau Daiki akan mengikuti dirinya.


Setidaknya setelah berhasil menjauh dari kelas, Yukie berhenti untuk memastikan. Dia menoleh ke belakang dan akhirnya bisa bernafas lega karena Daiki tak mengikuti dirinya. Huuuufftt!! Dia menarik nafas panjang melegakan dadanya. “Syukurlah, aku pikir dia akan mengikutiku!” Yukie kembali memutar tubuhnya namun betapa terkejutnya dia saat lelaki itu justru secara tiba-tiba sudah berdiri tepat di depannya. “Astaga!!”


Tak sepatah kata pun terucap dari bibirnya, Daiki hanya diam lalu meraih tangan Yukie menggenggamnya erat. Hal itu benar-benar membuat dada Yukie seketika terasa sesak dan hampir tak bisa bernafas. Tangan Daiki seakan mengalirkan arus panas ke tubuh Yukie melewati tangan mereka yang bersentuhan.


“Ikut denganku!” ucapnya seketika, membuat Yukie menurut tak melakukan perlawanan sama sekali. Entah ke mana Daiki membawanya pergi, yang pasti saat itu dia terus menggenggam tangan Yukie menuntunnya dengan pasti hingga tak ada keraguan di setiap langkahnya.