
Edrea nampak sangat antusias mendengar cerita dari laki laki yang kini sedang berucap dengan sangat elegan. Dia menceritakan secara mendetail di mulai dari Jelo masih kecil, seperti apa dan bagaimana seorang Jelo saat menghadapi masa kelamnya dulu.
Sesekali mata Edrea nampak membulat, keningnya berkerut ketika mendengar cerita Tentang Jelo yang menyayat nyayat hatinya.
Nafasnya memburu menahan emosi, setengah tidak percaya Jelo bisa menghadapi semuanya sendiri sampai saat ini.
"Saya menceritakan semua ini karena andalah satu satunya orang yang memberi penerangan di hidupnya, penawar racun yang sangat mematikan di hatinya, seperti air yang mengikis habis batu yang menyelingkupi tubuhnya. Anda juga yang mengubah hidup Tuan Muda menjadi lebih berwarna, setiap pulang dari sekolah wajahnya nampak berseri seri, , itu semua karena anda Edrea" Tara berucap meyakinkan Edrea yang masih melamun karena terhanyut dalam ceritanya.
Edrea mengerjap ngerjapkan matanya untuk menyadarkan dirinya dari lamunan yang membawanya terhanyut ke dalam cerita tentang masa kecil muridnya yang kelam itu.
Dia tidak habis fikir, sekejam itukah Ayahnya.
"Maka dari itu, jika memang anda tidak bisa menerimanya akan lebih baik untuk tidak menampakkan diri di hadapan Tuan Muda, agar tidak menambah rasa sakit di dalam hatinya ketika tidak bisa memiliki anda" sejenak tara berhenti berucap memberi waktu kepada Edrea untuk berfikir.
"Jangan menambah kesedihan di hatinya, baginya masa kelamnya sudah lebih dari cukup untuk memberi kepahitan di hidupnya, , jika anda menerima tawaran saya, saya akan menjamin hidup anda dan keluarga"
Edrea tidak bisa berfikir, otaknya kosong pikirannya buntu setelah mendengar ucapan Tara.
Sementara Edrea masih berfikir, Tara telah beranjak berdiri dari kursinya.
"Saya akan meninggalkan Tuan Muda ke pada anda, tolong di pikirkan baik baik" Tara menunduk untuk memberi salam kepada Edrea sebelum pergi meningglkannya.
♡♡♡
Edrea tertidur di bibir ranjang di samping Jelo yang masih belum sadarkan diri.
"Mah" suara serak keluar dari mulut Jelo saat mengigau.
Membuat Edrea terbangun dari tidur yang tak nyenyak itu.
Wajahnya nampak khawatir ketika melihat keringat dingin membanjiri kening Jelo.
Tangannya merangkup ke dua pipi Jelo dengan lembut.
"Jelo?" Edrea berusaha menyadarkan Jelo ketika nafasnya mulai memburu karena mimpi buruk.
"Mah, , jangan pergi!" Jelo terus memanggil mamahnya.
Seolah kenangan buruk tentang mamahnya kembali menghampiri, bahkan saat sedang tertidur pun ingatan buruk itu selalu menghantuinya.
Edrea memeluk erat tubuh Jelo, Seolah berusaha memberi ketenangan padanya.
Jelo membuka matanya seketika, nafasnya masih memburu bayang bayang akan wajah mamahnya berdiri di depannya sambil memeluknya dengan erat.
"Jangan pergi mah" ucapnya dengan membalas pelukan bayang bayang mamahnya.
"Aku tidak bisa melewati semuanya sendiri" Jelo bergumam dia menahan tangisnya di dalam dekapan perempuan yang kini duduk di sampingnya.
Kilauan bening nampak keluar dari ujung mata Edrea.
"Aku tidak akan meninggalkanmu" seketika tanpa sadar Edrea menjawab permintaan muridnya itu.
Wajah Jelo memaku mendengar suara perempuan yang ternyata bukan mamahnya menggema di rongga telinganya.
Dia melepas pelukannya pada perempuan itu.
"Kamu??" Jelo nampak terkejut melihat Edrea berdiri di sampingnya.
Dia membuang pandangan matanya ke seluruh ruangan.
Keningnya berkerut.
"Kenapa aku ada di sini?" ucapnya dengan nada terkejut.
Jelo mengalihkan pandangan matanya ke arah Edrea yang masih nampak terlihat bersedih dan penuh kehawatiran.
Tatapan mata Edrea yang tadinya melembut kini berubah mengawasi ke arah Jelo.
"Hanya melihatku saja dia sudah bisa merubah suasana hatinya secepat itu, padahal dia baru saja mimpi buruk tentang mamahnya??"
Benar apa kata Tara, bahwa keberadaan dirinya memang sangat berpangaruh pada Jelo. Edrea nampak tidak percaya melihat seberapa penting dirinya bagi Murid laki lakinya itu.
"Kamu baik baik saja?" ucapnya seketika.
Jelo masih terpana melihat keberadaan perempuan yang dicintinya setelah terbangun dari mimpi buruk. Hingga tak menghiraukan pertanyaan Edrea.
Biasanya dia akan terbangun dan melihat ruang kosong di dalam kamarnya setelah bermimpi buruk, dan hanya ada obat penghilang rasa sakit di kepalanya yang selalu menemaninya ketika bangun dan merasakan sakit yang teramat setelah bermimpi buruk.
Dan bahkan itu terjadi setelah kepergian mamahnya, berapa tahun dia mengalami kesakitan itu setiap malam.
Menikmati kesakitan sendiri di setiap malam.
Dan kini hanya dengan memandang wajah perempuan yang sederhana di depan matanya itu membuat rasa sakit di kepalanya menghilang seketika. Dan ajaibnya tanpa harus meminum obat yang biasa di konsumsinya.
Jelo tersenyum, sepertinya dia sudah tidak membutuhkan obat penghilang rasa sakit itu lagi.
Edrea melambai kan tangannya berusaha mengacau lamunan Jelo.
Namun jelo malah menarik tangannya dan menggenggnya dengan erat. Mengecup punggung tangan Edrea.
"Janji harus di tepati" ucapnya dengan nada menuntut ke pada Edrea.
Edrea nampak kebingungan.
"Memangnya aku berjanji apa denganmu?"
"Janji kalau kamu tidak akan pergi meninggalkanku" Jelo berucap dengan penuh harap ke pada Edrea.
Edrea menelan ludahnya dengan susah payah. Dia seolah lupa kalau dia baru saja mengatakan hal itu saat Jelo tengah bermimpi buruk.
"E, , itu, sebenarnya, , aku, aku" ucap Edrea terbata.
"Janji adalah hutang, jadi kamu harus menepati janjimu, atau akau akan menagihnya di neraka" ucap Jelo seketika membuat Edrea merinding.
Edrea langsung menutup mulut Jelo dengan tangannya.
"Jangan suka bicara ngawur!!"
Jelo malah mengecup telapak tangan Edrea dengan lembut.
Edrea terkejut dia langsung menarik tangannya kembali.
Edrea nampak salah tingkah melihat Jelo terus menatap ke arahnya.
"Bagaimana ini, baru kemarin aku berusaha keras menolaknya, kenapa sekrang hatiku bisa goyah seperti ini?? apa karena mendengar cerita dari Tara??, "
Edrea melihat ke arah Jelo dengan tatapan meragu.
"Seperti yang tara bilang, aku harus menerimanya atau harus pergi dari kehidupannya, , ya Tuhan apa tidak ada piluhan lain"
Edrea berusaha keras memikirkan perasaan muridnya itu, wajahnya nampak frustasi ketika harus menentukan pilihan.
Namun untuk saat ini Edrea membiarkan Jelo berada di sekitarnya karena dia yakin suatu saat pasti Jelo bisa melupakannya seiring waktu.
Sepertinya Edrea tidak belajar dari yang baru saja di alaminya, bahwa Jelo memang sangat bergantung pada dirinya.
Dengan Edrea membiarkan Jelo selalu berada di dekatnya malah akan membuat dirinya semakin jatuh ke dalamnya.