
Ini pertama kali bagi Yukie naik motor berboncengan dengan Daiki. Belum akur seperti semula tapi setidaknya dia sangat senang akhirnya bisa lagi dekat dengannya.
Tak beda jauh dengan Yukie yang tersipu malu, Daiki pun merasakan hal yang sama. Hanya saja masih terlalu besar egonya karena Daiki termasuk tipe orang yang tak mudah mengutarakan perasaannya. Lelaki seperti dia cenderung akan merasa bahwa dirinya memiliki hak penuh atas kepemilikan terhadap orang yang menurutnya masuk ke dalam kriteria.
Seperti halnya Yukie, meskipun mereka dekat baginya hubungan antara dirinya dan Daiki hanya berteman tapi berbeda dengan Daiki, dia merasa bahwa Yukie miliknya dan akan merasa cemburu apabila ada orang lain yang mendekatinya. Terlepas hubungan mereka hanya berteman tapi Daiki akan menjadi sangat posesif dengan Yukie.
Bruuummm!!
Mereka akhirnya sampai di depan rumah Yukie. Belum sempat turun dari motor mereka dikejutkan dengan Bibi Mai yang tiba-tiba muncul dari gang dengan membawa banyak barang belanjaan.
“Astaga!” jantungnya hampir melompat saat melihat wajah Daiki. Bibi Mai merasa canggung dan ketakutan, tapi saat melihat Daiki memberinya kode agar jangan menghiraukan keberadaan dirinya, dia pun segera masuk ke dalam rumah.
Melihat sikap Bibinya yang terbilang cukup aneh, Yukie mulai mengamati mereka berdua secara bergantian. Apa lagi sudah beberapa kali ini dia memergoki Bibinya pulang dengan membawa banyak barang dan lagi, dia tak pernah mempermasalahkan soal uang. Akhirnya dia turun dari motor dan mendekati Bibinya bermaksud ingin membantu membawakan barang belanjaannya.”Emm, Bi aku akan membantumu membawa barang-barang ini masuk ke dalam.”
“Ah! Tidak perlu... kau lebih baik temani Tuan Muda ini. Tidak apa-apa tenang saja Bibi bisa membawa sendiri!” cepat-cepat dia masuk ke dalam ingin segera menghindar dari Daiki.
Melihat tingkah laku aneh Bibinya saat bertemu Daiki, Yukie mencoba meyakinkan dirinya bahwa itu mungkin hanya perasaannya saja tapi setelah mengalihkan pandangannya ke Daiki, dia sempat melihat tatapan aneh yang ditujukan pada Bibinya.
“Hari itu... apa yang kau bicarakan pada Bibiku sebenarnya?” masih tak mau menyerah dan ingin tahu yang sebenarnya, Yukie terus mendesak Daiki agar menceritakan apa yang terjadi.
“Tidak ada!” Daiki menghela nafas panjang, lalu meraih tangan Yukie menariknya agar lebih mendekat.
Keputusan Daiki menarik tubuh Yukie agar lebih dekat dengan dirinya yang duduk di motor memang benar, gadis itu seketika lupa dengan pertanyaan yang sempat dia lontarkan. Kini Yukie tengah fokus dengan wajah Daiki, lelaki itu memang sangat tampan siapa pun tidak akan bisa menolak kharismanya.
Daiki sedang sibuk membantu membuka helm yang dikenakan Yukie, sempat terlihat senyum tipis di bibirnya saat menyadari Yukie memandangi wajahnya meskipun Daiki tak mengalihkan pandangan matanya ke mata Yukie tapi dia tahu benar gadis itu sedang terpana dengan wajahnya. “Kau akan jatuh cinta padaku!” ucapnya seketika, membuat Yukie terkejut dan tersadar dari lamunan.
“Apa?!!”
“Kalau kau melihatku seperti itu... aku takut kau akan jatuh cinta padaku!” tegasnya. Bibirnya mengembang telah merasa berhasil menggoda Yukie hingga membuat pipinya merona. Tetapi saat keheningan membentang di antara mereka dan Daiki menatap wajah Yukie yang terdiam, senyum itu perlahan memudar.
Wajah gadis itu seakan mengartikan sesuatu yang membuatnya terkejut dan ingin menepis apa yang ada di pikirannya.
‘Kau akan jatuh cinta padaku!’ ucapan Daiki terngiang di telinganya. ‘Jatuh cinta?’ Yukie berusaha mencerna dua kata itu dan mengaitkannya dengan kejadian serta apa yang dia rasakan akhir-akhir dengan perasaannya.
Bayangan saat dirinya sedang bersama dengan Daiki, saat-saat di mana mereka menghabiskan waktu bersama hingga akhirnya Yukie merasakan hal yang berbeda ketika Daiki memilih menjauh dan mendekati Kira semua itu seketika muncul dalam ingatannya.
“Lupakan! Aku hanya bercanda!” sahut Daiki setelah merasa ada sesuatu yang aneh dengan Yukie. Sempat merasa bahwa gadis itu tersinggung dengan ucapannya, maka Daiki memilih segera pergi. “Masuklah!” perintahnya. Setelah memakai helm Daiki menyalakan mesin motornya. Tapi seketika dia dikejutkan dengan Yukie yang tiba-tiba meraih lengannya.
Pandangannya langsung tertuju ke tangan Yukie, kemudian perlahan Daiki beralih menatap wajahnya. “Kenapa?”
“Jatuh cinta!” kata itu terucap dari mulut Yukie disertai raut wajah polos bercampur kebingungan.
“Kau bilang aku akan jatuh cinta padamu kalau aku menatapmu, mungkinkah itu bisa terjadi?”
Daiki terkekeh mendengar pertanyaan konyol darinya. “Astaga! Kau belum pernah pacaran? Kau belum pernah menyukai seseorang? Kau belum pernah jatuh cin–,” ucapnya terputus, menyadari wajahnya yang begitu polos. Sepertinya dugaan Daiki benar bahwa gadis itu belum pernah pacaran ataupun jatuh cinta dan semacamnya.
“Ba.bagaimana cara memastikannya?” ucapnya terbata, Yukie sangat antusias ingin mengetahui yang dia rasakan kepada Daiki itu apakah karena dia jatuh cinta atau karena hubungan baik di antara mereka.
Hahahaha!! Daiki tertawa puas bisa-bisanya dia mengira bahwa selama ini Yukie telah jatuh cinta dengan Kakaknya, sementara gadis itu tak tahu dengan perasaannya sendiri. ‘Apa yang telah aku lakukan pada gadis ini? Aku bahkan telah menyakitinya karena alasan yang belum pasti!’ Daiki menyesali perbuatannya karena telah melukai Yukie, meskipun begitu dia sangat senang mengetahui setidaknya bahwa gadis itu sepertinya juga belum pasti jatuh cinta dengan Kakaknya. “Kau akan tahu jawabannya!”
“He? Bagaimana? Bagaimana caranya? Kau... akan membantuku?” Yukie terlihat begitu polos dan sangat berharap Daiki akan mengajarinya. Kenyataannya ini pertama kali dia dekat dengan teman laki-laki dalam hidupnya.
Daiki memberikan helm kepada Yukie kemudian berucap. “Simpan helm ini, sepertinya kau akan sering memakainya nanti.”
“Ha? Tapi Daiki... kau akan membantuku?” Yukie sangat antusias ingin mengetahui apa yang sedang dia rasakan saat ini.
Daiki hanya tersenyum bahkan sudah menyalakan mesin motornya dan bersiap pergi. Tapi sebelum meninggalkannya dia sempat berkata. “Hm! Kita akan lebih sering menghabiskan waktu bersama untuk mencari jawaban apa yang sedang kau rasakan! Aku pergi!”
Bruuuuuummmm!! Motornya melesat dengan cepat begitu saja, sementara Yukie masih berdiri mematung di tempat semula.
Deg! Deg! Deg!
Dadanya berdebar kencang mendengar bahwa mereka akan menghabiskan waktu bersama. ‘Bagaimana bisa dadaku berdebar kencang seperti ini hanya karena mendengar dia berkata seperti itu?’
***
“Kita akan pergi ke mana?” Daiki dibuat bingung saat Daisuke menculik dirinya dan membawa pergi begitu saja entah ke mana.
“Kau lupa? Bukankah kau sudah janji mengantarku pergi mencari gaun untuk Yukie?” Daisuke kembali fokus ke jalan setelah beberapa saat menatap wajah adiknya ketika berucap.
Daiki duduk di kursi samping, sempat terpaku sesaat menatap Daisuke dengan ekspresi wajah tak terbaca. ‘Mencari gaun untuk Yukie? Sepertinya aku lupa pernah berjanji!’
***
Daisuke sibuk mengitari butik satu lantai itu, meskipun begitu tempat itu sangat luas dan banyak berbagai pilihan gaun. Dia hanya perlu memilih tapi sudah hampir 2jam lebih dia tak menemukan yang sesuai dengan seleranya.
Sementara Daiki terlihat sibuk dengan ponselnya, entah kepada siapa dia mengirim pesan yang baru saja di ketik tapi melihat dari raut wajahnya yang serius memperlihatkan seolah dia sedang memiliki urusan penting. Dia baru sadar terlalu lama menunggu Kakaknya yang tak kunjung selesai. “Menyebalkan! Ayolah sampai kapan kau akan menghabiskan waktuku di sini?”
“Aku belum menemukan satu pun!”