
Tara berjalan ke arah ruang kerja Brahm dia membuka pintu dan masuk kedalam menuju ke sebuah almari.
Dia membukanya, terdapat sebuah kotak besi dengan tombol tombol angka di bagian depannya.
Tara menekan nomor itu secara acak, setelahnya kotak besi itu membuka sedikit dengan sendirinya.
Tangannya bergerak membuka kotak besi itu dan mengambil sebuah berkas dari dalamnya.
Brahm memang memberikan mandat kepada Tara untuk mengurus semuanya. Kepercayaannya kepada Tara tak pernah berubah meskipun dia tahu di belakangnya Tara selalu memihak kepada Putranya.
Entah sengaja dia lakukan untuk memata matai anaknya atau memang terlanjur padanya.
Tangan Tara memegang berkas berwarna hitam itu dan memakunya di udara.
Tatapan matanya menajam.
"Apa yang mengubah pikiran Tuan Muda hingga dia mau menerima permintaan Tuan Brahm untuk menduduki kursi direktur di perusahaannya?? apa ini karena perempuan itu?"
Kening Tara berkerut. Dia memikirkan langkah apa selanjutnya yang akan dia ambil ketika Brahm bertanya soal putranya yang mau menandatangani berkas serah terima jabatannya nanti.
Tidak mungkin dia menyebut nama Edrea di depannya.
Tara menggeleng pelan untuk mengembalikan pikirannya yang meracau.
Tangannya kembali menutup kotak besi itu dan segera pergi menemui Jelo di kamarnya.
Jelo tengah bersiap siap, mengancingkan ujung lengan bajunya sebelum memakai setelan jas berwarna silver muda yang membalut tubuh atletisnya dengan sangat menawan.
Rambut yang biasa menutupi keningnya kini di tata rapih ke belakang dengan sedikit bantuan pomade.
Mendengar suara ketukan dia mengalihkan pandangannya ke arah pintu, setelahnya dia menyuruh Tara masuk ke dalam untuk menemuinya.
"Maaf Tuan Muda, semuanya sudah siap" Tara memberikan map berwarna hitam itu ke pada Jelo. Tatapan matanya terlihat meragu saat melihat ke arah Jelo yang kini terlihat sangat tampan.
Senyum tipis pun menghiasi bibirnya.
Jelo yang tengah sibuk membaca berkas di tangannya itu seakan tahu kalau Tara sedang melihat ke arahnya.
"Kenapa melihatku seperti itu?" ucapnya sambil sibuk membuka lembaran berkas di tangannya.
Tara berdehem untuk untuk menetralkan perasaannya.
"Hari ini Tuan Muda terlihat sangat tampan" Terlihat dia sangat berusaha keras menahan senyumnya agar tak menarik perhatian Jelo.
Bola matanya bergerak ke arah laki laki yang sedang menutupi senyumnya itu, namun seketika dia menarik tangannya kembali.
Dan memasang kembali wajahnya yang serius.
Jelo memegang berkas itu dengan satu tangannya, satunya lagi disimpannya ke dalam saku celana.
Tatapan matanya kini terlihat lebih santai saat menatap ke arah laki laki yang terheran heran melihat ketampanannya.
"Bukankah aku memang sudah tampan dari dulu??" ucapnya kemudian dengan nada menyombong yang kemudian menaikkan ke dua alisnya secara cepat.
Tara terkekeh. Sementara dia sedang berusaha menahan tawanya, Jelo menyodorkan kembali berkas itu ke arahnya dan berjalan menuju ke arah pintu.
"Kita ke kantor!" ucapnya dengan tegas.
♡♡♡
Sebuah mobil berhenti di depan Edrea yang sedang berdiri di halte untuk menunggu kedatangan bus.
Mata Edrea mengawasi mobil yang terlihat tak asing baginya.
Benar saja mantan Suaminya keluar dari mobil itu dan berjalan ke arahnya.
Dia hanya menghela nafas panjang seolah sudah lelah terlebih dulu sebelum berbicara dengan laki laki itu.
"Hei" sapa Ronald dengan senyum mengembang di pipinya.
Edrea sempat membuang pandangannya ke arah lain sebelum kembali menatap ke arah Ronald yang kini sudah berdiri di depannya.
"Kenapa kamu di sini?"ucapnya dengan nada malas.
"Aku akan mengantarmu ke tempat kerja" wajah Ronald berseri seri dia merasa kalau mantan Istrinya semakin hari semakin tambah manis.
Seharusnya dia berfikir dua kali dulu saat akan menandatangani surat cerainya. Namun semua sudah terjadi, kini semua ucapannya tentang sumpah serapahnya dulu saat mengatakan kalau Edrea akan memohon untuk meminta kembali dengannya malah berbalik kepada dirinya.
Ronald tengah berjuang untuk mengharap kembali rujuk dengan Edrea.
Edrea menatap malas ke arah Ronald.
"Tidak perlu aku bisa berangkat sendiri" ucapnya tanpa keraguan.
Matanya masih melihat ke arah Ronald dengan sengit.
"Kenapa kamu selalu menggangguku?, sudah berapa kali aku bilang untuk jangan menemuiku lagi! kalau alasanmu karena ingin menemui Anin, silahkan datang ke rumah atau ke sekolahnya. Jangan datang kepadaku!!" ucapnya dengan nada setengah berteriak. Kini raut wajah Edrea semakin jengkel dia melipat ke dua lengannya di depan dada.
"Aku tidak bisa jauh darimu Edrea. Setelah kita berpisah setiap malam aku hanya memikirkan tentangmu dan Anin" ucapnya dengan nada lembut.
Edrea melirik ke arah Ronald dengan tajam.
"Mulutmu benar benar busuk!!" sejenak Edrea menghentikan ucapannya seakan memberi waktu kepada mantan Suaminya itu untuk mencerna ucapannya.
"Dulu sebelum kita menikah juga, ucapanmu semanis ini!!. Dan betapa bodohnya aku bisa kemakan rayuan menjijikkanmu itu!!"
Ronald terkejut mendengar ucapan yang keluar dai mulut Edrea.
"Edrea??" Ronald menyebut namanya dengan nada memohon.
"Percuma!! kata katamu tidak akan pernah bisa merayuku lagi!!"
"Oke aku minta maaf" Ronald menghela nafas sebelum kembali berbicara ke pada Edrea.
"Tapi bisah kamu memberikan aku kesempatan lagi"
"Kesempatan lagi kamu bilang??" Edrea berucap dengan ragu.
"Berapa kali dulu kesempatan yang aku berikan untukmu?, tapi kamu menyianyiakannya!!, dan sekarang tidak akan pernah ada kata LAGI!!" ucapnya dengan penekanan di akhir kalimat.
Ronald nampak putus asa dia memijat pelan keningnya seakan mencari cara lain untuk mendekati mantan istrinya itu.
"Baiklah aku akan menuruti semua keinginanmu, tapi biarkan aku menolongmu sekali saja"
Edrea tidak bertanya pertolongan apa yang akan di berikan oleh Ronald. Namun tatapan matanya yang menyelidik ke arah Ronald seolah sudah mewakili isi pikirannya.
"Aku akan membelikanmu mobil, dari pada kamu harus naik bus seperti ini!!"
Kerutan di dahi Edrea semakin dalam hingga terlihat hampir di seluruh area matanya kemudian menggeleng tak percaya mendengar ucapan Ronald. Dia tidak habis pikir bagaimana mantan Suaminya itu masih bertingkah seolah dia adalah Suami sahnya.
"Kamu!!"
Ucapan Edrea terhenti saat melihat bayangan mobil berhenti di belakang mobil Ronald dari ujung matanya.
Dia mengalihkan pandangan ke arah mobil berwarna merah itu.
Tttiiiiiinnnnn!!!!!
Mobil itu membunyikan klakson. Seolah memang sengaja di tujukan ke arah Edrea dan Ronald dengan penuh emosi.
Mata Edrea menyelidik ke arah mobil itu dan menunggu pemiliknya keluar.
Mata Edrea membelalak bulat melihat kekasih Ronald keluar dari mobil berjalan ke arahnya dengan wajah penuh amarah di sana.
Edrea menelan ludah dengan susah payah.
"Lihat, , , sekarang kamu memberiku masalah lagi, menyeretku dalam masalah kalian"
Edrea merasa jengkel dengan dirinya sendiri karena berusaha meladeni Ronald.
Dia berusaha pergi untuk menghindar dari lingkaran masalah yang tak seharusnya dia ikut campur.
Namun kekasih Ronald telah berhasil menghentikan langkah Edrea dengan menarik lengannya dan mencengkeramkan kuku tajamnya di sana.
Seketika Edrea meringis menahan nyeri di lengannya.
"Wanita jalang!!, , seharusnya kamu tahu posisimu!! kamu itu sudah menjadi mantan istrinya kenapa"
Plak!!!
Edrea mendaratkan tamparan kerasnya ke arah pipi kekasih Ronald yang entah siapa namanya Edrea sendiri tidak tahu dan dia sengaja tidak ingin tahu namanya.
Sudah berapa tahun dia menahan untuk tak menyentuh perempuan di depannya itu.
Dan kini saat Edrea memiliki kesempatan dia langsung melakukannya dengan sangat keras.
Namun tak cukup untuk mewakili rasa sakit hatinya dulu saat dengan sengaja perempuan di depannya ini memamerkan kemesraanya di depan mata Edrea.
Ronald terkejut saat Edrea menampar kekasihnya itu.
Namun dia memilih untuk diam dan tak memihak kepadanya.
"Lepas!!" Edrea meminta perempuan itu untuk melepaskan lengannya yang mungkin kini sudah terdapat bekas merah di sana karena tajamnya kuku Renata.
Kekasih Ronald yang bernama Renata itu tak bergeming emosinya malah semakin menjadi jadi. Dia menyeringai cengkeraman tangannya semakin menguat mendorong kukunya yang tajam agar lebih dalam lagi ke kulit Edrea seakan berusaha menusuk lengan Edrea dengan kukunya.
Edrea meringis menahan kuku Renata yang semakin terasa menusuk ke kulitnya.
Tangannya bergerak berusaha melepas tangan Renata.
Ronald berusaha untuk membantunya tangannya mencoba melepas tangan kekasihnya itu yang masih mencengkeram dengan erat.
"Renata lepas!! Edrea kesakitan" ucapnya dengan lembut akih aluh berusaha menenangkan kekasihnya.
Namun Renata semakin marah ketika mengetahui Ronald lebih memilih untuk berpihak kepada mantan istrinya itu.
Dia melepas lengan Edrea dan mendorong tubuh Ronald dengan kuat.
Ronald tak siap saat Renata mendorongnya dengan kuat hingga jatuh tersungkur, kepalanya membentur tepian bangku besi yang tersedia di halte itu.
Dia masih terduduk dengan menikmata rasa sakit di kepalanya yang nampak mengeluarkan sedikit bercak merah di sana.
Saat itu lah Renata berhasil menarik kembali lengan Edrea yang berusaha kabur mebuka paksa kemeja Edrea hingga kancing baju bagian atasnya terlepas semua.
Edrea menjerit mendorong Renata dengan kuat, namun tubuhnya yang kecil seolah tak memiliki kekuatan saat melawan perempuan yang jauh lebih tinggi dan besar darinya.
Tangannya berusaha memeluk dirinya sendiri untuk menutupi dadanya yang terlihat.
Ronald ingin menolongnya namun rasa pusing di kepalanya membuat dia mengurungkan diri.
Ketika melihat Renata semakin brutal dia berysaha bangkit sambil memegangi kepalanya.
"Renata hentikan" Teriaknya.
Namun Renata menendangnya hingga tersungkur lagi di lantai. Ada kelegaan di hati Ronald saat melihat mobil hitam berhenti di belakang mobil Renata, seakan ada seseorang yang akan menolong Edrea dari balik mobil itu.
Sementara Renata masih melampiaskan emosinya dengan maraih lengan baju Edrea di samping kanan dan kirinya kemudian menarik menyobeknya dengan paksa hingga meninggalkan bekas cakaran di ke dua lengan Edrea.
Kekuatan seorang perempuan memang lebih mengerikan ketika dia sedang marah dan tak bisa mengendalikannya.
"Hentikan!!" Edrea kembali berteriak dan menahan tangan Renata untuk berhenti melucuti bajunya. Namun ketika tangannya menepis tangan Renata kemeja Edrea kembali membuka dan memperlihatkan bagian dadanya dengan jelas.
Tangannya bergerak meraih kemejanya dan menariknya untuk menutupi dadanya kembali.
"Aku tidak akan menghentikannya sebelum melepas semua yang menempel di badanmu!" geraman Renata terdengar sangat mengerikan di telinga Edrea.
Kini dia mengangkat tangannya seakan mengambil ancang ancang untuk membalas tamparan Edrea dengan kencang.
Renata mengayunkan tangannya dengan cepat ke arah Edrea yang kini sudah merangkup ke dua pipinya karena ketakutan, namun tangan Renata terhenti karena seseorang telah menahannya.
Seketika mata Renata langsung melihat ke arah laki laki yang berusaha menahan tangannya itu.
"Lepas!!" geramnya.
Edrea sedikit membuka matanya untuk melihat keadaan kenapa Renata tak jadi memukulnya. Matanya melebar saat melihat Jelo tengah mencengkeram erat tangan kekasih Ronald.
Mata Jelo menatap ke arah perempaun yang dicintainya dengan tatapan tajam penuh kepiluan matanya menyapu seluruh tubuh Edrea yang terlihat berantakan saat itu.
Dadanya sesak nafasnya memburu saat melihat luka cakaran di lengan Edrea.
Kini matanya tertuju kembali pada perempuan yang sedang meringis kesakitan dan sedang memohon untuk dilepaskan tangannya.
"Tolong lepaskan" ucapnya kini dengan nada ketakutan.
Rahang Jelo menguat dia menggertakkan giginya menahan amarah saat melihat perempuan yang seakan ingin segera di habisinya itu dengan tajam.
"Kamu yang melakukannya?" geramnya seketika.
Lutut Renata melemas saat melihat kobaran api amarah di mata laki laki yang ada di depannya.
"Kamu memintaku untuk melepaskan tanganmu!! lalau bagaimana dengannya tadi? saat dia juga meminta dirimu untuk melepas cengkeraman tanganmu! apa kamu memenuhi keinginannya?" Jelo tahu Perempuan bertubuh sekal di depannya itu sempat mencengkeram lama di lengan Edrea saat melihat bekas kuku yang dalam di sana.
Mata Jelo terlihat memerah seakan menggambarkan betapa susah payahnya dia menahan untuk tak meluapkan amarahnya di depan Edrea.
"Jelo" Edrea menyebut namanya dengan nada memohon.
Jelo menola ke arah tangan Edrea yang memegang lengan dengan satu tangannya karena satunya lagi tengah menahan bajunya agar tak membuka.
Ada sedikit ketenangan di hatinya saat melihat mata Edrea yang berkaca kaca.
Sejenak Jelo kembali melihat ke arah Renata dengan tatapan yang kembali tajam dia melepas tangan Renata dengan mendorongnya kuat hingga tersungkur ke lantai dengan keras.
"Tara" ucapnya seakan memberi perintah kepada Tara untuk mengurus perempuan yang sudah mencelakai Edrea.
Tara sedikit mengangguk pelan mengikuti perintah dari Tuan Mudanya itu untuk memeberi pelajran kepada Renata.
Dia membungkuk untuk meraih ke dua tangan Renata dan menahannya seperti seorang tawanan.
"Lepas!!, , mau ngapain kamu!" Renata berusaha melawan.
Jelo mendekati Edrea nafasnya memburu saat melihat cakaran di lengannya yang terlihat dalam hingga mengeluarkan titik titik darah kecil di sana.
Sejenak bayangan akan almarhum mamahnya saat menahan kesakitan setelah di hajar habis oleh Ayahnya kembali terlintas menyelubungi benaknya, namun untungnya dia berhasil menahan dan meredam emosinya.
Kini dia melepas jasnya untuk menutupi tubuh Edrea.
"Edrea" Ronald berusaha untuk berbicara ke pada Edrea namun Jelo terlebih dulu menatapnya dengan tajam untuk menghentikan ronald.
Dia pun mengurungkan niatnya.