
Edrea masih menatap dengan ragu ke arah Jelo yang ada di depannya. Dia merasa kehilangan sosok laki laki yang sering membuntutinya, mengganggunya, memaksakan kehendaknya ketika laki laki itu berada di sekitarnya. Edrea benar benar kehilangan semua itu.
"Aku" bibir Edrea nampak bergetar.
Sementara arah pandangan mata Jelo yang tadinya menghindar dari Edrea kini sudah kembali melihat ke arah perempuan itu dengan frustasi. Dia seperti sedang menunggu Edrea meneruskan ucapannya.
"A, , ak, aku" Edrea menghela nafas panjang menetralkan perasaan gugubnya. Dia memejamkan matanya seakan tak sanggub meneruskan ucapannya karena malu.
"Kenapa?" Jelo menatapnya dengan pandangan menyelidik. Seolah dia benar benar menunggu Edrea untuk meneruskan ucapannya.
Edrea kembali membuka mata.
"Aku akan mengantarmu pergi menemui Dokter"
Jelo terkekeh mendengar ucapan perempuan di depannya.
"Aku tidak butuh Dokter" ucapnya seketika.
"Tapi kamu harus minum obat!" Edrea menyentuh leher laki laki itu untuk memastikan keadaan suhu tubuhnya.
"Suhu tubuhmu panas sekali" tambahnya.
Sementara Jelo, dia mulai menutup matanya merasakan sentuhan Edrea yang seakan memberikan kenyamanan teramat di dalam hatinya.
"Aku tidak perlu minum obat" tangannya bergerak meraih tangan Edrea, menggenggamnya dengan erat dan mengecup punggung tangannya.
Nafasnya mulai memburu karena tidak bisa menahan rasa gejolak di dalam hatinya saat sentuhan tangan Edrea memberikan energi yang tak bisa di tolaknya.
Jelo membuka matanya, meraih tengkuk perempuan di depannya dan langsung mendaratkan ciuman di keningnya.
"Aku tidak butuh Doktet maupun obat. Yang aku butuhkan hanya dirimu" ucapnya seraya menurunkan ciumannya ke hidung Edrea, nafasnya sangat terasa panas sekali saat menyapu wajah Edrea tentunya itu pengaruh dari suhu badanya yang meninggi. Dia menyandarkan keningnya di kening perempuan itu lalu memaku wajahnya saseaat sebelum mencium bibir Edrea.
Darah Edrea berdesir saat bibir Jelo yang terasa sangat panas itu menyentuh lalu melumat bibirnya dengan lembut. Hingga ciumannya berubah penuh hasrat akan keinginan untuk mencicipi tubuh Edrea ketika perempuan itu membalas ciuman Jelo.
Jelo menghentikan ciumannya, kembali dia menyandarkan kepala di kening Edrea.
Nafasnya terdengar sangat kasar dan terengah engah ketika menahan perasaannya yang sangat mendasar itu.
Jelo terkekeh karena menertawakan dirinya yang seakan merasakan risih kepada dirinya sendiri.
Dia mengusap wajahnya frustasi.
Menunduk meraih pundak Edrea dan menyandarkan kepalanya di sana. Membenamkan wajahnya untuk menghirup aroma tubuh perempuan yang dicintainya.
"Aku membutuhkan tubuhmu" bisiknya, suara jelo sangat berat dan parau saat itu.
Edrea sedikit terkejut mendengar ucapan yang jeluar dari mulut laki laki yang kini sudah berhasil melingkarkan ke dua lengan di pinggangnya.
"Kamu bisa melakukannya kalau mau" Entah apa yang sedang di pikirkan oleh Edrea, namun saat itu kehilangan sosok Jelo selama beberapa hari membuatnya begitu merasakan kerinduan yang teramat di hatinya kepada laki laki itu.
Jelo pun begitu, dia terkejut sementara tubuhnya bergerak menjauh dari Edrea dan tatapan matanya menatap tak percaya ke arah perempuan itu.
Matanya sedikit membulat saat melihat Edrea berani membuka kancing bajunya sendiri.
Pandangan mata Edrea melihat ke arah mata Jelo, tatapannya menajam hingga berhasil menyentuh ke dalam relung hatinya.
Jelo menghentikan tangan Edrea saat perempuan itu berhasil membuka kacing bajunya yang je dua.
"Aku tidak bisa melakukannya. Aku bukan laki laki brengsek yang akan melakukan hal itu sebelum bisa menukahimu, aku mengatakan hal itu agar kamu tahu. Batapa besar rasa diriku untuk ingin segera memilikimu Edrea"
Edrea tertegun, pipinya merona antara malu dan bahagia menjadi satu di sana.
"Menikahlah denganku" ucap laki laki itu seketika.
Ini kali ke dua bagi Edrea mendengar Jelo meminta untuk menikah dengannya.
"Aku pikir saat itu dia tidak serius dengan ucapannya. Aku sadar karena banyak perbedaan di antara kita, usia, status, hingga derajat kita sangatlah jauh berbeda. Aku tidak pernah beranggapan tentang perbedaan di antara manusia itu ada yang seperti langit dan bumi. Tetapi, , , melihat lelaki di depanku ini seakan perbedaan itu benar adanya dan nyata. Bolehkah aku menyukainya?, bisakah aku memilikinya?. Aku tidak bisa jujur dengan perasaanku sendiri bahwa aku menyayanginya, aku menginginkannya. Aku juga tidak ingin kehilangan laki laki di depanku ini"
Edrea langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Kalau pun aku mau, apakah kita bisa melakukannya?" ada rasa ketakutan di dalam hatinya saat mengatakan hal itu.
Tangan kiri Jelo meraih pipi Edrea, kemudian tersenyum manis ke pada perempuan itu, dia tidak menyangka kalau Edrea akan menerima permintaannya kali ini.
"Aku akan mewujudkannya. Sekali pun itu mustahil bagimu, aku pastikan apa yang kamu inginkan akan aku wujudkan" Jelo lalu mengecup bibir Edrea dengan lembut.
♡♡♡
Jelo terlihat sangat tampan dengan menggunakan setelan jas berwarna putih bersih yang melekat di tubuhnya.
Tatapan matanya menatap tajam saat melihat bayangan dirinya di cermin.
"Apa anda yakin dengan keputusan anda kali ini Tuan Muda?" Tara sedikit menghawatirkan hubungan Jelo dengan Edrea kedepan. Karena Jelo memilh untuk menikah tanpa sepengetahuan Ayahnya.
Ujung matanya bergerak melirik ke arah bayangan Tara yang ada di cermin.
"Aku sudah memikirkannya dengan sangat matang. Aku tidak akan menarik kembali ucapanku! seharusnya kamu paham akan hal itu"
"Tetapi" ucapan Tara terputus karena Jelo sedikit memalingkan wajah ke arahnya seakan laki laki itu meminta tara untuk berhenti berucap.
"Baiklah Tuan Muda, saya akan menyuruh seseorang menjemput Nona Edrea"
"Tidak perlu!, , aku akan menjemputnya sendiri" Jelo melangkah keluar dari kamarnya.
Tara menghela nafas panjang, setelahnya dia mengikuti Tuan Mudanya dari arah belakang.
♡♡♡
Edrea melangkah keluar dari butiq setelah selesai di makeup. Dia memakai gaun putih senada dengan warna jas milik Jelo. Gaun yang sederhana namun sangat terlihat elegan. perempuan mungil itu sangat terlihat cantik dan manis saat mengenakan gaun itu.
Pandangan matanya tertuju ke pada Jelo yang sedang berdiri di samping mobilnya. Matanya terpana saat melihat lelaki yang lebih muda darinya itu, terlihat sangat dewasa lebih dari umurnya.
Terlihat mreka saling melempar senyum manis dari ke jauhan. Edrea memaku langkah kakinya saat Jelo memberi isyarat untuk bethenti di tempat, karena laki laki itu yang akan mendekat dan menghampiri calon istrinya.
Edrea tersenyum lagi, dia mengikuti keinginan Jelo untuk tetap diam di tempat dan membiarkan laki laki itu yang mengehampirinya.
Namun hal yang tidak di duga, dari arah lain sebuah mobil melaju ke arah Jelo.
"Jeloooo!!" teriak Edrea ketika melihat mobil itu melaju dengan kecepatan tinggi hingga tak ada kesempatan laki laki itu untuk menghindar.
Brrruuuggghhh!!!!!
Jelo tartabrak mobil itu dengan sangat kencang, suara tabrakan antara mobil dan tubuh Jelo pun terdengar sangat mengerikan hingga menimbulkan suara seperti sesuatu benda keras yang memang sengaja di hancurkan. Hingga membuat merinding telinga yang mendengarnya. Tubuhnya pun terpental sangat jauh.
Sementara mobil yang menabrak Jelo langsung pergi meninggalkan tempat itu.
Edrea sempat memaku tubuhnya beberapa detik ketika melihat kejadian mengerikan itu tepat di depan mata.
Kini kakinya melangkah dan berlari dengan cepat ke arah Tubuh Jelo yang sudah terkulai lemah tak berdaya dengan berlumuran darah yang sudah mewarnai sebagianjas putihnya.
Mata Jelo sempat memandang ke arah Edrea yang sedang berlari ke arahnya, pandangannya kabur karena darah yang mengalir dari kepalanya menelusup ke bola mata. Sementara rasa sakit yang menhujam tubuhnya, membuat laki laki itu tak berdaya saat harus menahan semua kesakitan itu, hingga akhirnya kini Jelo memilih untuk menutup penuh matanya.
Edrea semakin menggila ketika melihat ke dua mata Jelo menutup, dia pun berteriak memanggil nama Jelo dan semakin mempercepat langkah kakinya, namun anak buah Brahm yang mengikuti Jelo bersama dengan Tara dalam satu mobil menghentikan Edrea untuk tidak mendekat ke arah Tuan Mudanya.
Karena ketika nanti Edrea berhasil mendekati Jelo dia pasti akan berusaha memeluk tubuh Jelo mengguncang tubuhnya. Hal ini lah yang di takutkan oleh mereka karena semua belum tahu bagian mana yang terluka parah, dan jika membiarkan Edrea berlari ke arah tubuh Jelo itu malah akan menambah luka di bagian tubuhny entah itu di tulang leher atau di bagian lainnya.
"Lepas!" Suara isakan tangis Edrea pecah seketika, hingga menembus rongga telinga dan menusuk sampai ke dalam dadanya.
Dia meronta saat anak buah Brahm berusaha mencengkeram lengannya. Namun kekuatan yang dia miliki tak sebanding tentunya dengan ke dua laki laki yang bertubuh kekar itu.
Sementara Tara, dia segera menghubungi pihak rumah sakit untuk meminta pertolongan.