My Soul

My Soul
#26 Cemburu



Rasa malu bercampur gugub dan ketakutan menjadi satu.


Wajah Edrea nampak kebingungan saat Zeline memergoki Jelo tengah mengecup bibirnya tadi.


"Serahkan padaku!" bisik Jelo seolah menyuruh Edrea untuk tetap tenang dan menyerahkan masalah Zeline kepadanya.


"Apa yang sudah aku lakukan dengan anak ingusan ini??, , apakah sikapku bukan termasuk pelecehan kepada murid sendiri??"


Edrea mengehela nafas panjang menetralkan rasa bersalahnya.


Jelo berjalan mendekat ke arah Zeline yang masih tak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya.


"Ikut denganku!!" ucap Jelo sambil menarik menggenggam tangan Zeline dan membawanya keluar dari ruang itu.


Mata Edrea mengerucut melihat Jelo menggandeng tangan Zeline saat membawanya keluar.


Ada rasa sakit setitik di jauh relung hati yang tak bisa di jangkau olehnya.


"Cemburu??, ,mana mungkin aku cemburu dengan anak ingusan itu"


Edrea lebih memilih kembali fokus dengan soal yang tadi sudah di selesaikan oleh Jelo.


Namun pikirannya kacau, kembali selalu mengingat saat Jelo menggandeng tangan Zelina.


"Ada apa denganmu Edrea??"


Edrea bampak gelisah, entah apa yang membuatnya lebih memilih untuk meninggalkan latihan soalnya dan pergi mengejar Jelo.


Sepanjang perjalanan menuju ruang parkir Zeline nampak melamun tak percaya pasalnya Jelo tengah menggandeng tangannya.


Selama dia mengenal dan berusaha untuk dekat dengan Jelo, dia tak pernah bisa menyentuh tangannya.


Jangankan menyentuh, kontak langsung dengan matanya saja Jelo selalu menghindarinya.


Jelo memakai helem dan menyalakan mesin, kemudian menyuruh Zeline untuk naik dan membonceng motornya.


Zeline seperti sedang di hipnotis hingga menuruti apa pun keinginan laki laki yang tengah memaksanya untuk memeluk tubuhnya dari belakang itu saat ini.


Edrea berhasil keluar dari ruang guru dan pergi ke halaman sekolah, di depan sana dia berdiri seperti orang bodoh untuk memastikan keberadaan Jelo dan Zeline.


Tidak lama setelah itu dia melihat motor Jelo keluar dari arah parkiran dengan Zeline tengah membonceng sambil memeluk tubuh Jelo dari arah belakang.


Wajahnya memaku, dadanya berdenyut ada rasa perih dan memanas di dalam hatinya.


Nafasnya memburu karena menahan emosi.


"Cemburu???, , sepertinya aku sudah gila!! iya!! aku akui aku sedang cemburu melihat murid perempuan itu tengah memeluk tubuh jelo"


Edrea berusaha menetralkan rasa cemburunya yang membakar habis hatinya.


Dia berlari ke arah pintu gerbang dan mencari taxi untuk membuntuti Jelo.


♡♡♡


Sepanjang perjanan menuju ke tempat yang sendirinya tidak tahu, Zeline lebih memilih menikmati punggung Jelo yang terasa sangat nyaman.


Dari arah belakang Edrea mengawasi Zeline yang sedang dengan erat memeluk tubuh Jelo dari arah belakang.


Wajahnya berkerut tidak senang.


"Ya ampuuunn!!, , aku seperti sedang menguntit pacarku sendiri!"


Edrea menepuk jidatnya sendiri, dia menyuruh supir taxi untuk memelankan laju mobilnya ketika melihat motor Jelo berbelok ke arah perumahan mewah.


Mata edrea membulat ketika melihat rentetan rumah megah di perumahan itu.


Dia seperti anak kecil yang melihat kemegahan wahana bermain hingga melupakan misi utamanya untuk mengikuti Jelo.


Di saat tersadar dia sudah tidak menemukan Jelo dan Zeline di depan matanya yang dia temukan hanya motor Jelo yang sudah terparkir di depan pintu gerbang salah satu rumah yang berjejer megah.


"Rumah siapa ini?"


Edrea menyuruh supir taxi untuk berhenti jauh dari motor Jelo dan memilih menunggunya di sana.


♡♡♡


Zeline nampak tersipu malu saat berjalan mendekat ke arah Jelo sambil membawakan minuman kaleng untuknya.


Dia duduk di kursi yang bersebrangan dengan Jelo.


Wajah Zeline nampak ragu.


"Terima kasih sudah mengantarku pulang" ucapnya memulai pembicaraan.


"Kamu sudah tidak membenciku?" tanyanya mulai menjurus kenpada Jelo.


Zeline nampak terkejut saat Jelo melihat ke arah matanya.


"Jawaban mana dulu yang ingin kamu dengar dari mulutku?" Jelo berucap seolah bisa membaca isi pikiran Zeline yang di penuhi dengan bermacam macam pertanyaan tentangnya.


Zeline nampak gugub.


"E, , tadi"


"Soal tadi yang kamu lihat?" sejenak jelo berhenti berucap untuk menghela nafas.


"Aku menyukai Edrea!!" jawabnya tanpa keraguan sedikit pun.


"Bagaimana bisa??? kenapa kamu menjatuhkan hatimu pada wali kelas kita?" seketika wajah Zeline berubah murka dan nada bicaranya sedikit berteriak ke arah Jelo.


"Jangan tanya kenapa?, ,aku juga tidak tahu jawabannya" ucapnya dengan nada datar.


"Dan ini, , , tentang kebencianmu terhadap perempuan, apakah sudah menghilang karena dia?, , hingga sekarang kamu juga sudah berani manatap ke arah mataku, berani menyentuh tanganku, membiarkanku memeluk tubuhmu!! apa itu juga karena wali kelas itu!" Zeline tak bisa menahan emosinya.


Jelo menatap lekat ke arah Zeline, saat dia mengungkit persoalan rasa bencinya terhadap perempuan.


Zeline tak bisa menahan rasa ketertarikannya ke pada Jelo hingga suatu hari dia menyuruh orang untuk mencari tahu tentang siapa orang yang memiliki nama lengkap ANGELO PUTRA BRAHMANTYA itu.


Dengan kekayaan ayahnya dia bisa membayar orang untuk mencari seluk beluk permasalahan laki laki yang di cintainya.


Dari situlah dia tahu kenapa Jelo bisa benci terhadap perempuan.


Selama ini dia memilih memendam perasaannya karena dia tidak ingin menambah rasa sakit di dalam hati Jelo.


"Selama hampir 3 tahun aku selalu berada di sampingmu!!! dan kamu tidak pernah melihat ke arahku, kini di saat dia datang dan belum genap satu bulan dia menjadi wali kelas kita bagaimana bisa kamu menjatuhkan pilihanmu kepada wanita itu!!" ucapnya berteriak.


Raut wajah Jelo masih terlihat tenang, tak ada guratan marah sedikit pun saat mendengar Zeline berteriak ke arahnya.


Rasa amarah yang dulu menggunung di hati Jelo kini sepertinya sudah berguguran saat Edrea berada di sampingnya.


Hingga ketika menghadapi masalah, kini dia bisa berkepala dingin.


"Maaf" ucap Jelo sebelum beranjak dari kursi dan keluar dari rumah Zeline.


Mungkin meninggalkan Zeline dalam ke adaan yang sedang tidak bisa di ajak bicara itu adalah keputusan yang tepat.


Dari pada meladeninya yang nanti malah akan bertambah runyam.


Kata maaf yang keluar dari mulut Jelo membuat Zeline tak bisa berkata apa apa. Dia lebih memlih diam dan memaku tubuhnya.


♡♡♡


Edrea melihat Jelo keluar dari rumah besar itu.


Dia meminta supir taxi untuk mengikuti kembali laki laki yang kini sedang memakai helem.


Di pertengahan jalan Jelo menghentikan motornya memalang di tengah jalan untuk menghentikan laju mobil taxi yang di tumpangi Edrea.


Supir taxi langsung menginjak rem dengan tiba tiba membuat tubuh Edrea yang balum siap pun terpentok kursi di depannya.


"Astaga!!!, , bisa pelan pelan sedikit tidak pak supir!" ucap Edrea sambil memegangi keningnya yang sempat terpentok kursi dengan keras.


"E, , maaf kendaraan di depan tiba tiba berhenti mendadak" ucap supir taxi itu mencari pembelaan.


Edrea melihat ke depan, wajahnya terkejut saat melihat Jelo turun dari motornya dan berjalan ke arahnya.


Jelo membuka pintu mobil untuk menemui Edrea yang tengah duduk di kursi penumpang.


Jelo membungkuk untuk melihat keadaan Edrea di dalam mobil dia menyeringai senang menemukan Edrea dalam ke adaan baik baik saja.


"Ayo" Jelo mengulurkan tangannya untuk mengajak Edrea keluar dari taxi dan ikut denganya.


Edrea masih membisu eksprasi wajahnya mudah di tebak oleh Jelo kalau saat ini dia seperti seorang penguntit yang tertangkap basah.


Jelo menyuruh Edrea untuk naik ke motornya.


Membawa Edrea pergi jauh dari hiruk pikuk perkotaan yang yang penuh dengan polusi udara.


Beberapa jam mereka melakukan perjalanan ke tempat yang di tuju oleh Jelo. Edrea ternganga matanya di buat manja oleh keindahan pepohonan rindang yang membuat udara di sekitarnya terasa sejuk dan sedikit lembab.


Motor Jelo memasuki gerbang berwarna hitam yang menjulang tinggi ke langit, gerbang itu membuka dengan sendirinya seolah menyapa mempersilahkan meraka untuk masuk ke dalam.


Sepanjang perjalanan setelah melewati gerbang mata Edrea semakin terpukau melihat kebun bunga yang tumbuh dengan indah dan menawan. Letaknya yang berada di kaki gunung membuat kebun bunga itu harus mendapat perhatian khusus untuk merawatnya.


Perjalanan sepertinya masih membutuhkan waktu beberapa menit untuk menuju ketempat tujuan kalau jalan kaki dari pintu gerbang yang menjulang tinggi tadi membutuhkan waktu setengah jam, berarti dengan mengendarai motor biasanya akan lebih cepat sampai kecuali Jelo dengan sengaja berlama lama untuk lebih menikmati keindahan tempat itu bersama Edrea.


"Kamu mau membawaku kemana?" Edrea berucap setelah berjam jam dia lebih memilih diam dan tak berbicara kepada Jelo.


Jelo memelankan laju motornya, menarik tangan Edrea untuk lebih erat memeluknya dari arah belakang.


"Nanti juga kamu akan tahu" jawabnya penuh teka teki.


Edrea merasa ragu untuk memeluk tubuh Jelo dari belakang di perjalan tadi dia memang kadang memeluknya namun saat memasuki gerbang Edrea lebih memilih menikmati udara dingin dengan tangannya hingga memaksanya untuk melepas pelukannya ke pada Jelo.