
Jelo mengendarai mobilnya, aura wajahnya nampak menggelap. Ujung matanya selalu tertuju pada mobil yang ada di depan.
Di mana Edrea dan Ronald berada di satu mobil saat itu.
Setelah sampai di taman hiburan Anin segera berlari ke arah Jelo. Dia membentangkan tangannya seolah memberi isyarat kepada laki laki dewasa itu untuk segera meneluknya. Dengan senang hati Jelo memeluk Anin dan langsung nenggendongnya.
Sementara mata Jelo menatap jauh ke arah Edrea dan Ronald.
"Soal tadi pagi aku minta maaf" Ronald memulai percakapan di antara dirinya dan Edrea.
"Lupakan!!, , aku ingin menemani putriku dalam keadaan suasana yang baik! Jadi jangan membahasnya" Edrea membuang pandangannya ke arah Anin yang sedang di gendong oleh Jelo dan berjalan ke arahnya.
Ronald menyadari hal itu, dia pun mengambil plester dari dalam saku jasnya.
"Kamu bisa membantuku" ucapnya sambil menyodorkan plester itu ke arah Edrea.
Edrea hanya melirik plester yang ada di tangan Ronald kemudian tatapannya beralih ke arah kening Ronald yang terluka. Edrea teringat luka itu akibat tadi pagi saat Dia di dorong oleh kekasihnya.
Edrea agak berat hati ketika harus membantunya mengganti plester yang sudah sedikit lusuh di kening Ronald, namun tidak ada pilihan lain.
Dia pun membantu mantan suaminya itu.
Dari kejauhan Jelo nampak menajam tatapan matanya, bahkan keningnya berkerut saat melihat adegan di depan matanya.
Dia berdehem untuk menetralkan rasa cemburunya ke pada Edrea.
Sementara Ronald dia tersenyum sengit ke arah Jelo, seakan dia tahu laki laki yang lebih muda darinya itu sedang terbakar api cemburu.
"Gmm" sekali lagi Jelo berdehem lebih keras sambil melihat ke arah Edrea.
Ujung mata Edrea melirik ke arah Jelo saat mendengar suara feheman Jelo yang sengaja seperti di buat buat.
Akhirnya dia merasa canggung dan segera menyelesaikan dengan cepat saat memasang plester di kening Ronald.
"Om beli gulali yuk!" Ujar ank kecil itu kepada Jelo.
"Mmm" Jelo bingung harus menjawab apa, pasalnya kalau dia mengiyakan ajakan Anin maka Dia memberi kesempatan kepada Edrea dan Ronald untuk berduaan.
"Kita tunggu mamah kamu ya" dia berusaha membujuk Anin.
"Tidak usah Om, biarkan Mamah membantu Papah di sini kita pergi beli berdua saja"
Jelo seakan tak bisa menolak permintaan dari gadis kecilnya itu.
Dia hanya menghela nafas panjang sebelum memenuhi keinginan Anin.
Jelo melirik tajam ke arah Ronald yang sedang tersenyum sinis ke arahnya.
Dengan perasaan yang berkecamuk dia pergi untuk menemani Anin membeli gulali.
"Om Angelo kenapa diam saja? Tidak suka menemani Anin ya?" Suara Anin seketika meracau pikiran Jelo.
"Mm, , Om hanya sedang berfikir" sejenak dia melihat ke arah wajah Anin yang sedang menunggunya untuk meneruskan ucapannya.
"Bagaimana setelah beli gulali kita beli es krim??"
Wajah Anin seketika langsung bersinar, setelah mendengar Jelo menjanjikan es krim kepadanya.
"Janji ya Om!" ucap gadis kecil itu seraya mengangkat jari kelingkingnya ke arah Jelo.
Jelo pun tersenyum senang.
Setelah membeli gulali Jelo menepati janjinya kepada Anin, dia membeli es krim dan duduk di kursi yang sengaja sudah di siapkan di sana.
Dari kejauhan Edrea melihat rona kabahagaian mewarnai wajah Putrinya saat menikmati es krim.
Kakinya berjalan melangkah menghampiri mereka.
"Hmmmm, , buat mamah mana?"
Seketika suara Edrea memecah kebahagian di wajah Jelo. Matanya menyelidik ke arah sekitar untuk melihat keberadaan Ronald namun dia tak manemukan laki laki itu di mana pun.
"Kalau mamah mau minta saja sama Om, punyaku sudah hampir habis mah!" ucap Anin seolah dia tidak mau membagi esnya dengan Edrea.
"Iya nanti mamah minta sama Om Angelo ya" sesekali Edrea membuang pandangannya ke arah Jelo.
"Pergi kemana dia?" ucap Jelo merujuk ke pada mantan suami Edrea.
"Dia harus kembali ke kantor, tadi sekretarisnya menelpon" Edrea merasa sesikit tidak enak dengan Jelo karena tadi sempat membantu Ronald.
Mata Edrea mengawasi tatapan mata Jelo yang terus berusaha menghindarinya.
Sementera Jelo memilih untuk menikmati es krim sambil kembali bergurau dengan Anin.
"Kamu tidak apa apa?" Edrea seperti sedang sport jantung saat harus menanyakan hal itu kepada Jelo.
Jelo memaku tangannya sejenak sebelum kembali mengaduk aduk eskrimnya secara acak.
"Aku pikir pertanyaanmu tidak membutuhkan jawaban!" Jelo kembali menikmati Es krimmnya.
Dia sengaja membiarkan Edrea mencerna ucapannya barusan.
Jelo sempat terbatuk saat menikmati esnya.
Edrea langsung tanggab dan mengambilkan tiru untuk membaersihkan mukut Jelo.
Namun laki laki itu menghindar dan lebih memilih merebut tisu dari tangan Edrea lalu membersihkan mulutnya sendiri.
"Om kita pulang saja ya" ucap Anin sambil turun dari bangku dan berjalan mendekat ke arah Jelo.
Jelo merangkup tubuh Anin dan memangkunya.
"Loh tadi katanya pengen ke sini, kenapa tiba tiba sekarang pengan pulang?"
"Tadi sebenarnya Anin cuma tidak enak kalau harus menolak Papah, makanya Anin ikuti saja permintaannya. Berhubung sekarang Papa tidak ada kita pulang saja ya" Anin berucap dengan nada memohon.
Sepanjang perjalanan menuju ke parkiran Edrea yang ada disampingnya nampak sesekali terpontang panting saat berjalan karena harus berdesakan menerobos orang orang yang mengunjungi tempat itu.
"Aduh" Edrea sempat hampir terjatuh karena tersenggol tubuh seseorang, namun Jelo seketika menahan pinggangnya.
"Ceroboh!" cibir Jelo ke pada Edrea.
Pipi Edrea bersemu, kini tangannya terasa hangat ketika Jelo menggenggam tangannya dengan erat.
Jelo menggandeng tangan Edrea, membantunya mencari jalan di keramaian.
Sepanjang perjalanan Edrea nampak tersenyum malu saat Jelo berusaha menjaganya.
Pandangan matanya selalu tertuju kepada Jelo dari arah belakang.
Wajah laki laki itu seolah bersinar membuat mata Edrea terpukau dengan aura yang ada di tubuhnya.
♡♡♡
Jelo melepas sabuk pengaman. Setelah mobilnya berhenti di depan rumah Edrea.
"Masuklah, aku akan membantumu menggendong Anin" Jelo turun dari mobil dan membuka pintu belakang untuk menggendong Anin yang sudah tertidur.
Edrea membantu Jelo untuk membukakan pintu kamar.
"Letakkan dia di ranjang, aku akan membuatkan minum untukmu" Edrea melangkahkan kaki menuju ke arah dapur.
Sementara Jelo masih berusaha meletakkan tubuh Anin di atas ranjang dengan pelan dan sangat hati hati.
"Om" suara Anin seketika memaku tubuh Jelo saat dia hendak beranjak meninggalkannya.
Jelo memalingkan wajahnya ke arah Anin dan kembali mendekati gadis kecil yang kini sudah membuka sedikit matanya.
"Iya?"
"Temenin Anin bobok ya" pintanya.
Jelo hanya tersenyum. Dia membuka kancing jas dan melepasnya, kemudian di taruh di atas kursi.
Dia duduk di bibir ranjang menarik tubuhnya bersandar di dinding ranjang dan membelai lembut rambut Anin.
Anin nampak mencari kenyamanan di setiap belaian tangan Jelo. Dia bahkan mendekatkan tubuhnya ke paha Jelo.
Semakin lama mata Jelo semakin terasa berat, bahkan dia sesekali terlihat tak sanggup menahan kantuknya.
Kini dia tertidur sambil bersandar di dinding ranjanh dengan tangan yang sudah di genggam erat oleh Anin.
Edrea masuk ke dalam kamar untuk memastikan keadaan Putrinya. Namun yang dia lihat justru malah ke duanya kini sudah tertidur sambil berpelukan.
"Jelo" bisiknya sambil meraih pundak Jelo.
Namun tidak ada respon dari tubuh laki laki itu Sekali lagi Edrea berusaha membangunkan Jelo.
"Jelo" kini Edrea menyentuh pipi Jelo berharap dia bisa mendengar suaranya.
"Mm" Jelo membuka matanya dan meraih tangan Edrea yang sempat menyentuh pipinya.
"Oh maaf, , aku ketiduran" Jelo mengubah posisinya menjadi duduk di atas ranjang.
Namun tangannya masih menggenggam erat jari Edrea.
Mata Edrea nampak menyelidik ke arah Jelo saat merasakan tangan Jelo sedikit hangat malam itu.
"Kamu baik baik saja?" ucapnya sambil meletakkan punggung tangannya ke arah leher Jelo, dia memastikan suhu badan laki laki itu.
"Badanmu panas!"
"Aku baik baik saja" Jelo menepis tangan Edrea dari lehernya. Dia beranjak dari ranjang menuju ke arah pintu.
Tangannya dengan cepat meraih gawang pintu saat merasakan sakit yang teramat di kepalanya.
Edrea segera beranjak dari ranjang dan menghampiri Jelo. Dia meraih pinggang Jelo untuk membantunya berdiri saat melihat laki laki itu sesikit terhuyung tubuhnya.
Jelo melirik ke arah wajaj Edrea yang ada di sebelahnya. Perempuan itu membantunya berdiri dan berjalan ke arah ruang Tv.
Edrea membungkuk untuk membantu Jelo duduk, sementara tangan Jelo masih melingkar di pundak Edrea hingga memaksa wajahnya begitu dekat dengan dirinya.
Matanya bergerak mengawasi wajah Edrea dari dekat. Jelo menarik tangannya yang melingkar di pundak Edrea sekaligus membawanya agar lebih mendekat.
Satu tangan Edrea berada di atas sofa dan satunya lagi ada di dada Jelo, menahan tubuhnya agar tidak terlalu dengan dengan laki laki itu.
Jelo menarik tengkuk Edrea memaksanya menempelkan keningnya di kening Edrea. Menggerakkan kepalanya agar mempermudah mencium bibir Edre, namun Edrea sedikit menghindar saat itu.
Jelo tersenyum getir setelah mendapat penolakan dari Edrea.
Ujung matanya bergerak menatap mata Edrea yang tepat berada di depan matanya.
Dia mendengus kasar, karena Perempuan di depannya itu masih berusaha menghindar.
"Ee, , Kamu tunggu di sini aku akan mengambilkan minum untukmu" ucap Edrea untuk mengatasi rasa gugubnya.
Jelo menyempatkan mengecup hidung Perempuan itu sebelum melepaskan tangannya yang menahan tengkuk Edrea.
♡♡♡
"Kamu tidak akan singgah sebentar agar kepalamu membaik?" Edrea tahu sepertinya Jelo merasa tidak nyaman di bagian kepalanya setelah beberapa kali melihat Jelo selalu memegangi bahkan memijat kecil bagian kepalanya.
"Aku baik baik saja!" Jelo melangkah keluar dari rumah edrea dan berjalan ke arah mobilnya.
Edrea nampak muram saat melihat Jelo keluar dari rumahnya tanpa senyum bahkan dia langsung masuk ke mobil tanpa melihat ke arahnya lagi.
"Apa dia marah karena aku menolaknya tadi?"
Mobil Jelo langsung pergi dari rumah Edrea dengan sangat cepat malam itu.