My Soul

My Soul
#19 Penolakan



Tara berdiri di tengah pintu mengawasi tuan mudanya yang sedang terlihat bahagia sambil duduk di bangku taman belakang rumahnya. Menikmati hembusan angin malam yang menerpa tubuhnya dengan lembut, seolah tahu kalau jelo sedang dalam suasana hati yang baik.


Tara melangkahkan kakinya berjalan mendekat ke arah jelo.


"Apa anda baru saja tersenyum?" ucapnya dengan nada rendah berusaha untuk tidak menggnggunya, namun seketika suaranya membuyarkan lemunan jelo.


Jelo mengalihkan perhatiannya langsung ke arah tara yang kini sudah duduk di bangku sebrang meja.


Senyum jelo menghilang berganti dengan aura gelap yang menyelingkupi wajahnya, hingga membuat tara bergidik pelan dan menelan ludahnya dengan susah payah.


Jelo mengalihkan tatapan matanya ke arah langit yang gelap, melihat ke arah jauh mengawasi kegelapan di atas sana.


"Rumah ini terasa sedikit nyaman ketika pshycho itu pergi ke luar negeri" ucapnya tanpa ragu.


Pandangan tara kembali mengawasi wajah jelo.


"Apa anda sedang menghindar dari pertanyaanku?" ucapnya dengan nada menuntut kepada jelo.


"Apa yang ingin kamu dengar dariku!" ucap jelo seketika.


"Tidak ada, tidak apa apa kalau anda tidak ingin bercerita denganku" ucap tara, sambil tersenyum tipis ke arah jelo.


"Tanpa aku bercerita, aku yakin kamu pasti sudah tahu" jelo berucap seolah dia bisa membaca isi pikiran tara.


"Apakah ini tentang perempuan yang bernama edrea maheswari itu?" ucap tara tanpa keraguan.


Tatapan mata jelo langsung menatap tajam arah wajah tara.


"Berhenti mengikuti dia" seolah dia tahu apa yang di lakukan oleh orang kepercayaan ayahnya itu.


"Tenang tuan muda, saya melakukannya untuk berjaga jaga" ucapnya dengan sopan namun meledek ke arah jelo.


"Saya melakukannya untuk mengelabui anak buah ayahmu" tambahnya.


Wajah jelo nampak gelisah, kerutan halus di keningnya kini bertambah lebih dalam hingga terlihat hampir di seluruh area matanya.


"Selain tuan brahm hanya saya yang bisa memberi perintah kepada anak buahnya" tara melanjutkan ucapannya setelah tahu jelo tak dapat berkata apa apa.


Tatapan mata jelo kini semakin menyelidik ke arah tara.


"Tenanglah, saya menghentikan mereka sebelum berhasil mengikuti edrea" ucapnya merujuk pada anak buah brahm.


Jelo tersenyum sinis.


"Kamu pikir aku percaya?" jelo terkekeh.


"Bahkan kamu lebih berbahaya dari ayahku" ucapnya dengan nada rendah namun terdengar sengit di telinga tara.


Tara tahu apa yang di katakan jelo memang benar, dia bisa menjadi musuh untuk tuan mudanya itu ketika menyangkut keselamatan keluarga kecilnya.


"Kenapa anda yakin kalau saya akan berhianat padamu tuan muda?" ucapnya seperti sebuah umpan untuk memancing jelo.


Senyum jelo terlihat datar.


"Seperti yang kamu bilang, bagaimana pun kamu tetaplah orang kepercayaan ayahku, kamu juga sudah terikat janji dengannya. Lantas apa lagi yang bisa membuatmu berpihak kepadaku?? tidak ada kan?" jelo berhenti berucap seolah sedang memberi ruang dan waktu ke pada tara untuk berfikir.


"Uang??, , bahkan aku tidak memilikinya sepeser pun saat ini" jelo sadar uang yang selama ini di hambur hamburkan adalah uang pemberian ayahnya.


Dia sebenarnya muak harus menerima dan memakai kekayaan orang tuannya itu, tapi inilah cara dia melampiaskan kekesalannya pada perlakuan ayahnya yang psycho.


Setidaknya dengan berfoya foya dia bisa sedikit saja mengelabui pikirannya sendiri akan kehidupannya yang menyedihkan ini.


Semua anak buah brahm tahu kalau sampai tara atau meraka berhianat ke pada ayahnya maka tidak hanya mereka namun juga keluarga mereka akan ikut di habisi.


Semakin malam percakapan mereka semakin menegangkan. Tara memandang wajah jelo dari seberang meja dengan lekat.


"Saya juga terikat janji dengan nyonya adelia" sejenak tara berhenti berucap, untuk menghela nafas panjang.


"Ibu anda meminta saya untuk menjaga tuan muda" terusnya.


"Lalu bagaimana jika suatu saat nanti, kamu berhianat kepada ibuku?, , dan memposisikan diriku dalam bahaya" ucapnya dengan nada menuntut.


"Saya akan membayarnya dengan nyawa, itu janji saya kepadamu tuan muda!" ucap tara tanpa keraguan sedikit pun.


Kening jelo kembali berkerut, bahkan kali ini lebih dalam dan kasar, nampak dari wajahnya kalau dia tidak suka mendengar jawaban dari orang yang selama ini selalu menjaganya.


"Berani sekali kamu berkata seperti itu denganku!!, , kamu bahkan cukup mengerti, semenjak kepergian mamahku aku tidak memiliki siapa pun di dunia ini selain dirimu" jelo beranjak dari kursinya dan memaku tubuhnya sebelum pergi meninggalkan tara.


"Hiduplah dengan baik, bahkan di bandingkan nyawaku, nyawamu lebih berharga karena masih ada keluarga yang membutuhkan dirimu!" ucap jelo setelahnya dia melangkahkan kakinya berjalan ke arah pintu untuk masuk ke dalam rumahnya.


Tara hanya terdiam membisu, menghela nafas panjang untuk menetralkan perasaan sedihnya setelah mendengar ucapan jelo bahwa keberadaannya ternyata memang sangat berarti di hidup laki laki yang baru saja meninggalkannya itu.


♡♡♡


Edrea tengah sibuk dengan laptopnya di atas meja, bukan membuat tugas namun dia mencari tahu tentang jam yang di berikan oleh murid laki lakinya itu melalui situs web.


Edrea membaca sedikit artikel di layarnya mengenai harga jam itu.


Mulutnya membuka lebar ketika melihat nominal harga jam tangan yang kini masih tertata rapih di dalam kotak di samping laptopnya.


"244 juta???, , sekaya itukah dia, sampai membeli jam tangan untuk orang yang baru di kenalnya saja seolah tak memikirkan harga jam itu"


Edrea melamun tak percaya, membuatnya menelan ludah ketika mengetahui harganya yang fantastis. Tangannya bergerak menutup laptop kemudian mengambil kotak jam tangan pemberian dari jelo.


"Sepertinya dia memang sudah tidak waras" gumamnya.


Edrea kembali menutup dan meletakkan kotak jam itu di atas meja, kini lamunanya kembali mengingatkan akan kejadian tadi saat dirinya tengah lepas kendali dan membalas ciuman muridnya.


"Sepertinya aku juga sudah kehilangan akal sehatku, karena telah membalas ciumannya" gumam edrea sembari meraba bibirnya.


"Mencium siapa mah?" suara kecil nan menggemaskan yang keluar dari mulut anin seketika memecah lamunan edrea.


Dia nampak sangat terkejut hingga mengalihkan pandangannya ke arah anin yang kini tengah berjalan ke arahnya.


"Mm, , mamah, tadi, , e, , itu" ucapan edrea terbata, dia masih terkejut kini bibirnya memaku karena belum bisa menemukan alasan untuk menjawab pertanyaan putri kecilnya itu.


"Mm, , bagaimana keadaan putri kecil mamah ini?, , kamu sudah baikkan?" tanyanya mengalihkan pembicaraan.


Edrea merangkup tubuh kecil putrinya membawanya ke pangkuannya dan memeluknya dengan erat.


"Anin sudah baikkan" jawab anin sambil terus mengawasi wajah mamahnya.


"Lebih baik sekarang anin istirahat" ucap edrea sambil beranjak dari kursi dan menggendong tubuh mungil putrinya menuju ke dalam kamar.


"Ini sudah larut tidak baik anak kecil masih terjaga di jam segini" tambahnya.


Edrea merebahkan tubuh putrinya dan menarik selimut untuk menyelimutinya.


Anin tersenyum, tangannya yang mungil meraih pipi edrea dengan lembut.


"Bisakah besok aku bertemu dengan om angelo?" pintanya tanpa keraguan.


Edrea menghela nafas panjang.


"Anin" suara edrea terdengar fruatasi, dia tak sanggup bagaimana caranya mengutarakan untuk tidak bergantung pada angelo agar tak menyakiti perasaannya.


"Bisakah untuk sementara waktu kita tidak membahasnya" ucapan edrea merujuk ke pada jelo.


Ekspresi wajah anin terlihat kecewa, dan itu juga membuat edrea terluka hatinya. Namun mau tak mau edrea harus melakukan ini.


"Mamah ingin aku menjauhi om angelo untuk yang ke dua kalinya?"


Benar! ini kali ke dua edrea meminta anin untuk tidak berhubungan lagi dengan jelo.


Edrea kembali mengehela nafas, kali ini nafasnya terasa lebih berat.


"Maaf nak, mamah tidak bermaksut untuk melarang anin bertemu dengan om angelo, tapi" edrea tak sanggup lagi meneruskan ucapannya karena dia takut akan menyakiti perasaan puyri kecilnya.


Anin membisu, mulut mungilnya itu tak membantah ucapan mamahnya. Dia lebih memilih memunggungi edrea dan menutup matanya.


Edrea tahu anin sedang marah dengannya namun tak ada pilihan lain. Dia ingin jelo menjauh dari kehidupan mereka.


♡♡♡


Dia lebih memilih perpustakaan yang sudah sepi karena di jam jam seperti itu tak ada satu murid pun yang berada di sana.


Lampu lampu perpustakaan mulai meremang di sore hari. Pandangan matanya terus mengawasi layar laptop yang sinarnya menerangi wajahnya dengan sangat terang.


Matanya teralihkan ke arah pintu masuk ketika melihat bayangan dari ujung matanya yang sangat mengganggu dirinya.


Dia melihat jelo tengah berdiri bersender ke samping di gawang pintu. Melihat ke arahnya dengan tatapan sensualnya.


Edrea menunduk sambil memijat kecil keningnya.


"Tatapan apa itu!!, , murid satu ini benar benar mesum!! tunggu, ,atau jangan jangan aku yang berfikiran mesum??, , oh ya ampun!!!"


Edrea kembali mengangakat wajahnya, dan seketika terlonjak kaget melihat jelo telah duduk di samping dengan menopang dagunya di atas meja tepat di depan matanya.


Ujung bibir jelo mengembang sebelah.


"Kenapa?" tanyanya seketika.


Edrea menghela nafas panjang.


"Kebetulan sekali kamu ada di sini" ucap edrea sambil membuka tasnya dan mengambil sebuah kotak berisi jam tangan pemberian dari muridnya itu.


"Aku tidak bisa menerima ini" ucapnya sambil meletakkan kotak itu di atas meja dan menyodorkannya ke arah jelo yang berada di sampingnya.


Jelo melirik ke arah kotak itu, setelahnya dia menarik punggungnya dan bersandar pada dinding kursi yang ada di belakangnya sambil melipat ke dua tangannya di dada.


"Kamu menolak pemberianku?" ucapnya dengan nada menuntut seolah dia tidak terima edrea menolak pemberiannya.


"Kamu juga menolakku?, padahal aku belum mengatakan apa pun padamu!" tambahnya.


Edrea sudah tahu dengan pasti kenapa jelo bersikap melewati batasan antara seorang guru dengan murid.


"Berlakulah layaknya seperti murid yang lain, aku adalah gurumu! usia kita juga terpaut jauh, terlebih lagi aku seorang janda. Dan kamu? masih memiliki banyak kesempatan untuk memilih perempuan mana pun yang kamu mau. Jangan sampai menyesal di kemudian hari. kita hanya cukup sebatas murid dan guru" ucapnya tanpa keraguan.


"Murid dan guru?" jelo mengulangi ucapan edrea dengan nada menekan.


"Mana ada seorang guru membalas dan menikmati ciuman dari muridnya" ucapnya membuat pipi edrea tiba tiba merona.


Dia mengingatkan akan kejadian kemarin di dalam mobilnya.


"Sudah aku katakan, itu semua adalah sebuah kesalahan" ucapnya dengan tegas namun sedikit tertahan, sesekali dia berusaha melihat sekitar memastikan tak ada yang mendengarnya. Edrea berusaha menutupi bibirnya yang bergetar karena gugub.


Jelo menarik kursinya lebih mendekat ke arah edrea. Tangannya meraih tengkuk edrea kemudian menariknya dengan lembut, menyandarkan keningnya di kening edrea.


Nafas jelo terasa hangat saat menyapu wajahnya membuat gerakan sensual dengan hidungnya di hidung edrea.


Dada edrea berdegub kencang nafasnya juga memburu, dia berusaha mengendalikan perasaannya dengan susah payah.


"Kesalahan?" ucapnya mengulangi ucapan edrea.


"Lalu bagaimana dengan perasaanku??, , apa itu juga sebuah kesalahan?" tambahnya.


Edera tak bisa menjawab pertanyaan jelo, dia terbuai oleh kedekatan intim mreka. Edrea berusaha berkali kali menarik kepalanya menjauh dari jelo namun, jelo berhasil menahan kepala edrea untuk tetap berada di dekatnya.


Edrea berpaling ketika jelo ingin mengecup bibirnya, yang ada kini jelo malah menyentuh lembut pipi edrea menggunakan ujung hidungnya.


Jelo merangkup pipi edrea dengan ke dua tangannya, memaksa edrea kembali melihat ke arahnya. Jelo tak bisa menahan hasrat yang bergejolak di dalam jiwanya ketika berada di dekat edrea.


Matanya, mulutnya, suaranya, aroma tubuhnya seakan memaksa jelo untuk tak bisa berpaling sedetik pun darinya.


Aura yang ada di tubuh edrea memaksanya ingin selalu menikmati kebersamaannya dengan edrea setiap waktu.


Meningkatkan hasrat dan gairah yang membelenggu jiwanya.


Nafasnya memburu, jelo menutup matanya menikmati setiap detik kedekatannya dengan edrea.


Edrea berusaha berpaling kembali dari wajah jelo, nafasnya juga memburu tak bisa di pungkiri jantungnya kini berdegub lebih kencang, dia juga berusaha menahan perasaan yang bertolak belakang dengan pikirannya. Perlahan edrea meraih tangan jelo dan menariknya menjauh dari tengkuknya.


"Jangan melewati batasmu lagi" ucapnya sambil berusaha keras kembali fokus kepada layar digital di depannya.


Jelo menahan emosinya, dia menikmati rasa sakit yang di berikan oleh edrea. Rasa berbeda yang tak pernah dia rasakan sebelumnya, dalam beberapa hari dia mendapatkan perasaan senangnya dan setelahnya dia merasakan kesakitan di dalam dadanya seperti saat ini. Dan itu semua dia peroleh dari edrea.


Rasa sakit yang tentunya berbeda dengan saat kepergian mamahnya.


Jelo beranjak dari kursi, melangkah meninggalkan edrea.


"Tunggu" ucap edrea seketika menghentikan langkah jelo.


Dia menengok sedikit untuk menunggu edrea menyelesaikan ucapannya.


"Kamu meninggalkan jam tangan mu!" edrea mengangkat kotak berisi jam tangan itu ke arah jelo.


Tanpa berfikir panjang jelo meraih kotak itu, kemudian melanjutkan langkahnya dan berhenti di tengah pintu setelahnya dia membuang kotak itu ke tempat sampah begitu saja.


Mebuat edrea terkejut hingga membulatkan matanya.


"Dasar orang kaya, suka berlaku seenaknya saja!!" gumam edrea sambil beranjak dari kursi dan berlari ke arah tong sampah. Dia memungut kembali kotak itu dan menyimpannya.


♡♡♡


Jelo menghentikan laju motornya, dia berhenti di depan mini market.


Melepas helem dan meletakkannya di atas tangki motornya.


Jelo menggunakan pakaian casual yang membuatnya nampak terlihat lebih dewasa dari umurnya.


Celana jins hitam pekat, dengan kaos abu abu yang terlihat kebesaran di bagian lehernya dan di padupadankan dengan jaket kulit bekesukaannya.


Dia melangkah menuju pintu masuk ke dalam mini merket, namun langkahnya terhenti ketika berpapasan dengan laki laki yang nampak tak asing di matanya.


Dia adalah mantan suami edrea yang baru saja keluar dari minimarket itu.


Seketik mata mereka bertemu, tatapan mata mereka begitu terlihat sengit satu sama lain.


Mata jelo bergerak ke arah samping ronald ketika dia melihat edrea keluar dari pintu beberapa saat setelah ronald keluar.


"Ayo" ucap edrea kepada ronald sambil membawa kantong plastik di tangannya.


Wajahnya memaku ketika mengalihkan pandangannya ke arah jelo yang berdiri di depannya.


Jantung edrea berdegub dengan kencang.


Ada rasa sakit di dalam hatinya ketika jelo mendapati dirinya sedang bersama dengan mantan suaminya.


"Apa yang kamu pikirkan edrea, ini lebih baik. Agar dia menjauh darimu, , namun kenapa aku tidak rela, seolah aku sedang kepergok oleh orang yang aku sukai saat bersama dengan orang lain"


Edrea menghela nafas panjang berusaha menetralkan perasaan resahnya.


"Kamu juga ada di sini?" ucapnya menutupi rasa gugub yang menyelingkupi tubuhnya.


Jelo tidak menjawab sapaan edrea, dia lebih memilih diam dan membisu melihat edrea berdiri sangat dekat dengan mantan suaminya.


Membuat hatinya terasa sakit saat melihat mereka bersama.


Edrea meraih lengan ronald dan memeluknya dengan erat.


"Bisa kita pergi sekarang" edrea berusaha memamerkan kemesraannya dengan mantan suaminya di depan jelo.


Dengan berat hati edrea melakukan hal itu.


Edrea sadar bahwa dia juga sedang menyakiti diri sendiri.


Mata jelo mengawasi tangan edrea yang dengan erat memeluk lengan ronald.


Rahangnya menguat ketika dia menahan amarahnya dengan menggertakkan giginya, hingga terlihat urat halus di pelipisnya menguat.


Setelahnya Jelo terkekeh sinis berusaha menutupi rasa sakit di dalam hatinya yang terus semakin bertambah besar ketika melihat adegan mesra di depan matanya.


Ronald tampak memandang jelo dengan tatapan sinis penuh kemenangan, seolah dia merasa menang lagi dan ini untuk yang ke dua kalinya setelah waktu itu di klinik dia berhasil membawa edrea pergi bersanya.