
Jelo, Basti dan Azel mereka bertiga nampak masuk ke sebuah club malam.
Mereka pergi menikmati musik Dj yang menggema di setiap sudut ruangan, kepul asap rokok diruangan berAC tentulah sangat tidak sehat namun Jelo kali ini tidak menghiraukannya.
Dia ingin mencari pelampiasan atas rasa sakit hatinya ke pada Edrea.
Asapnya terlihat sangat tebal hingga membuat jarak pandang mata semakin terbatas.
Azel dan Basti turun untuk berjoged sedangkan Jelo masih duduk di sofa ruang VIP berwarna merah gelap yang membentang di lantai dua dan sengaja di booking oleh Jelo.
Ruangan itu tertutup kaca dia bisa menikmati pemandangan di luar tanpa ada yang mengganggunya.
Jelo melirik ke arah seorang waitress yang baru saja masuk dengan membawa sebotol minuman yang di pesan oleh teman temannya.
Dia hanya melamun sambil melihat ke arah botol yang sudah tertata rapih di atas meja.
Selama ini dia tak pernah menyentuh barang itu. Namun karena suasana hatinya yang sedang buruk tanpa berfikir panjang Jelo mengambil botol anggur itu dan langsung menegugnya.
Dia menikmati rasa pahit di setiap tegugkan minuman itu. Baginya tak ada rasa pahit yang dapat mengalahkan pahitnya hidup yang harus di alaminya.
Di tambah lagi setelah mendapat penolakan dari Edrea.
Jelo terus menenggak minuman itu tanpa memikirkan efeknya.
Bagi Jelo hasrat untuk memiliki Edrea jauh lebih besar di bandingkan rasa benci ke pada Ayahnya. Hingga dia lupa untuk tidak merusak tubuhnya sendiri. Dan melupakan misi utamanya.
Tawa bahagia nampak menghiasi wajah ke dua sahabat Jelo saat masuk ke dalam ruang VIP.
Azel dan Basti memaku saat melihat tubuh Jelo terkapar di atas sofa dengan tangan menjuntai ke bawah.
Azel melihat botol minuman yang telah jatuh ke lantai karpet ruang VIP tidak jauh dari tangan jelo.
"Sial!!" umpatnya sambil berlari ke arah tubuh jelo.
"Jel, , jelo" Azel menepuk pelan pipi temannya itu.
Basti mengambil botol minuman di lantai yang sudah kosong.
"Dia menghabiskannya sendiri???" raut wajah Basti nampak terlihat tegang.
Mereka tahu Jelo tidak pernah minum, lalu apa yang akan terjadi jika dia telah menghabiskan satu botol minuman berkadar alkohol tinggi itu.
Azel meremas rambutnya dengan tegang. Wajah mereka terlihat sangat khawatir.
Azel kembali membangunkan Jelo yang sudah tidak sadarkan diri.
"Mampus!!, , kita bakal mati kalau sampai ayahnya tahu" Azel dan basti terlihat saling lempar pandang dengan sangat khawatir.
Wajah mereka berdua nampak terlihat pucat.
Mereka memikirkan bagaimana caranya membawa Jelo pulang dalam keadaan mabuk seperti ini.
Nafas Azel terengah engah karena menahan rasa ketakutannya.
"Guru magang!" ucap Basti seketika.
Dengan cepat Azel mengambil ponselnya untuk menghubungi wali kelasnya.
"Brengsek!!, , aku kan tidak punya nomornya" Azel menghela nafas.
Basti melihat ke arah wajah Jelo, kemudian matanya bergerak ke arah saku celananya.
"Kita pakai ponselnya, coba hubungi orang yang selalu mengikutinya" ucapan Basti mengacu pada bodyguard Brahm.
Azel meraih ponsel milik Jelo yang ada di sakunya. Jempolnya bergerak mengusap layar ponsel milik jelo.
Dia memilih menu kontak dan menyelidiki satu persatu.
"Ya ampun!! siapa yang mau kita hubungi, , hampir semua nomor kontak di ponselnya bernama bajing** semua" Azel menepuk jidarnya sendiri.
"Serius??" Basti tak percaya, dia langsung merebut ponsel itu dari tangan Azel.
Matanya membulat ketika ucapan Azel ternyata benar. Hampir seluruh nomor di kontak ponselnya di beri nama bajing** dan itu tidak hanya satu, hampir semuanya, bajing**1, bajing**2 dan seterusnya.
"Jangan jangan nama kita juga bajing** lagi di sini?" Basti nampak murung.
"Jelo, kamu sungguh kejam!! kenapa menyimpan nomorku dengan nama bajing**??, , apa tidak ada nama yang lebih bagus apa!" Basti memulai dramanya.
Azel mendorong kepala Basti.
"Kanapa jadi sibuk mikirin nama sih!"
"Elang??" Basti bertanya tanya ketika membaca nama salah satu kontak di ponsel Jelo.
Namanya berbeda dari yang lain.
"Biar mampus saja sekalian kita, kalau kamu mau hubungi itu nomor, , di pikir aja namanya 'elang' siapa tahu itu ayahnya, coba kamu hubungi tu nomor, beberapa menit kemudian langsung mampus jadi abu kita" ucap Azel dengan sengit ke pada Basti.
"Nama Ayahnya yang menyeramkan itu kenapa keren sekali, sedangkan kita" Basti kembali fokus mencari nama lain di kontak ponsel Jelo.
Seketika mata Basti membulat, melihat salah satu kontak di ponsel jelo dengan nama.
"Kesayanganku??" ucap Basti tidak percaya.
Azel dan Basti saling lempar pandang.
Pasalnya mereka tidak pernah melihat sisi lain Jelo yang romantis hingga bisa bisanya dia menyimpan nomor seseorang dengan nama 'kesayanganku'.
Tidak menunggu lama Bastik mengubungi nomor itu.
"Hallo ini siapa??" suara dari seberang telepon terdengar sangat jelas.
Basti melihat ke arah Azel dengan menunjuk nunjuk ponsek milik jelo tanpa bersuara namun mulutnya terus mengucapkan kata 'perempuan'.
Basti berdehem untuk menetralkan rasa gugubnya.
"Hallo" sahut Basti.
"Iya ini siapa?" Basti menjauhkan ponselnya dari telinga, wajahnya kebingungan saat perempuan di telpon itu menanyakan namanya.
"Kaya yang pernah dengar suaranya??, , siapa ya?" bisiknya.
Basti kembali mendekatkan ponselnya ke arah telinga.
"Tolong, siapa pun kamu, tapi di ponsel ini namamu tersimpan dengan nama kesayanganku!! jadi kamu pasti kenal dengan Jelo"
Tak ada sahutan dari seberang telepon, sepertinya perempuan itu sedang berfikir keras.
"Hallo??, , Jelo pingsan!!! dia keracunan" ucap Basti untuk meyakinkan perempuan di seberang telepon itu.
"Bastian!!" suara perempuan itu menggema di rongga telinganya.
"Kok bisa tahu kalau ini aku?, , siapa kamu?" wajah Basti terlihat sangat terkejut.
Azel menggerakkan kepalanya seolah bertanya pasa Badti siapa perempuan di ponsel itu.
Basti hanya menggeleng, dia sendiri juga bingung bagaimana bisa perempuan di ponsel itu mengetahui namanya.
"Dimana kalian!!!" suara perempuan itu semakin terdengar keras dan jelas.
Basti memberi tahu alamat keberadaan mereka.
♡♡♡
"Kalian cari mati!!!, , bukannya belajar malah mabuk mabukan di sini!!" suara Edrea yang baru saja masuk ke ruang VIP langsung memantul di setiap sudut kaca dan memekik di telinga ke dua lelaki yang tengah kebingungan.
Basti dan Azel saling lempar pandang tak percaya, ternyata nomor di ponsel Jelo yang di beri nama kesayanganku adalah nomor milik wali kelasnya.
"Kami tidak mabuk!, , noh si Jelo doank yang mabuk!" ucap Basti sambil menunjuk ke arah Tubuh Jelo.
"Kenapa kalian menghubungiku!!, , kenapa bukan keluarganya!, , kalian selalu memberiku masalah terus!" ucap edrea dengan setengah teriak.
"Terus??, perasaan baru pertama ini" ucap Basti dengan rasa tak berdosa.
"Kalian pikir, waktu kalian ikut tawuran kepala sekolah tidak menegurku!!" ucap Edrea mengingatkan kembali saat mereka ikut tawuran kemarin.
Mendengar ucapan Wali kelasnya itu Azel dan Basti hanya saling lempar pandang dalam keheningan.
"Kenapa kalian malah saling melempar pandang!!, , bantu aku buat bawa dia keluar" ucap Edrea sambil berjalan ke arah Jelo.
Akhirnya Basti dan Azel membawa Jelo keluar dari club itu, mereka memasukkan tubuh Jelo ke dalam taxi yang sudah di pesan oleh Edrea sebelumnya.
Edrea menatap galak kepada Azel dan Basti secara bargantian.
"Aku akan membawanya pulang, , lebih baik sekarang kamu pulang bawa motor Jelo sekalian!" perintahnya dengan nada galak.
"Dia keracunan alkohol bu, , pliss bawa dia ke rumah sakit ya" rengek Azel sambil menangkupkan ke dua tangannya.
"Giliran kaya gini aja kalian berlaku sopan!!,, dari mana kalian tahu dia keracunan, orang dia tidur pules gitu"
"Jelo nggak pernah minum minuman beralkohol bu, , sekalinya minum dia langsung menenghabiskan satu botol sendiri, dan dia langsung pingsan!" Basti menjelaskan.
"Kalian benar benar teman yang tidak berguna!!, , udah sana pergi!" Edrea langsung meminta supir taxi untuk membawanya ke rumah dakit terdekat.
Edrea berdecak jengkel.
"Kenapa juga aku khawatir dengannya!!, , sudah tahu tidak bisa minum, pake ngabisin minuman sebotol, , sendirian lagi"
♡♡♡
"Dia tidak apa apa, , kami sudah menguras semua isi perut dan menyiapkan obat untuknya, mungkin hari ini dia harus menginap untuk melihat perkembangannya" ucap dokter ke pada Edrea.
Edrea hanya mengangguk pelan. Dia menarik kursi dan duduk di samping ranjang.
"Kenapa pake acara mabuk segala nih bocah!!, , aku harus menghubungi siapa coba untuk memberi tahu keluarganya" gumamnya.
Edrea memijat keningnya dengan pelan. Wajahnya sedikit terlihat khawatir saat melihat kondisi Jelo yang terbaring lemah di ranjang.