
Jelo tak bergeming, dia hanya diam, membungkukkan sedikit punggunnya menggunakan tangan untuk menyangga tubuhnya yang bertumpu pada pahanya.
Jelo menghela nafas panjang.
Edrea mendorong punggungnya maju ke depan mengarahkan kepalanya ke arah jelo yang sedang melamun di sampingnya, seolah sedang menunggu jelo untuk menjawab pertanyaannya.
Namun jelo tametap diam, dia membiarkan edrea terus penarasan akan dirinya.
Edrea meraih pundak jelo agar sedikit mengubah posisi duduknya, untuk memudahkan dirinya membersihkan luka yang ada di ujung bibir jelo.
Bibirnya terlihat sedikit pecah, sepertinya pukulan laki laki tadi sangat keras ke arah pipinya.
Satu tangan lagi memegangi pipi jelo dari arah lain untuk menahan wajahnya agar tidak bergerak ketika edrea sedang membersihkan lukanya.
Jelo mengarahkan wajahnya ke arah edrea yang sedang fokus dengan lukanya.
Tangannya terasa hangat, tangan edrea yang menyentuh pipinya seperti mengalirkan sebuah energi kehangatan yang langsung menjalar ke dalam dadanya. Memenuhi bagian kosong yang ada di dalam hati jelo.
Tangan jelo bergerak meraih jemari edrea yang masih berada di pipinya dengan sendirinya, menggengam dengan erat tangan edrea seperti tak ingin di lepaskan.
Edrea nampak kaget, seketika matanya mengarah ke arah mata jelo yang melihatnya dengan lekat.
Memaksa tangan edrea memaku di bibir jelo yang terluka.
Edrea menelan ludah dengan susah payah karena tiba tiba merasa gugub. Dia nampak kesusahan melepas tangannya sendiri yang sedang di genggam erat oleh jelo.
Edrea merasa canggung, dia segera menarik ke dua tangan dan bangkit dari duduknya.
"Maaf, , sepertinya aku sudah terlambat, untuk menjemput putriku" diliriknya jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.
Edra berusaha menetralkan perasaannya yang tiba tiba terasa kacau.
"Kemana kamu akan menjemputnya?" jelo berusaha mengatasi rasa canggung yang terus menghinggapi tubuhnya.
"Paud di seberang jalan setelah tikungan, lumayan jauh si" ucap edrea terdengar seperti sedang meminta jelo untuk mengantarnya.
"Tapi aku bisa menjemputnya sendiri" tambahnya sebelum jelo salah sangka terhadap dirinya.
"Aku akan mengantarmu" ucap jelo seketika.
Dia beranjak dari kursi sambil memakai kembali jaket kulitnya.
Berjalan ke arah motor, memakai helem dan menyalakan mesin motornya.
"Ak bisa sendiri kok" edrea berusaha menolak secara halus tawaran muridnya itu.
"Tidak apa apa, aku juga akan menemui temanku di sana, naiklah" ucap jelo sambil menggerakkan sedikit kepalanya seolah sedang meminta edrea untuk segera naik ke motor.
"*Teman???, , apa dia punya teman yang bekerja di sana*?"
Jelo menghentikan kendaraannya di tempat parkir.
Dia berdiri di dekat motornya, membiarkan edrea pergi masuk ke dalam untuk menemui anaknya.
Dari kejauhan, jelo melihat dia keluar dengan menggandeng tangan seorang gadis kecil yang nampak tak asing di matanya.
Mata jelo mengerucut, kerut halus mulai memenuhi keningnya, untuk memastikan sekali lagi.
Terlihat edrea dan anin berjalan menuju pintu gerbang, namun anin tiba tiba melihat ke arah jelo yang sedang berdiri di samping motornya.
"Om ganteng" teriak anin.
Dia melambaikan tangannya, melepas genggaman tangan mamahnya dan berlari ke arah jelo yang sengaja menunggunya.
Edrea terkejut, ketika dengan mudah anak semata wayang melepas genggaman tangannya, hanya untuk berlari menemui orang asing di hidupnya.
"Anin" teriak edrea berharap anin menghentikan langkah kakinya yang cepat.
Rasa terkejut lebih menguat lagi ketika melihat anin sedang memeluk jelo murid laki lakinya.
Rona bahagia terlihat menghiasi wajah gadis kecil itu.
Ingin menahan anak kesayangannya, namun edrea tak sanggup melakukan ketika anin terlihat sangat senang berada di sisi jelo.
"Anin" suara lembut dari mulut mamahnya sejenak mengalihkan pandangan anin dari jelo.
"Mah, kenalkan" anin menarik tangan edrea membawanya mendekati jelo.
"Ini om gantengku, namanya om angelo"
Anin berusaha menarik tangan edrea untuk berjabat tangan dengan jelo namun, mereka berdua nampak mematung sambil melihat ke arah satu sama lain.
Nampak mata anin mmenyelidik ke arah mereka berdua secara bergantian.
"Apa kalian sudah saling kenal?" suara mungil yang keluar dari mulut anin mengacau lamunan mereka berdua.
Jelo hanya diam mngetahui gadis kecil yang sering di temuinya adalah anak dari wali kelasnya.
Dia sedang menikmati perasaan aneh, ada rasa senang, ada rasa gundah yang bercampur aduk menjadi satu.
"Mm, ,kita pulang ya?" ucapnya seketika.
"Kalian belum menjawab pertanyaanku" anin mengingatkan kembali ke pada kedua orang dewasa yang sedang berdiri di depannya.
"Iya, dia adalah murid mamah" edrea berucap, berharap setelah menjawab rasa penasaran anin, dia mau di ajak untuk segera kembali pulang.
Namun, anin malah menagih janjinya kepada jelo yang kemarin sudah berjanji akan mengajaknya jalan jalan untuk membeli es krim.
Pastinya jelo dengan senang hati menepati janjinya, namun wajah edrea nampak terlihat tak nyaman dengan pemandangan kedekatan ke dua manusia yang ada di depannya.
Bahkan anin lebih memilih untuk menggandeng tangan muridnya itu.
Edrea menikmati Emosi serta rasa cemburu yang mencoba menguasai hatinya ketika melihat hubungan mereka sangat dekat, bahkan di luar nalar edrea.
♡♡♡
Anin nampak menikmati semangkuk es krim yang ada di depannya, meninggalkan bekas es yang di makannya di sekitar area mulut menandakan ciri khas seorang anak kecil.
Tak terlihat seperti saat sedang berbicara, sikapnya terlihat lebih dewasa dari umurnya.
Jelo mengajak mereka berdua membeli es krim di kedai khusus.
Memilih menikmatinya di pinggir jalan yang sudah tersedia, kursi meja dan payung besar yang melindungi mereka dari teriknya sinar matahari.
"Kamu menyukainya" ucap jelo ketika melihat anin begitu lahap menikmati esnya.
"Mmm, , aku ingin om selalu mengajakku beli es krim ketika aku libur sekolah"
"Tidak boleh anin" ucap edrea seketika, tak memberi kesempatan kepada jelo untuk menjawab.
Tatapan matanya seakan sedang menandakan kalau dia tidak suka jelo memdekati anaknya.
"Besok besok, kalau anin mau, anin bisa pergi dengan mamah" ucap edrea berusaha memberi pengertian kepada anak gadisnya.
"Tidak mau, aku maunya om ganteng yang menemaniku" rengek anin, sambil terus melahap eskrim yang sudah mulai encer.
Edrea kecewa mendengar jawaban dari anin, dia mengalihkan pandangannya ke arah jelo yang terlihat senang, dia merasa menang kali ini dari edrea.
Jelo mendorong punggungnya ke arah belakang, membiarkan dinding kursi menyangganya.
Melipat ke dua tangan, sambik menghela nafas panjang.
"Kenapa?, , aku bukan penculik yang akan membawanya pergi dari kehidupanmu" ucap jelo seolah mengerti arti dari tatapan edrea kepadanya.
Edrea tahu, bukan itu masalahnya. Dia hanya takut kalau suatu saat dia akan bergantung kepada murid laki lakinya itu.
Pasalnya dia belum pernah melihat sikap anin yang begitu lekat menempel pada laki laki dewasa.
Bahkan kepada mantan suaminya pun anin tidak pernah bersikap semanja itu.
"Apa yang aku takutkan??, , kalau pun dia menjadi bergantung pada sosok laki laki dewasa aku bisa menemukannya dengan ronald. Tapi, , kenapa ketakutanku lebih besar dari itu"
Tint tin, , !!!
Suara klakson mobil menarik perhatian edrea dan jelo seketika.
"Itu mobil papah bukan?" suara anin memecah hati jelo berkeping keping seketika.
Wajah edrea sudah terlihat malas sebelumnya, ketika melihat ronald berjalan mendekat ke arahnya.
Dia berusaha mengalihkan pandangananya ke arah lain.
"Halo sayang" ronald mendaratkan sebuah ciuman di kening buah hatinya.
Sekejap dia melihat ke arah jelo yang tengah duduk dan sedang melihat ke arahnya.
Ada rasa cemburu di hati ronald melihat laki laki berada di lingkungan ke dua perempuan itu.
Ronald berusaha memperlihatkan akan kepemilikan dua perempuan yang ada di depannya dengan mencium kening edrea.
Namun edrea sempat memalingkan wajahnya, hingga ciuman ronald mendarat di kepala edrea.
Nampak dari wajah edrea tak menyukai perlakuan mantan suaminya itu terhadap dirinya.
Setelah bercerai edrea memang tidak pernah membatasi ronald untuk bertemu dengan anaknya.
Namun bukan berarti dia boleh bersikap melebihi batas kewajarannya.
Jelo hanya diam, menikmati pemandangan di depannya yang memberikan sensasi rasa yang berbeda yang belum pernah dia rasakan.
Jengkel, kesal, amarah, dan ada rasa yang tak bisa di ungkapkan seperti rasa perih dan memanas dari bagian terdalam dadanya yang menjalar melalui darah ke seluruh tubuh.
Seperti sengaja di suntik racun yang dengan cepat langsung mematikan sel syaraf terpenting di bagian tubuhnya.
"Ini kah, sosok ayah yang di ceritakan anin waktu itu?"
Jelo berusaha menguasai emosi yang melingkupi tubuhnya.
Pandangan mata ronald terus melekat pada jelo sambil menarik kursi memposisikan dirinya duduk di tengah tengah edrea dan jelo seperti memberi garis pembatas antara mereka berdua.
"Siapa laki laki ini edrea?" ucap ronald seketika penasaran ingin tahu siapa laki laki itu sebenarnya.