
Brahm selama ini melihat jelo bukan sebagai seorang anak namun dia sengaja memeliharanya untuk mempersiapkan jelo sebagai alat untuk mencetak uang ketika nanti dia sudah besar dan umurnya memenuhi syarat menjadi direktur di perusahannya.
Semenjak mengetahui ayahnya yang tidak pernah puas akan apapun yang dia miliki membuat jelo harus merubah pola pikirnya.
Dia tidak ingin lagi di pandang cerdas, dia tidak ingin menjadi mesin pencetak uang bagi ayahnya itu.
Mulai hari itu dia mencoba membohongi orang orang yang ada di sekitarnya.
Terutama adalah brahm, ayahnya.
Dia berkata kepada gurunya kalau selama ini dia bisa mendapatkan nilai tinggi karena menyontek.
Untuk meyakinkan guru dan kepala sekolahnya dia sampai berbuat nekat membuat contekan saat ujian ke naikkan kelas 3 untuk lebih meyakinkan mereka.
Dengan sengaja mengisi lembar soal asal asalan. Makanya dia mendapatkan nilai buruk dan harus mengulang lagi di kelas 2 SMP selama dua tahun.
Brahm mengetahui hal itu, dia menghajar anak semata wayangnya seperti yang di lakukannya kepada almarhum istrinya dulu.
Tangannya yang berotot itu melayang dan mendarat keras di bagian kepala jelo.
Hingga tubuhnya jatuh tersungkur ke lantai.
Tendangan, pukulan, sabetan di terima oleh jelo.
Brahm menekuk satu lututnya dan mencengkeram rambut jelo dengan kuat.
"Kamu sama sama tidak bergunanya dengan mamahmu!!" ucapan bram terdengar sangat mengerikan seolah dia akat merenggut kehidupan dari jelo seperti yang pernah dia lakukan kepada istrinya.
Brahm kembali membanting tubuh jelo ke lantai.
Jelo membiarkan ayahnya terus memukuli tubuhnya itu, dia merasa senang jika ayahnya bisa puas memukulinya.
Dari pada harus memenuhi keinginanya menjadi mesin pencetak uang.
Sedangkan dia akan bersenang senang dengan para wanitanya.
Jelo tidak akan membiarkan hal itu.
Dia tidak ingin lagi terlihat pintar di depan orang orang, biarkan saja dirinya terlihat bodoh asal dia bisa melakukan apa saja yang dia inginkan.
Kecuali memenuhi keinginan ayahnya.
Beberapa anak buah tengah berdiri melihat brahm terus memukuli anaknya tanpa rasa belas kasih sedikit pun.
Namun tak ada satu pun yang berani menahan amarah tuannya, mereka tahu, sekali membantah mereka pasti akan langsung mati saat itu juga.
Hanya satu yang hatinya mulai tergerak.
Tara, kakinya terlihat bergerak sedikit ketika melihat tubuh jelo terkapar di lantai.
Seperti ingin menolong tubuh anak itu dari siksaan ayahnya.
Namun brahm mengangkat tangannya ke arah tara dan memberi kode agar dia pergi keluar dari ruangan itu.
Tara tidak memiliki kuasa apa pun baik untuk membantah atau pun menolong jelo, dengan patuh dia mengikuti perintah tuannya itu untuk keluar dari gudang dimana jelo sedang di siksa.
Bram kembali mengarahkan mata tajamnya kapada jelo.
"Bagaimana bisa dalam waktu sesingkat ini kamu tiba tiba bisa menjadi bodoh!!! atau karena kamu tidak mau meneruskan perusahaanku!!, , jika itu yang kamu inginkan, maka teruslah berada di lingkungan sekolah sepuasmu" brahm berucap seperti sedang mengancam anaknya sendiri.
Dia tahu setiap gerak gerik anaknya, apa pun yang di lakukan jelo dia selalu tahu dan tak sedetik pun jelo luput dari pengawasan brahm.
Brahm keluar dari gudang diikuti beberapa anak buahnya dari arah belakang, meninggalkan jelo sendirian.
Sampai di luar pintu brahm menghentikan langkahnya, dia menatap tara yang sedang berdiri di sampingnya.
"Jangan pernah berani membantunya, atau keluargamu yang akan aku habisi!!!" brahm kembali berucap dengan penuh ancaman di setiap kata katanya, namun kali ini di tujukan kepada tara.
Brahm tahu kalau selama ini jelo selalu menemui tara di belakangnya, entah untuk sekedar bercerita atau mencari teman untuk menemani kesepiannya.
"Saya tidak akan berani melakukannya" jawab tara dengan tegas.
Jelo merasa kesakitan di sekujur tubuhnya, ketika sedikit di gerakkan, maka badanya tarasa seperti sedang di sayat sayat. Rasa ngilu di sekujur tubuhnya menimbulkan rasa lelah yang teramat sangat.
♡♡♡
Di jam tengah malam dia beranjak dari tempat tidur, berjalan ke luar rumah menuju ke halaman belakang.
Sejenak dia menghentikan langkahnya di depan pintu sambil membuang pandangan matanya ke arah rumah yang berada di halam belakang rumahnya.
Ada rasa keraguan ketika dia melihat ke arah ruang besar yang terletak di lantai dua rumah itu.
Ruang latihan, biasa di gunakan untuk anak buah brahm berlatih bela diri.
Lampu ruang itu masih terlihat menyala di tengah malam.
Jelo melangkah dengan penuh keyakinan dalam dirinya, menemui tara yang sedang melatih otot pergelangan tangannya.
Dia tahu kalau tara selalu berlatih di jam jam itu, karena beberpa kali dia melihat tara dan selalu mendengar pukulan pukulan keras yang menggema di ruang itu.
Tara sedang duduk sambil melepas kain berwarna putih yang melingkar erat di area telapak tangannya.
Menggulung kain itu seperti seorang petinju yang sedang bersiap siap memakai sarung tinjunya.
Keringat bercucuran mengikuti alur gelombang otot otot yang ada di sekitar lengan tara.
Seperti lebih terlihat kalau dia baru saja selesai melakukan latihan.
"Ajari aku berkelahi" sura jelo terdengar dengan sangat jelas dan di penuhi keyakinan.
Mata tara dengan cepat langsung tertuju ke arah jelo yang berdiri di tengah tengah pintu.
Sejenak dia menghentikan gerakan tangannya yang sedang menggulung kain putih yang membungkus telapak tangannya.
Kini setiap pulang sekolah jelo selalu memiliki kegiatan lain, terus berlatih untuk membentuk ototnya.
Dia hanya memiliki kesempatan untuk berlatih di siang hari. sebelum ayahnya pulang dari kantor.
Beberapa kali tara mngajarkan inti inti gerakaan kapada jelo, tak susah baginya untuk menangkap setiap gerakan yang di berikan oleh tara.
Selain pandai dalam menangkap pelajaran, dia juga lincah melakukan setiap gerakan yang di ajarkan tara.
Setiap hari terus berlatih tanpa ada sehari pun yang dia lewatkan.
Berharap ketika dewasa nanti siapa pun tidak akan bisa menyentuh tubuhnya sekali pun itu adalah brahm, ayahnya sendiri.
Hanya dirinya sendiri yang bisa melindungi tubuhnya, sekali pun ada tara namun dia tidak selalu berada di sisi jelo.
♡♡♡
Sampai pada akhirnya kini jelo beranjak dewasa bahkan bisa di bilang dia yang paling tua di sekitar teman sekelasnya.
Entah berapa tahun dia menghabiskan waktunya di bangku SMP.
Karena semenjak ayahnya mengetahui kalau dia sengaja berpura pura menjadi bodoh, ayahnya berusaha memerintah kepala sekolah untuk menahan jelo di bangku SMP seperti kemaunnya.
Apa lagi saat di SMA dia berkali kali tinggal di kelas.
Namun jelo malah benar benar sangat menikmati masa sekolahnya.
Menikmati siksaan ayahnya yang di berikan ke pada jelo kali ini.
Dia sengaja, lebih baik menghabiskan waktu bersama teman temannya dari pada harus menjadi direktur dan mesin pencetak uang bagi ayahnya.
Bersama teman teman sekelas dia bisa menjadi orang lain, sok bodoh, sok bahagia, sok ceria, sok baik seperti waktu dia masih kecil.
Namun sebenarnya kini hatinya sudah membeku, mati, bahkan darah di dalam dirinya pun ikut membeku seperti tak mau mengalir ketika sebuah pisau menyayat kulitnya.
Brahm kini menahan jelo di SMA hampir 5 tahun, di tambah lagi saat dia duduk di bangku SMP brahm juga menahnnya beberapa tahun untuk tidak meluluskannya.
Itulah alasan kenapa Jelo masih bertahan di bangku SMA sampai usianya yang sudah mencapai 23tahun.
Barfikir untuk pergi dari kehidupan ayahnya, itu tidak segampang seperti membalikkan tangan.
Bahkan ke lubang semut pun pasti akan di cari.
Jadi sebisa mungkin dia mengikuti alurnya seperti air yang mengalir.
Flash back off