My Soul

My Soul
#14 Dua perempuan di hati Jelo



Anin kecewa dengan sikap edrea kali ini, dia menangis sambil berlari masuk ke dalam kamarnya.


 


Kerut tipis mulai terlihat di kening jelo, dia kebingungan apa kesalahannya sehingga membuat edrea marah.


"Kenapa kamu bersikap kasar dengannya?" suara jelo terdengar datar seperti tak bernyawa setelah melihat anin menangis hingga membuat dadanya ikut tersakiti.


Edrea kembali menatap ke arah jelo, raut wajahnya kini terlihat lebih garang.


"Terima kasih atas perhatianmu selama ini tehadap anin tuan muda" edrea memanggilnya dengan sebutan yang pernah di dengarnya untuk memanggil jelo.


"Tetapi aku berharap, , , sampai di sini saja, silahkan kamu keluar dari rumahku sekarang" ucap edrea sambil mengarahkan tangannya ke arah pintu keluar.


Jelo masih mencerna ucapan edrea, dia tidak tahu apa kesalahnnya sampai edrea tiba tiba mengusir dirinya.


 


Dia tidak ingin menanyakan hal yang lebih mendetail, karena fia merasa ini juga bukan saatnya berdebat dengan wali kelasnya itu. Jelo lebih memilih berdiri dan segera keluar dari rumah edrea, sambil mencengkeram erat jaket kulit berwarna coklat tua miliknya.


 


Namun edrea menghentikan langkah jelo sebelum dia mengucapkan kalimat yang sangat menyakitkan baginya.


"Aku harap kamu tidak datang lagi ke sekolah untuk menemui anin" ucap edrea sambil berjalan ke arah dalam kamar.


Cukup jelas perkataan edrea, dan jelo mengerti dengan sangat baik apa maksutnya.


Jelo nampak kecewa, namun dia lebih memilih diam dan menikmati perasaan yang berkecamuk di dalam hatinya.


Di dalam kamar, edrea berusaha memberikan pengertian kepada anin yang masih terus menangis sambil duduk di atas ranjang.


Edrea menekuk ke dua lututnya menghadap ke arah anin. Meraih tangan anin dan menggenggamnya.


Hatinya juga hancur ketika dengan sengaja membuatnya menangis.


"Maaf sayang, mamah tidak bermaksut untuk berkata kasar kepada anin, tapi anin harus mengerti posisi mamah, , , "


Anin mengusap air matanya, kemudian memeluk tubuh edrea dengan tangan kecilnya.


"Anin minta maaf mah, anin tidak akan membuat mamah marah lagi" ucapnya seolah tahu perasaan edrea yang juga merasa serba salah.


Edrea merasa senang ketika anaknya mengerti dengan maksut hatinya, namun dia tidak ingin terus menerus memaksa kehendaknya untuk mengerti keinginannya.


♡♡♡


Nampak ruangan lantai dua di halaman belakang rumah brahm lampu masih menyala dengan terang.


 


Suara pukulan ke arah samsak bertubi tubi terus menggema di ruangan dan rongga telinga.


Jelo tak memakai sarung tinju, dia hanya memakai kain hitam yang melingkar di kedua telapak tangannya, namun suara di setiap pukulannya terdengar sangat keras seolah sedang meluapkan emosi yang menggebu gebu.


Setiap tetesan keringat menapaki kukit membasahi kaos singlet hitam yang di pakai jelo ketika sedang melatih otot di pergelangan tangan dan lengannya.


Otot otot di balik kulitnya seperti mengembang dua kali lipat ketika tubuhnya semakin memanas.


Di setiap pukulan ada sekelibat ingatan ketika saat edrea menggenggam tangan mantan suaminya, juga ingatan akan kejadian saat edrea mengusir dirinya, melarangnya untuk tidak lagi menemui anin.


Kini pukulannya semakin kencang dan terarah, kekuatan di setiap pukulan semakin bertambah hingga menarik perhatian tara yang sadang berdiri di depan samsak seperti seorang pelatih yang sedang mengawasi anak didiknya.


Nafas dan gerakan dadanya sangat berirama, keduanya bekerja sama dengan baik.


"Tuan?" ucap tara seketika, melihat aura di wajah jelo terasa lebih mengerikan di banding sebelumnya.


"Tuan muda?? Anda baik baik saja" tara mencoba merusak konsentrasi jelo yang masih meluapkan emosinya di setiap pukulan.


Jelo mulai menyadarkan dirinya, dan pukulan terakhirnya sangat keras sebelum berhenti memukul ke arah samsak di depannya.


Dia membanting tubuhnya ke atas lantai hingga kini telentang menikmati sisa sisa luapan emosi yang masih tersisa di dalam dadanya.


Sambil mengatur ritme detak jantungnya agar cepat kembali normal.


"Anda baik baik saja?" tara terus berusaha memastikan kondisi jelo.


"Parasaan apa lagi ini tara?" ucap jelo sambil mengatur nafasnya yang kini rasa panas menjalar sampai ke seluruh tubuhnya.


Terlihat kening tara mulai mengerut tipis, dia berusaha dengan keras mencerna ucapan jelo kali ini.


"Dadaku terasa sakit, saat dia berusaha menolakku, aku tidak bisa jauh darinya tara, aura yang ada di dalam tubuh perempuan itu terus memaksa dan menarikku lebih dalam lagi untuk mengetahui tentangnya, aku tidak bisa jauh darinya" jelo mengusap kasar wajahnya berusaha meradam emosi yang kini melahap habis kesabarannya.


Tara tidak terkejut, pasti ada sesuatu yang merubah pikiran jelo, hingga mempersilakan perempuan itu menyentuh bagian tubuhnya.


Jelo tidak menjawab, dia hanya diam dan mengubah posisinya menjadi duduk di atas lantai.


Tara bergerak duduk di dekat jelo, menjadikan ke dua tangannya sebagai tumpu untuk menopang tubuhnya ke arah belakang.


Menganalisa dari ucapan jelo, dia sudah tahu pasti, dan yakin kalau tuan mudanya itu kini sedang jatuh cinta.


 


Senyum tipis terlihat di wajah tara, merasa sangat senang melihat perubahan yang terjadi pada tuan mudanya.


 


Harapan akan adanya seorang perempuan yang mengubah hidup jelo, kini sudah terkabul.


Jika suatu saat, ketika dia meninggalkan jelo, tara pasti akan meninggalkannya dengan perasaan tenang.


"Sepertinya anda sedang jatuh cinta tuan muda" ucap tara seketika.


Jelo mengalihkan pandangannya ke arah tara. Dia berusaha mencerna ucapan tara yang seperti terasa aneh di telinganya.


Dia sendiri tidak yakin akan hal itu.


"Bolehkah aku jatuh cinta dengannya?" ucap jelo seolah ragu akan perasan sendiri.


"Kenapa tidak, bukankah dia sudah berpisah dari suaminya?" tara mencoba membuat jelo yakin dengan perasaannya sendiri.


 


Sementara tatapan jelo menyelidik ke arah tara.


"Dari mana kamu tahu hal itu?" jelo yakin kalau tara selalu mengikuti kemana pun dia pergi.


"Jangan lupa Tuan, bagaimana pun juga, saya masih tangan kanan ayahmu" ucap tara seolah memberi tahu jelo untuk tidak mudah percaya dengannya, dan berharap dia selalu waspada dengan dirinya.


Nampak senyum jelo hanya mengembang di sebelah pipi.


"Tapi aku yakin, ketika kamu di hadapkan dengan duan pilihan dan berujung kematian, kamu tetap akan memilih untuk menolongku" ucap jelo penuh dengan keyakinan di setiap kata katanya.


Tara terkekeh, seolah jelo dengan benar bisa menebak seluruh isi otaknya.


"Lalu bagimana dengan perempuan itu?, apa yang akan anda lakukan?" ucap tara.


"Keberadaannya sudah memenuhi jiwaku yang telah lama kosong setelah kepergian mamahku, ,aku tidak bisa melepaskan edrea! aku pasti akan mendapatkannya!" kali ini ucapan jelo di penuhi keyakinan dan tanpa keraguan sedikit pun.


♡♡♡


 


Jelo tak mengindahkan permintaan edrea untuk tidak menemui anin kembali di sekolahnya.


 


Dia menemui anin di jam jam pelajaran dan sengaja membolos untuk bertemu dengannya.


"Maaf, tapi dia bilang tidak ingin bertemu denganmu" ucap pembimbing anin yang baru saja datang dari arah dalam, sebelumnya dia telah menemui anin dan memberitahu kalau om yang selama ini selalu di tunggu tunggu kedatangannya sudah datang untuk menemuinya.


Jelo tidak percaya, dia anak yang patuh dengan petuah mamahnya untuk tidak bertemu dengannya lagi.


"Bolehkah aku melihatnya sebentar saja?" ucap jelo, dia merasa putua asa kali ini.


Pembimbing anin hanya mengangguk pelan dan bergerak memberikan jalan ke pada jelo untuk masuk ke arah dalam.


Jelo melihat anin dari balik pintu kaca, dia sengaja tidak mengundang perhatian agar anin tidak sadar akan kedatangannya.


Dia sedang duduk sendiri di kursi, wajahnya terlihat muram masam, membiarkan teman temannya bermain riang gembira, sementara dirinya menikmati rasa kesendiriannya.


Setiap hari jelo mempelajari tentang perasaan yang selalu berubah ubah. Dan semuat itu dia peroleh dari dua perempuan yang kini menempati tahta tertinggi di dalam hatinya, setelah selama ini di singgahi oleh adelia, mamahnya.


Ketika merasa puas hanya dengan melihat anin dari kejauhan, jelo beranjak pergi meninggalkan anin tanpa menemuinya.


Anin menyadari akan kedatangan jelo, setelah melihat jelo pergi dia berlari ke arah luar dan melihat jelo dari balik tubuh pembimbing yang mengantar jelo sampai ke depan pintu keluar.


Dia tidak berani memanggil jelo, karena dia terikat janji dengan edrea untuk tidak menemuinya lagi.


Jelo mengendarai motornya keluar meninggalkan sekolah anin.