
Edrea duduk di bangku depan ruang ICU. Kelopak matanya membengkak, bola matanya memerah dan terus mengeluarkan butiran air yang membasahi pipinya.
Tubuhnya masih di selimuti gaun pengantin yang kini terdapat noda merah karena darah Jelo.
Pandangan matanya pun kosong.
"Anda bisa meninggalkan Tuan Muda Nona, saya akan mengantar Anda" suara tara memang terdengar jelas, tetapi otak Edrea tak bisa menangkap ucapannya.
Perempuan itu masih memaku tubuhnya, dia tak merespon ucapan Tara yang masih setia berdiri di sampingnya.
"Aku ingin melihatnya" bibir Edrea bergetar saat berucap.
Sesekali tangannya mengusap air mata yang melewati pipinya.
"Dokter belum mengijinkan siapa pun untuk masuk ke dalam, Saya mohon demi kebaikan. Saya akan mengantar Anda pulang, setelah keadaan Tuan Muda membaik Anda bisa menemuinya lagi"
Edrea langsung beranjak dari tempat duduk.
"Apa itu juga termasuk aku!! aku hanya ingin melihatnya. Tolong" Edrea menangkupkan ke dua tangannya di depan Tara.
"Biarkan aku melihat keadaannya" ucapnya memohon.
Tara hanya menghela nafas panjang, dia akhirnya membiarkan Edrea menemui Jelo.
Edrea semakin tak bisa menahan tangisnya saat melihat tubuh Jelo terkulai lemah di ranjang. Ke dua tangannya membungkap mulutnya rapat rapat agar isakan tangisnya tak mencuat keluar dari mulut.
Berbagai alat yang terhubung ke mesin menempel di seluruh dada laki laki itu, sementara mulutnya di paksa membuka karena terdapat selang yang membantu pernafasannya.
Tangan Edrea memaku di udara saat ingin menyentuh jari Jelo, dia mengurungkan niatnya karena ada luka di jari laki laki itu.
Perempuan itu menghela nafas panjang untuk menetralkan perasaannya.
Akhirnya Edrea melangkah keluar dari ruangan itu setelah berusaha menguasai dirinya agar tidak lepas kendali.
♡♡♡
Bram melanglahkan kakinya masuk ke dalam Rumah sakit. Dia langsung pulang menggunakan jet pribadinya setelah mendengar kabar bahwa Putranya mengalami musibah.
Laki laki berbadan kekar itu berjalan menuju kamar Jelo setelah dia keluar dari pintu lift. Aura gelap mengelilingi tubuhnya ketika melihat Putranya.
Nafasnya memburu seketika. Tangannya mengepal kuat hingga ruas jarinya terlihat putih, bersamaan dengan itu rahangnya menguat karena gertakkan giginya hingga terlihat otot kecil mencuat dari balik kulit pelipisnya.
"Cari siapa pelakunya, aku beri kalian waktu 1×24 jam untuk menemukan orang itu!!. Bawa dia kehadapanku. Aku yang akan menghabisinya nanti!!!" ucap Brahm dengan tatapan menajam. Seakan dia sudah merencanakan bagaimana caranya akan menghabisi orang yang sudah mencelakai Putranya.
Beberapa anak buahnya hanya menunduk dan segera pergi meninggalkan ruangan itu.
Brahm berjalan keluar, dia memaku langkahnya saat berdiri di depan tara. Melirik ke arah laki laki itu dan memberi isyarat agar Tara mengikuti langkahnya.
Tara menunduk seolah dia tahu apa maksud dari Tuaannya itu. Dia pun mengikuti perintah Brahm dan berjalan di belakangnya.
Brahm berjalan menggiring Tara menuju ke lantai atas gedung rumah sakit.
Seperti saat pertama datang wajahnya masih sama tak pernah berubah sedikit pun.
Bahkan kali ini malah semakin gelap aura wajahnya.
"Apa yang sedang dia lakukan hingga lepas dari pengawasanmu!!"
Tara menelan ludah dengan susah payah. Dia masih membisu mencari jawaban agar tak menyebut nama Edrea nantinya.
"Maaf Tuan, semua ini kesalahan Saya. Saya lalai dalam menjalankan tugas sehingga Tuan Muda bisa celaka seperti sekarang" Tara menunduk, dia sudah mempersiapkan diri dengan apa yang akan di lakukan oleh orang itu terhadapnya.
"Kamu yakin akan menebus kesalahan mu?" Brahm berucap dengan tenang, namun tersirat akan sebuah ancaman di setiap ucapannya.
Tara tidak menjawab, dia diam membisu dan masih menunduk.
"Karena kelalaianmu, aset berhargaku kini seperti mayat terbaring di atas ranjang! bagaimana caramu menebus kesalahanmu!!" Brahm menggeram, tangannya bergerak meraih kerah kemeja tangan kanannya dan mencengkeram kuat di sana.
"Bahkan nyawa keluargamu tidak cukup untuk membayar semua ini!!. Haruskah aku membunuh mereka satu persatu?"
Mata Tara membulat, dadanya terasa sesak hingga membuatnya sulit untuk bernafas. Namun dia memilih untuk diam dan berusaha menetralkan amarah di dadanya dengan mengepalkan tangannya kuat kuat.
Dia juga menyadari ini semua memang karena kelalaiannya hingga tak bisa mencegah kejadian naas itu menimpa Jelo.
Tara bersujud menekuk ke dua lututnya di depan Brahm. Dia memposisikan dirinya di titik terendah dalam hidupnya.
Ujung bibir Brahm terangkat, memamerkan senyum sinisnya ke arah Tara.
"Karena aku masih membutuhkanmu, , maka aku tidak akan menyentuh keluargamu. Tetapi jika kamu berhianat dan menyembunyikan kebenarannya maka aku tidak akan segan segan menghabisi putrimu. Di depan ke dua matamu!! camkan itu Tara" Brahm berucap seolah dia tahu ada sesuatu yang sedang di sembunyikan oleh orang kepercayaannya itu.
Dia berusaha mengancam Tara agar kembali berpihak kepadanya setelah tahu beberapa tahun itu Tara selalu berpihak ke pada anaknya walaupun tidak secara terang terangan. Tetapi Brahm tahu dengan jelas setiap gerak gerik anak buahnya.
Laki laki itu kini berjalan pergi meninggalkan Tara yang masih tertunduk sendirian.
♡♡♡
"Mah Anin ingin ketemu sama Om Angelo, kenapa beberapa hari ini dia tidak menemui kita?" Anin berucap sambil menarik kemeja lengan Edrea.
Edrea sengaja tidak memberi tahu keadaan Jelo kepada Putrinya, karena dia pasti akan sangat khawatir jika Omnya ternyata sedang sekarat melawan maut di rumah sakit.
Perempuan itu berlutut di depan Anin.
"Dengar sayang, Om Angelo sedang sibuk akhir akhir ini. Dia ada di luar kota untuk menyelesaikan kerjaannya"
Gadis kecil itu nampak menunduk dengan raut wajahnya yang terlihat murung.
"Anin" Edrea mengangkat dagu Putrinya.
"Nanti Om Angelo pasti akan menemui Anin kalau dia sudah kembali dari luar kota" usaha Edrea untuk mengembalikan senyum Anin ternyata berhasil. Gadis kecil itu kini tengar bersemyum manis.
"Kalau begitu Anin masuk dulu ya mah" Anin mengecup bibir Edrea sebelum dia masuk ke dalam ruang kelasnya.
♡♡♡
Edrea pergi ke rumah sakit untuk menemui Jelo sebelum dia berangkat kerja.
Dia duduk di kursi sambil mengawasi raut wajah Jelo dari arah samping.
Pria itu masih tidur di ruang ICU dan belum di pindah ke ruang inap, sudah hampir satu minggu Jelo terus berbaring di ranjangnya.
Ujung mata Edrea melirik ke arah jari Jelo yang sudah mulai mengering lukanya. Setiap hari perempuan itu datang untuk membersihkan tubuh dan mengoleskan antiseptik di luka tangan laki laki itu.
Tara sempat memberitahunya bahwa Dokter bilang kemungkinan untuk Jelo sadar dari komanya tidak lebih dari 25%. Mengingat hal itu butiran air kembali mengalir dari ujung mata dengan sendirinya.
"Kamu yakin akan trus seperti ini?, , bangunlah Jelo. Anin ingin bertemu denganmu" Edrea kini menutup mulutnya rapat rapat dengan tangannya, sebisa mungkin dia menahan tangis di ruang itu.
Jari Jelo yang ada di sisi lain nampak bergerak sedikit, Edrea tak menyadarinya karena posisi tangan itu bersebrangan dengan dirinya yang duduk di kursi.
"Nona?" suara Tara membuyarkan lamunan Edrea seketika.
Perempuan itu menoleh ke arah Pintu masuk, dia beranjak dari kursi sambil menyeka airmatanya.
"Maaf Dokter sebentar lagi akan datang" secara tidak langsung ucapan Tara mengisyaratkan Edrea untuk pergi dari tempat itu.
"E, iya aku juga sudah mau pergi" Edrea mengambil tasnya dan melangkah keluar dari kamar itu.
Tara menemani Edrea keluar dari pintu dengan mengikutinya dari arah belakang. Dan baru saja berjalan beberapa langkah dari pintu, ujung mata Tara tertuju kepada Brahm yang terlihat berjalan ke arahnya.
Wajahnya nampak terkejut, dia berharap Tuannya itu tidak menyadari keberadaan Edrea.
Brahm berjalan menuju ruang ICU, langkahnya memaku saat Edrea berjalan melewatinya. Laki laki itu sedikit menengok untuk memastikan Edrea yang sudah mulai menjauh, setelahnya dia mengalihkan pandangannya ke arah Tara yang sedang berusaha menghindari tatapan matanya.