
Edrea kembali manatap wajah Jelo dengan tatapan meragu.
Dia tertawa ringan saat melihat wajah Jelo benar benar sangat serius.
"Aku tidak bercanda Edrea!" Jelo menggeram seketika.
Membuat Edrea yang tadinya sempat tertawa kini kembali melihat ke arah Jelo dengan tatapan serius.
Edrea berdehem untuk menetralkan rasa gugubnya.
"E, ,labih baik kamu kembali ke kamarmu, ini sudah larut aku juga sudah mengantuk" Edrea berusaha mengalihkan pembicaraan.
Jelo mendengus kesal, dia berdiri untuk kembali membungkuk dan merauk tubuh Edrea ke dalam gendongannya.
Edrea nampak terkejut hingga terpaksa melingkarkan ke dua lengannya ke leher Jelo karena takut terjatuh.
Dia nampak tersipu malu, kembali dia menarik tangannya yang sempat melingkar di leher Jelo namun mendengar suara petir menggelegar bersamaan dengan kilat yang nampak membelah bumi di depan matanya membuat Edrea ketakutan hingga kembali memeluk tubuh Jelo membenamkan wajah ke dadanya, namun kali ini lebih erat lengannya saat melingkar di leher Jelo.
Jelo menyeringai senang melihat Edrea ketakutan.
Dia menggendong tubuh Edrea masuk ke dalam kamar yang sudah di persiapkan oleh pelayannya.
Seperti janjinya, Jelo tidak akan menyentuh tubuh Edrea.
Dia meletakkan Edrea dengan pelan dan lembut di atas ranjang. Menarik selimut untuk menyelimuti tubuh Edrea.
Jelo menyempatkan duduk di tepi ranjang sebelum pergi meninggalkan Edrea.
Dia bergerak mendekati wajah Edrea dan berbisik di sana.
"Tidurlah" ucapnya dengan lembut membuat Edrea sempat merinding.
Belum bergerak menjauh dari Edrea suara petir kembali menyambar membuat Edrea meringkuk ketakutan di dekapan Jelo.
Lampu kamar yang meremang di selingi suara petir yang sesekali menyambar dan bayangan ranting pohon yang bergelayutan di tembok kamar menambah aroma mistis semakin kental di kamar itu.
Tangan Edrea nampak mencengkeram dengan erat kaos yang menutupi dada Jelo.
Ada rasa senang di wajah Jelo saat melihat Edrea ketakuatan.
"Kamu harus tidur, aku akan kembali ke ruang tengah untuk tidur di sana" suara Jelo terdengar penuh harap akan keinginan agar Edrea memintanya untuk tetap bertahan di sana.
"Kamu akan tidur di sana? dan meninggalkanku sendiri disini?" ucapnya tak yakin, Edrea pasti tidak bisa tidur nyenyak dengan kondisi kamar yang menyeramkan.
"Mm" Jelo mengangguk pelan.
"Bagaimana kalau kamu pergi setelah aku terlelap?" pintanya dengan sangat. Tangannya masih mencengkeram kaos Jelo dengan erat.
Jelo nampak menahan tawanya sedari tadi.
Dia menghela nafas panjang sebelum beranjak pindah duduk di dekat Edrea.
Jelo bersandar di dinding ranjang dengan ke dua kaki yang kini sudah naik di atas ranjang.
Membiarkan Edrea tidur di atas bantal namun kini tangannya berpindah menggenggam erat lengannya.
Edrea meringkuk membenamkan wajahnya ke samping tubuh Jelo.
Bebarapa saat setelah di rasa Edrea terlelap, Jelo beranjak bangun dari ranjang namun Edrea tak mau melepas cengkeraman tangannya.
Dia malah semakin mendorong tubuhnya mendekati tubuh Jelo dan salah satu tangannya tengah memeluk dirinya seolah sedang memeluk bantal guling.
Dan kini tubuh Jelo tak bisa bergerak, dia membiarkan Edrea memeluk tubuhnya.
♡♡♡
Waktu bergerak begitu cepat bagi Jelo, seolah baru beberpa jam dia menghabiskan waktu kebersamaannya dengan Perempuan yang dicintainya.
Langit mulai cerah memaksa hujan untuk pergi dan berganti dengan sinar mentari.
Edrea terbangun dari tidurnya matanya mengerjap untuk mengembalikan pandangan matanya agar kembali bening setelah tertidur semalaman.
Dia melihat dada Jelo tengah naik turun dengan lambat mengikuti alur nafasnya.
Kini dia tersadar jika tangan Jelo telah menopang kepalanya entah dari kapan, Jelo serperti sengaja manahan tubuhnya untuk tidak berubah semalaman agar memberi kenyamana saat dirinya tengah terlelap.
Jelo terbangun dan saat membuka matanya dia telah melihat Edrea sudah membuka matanya dengan lebar.
Edrea segera bangkit dan duduk di atas ranjang.
"Maaf membuat tidurmu tidak nyaman semalaman" ucap Edrea dengan nada penyesalan.
Jelo tersenyum.
"Anggap saja ini rasa terima kasihku karena sudah menjadi penawar untuk mimpi buruk dan sakit kepalaku" ucapnya sambil mengecup kening Edrea.
Edrea teringat saat Jelo bermimpi buruk ketika dia sempat mabuk dan harus menginap di rumah sakit.
"Apakah sebelumnya mimpi buruk itu selalu datang di setiap tidurmu, dan sakit kepalamu menyerang setiap habis mimpi buruk??, ,apakah itu terjadi setiap malam sepanjang hidupmu setelah kepergian almarhum mamahmu?"
Jelo mengangguk, seolah dia menjawab semua pertanyaan yang ada di batin Edrea.
Kilauan bening nampak terlihat di ujung mata Edrea.
"Aku telah kalah dari laki laki yang jauh lebih muda dariku ini, hidupku jauh lebih mudah jika di bandingkan dengan hidupnya, caranya menjalani kehidupan yang sangat jahat dan tidak adil kepadanya membuatku jatuh lebih dalam ke jurang yang sengaja ku pilih ini"
Jelo mengusap kilauan bening di ujung mata Edrea.
"Kenapa kamu menangis?" ucapnya membuyarkan lamunan Edrea.
"Aku tidak menangis" ucapnya mengelak.
"Mataku pedih setelah bangun tidur jadi itu sudah biasa" tambahnya.
Jelo mengangguk, berusaha mengerti maksud ucapan Edrea.
♡♡♡
Jelo mengantar Edrea kembali ke rumahnya. Sebelum masuk ke dalam rumah Edrea, Jelo menatap ke arah matanya seolah sedang meminta ijin kepada Edrea.
Edrea hanya mengangkat pundaknya sedikit, seperti sedang memberi tahu Jelo untuk mengambil keputusan sendiri.
Jelo tersenyum senang saat Edrea memberi lampu hijau kepadanya.
Belum sempat melangkah masuk ke dalam rumahnya, Anin keburu keluar dan berlari ke arahnya setelah mendengar suara mesin motor yang di yakininya itu adalah milik om gantengnya.
"Om Angelo" Anin berteriak menyebut namanya.
Jelo merauk tubuh mungil Anin dan menggendongnya memeluk erat dalam dekapannya.
Seperti tidak bertemu selama berminggu minggu.
Mereka saling melepas rindu.
Anin menangkup pipi Jelo dengan ke dua tangan mungilnya dan menciummi pipi Om gantengnya itu dengan sangat antusias.
Begitu juga dengan Jelo dia mencium habis pipi Anin yang sangat menggemaskan itu.
Anin nampak terkejut ketika dia sadar kalau mamahnya kemarin malam telah memperingati dirinya untuk tak menemui Om gantengnya itu.
Wajahnya kembali murung sambil sesekali melirik ke arah Edrea yang tengah melihat kearahnya.
"Mamah tidak akan melarang Anin lagi untuk bertemu dengan om Angelo, , kapan pun Anin mau, Anin bisa menemuinya" ucapan Edrea seperti memberi angin sejuk kepada Jelo dan Anin yang sedang di landa rasa rindu.
♡♡♡
Jelo berjalan menuruni anak tangga dari arah kamarnya menuju ke ruang dapur.
Pelayan yang melihatnya langsung terkejut dan menghadang dirinya.
Pelayan itu menunduk dengan hormat.
"Maaf Tuan Muda, ada yang bisa saya bantu? silakan bilang saja ke pada saya apa yang Tuan Muda butuhkan akan saya ambilkan tanpa harus datang sendiri ke dapur yang kotor ini" ucap pelayan itu dengan lembut.
Jelo menghela nafas.
"Aku akan mengambilnya sendiri, kamu bisa pergi mengerjakan yang lain" ucapnya dengan tenang tak seperti biasanya yang selalu di selubungi aura kegelapan.
Pelayan itu nampak terkejut namun dia tidak berani mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Jelo, dia lebih memilih melaksanakan perintah Tuannya itu untuk segera pergi dari hadapannya.
Jelo membuka kulkas mengambil sebotol air, dan menegugnya dengan perlahan.
Sejenak Jelo melamun memikirkan tentang ucapan Edrea semalam.
"Kamu pikir hanya dengan menikah kita bisa hidup? aku memiliki tanggungan yang cukup besar, kamu??" Edrea terdengar seperti sedang merendahkan Jelo.
"Masih duduk di kelas 3 SMA bagaimana caramu akan menghidupiku dan keluargaku nanti?"
Jelo menghela nafas panjang sebelum kembali menegug air yang masih tersisa di dalam botol.
"Wajahmu nampak berseri seri Tuan Muda" suara Tara seketika membuat Jelo terkejut hingga air yang masih tertahan di tenggorokannya menyembur keluar.
Tara menahan senyumnya melihat Jelo bertingkah seperti tidak biasanya.
Di berjalan ke arah meja mengambil tisu setelahnya di berikan kepada Jelo untuk membersihkan sisa air yang membasahi dagunya.
"Maaf" ucapnya seketika.
Jelo hanya diam.
"Siapkan berkas berkasku" ucapan Jelo membuat Tara menaikkan ke dua alisnya tak percaya.
"Siapka berkas berkasku untuk masuk ke dalam perusahaan psycho itu!!, , aku akan menandatangani berkas pengangkatan direkturku" Jelo berucap sambil berjalan ke arah tangga untuk kembali ke kamarnya.
Namun langkahnya terhenti saat menyadari Tara masih berdiam diri dan melihat ke arahnya seolah tak percaya dengan apa yang baru saja di katakan oleh Tuan Mudanya itu.
"Kenapa kamu masih berdiam diri di situ!!, , apa ucapanku kurang jelas!!" Jelo berucap dengan nada setengah berteriak ke arah Tara.
"Mm maaf, saya akan menyiapkan semuanya" Tara berjalan mengikuti Jelo dari arah belakang menuju tangga yang mengarah ke kamarnya.