My Soul

My Soul
#22 Kepergian



Jelo berusaha menutupi telinganya, ketika suara tangis, suara pecutan ke arah tubuh memahnya menggerayangi rongga telinga.


Rasanya sangat sakit, tubuh mamahnya seperti sedang di sayat sayat dengan pisau yang sebelumnya telah di bakar terlebih dulu sampai memerah karena saking panasnya, seperti ketika sabuk itu menyentuh kulitnya terasa panas dan perih yang teramat.


Tangan ayahnya yang berotot itu memukul keras ke arah badan mamahnya sekali lagi, jelo nampak menggerakkan sedikit tubuhnya seperti dia juga merasakan sakit yang di rasakan oleh mamahnya.


Suara jeritan adelia terdengar sangat keras, dirinya kini meringkuk di lantai sambil memeluk tubuhnya sendiri terus menahan rasa sakit yang tak bertepi.


Melihat mamahnya kesakitan jelo hanya menanis, dia tidak berani menolong mamahnya.


Sorotan mata ayahnya itu terlihat ingin mencabik cabik wanita yang sudah tersungkur dan terkulai lemah di lantai.


Aura kepuasan melekat di wajah sang ayah.


Dirasanya sudah sangat puas, brahm melempar ikat pinggang ke atas ranjang begitu saja.


Meninggalkan sang istri yang masih berusaha menahaan rasa sakit yang ada di setiap jengkal tubuhnya itu.


Perlahan brahm berjalan mendekat ke arah jelo yang masih utuh berada di tempat sambil meringkuk ketakutan.


Langkah brahm terhenti tepat di depan jelo yang kini ke dua matanya sedang tertuju di sepasang kaki milik brahm.


Hanya dengan melihat wajah jelo, brahm tahu betapa rasa ketakutan sedang menyelimuti tubuh anak laki lakinya.


Brahm menyeringai saat melihat jelo ketakutan, wajahnya tak terlihat dengan jelas, kegelapan seperti melahap habis aura mengerikan di wajah brahm. Bahkan sorot lampu saja enggan untuk membagi sinar ke arahnya.


"Jika kamu besar nanti, carilah wanita yang bisa memuaskan mu, jangan seperti mamahmu yang tidak berguna itu" brahm berucap seperti sedang memberi perintah pada putranya.


Nada bicaranya kali ini di penuhi ke angkuhan seorang brahm sang pemilik kekuasaan.


Dia memang benar benar psychopath, bagaimana bisa dia mengatakan hal demikian di depan anaknya yang masih berumur 10 tahun.


Brahm pergi meninggalkan jelo di pojokan sendirian.


Setelah bayangan ayahnya menghilang di telan kegelapan ruang kerjanya, jelo langsung bergerak berlari ke arah adelia yang masih meringkuk di lantai.


Air mata jelo mengalir dengan deras, ingin sekali memeluk tubuh mamahnya, namun sepertinya jika dia menyentuh sedikit tubuh mamahnya, rasa nyeri akan lebih terasa di sekujur tubuh.


Jelo mengurungkan niatnya untuk memeluk adelia. Dia hanya duduk di lantai sambil terus menangis di samping adelia.


Jelo tahu luka lebam yang di dapat oleh mamahnya berasal dari pukulan yang sering di berikan oleh ayahnya. Namun baru kali ini dia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri.


Kepedihan hati jelo tidak sampai di situ. Dia pun selalu melihat ayahnya membawa pulang wanita lain, bahkan dengan sengaja melewati dirinya saat bersama dengan mamahnya berada di ruang tengah.


Jelo membuang pandangan matanya dengan jijik ke arah wanita yang terus menempel ke pada ayahnya itu.


Namun adelia selalu berusaha membuang senyum kepada jelo, ketika dia sedang merasakan sedih atas perasaan mamahnya.


Dia selalu berusaha meyakinkan jelo kalau dirinya baik baik saja.


Yang paling mengerikan dan terus melekat di ingatan jelo adalah hari di mana dia melihat tepat di depan matanya saat adelia menyayat pergelangan tangannya sendiri.


"Kamu harus mengingat ini sayang, ketika kamu sudah dewasa kamu akan tahu, betapa sakit hatinya mamah di perlakukan seperti ini, kamu harus tetap hidup, sebagai anak mamah bukan anak psycho itu!! kamulah yang akan membalas semua perbuatan atas apa yang dia lakukan kepada mamah" pandangan mata adelia terlihat di penuhi rasa kebencian yang teramat kepada suaminya itu, terlihat api kebencian di kedua matanya mulai membesar dan memenuhi bola mata, sambil sesekali di selingi air yang terus mengalir keluar membasahi pipi.


 Seperti tak ada keraguan di matanya.


 Kedua tangan adelia meraih wajah jelo.


"Ingat, bergeraklah seperti musuh dalam selimut, ketika kamu ingin mengalahkan psyco itu" adelia berucap seperti sedang mempersiapkan ajal untuk suaminya sendiri.


Adelia mengambil sebuah pisau tajam, sengaja di persiapkan dirinya untuk menemui ajalnya sendiri.


Mengangkat ke dua tangannya ke depan, agar jelo bisa dengan jelas melihat apa yang selanjutnya akan dia lakukan.


Adelia sengaja melakukan itu untuk membakar dan membangkitkan amarah yang ada di dalam hati anaknya.


Kelak ketika dewasa nanti Jelo akan terus mengingat apa yang telah terjadi pada mamahnya dan akan selalu ingat kenapa hal ini bisa terjadi.


Terdengar suara sayatan yang sangat keras, suara daging dan otot yang sedang di iris dengan paksa. Membuat setiap orang yang mendengar akan merasa ngilu telinganya.


Adelia menggunakan kekuatan penuh untuk mengiris pergelangan tangannya itu.


Hingga terlihat urat nadi dan otot otot kecilnya mencuat keluar dari balik kulit.


Seketika darah langsung berceceran ke lantai, bahkan ada sebagian meloncat ke wajah dan baju jelo.


Jelo maraung raung menangisi adelia. Meraih memeluk tubuhnya yang sudah terkapar bersimpah darah.


Namun nampak senyum di wajah adelia, senyumnya begitu lepas, terlihat seperti mendapat sebuah kebebasan yang selama ini tidak pernah di perolahnya.


♡♡♡


 Beberapa minggu berlalau setelah kepergian mamahnya jelo selalu mengurung diri di kamar.


 


Separuh hidupnya telah pergi meninggalkan dirinya.


Kini dia menjadi orang yang berbeda, hati jelo membeku, keras seperti batu, kecerian saat di sekokah pun menghilang.


Kini dia sama sekali tidak punya rasa takut untuk menghadapi ayahnya.


Tidak dengan brahm, dia bersikap seperti tidak pernah terjadi apa apa.


Bahkan malam setelah kepergian istrinya dia bisa bisanya membawa pulang perempuan itu masuk ke dalam kamar.


Jelo tak mau ambil pusing memikirkan hal itu.


Dia lebih fokus dengan dirinya sendiri kali ini.


Sesekali dia pergi ke belakang halaman rumah, di sana terdapat beberapa ruangan yang mamang di persiapkan oleh brahm untuk anak buahnya.


Mereka selalu berada di sekeliling brahm kemanapun dia pergi tak ada yang berani membantah perintah ayahnya itu.


Bahkan ketika brahm menyuruh mereka untuk membunuh orang mereka harus melakukannya dengan bersih tanpa menanyakan alasannya kenapa.


Kekuasaan brahm membuat mereka patuh, sekali masuk ke tempat itu berarti mereka sudah siap mempertaruhkan nyawanya untuk brahm.


Dari banyaknya anak buah yang terus berada di sekitar brahm, ada salah satu dari mereka yang selalu melihat ke arah jelo dengan tatapan mata berbeda dari yang lain.


Sorot matanya tak setajam seperti anak buah brahm lainnya.


Bahkan brahm sendiri tidak pernah melihat ke arah jelo dengan tetapan seperti itu.


Tara, dia adalah tangan kanan brahm, orang yang sangat di percaya untuk selalu melakukan perintahnya.


Baik masalah ranjang atau masalah bisnisnya dia selalu melakukan tugasnya dengan baik.


Dia bekerja ikut bersama brahm semenjak lulus SMA, brahm merekrutnya karena dia pernah menyelamatkan brahm saat di hadang oleh musuhnya.


Cara dia berkelahi dan menghabisi musuh brahm membuatnya terpana.


Kini dia menjadi orang kepercayaan.


Tara memang kadang di tugaskan untuk mengantar jemput jelo ke sekolah mau pun kemana dia pergi.


Brahm hanya percaya kepada tara ketika menyangkut anak emasnya.


Namun ketika brahm membutuhkannya dia dengan segera langsung menghadap.


Usia jelo kini menginjak 13 tahun, dan sekarang dia duduk di bangku SMP kelas 2.


 


Setiap kenaikan kelas dia selalu mendapatkan nilai bagus dan selalu ringking 1.


Jelo berusaha menyenangkan hati ayahnya dengan nilainya yang memuaskan.


Bagaimana pun juga brahm sangat bangga dengan anaknya yang cerdas itu.


Melihat ayahnya yang selalu memperlakukannya dengan baik jelo selalu berusaha keras untuk mengambil hati ayahnya.


Seperti yang dulu mamahnya pernah katakan waktu itu.


"Bergeraklah seperti musuh dalam selimut, ketika kamu ingin mengalahkan psyco itu"


Kata kata itu terus terngiang di telinga jelo dan terus mendesak agar segera melakukan keinginan mamahnya.


Dia tidak bisa menolak ketika setiap malam bayangn atas kematian mamahnya selalu menghantui pikirannya dan sering membuatnya kesusahan untuk hanya sekedar memejamkan mata. Hingga membuat kepalanya sakit setelah memimpikannya seperti meninggalkan bekas trauma tersendiri di kepala Jelo.


Di suatu ketika, malam yang begitu panjang dirasanya, jelo terbangun di tengah tidurnya yang tak pernah terasa nyenyak. Sakit di krpalanya delalu menyerang setiap malam.


Dia berjalan ke arah dapur untuk mengambil segelas air, karena harus meminum obat penghilang rasa nyeri.


Langkahnya terhenti ketika mendengar suara desahan seorang wanita dari dalam ruang kerja ayahnya.


Terlihat sedikit cahaya mencuat keluar dari sela pintu ruang kerja brahm yang tidak tertutup dengan rapat.


Dia bergerak pelan menuju ke arah pintu itu.


Matanya mengawasi bagian dalam ruang kerja melewati sela sela pintu yang masih sedikit terbuka.


Jelo terbelalak melihat seorang wanita sedang berusaha memuaskan nafsu ayahnya.


Melihat ayahnya duduk di kursi panasnya mengenakan piyama yang terlihat basah terkena keringat sehingga membuat piyama itu menempel dengan lekat di tubuh laki laki yang sekarang ini di pandang dengan penuh kebencian di mata jelo.


Dia tidak melihat semuanya karena sebagian tubuh tertutup meja kerja.


Malam itu dia melihat wanita yang terlihat menjijikkan di matanya sedang duduk di pangkuan ayahnya.


Piyama yang menggantung di lengan dengan suara yang sangat mengganggu di telinga jelo itu, keluar dari mulut wanita yang sedang memandang ke arah langit langit.


Itu sudah menjelaskan dengan jelas apa yang sedang mereka lakukan saat itu.


Kedua tangan jelo mengepal dengan erat.


Rasa benci dan jijik ketika melihat seorang perempuan dia peroleh dari sikap ayahnya yang selalu membawa pulang seorang perempuan yang berbeda.


Bagaimana bisa dia melakukan hal itu dengan wanita yang berbeda beda setiap hari.


Entah mengapa kini dia selalu memandang rendah kepada setiap perempuan yang dilihatnya.


karena sikap ayahnya sama menjijikannya dengan wanita yang selalu di bawanya pulang itu.


Jelo tahu perempuan perempuan itu hanya butuh uang, mereka ke hausan akan bergelimangan harta dari ayahnya.


 


Hanya mamahnya lah wanita yang di anggapnya paling benar dan suci.


 


Saat dia akan beranjak meninggalkan tempat itu Jelo mendengar mulut wanita itu memulai pembicaraan kepada ayahnya.


Jelo pun menghentikan langkahnya dan mengurungkan niatnya untuk pergi dari tempat itu.


"Kapan kita akan berlibur ke luar negeri bersama sama?, ? aku bosan kalau harus selalu sendirian" suara perempuan itu terdengar seperti sedang memohon kepada ayahnya agar selalu menemaninya kemanapun dia pergi.


"Kenapa?, , biasanya kamu pergi dan bersenang senang sendiri. Aku akan menyiapkan uang untukmu, ketika sudah habis kamu bisa tinggal menghubungiku!" brahm mengambil cerutunya di atas asbak berbentuk segi empat di atas mejanya. Perkataan ayahnya itu selalu membuat setiap perempuan bertekuk lutut di kakinya seperti sedang menyirami padang pasir dengan air sehingga terlihat sangat menyejukkan hati para wanita yang mendengar.


"Lalu ketika nanti aku ingin melakukannya?, , bisakah aku mencari laki laki lain?" entah apa yang sedang dipikirkan perempuan itu, bercanda atau memang dengan sengaja memancing emosi brahm.


Tangan yang sedari tadi membelai lembut rambut perempuan itu dengan cepat berpindah tempat.


Terlihat kini tangannya mulai mencengkeram leher perempuan itu dengan erat sampai otot di jari brahm terlihat menonjol dari balik kulit.


Wajah perempuan itu memerah, darah yang ada di otaknya tertahan di kepalanya karena kencangnya cengkeraman tangan brahm membuat darah itu tak bisa mengalir dengan semestinya.


Dia berusaha meraih jari brahm yang melekat kuat di sekitar leher, matanya nampak melebar karena tidak bisa bernafas.


Amarah brahm terlihat sedang menggebu gebu ekspresi wajahnya yang mengerikan itu kini terlihat lagi.


"Cukup menjadi wanitaku, jangan berani melewati batasmu!!! atau kamu akan merasakan betapa panasnya bara di ujung cerutuku ini, jika aku menempelkannya ke bola matamu yang menjijikkan itu" Brahm menggerakkan tangannya mendekatkan bara yang ada di cerutu itu ke arah mata perempuan yang di depannya.


Perempuan itu menggeleng kesusahan karena tangan brahm begitu kuatnya, dia katakutan sambil melihat ke arah cerutu yang berada tepat di depan matanya.


Dengan cepat brahm mendorong leher perempuan itu agar menjauh dari pangkuannya.


Hingga jatuh tersungkur di lantai.


Brahm beranjak dari kursi mendekat ke arah jendela membelakangi perempuan itu.


"Sebentar lagi" sejenak brahm menghentikan perkataannya untuk menyesap cerutu yang ada di tangan kanannya.


"Anakku itu jenius, dia pintar, , , setelah lulus SMA dia akan mengambil alih semua perusahaanku, dia yang akan mencetak uang untuk kita, , , ketika dia sedang sibuk bekerja, kita akan pergi bersenang senang kemanapun kamu mau" barhm menyeringai diselingi tawa penuh kepuasan keluar dari mulutnya.


Benar kata mamahnya kalau ayahnya itu memang seorang psycopat.


 


Jelo sadar ternyata selama ini dia telah salah melangkah.


Dengan menyenangkan hati ayahnya, memberinya nilai nilai yang sangat memuaskan baginya bisa mengambil simpati dari ayahnya.


Dia hanya berfikir, dia bisa membuat ayahnya puas dengan mengetahui kalau dirinya anak yang cerdas.


Brahm kini menahan jelo di SMA hampir 5 tahun, di tambah lagi saat dia duduk di bangku SMP brahm juga menahnnya beberapa tahun untuk tidak meluluskannya.


Barfikir untuk pergi dari kehidupan ayahnya, itu tidak segampang seperti membalikkan tangan.


Bahkan ke lubang semut pun pasti akan di cari.


Jadi sebisa mungkin dia mengikuti alurnya seperti air yang mengalir.