My love is You

My love is You
Jangan Nikah Muda!




Jangan Nikah Muda!



Kesunyian sangat kentara di kost Nara dan Sisil. Tidak terlihat kumpulan remaja seusia mereka duduk-duduk bergosip di teras kamar kost. Tentu saja, karena kost yang mereka tempati tergolong kost elite yang hanya dihuni oleh orang berduit atau karyawan. Bisa dipastikan orang seperti mereka memiliki kesibukan tersendiri, sehingga tidak memiliki waktu untuk sekedar mengumpul atau bergosip. Hanya Nara dan Sisil yang berstatus masih mahasiswa di kost tersebut.


Nara dan Sisil terlihat sedang sibuk dengan urusannya masing-masing. Nara sibuk mengetik proposal pengajuan KKN'nya, karena dirasa sudah mendekati deadline. Propasal yang seharusnya ia kerjakan semalam, jadi tertunda karena harus menemani Sisil melabrak orang tak bersalah. "Huh kalok dipikir-dipikir, semalam itu sangatlah konyol. Buang-buang waktu" Gerutu Nara.


"Heh, telingaku masih normal. Aku masih bisa mendengar ocehanmu"


"Yang bilang telingamu tidak normal siapa? Otakmu yang tidak normal! Semalam itu sangatlah memalukan. Untung saja tidak ada teman kampusku yang melihat"


Sisil berdecak kesal. Sedari tadi pagi, Nara terus saja menggerutu hal yang sama sampai saat ini bahkan sudah lewat waktu Isya'.


"Apa kamu tidak bosan terus saja mengomel? Kapan proposalmu itu akan selesai? Aku bahkan tidak bisa fokus menonton filmku" Nara berdecih. Menatap tajam ke arah Sisil.


"Kamu bahkan masih menonton film aneh itu. Film cinta segi tiga yang kau andai-andaikan seperti kisah cintamu. Jangan naif sil! Itu hanya pembohongan publik, tidak ada di dunia nyata" Sisil tak menggubris ucapan Nara. Ia masih saja fokus menonton filmnya. Iya sangat mengidolakan tokoh laki-laki di film tersebut. Tokoh laki-laki bernama Adrian dengan peran antagonis. Sisil selalu beranggapan tokoh laki-laki antagonis bernama Adrian itu sebagai Riki kekasihnya. Sedangkan tokoh protagonisnya sebagai Surya. Terakhir, tokoh wanitanya sebagai dirinya. Pemikiran yang konyol menurut Nara.


'Bip' Bunyi nada pesan dari ponsel Nara. Nara mengernyitkan keningnya melihat pesan masuk dengan pengirim dari nomer ponsel yang tidak dikenalnya.


+6281907xxxxxx :


Assalamualaikum


Ini nomer saya, disimpan ya! 😊


Adrian


"Wah Adrian SMS aku sil" Pekik Nara kegirangan. Sisil mengernyitkan keningnya melihat aksi berlebihan dari sahabatnya itu.


"Lah terus?" Jawabnya acuh. Nara memandang Sisil dengan tatapan heran.


"Loh kok kamu responnya biasa aja? Bukannya kamu ngefans sama si Adrian? Ini Adrian sms aku loh" Tutur Nara dengan semangatnya. Sisil menaikkan alisnya, menatap Nara dengan pandangan tak terbaca.


'Sakit nih orang, kelamaan duduk depan laptop deh kayaknya' Batin Sisil. Nara berdecak melihat tatapan Sisil.


"Ini lo sil, Adrian artis di TV itu sms aku" Lanjut Nara gemas, sembari menunjukkan pesan dari nomer asing yang mengaku sebagai Adrian tersebut. Sisil tertawa terbahak-bahak membaca isi pesan tersebut. Kini giliran Nara yang mengernyitkan keningnya heran dengan respon sahabatnya itu.


"Ra... Ra. Itu nomer HP Pak Guru" Ucap Sisil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Lah tapi itu ada tertandanya dari Adrian" Jawab Nara polos.


"Ya iyalah tertandanya Adrian. Kan emang nama aslinya Pak Guru itu Adrian. Kalok enggak percaya, nih liat!" Sisil menunjukkan ponselnya kepada Nara. "Sama kan nomer Pak Guru di HP aku sama nomer yang sms kamu?" Tanya Sisil. Nara mengangguk malas, mengiyakan. Ia baru ingat jika semalam ia memberikan nomer ponselnya kepada Adrian. Dan bodohnya, ia melupakan begitu saja nama Adrian di benaknya, sehingga ia mengira Adrian si artis yang mengiriminya pesan.


Flash back on


Pada saat Nara hendak menaiki sepeda motor Sisil. Tiba-tiba Adrian menyela.


"Maaf ra, boleh saya minta nomer HP kamu?" Nara tidak langsung menjawab, ia menimbang-nimbang akan memberikannya atau tidak. Melihat gurat keraguan di wajah Nara. Adrian mencari alasan agar kali ini bisa mendapatkannya.


"Mmm gini. Bukan maksud saya mau gimana-gimana sih. Cuma saya takutnya nanti ada apa-apa dengan Sisil. Jadi saya bisa hubungi kamu. Apalagi orang terakhir yang Sisil temui dalam keadaan kacau seperti ini kan saya" Sisil hendak menyela, merasa namanya dibawa-bawa untuk ajang modus, namun secepat kilat Adrian memberikannya tatapan maut, seolah mengisyaratkan agar Sisil tidak mencegah aksi modusnya. Sisil pun menutup mulutnya rapat, mengurungkan niatnya untuk protes.


"Oh iya boleh" Jawab Nara gugup, merasa tidak enak hati membuat Adrian menunggu. Ntah kenapa mode jutek dan galaknya terhadap polisi tidak berfungsi malam ini. Mungkin karena ia sudah sangat lelah dan mengantuk pikirnya.


Flash back off


"Eh tapi sil, aku heran deh. Kenapa si Adrian itu kamu panggil Pak Guru? Bahkan bukan cuma kamu, hampir setiap orang seperti ibu, Surya atau temannya kemarin itu"


"Oh itu. Itu karena dulunya Pak Guru itu pernah kuliah di salah satu Institut Keguruan. Tapi teman-teman polisinya tidak ada yang tau. Sampai suatu hari dia kepergok oleh salah satu anggota polisi. Dia kepergok sedang mengganti pakaian olahraga dengan label fakultasnya di kamar mandi kantor. Yaa jadinya sejak hari itu dia diketahui selain jadi anggota, dia juga ternyata seorang mahasiswa FPOK. Yaudah deh, dia dijuluki Pak Guru sampai sekarang" Tutur Sisil panjang lebar. Nara hanya menanggapinya dengan anggukan dan ber'oh' tanpa suara.


'Bip'


Nara meraih ponselnya. Ia melihat ada pesan masuk dari nomer orang yang sedang dibahasnya.


+6281907xxxxxx :


Sudah tidur ya?


"Adrian ya?" Tanya Sisil


"Iya" Jawabnya acuh. Jari-jemarinya dengan cepat mengetik balasan.


Nara :


Belum


Kemudian menyimpan nomer ponsel Adrian dengan nama kontak BANG ADRIAN.


Sisil melirik sekilas ke arah layar ponsel Nara yang masih menyala.


"Cieee abang" Godanya.


"Iyalah abang. Dia kan sudah tua" Jawab Nara acuh kemudian meletakkan ponselnya begitu saja di samping laptopnya. Ia kembali melanjutkan ketikan proposalnya yang sedikit lagi akan rampung.


"Mmm ra, jangan tinggalin aku nikah muda ya! Kamu tau kan sekarang aku lagi galau ditinggal nikah sama Surya. Masak kamu juga mau ninggalin aku sih?" Rengek Sisil.


"Kamu ngomong apaan sih? Siapa juga yang mau nikah?" Ucap Nara ketus.


"Ya kamu sama Pak Guru. Siapa lagi?" Jawab Sisil enteng.


"What the hell? Ngaco kamu! Siapa juga yang mau nikah sama dia?" Bentak Nara, tidak suka dengan pernyataan Sisil.


"Eh ra. Asal kamu tau ya, Pak Guru itu sudah siap nikah. Cuma dia itu belum nemu calonnya. Sekarang setelah dia ngerasa nemuin kamu sebagai calonnya. Pasti bentar lagi dia ngajak kamu nikah" Ucap Sisil dengan santai berargumen semaunya.


"Eh sil, sadar dong. Aku sama dia belum saling kenal. Kita bahkan baru dua kali ini bertemu dan itu selalu bukan di waktu yang tepat. Atas dasar apa kamu berpikiran dia menyukaiku dan akan menikahiku? Omong kosong macam apa itu?" Nara tidak habis pikir dengan opini Sisil. Sisil mengendikkan bahunya acuh.


"Terserah kamu mau percaya atau enggak. Tapi aku mohon, kamu jangan nikah muda ya! Nikahnya nanti aja, bareng sama aku. Kan kita sahabatan sejak kecil. Masak kamu tega ninggalin aku nikah duluan?" Nara hanya berdecak kesal, malas mendebat Sisil. Ia menutup laptopnya, kemudian berlalu menuju kamar mandi.


"Ingat ra, jangan nikah muda!" Teriak Sisil.


"Terserah!" Sahut Nara dari balik pintu kamar mandi, kemudian menutup pintu dengan kasar.


"O ow, ada yang marah nih" Kelakar Sisil, kemudian tertawa, merasa puas menggoda sahabatnya.