My love is You

My love is You
Dasar Patrik!




Dasar Patrik!



Nara menghembuskan nafasnya. Kemudian mengurai pelukan Vina.


"Kamu apaan sih vin? Aku malah belum cerita apa-apa loh. Kamu malah sudah melow sendiri" Ucapnya kesal.


Vina kembali memeluk Nara, kini pelukannya lebih erat.


"Udah enggak usah dipaksain ra. Kalau kamu enggak kuat ceritanya enggak apa-apa. Aku ngerti kok!" Vina menepuk-nepuk punggung Nara dengan lembut.


Nara memutar bola matanya malas.


"Apa yang kamu tau?" Tanya Nara dengan ketusnya. Karena sudah kesal dengan tingkah Vina yang sok menjadi pahlawan kesiangan yang salah sasaran. Kasian banget yak, sudah kesiangan salah sasaran pulak tu. Bisa-bisa otor pecat nih jadi pahlawan. Eh tapi kan si Vina emang bukan pahlawan wkwkwkk.


"Kamu enggak jadian kan sama si pakpol? Pasti sekarang kamu lagi patah hati. Aku sebagai sahabat yang baik, turut merasakan apa yang kamu rasakan" Tutur Vina panjang lebar. Nara menghembuskan nafasnya kasar.


'Tuh kan, salah ngira dia ni. Dasar si gesrek!' Umpat Nara dalam hati.


"Kamu salah vin. Aku emang enggak jadian sama dia. Tapi aku juga enggak patah hati" Vina melepaskan pelukannya. Menatap Nara dengan tatapan tak terbaca.


"Iya betul ra. Kita emang enggak boleh patah hati sama satu cowok. Apalagi cowoknya model si pakpol itu. Kamu kan cantik, bisa dapetin cowok yang sepuluh kali lebih ganteng dari pakpol yang enggak ada ganteng-gantengnya itu" Cerocos Vina menggebu-gebu.


"Vina, cowok yang kamu bilang pakpol yang enggak ada ganteng-gantengnya itu calon suami aku!" Teriak Nara, yang sudah mulai emosi karena Vina yang katanya mau mendengar curhatannya malah sibuk dengan opininya sendiri.


Vina menggosok telinganya karena teriakan Nara yang begitu memekakkan telinga, Nara teriak tepat di telinga kanannya.


"Biasa aja dong ra. Ini telinga bukan toa masjid. Main teriak aja di telinga orang!" Sungut Vina dengan polosnya, masih merasa tidak bersalah karena sudah menyulut emosi Nara.


"Tau ah gelap!" Ketus Nara kemudian berlalu meninggalkan Vina ke dapur.


"Apanya yang gelap? Terang gini kok. Atau Nara mau lampunya ditambah kalik ya?" Ucap Vina bermonolog karena Nara meninggalkannya sendiri di kamar.


"Eh tunggu dulu! Tadi Nara bilang pakpol itu calon suaminya? Berarti mereka mau nikah dong? Oalah berarti dari tadi aku sok sedih buat orang yang lagi bahagia dong? Aduh puyeng kepalaku!" Vina memukul keningnya, kemudian mencari keberadaan Nara di dapur.


"Ra, sorry ya" Ucap Vina untuk yang kesekian kalinya, karena sedari tadi Nara terus mengabaikannya.


Nara menghembuskan nafasnya dengar kasar. Memutar badannya menghadap Vina yang sedari tadi mengekorinya kemana pun, bahkan sampai sekarang Vina mengekori Nara sampai ke toilet.


"Vin, aku mau buang air. Kamu mau ikut?" Tanya Nara dengan malasnya.


"Ya enggaklah, aku masih normal kalik ra" Sanggah Vina.


"Lah terus ngapain kamu masih disini? Keluar sana!" Bentak Nara. Vina mengedarkan pandangannya, ia baru sadar kalau dia mengikuti Nara sampai ke dalam toilet. Vina menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Sorry ra" Ucapnya dengan cengengesan, kemudian keluar dari toilet tersebut, setelah itu Nara menutup pintu toilet dengan keras.


Vina mengelus dadanya karena terkejut.


"Galak bener bu ustadzah kalau lagi marah!" Ucapnya. Vina emang sering memanggil Nara dengan sebutan bu ustadzah karena di posko hanya Nara yang mengenakan hijab besar.


"Kenapa kamu?" Tanya Ratna yang melihat Vina ngomong sendiri sambil mengelus dada.


"Itu si bu ustadzah kalau lagi marah, serem bener!" Jawab Vina.


"Emang kamu apain my twin?" Tanya Ratna yang sudah mengetahui panggilan bu ustadzah untuk Nara, sedangkan dirinya memanggil Nara dengan sebutan My Twin. Karena menurutnya, dia dan Nara cantiknya sama. Padahal tidak ada miripnya sama sekali. Nara berhijab besar, sedangkan dia berpakaian seksi. Nara tidak begitu tinggi namun terkesan imut, sedangkan dirinya tinggi kurus bak model. Wajah Nara cantik natural tanpa make up, sedangkan dirinya tak pernah lepas dari make up menor, bahkan Nara memanggilnya dengan sebutan ulet keket bergincu. Hahahaa sadis bener si Nara ya? Masak sih temen sendiri dipanggil begitu.


"Twin twin apaan. Kamu tu sama Nara enggak ada mirip-miripnya. Jauh, bagaikan bumi dan langit!" Seloroh Vina dengan entengnya.


"Yeee, sirik aja. Dasar patrik!" Ejek Ratna, kemudian berlalu meninggalkan Vina yang masih berdiri di tempatnya.


"Biarin aja jadi patrik. Lucu kok, imut pink pink gitu" Ucapnya bangga menjadi si bintang laut di serial kartun anak-anak, yang otaknya harus tertukar dulu baru bisa ngerasain jadi orang pintar.


"Siapa yang jadi patrik?" Tanya Nara yang baru keluar dari toilet.


"Aku dong!" Jawab Vina dengan bangganya. Nara tertawa terbahak-bahak sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. Tidak habis pikir dengan tingkah sahabatnya yang begitu bangga disamakan dengan patrik, yang be**knya kagak ketulungan.


"Okelah patrik. Ayo kita ke kamar!" Ajak Nara sembari tersenyum menahan tawanya agar tidak kembali meledak.