My love is You

My love is You
Gimana Kencannya?




Gimana Kencannya?



"Baiklah, kalau begitu nanti abang kabari orang tua abang dulu. Abang akan meminta restu kepada mereka. Tapi bisakah adek merahasiakannya dulu? Jangan ceritakan kepada siapapun!" Nara mengernyitkan keningnya. Kenapa?, Pikirnya.


"Abang serius mau nikahin adek. Tapi karena ini masih berupa rencana, abang takut pamali kalau diumbar sebelum hari H. Kita tidak tau kan siapa saja yang suka dan tidak suka terhadap kita. Abang hanya tidak mau rencana kita gagal" Jelas Adrian.


"Termasuk Sisil?" Adrian menganggukkan kepalanya.


"Yups, termasuk Sisil!" Adrian menegaskan kembali ucapan Nara.


"Mmm baiklah" Nara menyetujui permintaan Adrian. Meskipun ragu, karena rasanya Nara akan begitu sulit merahasiakan sesuatu pada sahabatnya itu.


"Siang bang" Sapa pria berseragam coklat yang menghampiri meja Nara dan Adrian.


"Siang. Eh kamu makan disini juga yan? Sama siapa?" Tanya Adrian pada pria yang ternyata bernama Rian tersebut.


"Sama anak-anak yang lainnya bang" Tunjuk Rian ke arah meja di pojokan yang dihuni oleh beberapa polisi.


Adrian dan Nara spontan melihat ke arah yang ditunjuk oleh Rian. Mereka kompak tersenyum dan menunduk ke arah Adrian yang hanya dibalas dengan senyuman oleh Adrian. Sedangkan Nara dengan refleks mengalihkan pandangannya.


"Kalau gitu, saya kesana dulu bang" Pamit Rian.


"Oke" Pada saat Rian akan pergi, ia menepuk pundak Adrian.


"Disegerakan bang! Inget umur!" Bisik Rian.


Adrian menengadahkan kepalanya, menatap Adrian yang sedang mengerlingkan matanya sambil tersenyum jenaka.


Adrian meninju lengan Rian.


"Beda umur kita cuma dua tahun bro!" Ucapnya sambil terkekeh.


"Sudah sana pergi! Ganggu aja" Seru Adrian. Rian yang merasa dirinya diusir secara tidak hormat menjadi terkekeh geli.


"Iya deh, sorry bang ganggu! Mari mbak saya duluan" Pamit Rian pada Nara yang hanya dijawab dengan anggukan dan senyuman oleh Nara. Rian pun berlalu menuju meja tempat teman-temannya menunggu untuk makan bersama.


"Kenapa pria tadi memanggilmu bang sedangkan menurut cerita Sisil, abang biasanya dipanggil Pak Guru di kantor?" Tanya Nara mengingat cerita dari Sisil sebelumnya.


"Karena dia junior abang di kantor. Para junior selalu memanggil senior dengan sebutan bang. Sedangkan teman satu letingku seperti Surya atau para senior akan memanggil abang dengan panggilan nama atau julukan abang yaitu Pak Guru" Jelas Adrian.


Nara hanya menjawab dengan membulatkan mulutnya tanpa suara. Pertanda ia mengerti maksud Adrian.


Adrian yang melihatnya menjadi gemas sendiri.


Nara memicingkan matanya melihat Adrian yang senyum-senyum sendiri.


"Abang kenapa?"


"Mmm enggak kenapa-kenapa" Jawabnya sembari menggaruk tengkuknya. Adrian jadi salah tingkah karena tertangkap basah sedang curi-curi pandang.


"Bang, sepertinya Nara sudah harus kembali ke posko. Waktu isoma (istirahat shalat dan makan) sudah mau berakhir"


"Ayo, abang juga harus segera kembali ke kantor" Ajak Adrian.


___


Setelah sampai di depan gang posko Nara. Adrian menghentikan sepeda motornya.


"Abang anter sampai dalem?" Tawar Adrian.


"Enggak usah bang. Posko Nara deket kok, cuma jarak dua rumah dari sini. Mending abang langsung kembali ke kantor!"


"Oh oke. Yaudah abang tinggal ya. Assalamualaikum" Pamit Adrian.


"Hati-hati. Waalaikumsalam"


Setelah dilihatnya sepeda motor Adrian menghilang di tikungan. Nara bergegas masuk menuju poskonya.


Di posko, Vina sudah menunggunya dengan berbagai macam pertanyaan.


"Woy yang kencan. Gimana gimana? Kepo nih!" Vina menarik lengan Nara dengan antusiasnya. Vina mendudukkan Nara di atas ranjang kamar mereka.


"Oke, tarik nafas...!" Seru Vina sembari memperagakannya, dan dengan polosnya Nara mengikuti arahan Vina.


"Hembuskan..!" Seru Vina lagi, yang lagi lagi diikuti oleh Nara.


"Apaan. Kamu kira saya mau lahiran?" Ucap Nara sembari memukul tangan Vina yang memegangi pundaknya. Vina hanya terkekeh geli mendengar ucapan Nara.


"Iya supaya kamu rileks curhatnya say" Goda Vina sembari mengedipkan matanya dan menampilkan deretan giginya yang putih. Imut sekali.


"Ayo sekarang cerita. Gimana kencannya? Lancarkah? Dia orangnya romantis enggak? Terus kalian jadiankah?" Cecar Vina. Nara yang mendengar serentetan pertanyaan dari Vina hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Vina menatapnya dengan tatapan penuh tanya.


"Apaan geleng-geleng kepala? Kalian belum jadian? Ya ampuun. Sorry ya, kamu pasti sedih banget" Ucap Vina dengan sedihnya, ia menatap Nara dengan tatapan sendunya. Kemudian memeluk Nara.


'Apaan ni bocah. Belum aja aku jawab pertanyaan pertamanya yang beruntun. Dia sudah nyimpulin sendiri. Gini amat ya hidupku punya sahabat gesrek semua' Batin Nara.


Sorry baru sempat up lagi. Kemarin author ada acara 4 hari berturut-turut, author lumayan lelah letih lesu karena sambil ngurusin si kecil juga. Jadi enggak sempet up deh.


Dan semoga kalian suka kelanjutan ceritanya ya 🤗😘