
Satu Dari Seratus
Flash back on
Nara mengendarai sepeda motornya dengan tenang. Hatinya sedang senang, karena hari ini dia akan pulang kampung ke rumah neneknya. Mengunjungi nenek kesayangannya, yang selalu ia rindukan.
Terdengar suara iring-iringan sepeda motor tepat di belakang Nara. Nara tak menggubris. Ia menepikan sepeda motornya ke kiri, berniat memberikan jalan untuk para pengemudi di belakangnya untuk melewatinya, karena ia merasa melajukan sepeda motornya dengan pelan. Namun tak satu pun terlihat oleh Nara sepeda motor yang melewatinya, yang terdengar malah suara riuh klakson dari belakangnya. Nara mengintip lewat kaca spion, terlihat olehnya beberapa orang anggota polisi yang mengendarai sepeda motor secara beriringan. Salah seorang yang memimpin konfoi sepeda motor tersebut membunyikan sirinenya sembari terus membunyikan klakson, meminta Nara untuk menepi. Nara mengernyitkan keningnya.
'Apakah akan ada razia? Lagian surat-suratku lengkap, kenapa mesti takut' Batin Nara. Ia menghentikan laju sepeda motornya setelah menemukan tempat teduh untuk menepi.
Pada saat Nara hendak membuka dompetnya untuk mengeluarkan SIM dan STNK nya, orang yang dilihat Nara memimpin konfoi tadi menghampirinya dengan tersenyum.
"Maaf mbak, mbak mau kemana?" Tanyanya basa-basi. Nara tidak menjawab, ia hanya menatapnya dengan bingung, sebelah alisnya terangkat.
"Boleh saya minta nomer HP nya?" Nara membelalakkan matanya mendengar ucapan orang asing di hadapannya. 'Jadi dari tadi dia mengejarku bunyiin klakson dan sirine, cuma buat minta nomer HP?' Pikirnya. Nara berdecak kesal. Memasukkan kembali dompetnya ke dalam tas. Menstater sepeda motornya, kemudian melajukan sepeda motornya dengan kecepatan tinggi.
"Dasar polisi gila! Aku sudah kayak maling motor aja dikejar-kejar rame begitu. Pakek acara bunyiin klakson dan sirine lagi" Gerutu Nara tanpa mengurangi kecepatan sepeda motornya. Para polisi muda yang terlihat seperti polisi baru itu pun ikut melajukan sepeda motor mereka dengan kecepatan tinggi.
"Pelan-pelan mbak, bahaya!" Ucap salah satu polisi itu.
"Kalau mbak enggak nurunin kecepatan mbak, mbak akan kami tilang!" Gertak salah satunya lagi.
"Terserah!" Ucap Nara ketus. Yang disambut suara riuh dari para anggota polisi tersebut. Karena dari tadi mereka menggoda Nara, baru kali ini Nara merespon godaan mereka. Menurut mereka, tidak ada seorang wanita pun yang tidak tertarik dengan pesona pria berseragam seperti mereka. Namun tidak bagi Nara, ia tidak melihat orang dari segi casing melainkan isi dari casing tersebut.
Flash back off
Nara menghembuskan nafasnya kasar. Susan menggenggam tangan adiknya dengan lembut.
"Kejadian waktu itu hanya hal spele, tidak perlu diperpanjang sampai saat ini. Tidak semua polisi seperti itu. Jangan membuatnya seolah-olah seperti satu yang makan nangka semua kena getahnya!"
"Tapi setauku, kebanyakan polisi itu playboy" Kekeh Nara. Ia sangat membenci kaum playboy. Ia takut jika salah memilih pasangan akan membuatnya sengsara di kemudian hari. Seperti halnya ibu Nara yang ditinggalkan oleh ayah Nara, karena terpincut daun muda. Membuat Nara kecil seringkali menjadi pelampiasan amarah sang ibu karena sempat depresi di awal-awal percerainnya.
"Tapi pasti ada diantara mereka yang tidak demikian"
"Iya, satu dari seratus. Seperti halnya Surya yang merupakan satu dari seratus orang itu" Sisil mendelik ke arah Nara, mendengar ucapan Nara yang seolah menyindirnya. Nara mengendikkan bahunya acuh.
"Tapi bisa juga Pak Guru ini satu dari seratus yang lainnya" Goda Susan.
"Iya mungkin saja. Tapi aku tidak mau ambil resiko, bisa jadi dia malah termasuk ke dalam golong sembilan puluh sembilan polisi playboy" Kekeh Nara. Susan dan Sisil hanya bisa pasrah mendengarnya. Berdebat dengan Nara hanya akan menguras tenaga dan emosi tanpa meraih kemenangan. Terlalu keras kepala.
Nara yang sudah selesai mengepak pakainnya pun meraih remot TV, mengganti chanel untuk mencari berita terkini. Berita yang ditampilkan malah semakin memupuk kebencian Nara terhadap anggota polisi.
"Selalu saja hukum di negara ini seperti ini. Tumpul ke atas, runcing ke bawah. Lihatlah, seorang nenek yang mencuri sendal jepit lusuh saja bisa dihukum beberapa tahun penjara. Sedangkan para koruptor masih bisa keliling dunia" Nara berdecih, mengamati berita tersebut. Nara terus saja menggerutu tentang ketidak adilan yang dilakukan para polisi.
NB :
Buat para anggota polisi dan ibu bayangkari. Mohon maaf jika ceritanya seperti ini. Author tidak berniat menjelekkan para anggota. Mohon jangan dihujat sebelum baca sampai akhir cerita. Terimakasih 😊
Salam peluk cium dari author 🤗😘