
Mau Mahar Apa?
"Bi, ayah kemana ya? Kok enggak kesini? Padahal tadi Nara datangnya sama ayah lo" Nara memang memanggil ibu tirinya dengan sebutan bibi. Karena ibu tirinya masih terbilang muda, dan itu pun permintaan ayah Nara.
"Ayah kamu memang jarang masuk kesini, paling dia di ruang tunggu khusus sama Opa" Jelas ibu tiri Nara. Nara hanya menganggukkan kepala pertanda mengerti.
"Dek, abang sepertinya harus balik. Karena ada yang harus abang cek di kantor" Ucap Adrian.
"Cieee adek abang nih panggilannya?" Goda Susan, yang sukses membuat Nara malu, wajahnya memerah. Begitu pun dengan Adrian yang hanya bisa tercengir kuda sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Mmm iya, mari saya antar ke depan" Nara sengaja tak menggubris Susan. Semakin digubris, semakin panjang urusannya, pikir Nara.
Sesampainya mereka di depan pintu, tiba-tiba Adrian menghentikan langkahnya.
"Dek, boleh abang ketemu ayah kamu?" Nara menaikkan alisnya.
'Untuk apa?' Batinnya.
"Cuma mau pamitan aja, enggak enak langsung pulang tanpa pamitan" Jelas Adrian, seolah mengerti arti dari tatapan Nara. Nara mengulum senyumnya.
"Ayo. Nara anter ke tempat ayah dan Opa" Ajaknya.
'Wah bakalan ketemu camer nih. Semoga aja ayahnya Nara kagak galak. Lagian tadi kenapa saya sok-sok an mau pamit sih?' Batin Adrian. Seperti menyalahkan ucapannya sendiri.
Sesampainya di depan ruang tunggu khusus tersebut, Adrian seperti dilema antara mau maju atau mundur. Ia bergeming, seperti tidak berniat membuka pintu di hapadannya. Nara yang melihat tingkah Adrian menjadi terheran.
'Masak sih dia enggak tau caranya buka pintu geser? Wah parah ni orang, muka aja jaman now, tapi pengetahuannya jaman nenek moyang' Batin Nara, yang membuatnya mengulum senyum berusaha menahan tawa atas pemikirannya.
Nara berdehem, kemudian mendahului Adrian untuk membuka pintu tersebut. Benar saja, di dalam ruangan tersebut ada ayah dan Opa Nara.
"Kamu kesini nak? Ada apa?" Tanya ayah Nara, melihat kedatangan Nara.
"Hanya mau mengantar teman Nara. Katanya dia mau berpamitan dengan ayah dan Opa" Ayah Nara mengernyitkan dahinya, pasalnya ia hanya melihat Nara yang datang.
"Dimana temanmu?" Tanyanya. Nara menoleh ke belakang, ia tidak menemukan Adrian disana. Mungkin masih di luar, pikirnya.
"Sebentar ayah. Nara panggilkan" Nara membuka kembali pintu yang tadinya tertutup otomatis. Benar saja, ia menemukan Adrian masih disana. Adrian tercengir kuda melihat Nara.
"Ayo masuk. Katanya mau pamitan sama ayah dan Opa!" Ajak Nara. Adrian hanya menggaruk tengkuknya, ntah kenapa ia jadi merasa kehilangan nyali untuk bertemu ayah Nara. Adrian berniat menunda pertemuannya dengan ayah Nara, namun tangan mungil Nara sudah lebih dulu menariknya. Membuatnya terkejut dan terseret begitu saja. Tenaga Nara tidaklah seberapa dibandingkan Adrian, tapi karena Adrian yang sedang tidak fokus menjadi menurut saja.
"Ayah, ini teman Nara" Ucap Nara. Membuat ayah dan opa Nara mengkerutkan dahi. Sejak kapan putri kecilnya beranjak dewasa dan memiliki teman pria?, pikir ayah Nara.
Opa Nara berdehem, tatapan matanya menuju ke arah tangan Nara dan Adrian yang tertaut.
"Mmm saya mau pamit dulu yah" Ucap Adrian sembari mencium tangan ayah Nara. Kemudian berganti mencium tangan opa. Adrian mengangguk hormat pada opa yang hanya dibalas anggukan kecil oleh opa.
___
Nara mengantar Adrian sampai parkiran rumah sakit. Sesampainya di parkiran, Adrian menghentikan langkahnya. Ia menatap Nara dengan tatapan yang tidak dapat Nara artikan.
"Dek, seandainya ada yang mau lamar kamu. Kamu mau mahar apa?" Tanya Adrian.
Nara mengernyitkan keningnya. Kemudian ia mengulum senyum. Adrian bukanlah pria pertama yang bertanya seperti itu. Namun setelah mereka mendapat jawaban dari Nara, ada yang mundur perlahan dan ada pula yang meminta Nara untuk menunggu.
"Nara orangnya simple aja. Enggak suka yang mahal-mahal. Cukup Surah Ar-Rahman" Ucap Nara mantap. Membuat Adrian menaikkan alisnya. Pasalnya ia mengira Nara akan meminta sesuatu seperti perhiasan, mobil, rumah, atau tanah berhektar-hektar.
'Surah Ar-Rahman? Bukankah itu surat yang cukup panjang?' Batin Adrian.
Nara mengulum senyum melihat ekspresi Adrian. Sama saja seperti pria lainnya, pasti dia akan mundur perlahan, pikirnya.
Nara melanjutkan langkahnya, yang diikuti oleh Adrian.
"Akan saya coba!" Ucap Adrian dengan tegas, membuat Nara menghentikan langkahnya. Ia menatap mata Adrian, mencari kebohongan disana. Namun yang Nara temukan adalah kesungguhannya. Nara memalingkan wajahnya, ia tersenyum tipis. Nara tidak membantah atau mengiyakan ucapan Adrian.
"Boleh abang bertanya?"
"Silahkan!"
"Kenapa kamu meminta Surah Ar-Rahman?" Nara mengendikkan bahunya.
"Ntahlah. Saya hanya menginginkannya. Tidak semua orang di dunia ini kaya, atau pun memiliki segalanya. Apa jadinya jika nanti calon suamiku orang yang tidak berada dan saya meminta mahar perhiasan atau mobil mewah? Apa itu tidak memberatkannya?" Adrian diam tak menjawab, ia hanya menatap Nara. Nara tersenyum.
"Bukankah sebaik-baiknya wanita adalah yang paling murah maharnya?" Lanjut Nara. Adrian masih terdiam, lebih tepatnya terpukau dengan apa yang baru saja ia dengar. Ia tidak menyangka, Nara adalah orang yang begitu sederhana.
"Ohya, motornya dimana?" Tanya Nara membuyarkan lamunan Adrian.
"Mmm itu disana" Adrian menunjuk ke sembarang arah. Pasalnya, ia masih belum menetralkan pikirannya.
"Baiklah, kalau begitu Nara kembali ke atas ya. Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam" Jawab Adrian.
Nara bergegas menuju ruang rawat inap adiknya. Pada saat Nara sudah sampai di dalam lift, ia menetralkan nafasnya yang memburu karena berjalan terburu-buru. Ntah kenapa ia tidak tahan berlama-lama dengan Adrian. Ada rasa yang berbeda di hatinya, apalagi pada saat Adrian bertanya tentang mahar.
'Apa dia akan melamarku?' Batin Nara.
'Ah tidak mungkin, kita bahkan baru beberapa kali bertemu. Yang bertahun-tahun pacaran saja bisa kandas di tengah jalan sebelum menuju pelaminan' Lanjutnya membatin.