My love is You

My love is You
Adikku Menjadi Korban Tabrak Lari




Adikku Menjadi Korban Tabrak Lari



Nara dan anggota KKN lainnya sedang mengadakan briefing sebelum memulai kegiatan harian mereka. Mereka briefing di ruang tengah posko.


Bunyi ponsel Nara mengintrupsi jalannya briefing tersebut. Membuat Nara menjadi merasa sungkan. Angga menatap Nara, kemudian menunjukkan gestur agar Nara menerima telfon tersebut. Nara mengangguk kemudian pamit undur diri.


Tertera nama kontak yang tertulis dengan nama Sister 😘 di layar ponsel Nara.


'Tumben kak Susan telfon sepagi ini' Batinnya.


"Assalamualaikum sis" Ucap Nara.


"Waalaikumsalam dek. Bara kecelakaan, sekarang sedang di RS Y. Kamu dimana?" Nara membesarkan matanya, berita yang tak pernah dibayangkannya akan didengarnya sepagi ini. Bara memang bukan adik sesusuannya, tapi mereka masih dialiri darah yang sama, yaitu darah dari ayah yang sama. Nara tidak pernah membedakan kakak atau adiknya, rasa sayangnya sama, memiliki takarannya masing-masing.


"Aku di posko sis. Bisa jemput?" Ucap Nara dengan suara bergetar menahan tangis.


"Oke, tunggu. Sekarang kakak jemput kamu!" Nara tidak menjawab, kakinya serasa lemas sehingga membuatnya tidak tahan untuk berdiri, badannya ia senderkan ke tembok kemudian merosot begitu saja. Anggota KKN yang lain sudah selesai briefing, membuat mereka bertanya-tanya kemana perginya Nara sehingga tak kunjung kembali.


Pada saat mereka memutuskan untuk keluar dan memulai aktivitas mereka masing-masing sesuai hasil briefing, alangkah terkejutnya mereka melihat kondisi Nara yang sedang duduk di lantai dengan posisi kaki ditekuk dan kepala ia benamkan di lututnya. Punggungnya terlihat naik turun seperti sedang terisak. Angga yang juga melihat kejadian itu spontan mendekati Nara dan bertanya ada apa.


"Aku izin ya hari ini. Adikku kecelakaan. Aku harus melihatnya di RS Y" Ucap Nara sesenggukan.


Semuanya menatap Nara prihatin dan kompak menganggukkan kepala. Mereka mengucapkan berbagai ucapan do'a atas kesembuhan adik Nara.


___


Sepulang Nara dari menjenguk Bara, bukannya merasa tenang, Nara malah semakin terpuruk. Mengingat kondisi adiknya yang begitu parah, kepalanya pecah dan harus segera dioperasi. Namun, karena biaya yang tidak sedikit membuat orang tuanya menunda operasinya. Nara bingung, ia hanya bisa mengaji dan berdo'a untuk kesembuhan adiknya. Seharian penuh Nara meninggalkan tugas-tugasnya, sampai malamnya pun Nara tidak ikut meeting evalausi, ia mengunci dirinya di kamar hanya untuk mengaji. Angga yang mendengar suara Nara mengaji dengan suara sangau has orang menangis dan terkadang terdengar suara isakan dari Nara pun jadi merasa iba.


___


"Nara Andreas" Panggil Angga dengan suara yang lebih keras. Nara terkejut. Kemudian menundukkan kepalanya. Malu karena telah bersikap tidak profesional.


"Maaf" Ucapnya lirih.


"Bagaimana keadaan adikmu?" Tanya Angga lembut.


"Adikku menjadi korban tabrak lari. Kepalanya pecah, dan seharusnya kemarin dia dioperasi, tapi karena ayahku baru mendapatkan biayanya hari ini, kemungkinan hari ini adikku akan dioperasi" Jelas Nara dengan suara bergetar menahan tangisnya. Vina merangkul bahu Nara, mencoba menenangkannya. Nara membalas rangkulan Vina dengan pelukan, ia menumpahkan tangisnya di bahu Vina.


"Sabar ya ra, semoga aja operasinya nanti berjalan lancar, dan adik kamu sehat seperti sedia kala" Ucap Vina yang diamini oleh semua orang.


"Sekarang pergilah ke rumah sakit. Temani adikmu, kalau perlu kamu menginap. Tapi besok setelah kamu kembali kesini, kamu harus kembali bersikap profesional" Ucap Angga. Nara melepaskan pelukannya dari Vina, menatap Angga dan anggota lainnya. Yang hanya dibalas dengan senyuman dan anggukan oleh yang lainnya.


"Bukannya kami tidak mengerti kondisimu. Tapi kamu juga harus bertanggungjawab atas tugasmu. Itu demi dirimu sendiri, karena kamu juga harus punya laporan harian untuk dikirim ke LPPM" Lanjut Angga mengingatkan. Nara mengangguk mengerti.


"Terimakasih semuanya" Ucap Nara tulus.


"Sama-sama Nara. Semoga adikmu lekas sembuh ya" Ucap mereka kompak.


"Aamiin ya Allah" Jawab Nara.


"Vina kamu antar Nara ya!" Ucap Angga yang terdengar seperti perintah bagi Vina.


"Siap laksanakan ketua" Jawab Vina dengan suara lantang. Tangan kanannya ia letakkan di atas pelipis sebelah kanan, membentuk hormat. Berusaha mencairkan suasana haru di tengah-tengah mereka. Nara tersenyum kecil melihat tingkah konyol temannya itu.


"Tidak usah, nanti saya telfon ayah saja! Lagian Vina kan juga ada tugas yang harus dia kerjakaan" Tolak Nara, tidak enak hati merepotkan orang lain. Dia yang sudah dua hari membolos saja sudah merepotkan yang lainnya untuk membackup tugasnya, pikirnya.