
Aku Menyukaimu. Tapi...
Malam harinya Nara tengah disibukkan dengan laporan anggaran harian KKN. Karena sebentar lagi Angga akan mengadakan meeting evaluasi.
'Bip' bunyi notife pesan di ponsel Nara sedikit mengganggunya. Nara melirik ke arah ponselnya, hanya untuk memastikan siapa gerangan pengganggu itu.
"Bang Adrian" Gumam Nara membaca nama pengirim pesan tersebut. Spontan Nara mengulas senyumnya.
"Aish kenapa aku malah senyum-senyum?" Gumamnya sembari menangkup kedua pipinya dengan tangan.
"Fokus Nara! Dia bukan siapa-siapa, jangan tergoda, jangan tergoda!" Sugesti Nara pada dirinya sendiri. Vina yang sedari tadi memang berada di dalam kamar bersama Nara menjadi megernyitkan keningnya melihat tingkah temannya itu.
"Are you okay?" Tanyanya.
"Huh? No eh yes!" Ucap Nara gugup. Vina menatap Nara dengan intens.
"Kalau kamu baik-baik saja, kenapa mesti gugup begitu?"
"Aku enggak gugup, hanya sajaa.. Ah iya, aku lagi mikirin laporan anggaran harian, belum kelar nih. Bentar ya aku selesaikan dulu, takutnya keburu Angga memanggil kita untuk kumpul" Kilah Nara. Dengan segera ia memusatkan perhatiannya ke arah laporannya. Vina pun mengendikkan bahunya, tidak ambil pusing dengan jawaban Nara. Ia kembali berkutat dengan ponselnya.
___
"Baiklah, kita tutup meeting evaluasi ini dengan sama-sama mengucapkan kalimat hamdalah. Alhamdulillahirabbil alamiin" Ucap Angga menutup acara. Yang diikuti ucapan hamdalah oleh semuanya.
Nara bergegas menuju kamarnya, berniat untuk membaca dan membalas pesan Adrian.
Nara meraih ponselnya yang tergeletak sembarang di atas kasur. Ia segera membuka pesan dari Adrian.
Nara membelalakkan matanya setelah membaca pesan dari Adrian.
"What the hell?" Pekiknya, membuat Vina yang berada di belakang Nara menjadi penasaran, dan tanpa aba-aba langsung merebut ponsel Nara. Vina yang membaca pesan Adrian pun jadi tertawa terbahak-bahak.
"Apaan sih, sini kembaliin!" Pinta Nara dengan ketus. Nara merebut kembali ponselnya dari tangan Vina dengan kasar karena ia merasa kesal. Ia kesal dengan pesan yang dikirim oleh Adrian, ditambah lagi Vina yang menertawakannya. Level kekesalan Nara menjadi bertambah.
"Jadi kamu buru-buru masuk kamar cuma buat baca pesan salam begitu doang?" Goda Vina pada Nara.
"Siapa juga yang buru-buru? Biasa aja!" Kilahnya.
"Yaelah, belajar bohong darimana neng? Jangan berusaha kadalin buaya deh, karena percuma!" Ledeknya.
"Siapa yang mau jadi kadal? Saya itu bukan kamu ya, yang mau-maunya nyamain diri sama buaya" Oceh Nara, yang membuat Vina terkikik geli.
"Ya namanya juga perumpaan!"
"Tapi tetap saja, aku enggak mau jadi kadal!" Tegas Nara. Ia membaca ulang pesan dari Adrian, yang membuatnya berdecak kesal.
✉️ Adrian : Assalamualaikum
'Singket bener, mana enggak ada emoticon senyumnya lagi. Dasar enggak romantis!' Gerutu Nara dalam hati.
"Wah setres ni orang" Ucap Vina melihat tingkah polah Nara. Vina kemudian berlalu meninggalkan Nara keluar dari kamar. Karena memang tujuannya ke kamar tadi hanya karena penasaran melihat Nara yang terburu-buru masuk kamar, membuat jiwa kepo dalam diri Vina meronta-ronta.
Nara tak menghiraukan ucapan Vina, ia sibuk menimang akan merespon pesan Adrian atau tidak. Dan Nara pun memutuskan untuk tidak meresponnya. Pada saat Nara akan meletakkan ponselnya di atas kasur, tiba-tiba terdengar nada dering dari ponselnya.
Nara mengulas senyum saat ia membaca nama penelfonnya. Dengan semangat empat lima, Nara menggeser tombol hijau di layar ponselnya.
"Assalamualaikum" Ucap Nara, berusaha mengatur suaranya agar tidak terdengar terlalu bersemangat. Nara sendiri bingung, kenapa ia begitu senang dan bersemangat menerima telfon dari Adrian.
"Waalaikumsalam, Nara. Maaf, apa abang mengganggumu?" Tanya Adrian.
"Mmm tidak"
"Lalu kenapa kamu tidak mebalas pesanku?"
"Mmm itu, itu karena tadi Nara ada meeting evaluasi. Nara baru akan membalasnya" Jelas Nara gugup.
"Oh begitu. Berarti kita begitu sehati ya" Goda Adrian yang disertai dengan tawanya yang renyah.
Hening, Nara tidak merespon ucapan Adrian. Nara menggigit bibir bawahnya menahan senyumnya.
"Halo Nara?" Ucap Adrian memecah keheningan.
"Iya"
"Sebenarnya, aku menyukaimu. Tapi..." Adrian menggantung kalimatnya. Ia menelan salivanya. Karena takut Nara akan marah atas pengakuannya, kemudian menjauhinya. Karena menurut informasi yang Adrian dapatkan dari Sisil, Nara sudah tidak ingin lagi mengenal yang namanya pacaran.
Sementara di lain sisi, Nara pun menjadi berdebar menunggu kelanjutan dari ucapan Adrian.
'Jangan bilang kalau ini adalah prank!' Batin Nara sembari menggigit kuku-kuku jarinya.
"Nara?" Panggil Adrian, memastikan kalau Nara masih mendengarkannya.
"Hhmmm" Jawab Nara singkat, karena masih greget menunggu kelanjutannya.
"Kamu masih mendengarku?" Tanya Adrian lagi, membuat Nara menjadi geram. Nara menghela nafas.
"Iya" Jawabnya ketus.
Adrian yang mendengar jawaban ketus dari Nara menjadi semakin gugup. Bingung antara akan melanjutkan ucapannya atau tidak.
Kira-kira Adrian mau bilang apa ya? Kok ngegantung gitu sih?
Nara, aku menyukaimu. Tapi bo'ong!
Nara, aku menyukaimu. Tapi prank!
Nara, aku menyukaimu. Tapi otor bilang kita tidak boleh bersatu karena like nya kurang.
Hahahaa
😆😝