
Apa Karena Dia Polisi?
Malam ini, malam terakhir Nara berada di kost. Karena keesokan harinya Nara harus sudah berangkat ke lokasi KKN, yang sudah dipastikan Nara akan tinggal di lokasi selama 45 hari.
"Kamu tega ninggalin aku KKN duluan. Katanya sahabat, tapi kok malah enggak kompak sih?" Gerutu Sisil.
"Kita emang sahabat, tapi bukan berarti pendidikan dinomer duakan" Nara sibuk mengepak pakaiannya ke dalam koper yang akan dibawanya.
"Lagian kamu sil. Kuliah tu yang bener. Jangan cuma ngemall aja taunya. Makanya mata kuliah kamu kebanyakan yang ngulang dan tertinggal" Tegur Susan, pandangannya masih fokus ke arah telivisi sembari memakan keripik kentang. Sisil berdecak kesal, kemudian merebut sebungkus keripik kentang di tangan Susan.
"Aku itu kuliah kak. Sudah bener kok kuliahnya. Dosennya aja enggak bener, suka ngurangin nilai-nilaiku. Mungkin mereka enggak rela liat aku cepat-cepat lulus" Susan berdecih.
"Mana ada orang kuliah isi tasnya cuma dua buah boneka beruang kecil dan seperangkat alat make up?" Sindir Susan. Sisil menggaruk kepalanya yang tidak gatal, merasa tertampar telak oleh ucapan Susan. Karena Sisil memang selalu mamasukkan Niko dan Kiki, dua buah boneka beruang kesayangannya ke dalam tas ranselnya. Katanya, supaya tas yang dikenakannya terlihat kembung dan dikira mahasiswi teladan. Padahal isi tasnya bukanlah buku melainkan boneka.
"Mmm itu kan cuma pelengkap. Aku tetap kok bawa buku. Lagian sekarang zaman sudah canggih. Aku tinggal mengaktifkan mode rekam di HP ku ketika dosen sudah mulai menjelaskan. Nanti kalok sudah sampai kost, tinggal diputar ulang rekamannya" Susan dan Nara kompak menggelengkan kepala mendengarnya.
'Bip'
"Eh ra, HP kamu bunyi. Ada SMS kayaknya" Ucap Sisil.
"Minta tolong ambilin dong, di atas nakas!" Sisil mengambil ponsel Nara. Kemudian melihat sekilas notife di ponsel tersebut.
"Dari siapa sil?" Tanya Nara
"Dari abang tercinta" Sisil menyodorkan ponsel Nara, sembari tersenyum jenaka. Nara mengernyitkan kening. Meraih ponselnya, kemudian melihat nama si pengirim pesan. Nara berdecak.
"Abang tercinta apaan sih?" Kesal Nara kepada Sisil. Sisil hanya menanggapinya dengan kekehan. Nara mengetikkan balasannya, kemudian meletakkan ponselnya di samping tempatnya duduk.
"Emang SMS dari siapa sil?" Tanya Susan penasaran. Mengetahui akhir-akhir ini ponsel Nara seringkali berbunyi. Biasanya ponsel Nara selalu sepi, sunyi, senyap seperti kuburan.
"Dari Pak Guru"
"Pak Guru siapa? Dosen mungkin maksudmu? Masak sudah mahasiswi manggilnya guru sih" Sisil tertawa mendengar tanggapan Susan.
"Ada ya nama orang seperti itu? Aneh!" Nara menatap Sisil jengah. Sisil semakin tertawa dengan ucapan polos Susan.
"Bukan bukan. Maksudku nama aslinya Adrian, tapi dia dijuluki Pak Guru" Jelas Sisil. Susan manggut-manggut.
"Terus dia ngajar dimana?" Tanya Susan, yang masih mengira orang yang dibicarakannya adalah seorang guru.
"Dia bukan guru, tapi dia polisi. Pak Guru itu hanya nama julukannya"
"Aneh, polisi kok dipanggil Pak Guru" Susan masih tidak mengerti, berprofesi sebagai polisi akan tetapi dipanggil guru. Tapi yang lebih tidak Susan mengerti, sejak kapan Nara mau berhubungan dengan polisi? Dan apa hubungan Nara dengan polisi yang dipanggil Sisil Pak Guru tersebut?
"Terus ngapain Pak Guru itu SMS kamu ra?" Tanya Susan. Nara mengendikkan bahunya.
"Ntahlah. Aku juga enggak tau. Dia selalu mengirimiku pesan. Pagi, siang dan malam, hanya untuk menanyaiku sudah makan atau belum? Untung saja dia juga tidak memintaku minum obat tiga kali sehari" Sisil dan Susan kompak tertawa mendengar penuturan Nara.
"Apa kamu pernah membalas SMS nya?" Tanya Susan.
"Tentu saja, hanya sesekali jika aku sempat. Bahkan di pagi hari sebelum aku bangun tidur, SMS nya sudah masuk untuk sekedar membangunkanku shalat subuh. Atau di malam hari, hanya untuk menanyakanku sudah tidur atau belum. Itu membuatku jengah. Aku seperti selalu dipantau olehnya" Nara menghembuskan nafasnya kasar.
Susan tersenyum, menatap adiknya dengan sayang.
"Sepertinya dia menyukaimu? Apa kamu tidak berniat membuka hati untuknya?"
"Maksud kakak apa? Aku tidak mengerti!"
"Dia seperti menaruh hati terhadapmu. Sudah terlihat jelas dari perhatiannya. Dia juga tak henti-hentinya mengirimu SMS walaupun seringkali kamu abaikan" Nara berdecak, malas menanggapi.
"Iya emang kak, dia itu suka sama Nara. Tapi Naranya aja pura-pura buta dan tuli" Sahut Sisil.
"Terserah! Tapi Nara enggak suka sama dia" Sentak Nara dengan tegas.
"Apa karena dia polisi?" Tanya Susan. Nara diam, tak menjawab.
"Jangan menutup mata terlalu rapat, hanya karena kesalahan satu orang, kamu tidak mau melihat kebaikan orang lain"
"Tapi kak, waktu itu tidak hanya satu orang melainkan banyak orang. Nara tidak mengingat pasti berapa jumlahnya" Kilah Nara.