
Membahas Nara Andreas
Adrian berdiri dengan gagahnya, menghadap ke jendela besar di kantornya. Melihat pemandangan di luar sana yang dipenuhi dengan hiruk-pikuk kendaraan.
Terdengar suara pintu diketuk dari luar.
"Masuk!" Ucap Adrian, tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun.
"Hai bro, ada hal penting apa yang membuatmu mengganggu acara honeymoon ku?" Adrian memutar badannya, menatap pria di hadapannya kini dengan alis tertaut.
"Honeymoon? Honeymoon yang keberapa maksudmu? Ayolah, sebulan yang lalu kamu sudah honeymoon. Tidak mungkin kan setiap bulannya kamu honeymoon. Polisi juga punya aturan" Surya hanya tertawa kecil mendengar perkataan Adrian.
"Bagaimana kabar istrimu?" Tanya Adrian sembari duduk di sofa yang ada di ruangan tersebut. Surya pun ikut duduk di depan Adrian yang dihalangi oleh meja kaca persegi.
"Istriku baik-baik saja. Tidak mungkin kamu memanggilku hanya untuk menanyakan kabar istriku. To the point saja!" Ejek Surya, yang mengetahui bahwa sahabatnya ini sedang ada maunya. Adrian tersenyum tipis. Sahabatnya ini selalu tidak suka berbasa-basi, karena itu hanya akan buang-buang waktu bagi Surya. Lalu kenapa bisa dia menjalani hubungan selama lima tahun lamanya dengan Sisil, akan tetapi menikahi wanita yang baru dikenalnya? Bukankah itu lebih buang-buang waktu? Pikirnya.
"Apa kamu mengenal Nara?" Tanya Adrian datar. Surya menautkan alisnya. Menatap Adrian dengan heran. Pasalnya baru kali ini Surya mendengar Adrian menyebut nama wanita.
"Nara siapa?" Tanyanya.
"Nara Andreas" Surya yang tadinya bersandar santai di sofa, kini menegakkan tubuhnya mendengar nama Nara Andreas diucapkan oleh Adrian.
"Aku tau itu. Yang ingin aku tanyakan, wanita seperti apa dia?" Surya memicingkan matanya, menatap Adrian dengan curiga.
"Wah bro, jangan main hati sama dia kalau kamu enggak serius. Dia wanita baik-baik" Adrian menaikkan alisnya sembari tersenyum tipis.
"Aku tidak main-main. Aku serius" Ucap Adrian dengan tanpa ekspresi sedikitpun.
"Aku sudah lama mengenalnya. Dia pernah menjalin hubungan LDR ketika sudah berstatus tunangan, tapi ntah kenapa mereka akhirnya putus setelah sebulan kembalinya tunangannya itu" Jelas Surya.
"Kalau kamu serius dengan Nara, aku sangat mendukungmu. Karena aku tau dia wanita yang baik, dan kamu juga pria yang baik untuk Nara" Lanjut Surya. Adrian tidak menanggapi, ekspresinya masih datar. Ntah apa yang sedang dipikirkan olehnya.
"Ohya, bahkan dulu ibunya Sisil sempat ingin mengenalkan Nara denganmu, tapi Nara menolak karena saat itu Nara masih berstatus tunangan orang. Dia tipe wanita yang berkomitmen. Tapi sepertinya tunangan Nara pria yang buruk, sehingga Nara meninggalkannya" Adrian mendengarkan cerita Surya dengan tenang, tidak mengubah sedikitpun mimik wajahnya.
"Kenapa kamu begitu yakin, bahwa Nara yang meninggalkannya?" Tanya Adrian.
"Karena aku pernah bertemu tunangan Nara, sepertinya orang itu tidak begitu baik. Arogan dan bermulut besar. Aku yakin Nara tidak akan betah dengannya. Sedangkan di diri Nara, tidak ada kekurangannya. Tidak akan ada alasan bagi pria tersebut meninggalkan Nara" Adrian tersenyum mengiyakan. Sosok Nara yang cantik dan anggun terlintas di pikirannya. Senyumnya yang manis memikat hati. Namun sikap juteknya membuat Adrian penasaran.
"Tapi dia begitu dingin dan kaku" Tutur Adrian. Surya menaikkan sebelah alisnya.
"Kita sedang membahas Nara Andreas bukan?" Tanya Surya memastikan.
"Iya" Jawab Adrian yang bingung dengan pertanyaan Surya.
"Kalau memang kita sedang membahas Nara Andreas sahabat Sisil. Aku rasa dia orangnya tidak dingin dan kaku seperti yang kamu katakan. Dia tipe orang yang ceria dan mudah bergaul dengan siapa pun" Tutur Surya. Adrian mengangguk. Ia juga ingat kata orang suruhannya yang mengatakan bahwa, pembawaan Nara yang ceria yang menjadi daya tarik bagi orang-orang di sekitarnya. Lalu kenapa ketika bersamanya Nara begitu dingin dan kaku? Pikirnya.