My love is You

My love is You
See You Tomorrow




See You Tomorrow



Adrian menarik nafas, kemudian mengeluarkannya perlahan, berusaha meredakan rasa gugupnya.


"Nara, abang menyukaimu! Tapi abang bingung, bukankah kamu tidak mau pacaran? Terus abang harus bagaimana?" Nara segera membekap mulutnya, berusaha agar dirinya tidak berteriak. Karena ntah mengapa, mendapatkan pengakuan seperti itu dari Adrian membuatnya seperti ingin meledak.


'Ini tidak benar. Dia polisi, dia pria pengguna motor gede! Jangan tergoda! Jangan tergoda!' Sugesti Nara pada dirinya.


"Yasudah nikah!" Jawab Nara dengan entengnya. Seolah bibir dan hatinya menghianati logikanya.


Adrian yang mendengar jawaban dari Nara, menjadi terdiam. Mencerna apakah yang baru saja didengarnya itu benar.


Sedangkan Nara yang tak mendapat respon dari Adrian, menjadi memukul-mukul bibirnya.


'****. Mulut sial*n! Enggak bisa diajak kompromi banget sih! Masak iya ngomong asal ceplas-ceplos. Pasti dia ngiranya aku yang ngebet nikah sama dia. Bisa besar kepala ni polisi satu!' Umpatnya dalam hati.


"Nara kamu serius?" Tanya Adrian memastikan. Karena Adrian mengira Nara belum berniat untuk menikah, apalagi Nara belum menyelesaikan kuliahnya. Terlebih lagi, Nara tidak pernah menunjukkan rasa ketertarikannya terhadap dirinya.


"Iya. Sudah terlalu banyak orang yang bilang mau menikah dengan Nara. Dan menjanjikan akan menikahi Nara tahun depan setelah kelulusan Nara. Kalau Bang Adrian memang mau memiliki Nara, caranya hanya dengan menikah. Nara tidak mau memiliki ikatan seperti pacaran!" Tegas Nara


"Jadi Nara mau menikah sama abang tahun depan?" Tanya Adrian.


"Mau, jika Nara belum jadi istri orang" Adrian mengernyitkan keningnya, bingung dengan jawaban Nara.


"Kok gitu sih?" Ucapnya kesal.


"Artinya Nara enggak mau nunggu abang?" Lanjutnya.


"Untuk apa menunggu? Itu sama saja artinya memiliki ikatan tanpa kepastian. Nara hanya tidak mau membuang waktu Nara dengan sia-sia. Menunggu sesuatu yang tidak pasti. Yang pacaran bertahun-tahun saja bisa putus" Adrian mengerti maksud Nara, karena ia pun pernah menjadi saksi bagaimana perjalanan cinta sahabatnya Surya dengan Sisil. Pacaran bertahun-tahun lamanya, yang akhirnya Surya menikahi wanita yang baru beberapa minggu dikenalnya.


"Nara, apa kamu juga menyukaiku?" Tanya Adrian dengan hati-hati.


"Belum. Tapi Nara tidak tau ke depannya!" Jawab Nara dengan tegas.


Adrian yang mendengar jawaban Nara pun menghela nafas berat, ada sedikit rasa sakit karena mengetahui perasaannya tidak terbalas oleh sang pujaan hati.


"Nara, abang serius sama kamu. Tapi kalau membahas masalah pernikahan, sepertinya tidak bisa lewat telfon. Bisakah besok siang kita bertemu?" Tanya Adrian.


"Tentu saja"


"Oke, besok siang abang jemput ya"


"Iya" Jawab Nara singkat.


"Kalau begitu, sekarang istirahatlah. See you tomorrow. Assalamualaikum"


"See you. Waalaikumsalam" Jawab Nara, kemudian mengakhiri panggilannya.


Nara memegang dada sebelah kirinya. Ntah kenapa jantungnya seperti berdebar lebih cepat dari biasanya.


"Aku kenapa?" Gumamnya pelan.


Nara sudah siap dengan gamis berwarna hijau toscanya, yang dipadukan dengan hijab panjang menjuntai berwana merah. Wajahnya yang putih cerah, berkali-kali lipat lebih cerah karena kontras dengan warna hijabnya.


Setelah izin pada Angga selaku ketua KKN, Nara bergegas keluar posko, berniat menunggu Adrian di gang depan. Begitu Nara sampai di gang depan, Adrian juga baru saja sampai. Adrian mematikan sepeda motornya, menyapa Nara. Menyerahkan helm cadangan yang dibawanya pada Nara, kemudian menuntun Nara untuk menaiki jok belakang sepeda motornya.


Nara sempat terpaku, memandang sepeda motor di hadapannya.


'Oh ya ampun. Aku begitu membenci motor seperti ini. Dan sekarang aku harus menaikinya. Mimpi apa aku semalam?' Batinnya.


Dengan terpaksa Nara mendudukkan bok*ngnya di jok belakang, tidak lupa Nara meletakkan sling bag nya di tengah-tengah antara dirinya dan Adrian.


'Aku tidak mau dijadikan ajang modusnya' Batin Nara.


"Sudah siap?" Tanya Adrian.


"Iya"


Adrian melajukan sepeda motornya dengan kecepatan sedang. Selain karena ia masih menggunakan seragam polisinya, sehingga membuatnya harus menjadi contoh di jalan raya. Ia juga sedang menikmati waktu kebersamaannya dengan Nara.


"Adek sudah makan siang?" Tanya Adrian memecah keheningan diantara mereka.


"Belum" Jawab Nara.


"Kalau gitu, kita cari tempat makan siang dulu ya. Adek mau makan apa?"


"Apa aja, terserah Bang Adrian" Jawab Nara.


Adrian mengulum senyumnya, mendengar Nara memanggilnya dengan sebutan abang sejak semalam. Itu artinya, Nara sudah mulai membuka sedikit demi sedikit tabir diantara mereka, pikir Adrian.


Sepuluh menit kemudian, Adrian menghentikan sepeda motornya di parkiran restoran dekat kantor Adrian.


"Kita makan disini ya? Enggak apa-apa kan?" Tanya Adrian. Yang hanya dijawab dengan anggukan kepala dan senyum kecil oleh Nara. Adrian yang melihat tingkah patuh Nara, menjadi tersenyum. Menggemaskan sekali, pikirnya.


"Mau makan apa dek?" Tanya Adrian. Ketika Adrian sedang membuka buku menu yang disodorkan pelayan di sampingnya.


"Kan Nara sudah bilang, apa aja" Jawab Nara.


"Oh iyaya. Ya sudah mbak, saya pesan nasi liwet dua. Sama minumnya es jeruk satu. Kamu mau minum apa dek?"


"Jeruk hangat aja kak!" Jawab Nara.


Setelah pelayan tersebut mencatat pesanan, pelayan tersebut meninggalkan mereka.


"Nasi liwet itu apa kak?" Tanya Nara dengan polosnya, karena memang ia baru pertama kali mendengar namanya.


"Oh itu, seperti nasi goreng, cuma ada tambahan mie telurnya nanti" Jelas Adrian.


Nara membulatkan mulutnya tanpa mengeluarkan suara. Tidak menyangka dirinya memesan menu yang tidak digemarinya. Pasalnya, Nara tidak suka makan mie dengan nasi.


See you tomorrow readers. Yang sabar ya nunggu othor up 😊


Peluk cium dari othor 🤗😘