
Masih Bukan Siapa-Siapa
Nara sibuk mengaji sambil menemani adiknya yang sedang menunggu waktunya untuk dipanggil masuk ke ruang operasi. Beberapa bunyi notife pesan masuk, namun tak dihiraukannya.
Adrian POV
Adrian berdiri gelisah di ruang kerjanya. Mendengar laporan dari orang suruhannya yang selama ini menjaga Nara dari kejauhan. Adrian tau Nara dalam kondisi terpuruk karena kecelakaan yang menimpa adiknya. Namun ia sendiri bingung harus menghiburnya dengan cara seperti apa. Dirinya saja tidak dikabari oleh Nara, bagaimana mungkin dia akan tiba-tiba muncul untuk menghibur Nara, pasti Nara akan curiga, pikirnya.
Tok tok tok.
Suara pintu diketuk dari luar, membuyarkan lamunan Adrian. "Masuk!" Ucapnya.
Pintu pun dibuka, pria berjas hitam tersebut masuk dengan gagahnya, menundukkan kepalanya hormat kepada Adrian.
"Apa kamu berhasil meretas CCTV RS Y?" Tanya Adrian datar.
"Sudah tuan, saya juga sudah menemukan dimana posisi nona sekarang" Ucap pria tersebut sembari mengulurkan tablet di tangannya kepada Adrian. Adrian meraih tablet tersebut.
Adrian menutup tabletnya, tak kuasa mendengar tangis Nara yang terdengar begitu pilu. Ingin rasanya Adrian merengkuh tubuh kecil Nara ke dalam dekapannya, dan menghiburnya. Namun, kenyataannya saat ini, ia masih bukan siapa-siapa bagi Nara. Adrian hanya bisa bersabar menunggu Nara untuk merespon pesan-pesannya. Adrian menghela nafas kasar. Ia menatap ke arah pria berjas hitam yang sedari tadi berdiri kaku di hadapannya menunggu intruksi lebih lanjut.
"Kamu boleh kembali ke perusahaan. Handle semua yang ada disana! Saya akan menyelesaikan tugas saya disini dulu" Perintah Adrian kepada pria berjas hitam yang ternyata adalah tangan kanannya di perusahaan. Selain berprofesi sebagai polisi, Adrian yang nyatanya adalah putra sulung dari pengusaha kaya membuatnya harus ikut andil dalam menjalani perusahaan keluarganya. Menjalani perusahaan hanyalah kewajibannya kepada keluarga baginya. Sedangkan menjadi polisi adalah cita-citanya sejak kecil, dan menjalaninya dengan sepenuh hati adalah kewajibannya kepada negara.
___
Proses operasi Bara adik Nara berjalan dengan lancar. Orang pertama yang dipanggil Bara adalah Nara, sehingga dokter meminta Nara untuk menemani Bara di ruang operasi, sementara dipindahkan ke ruang intermediate.
Nara menatap sendu ke arah tubuh adiknya yang tergeletak lemah. Tangannya menggenggam erat tangan Nara seolah takut ditinggalkan. Matanya terpejam, mungkin pengaruh obat bius, pikir Nara.
"Maaf nona, pasien akan dipindahkan" Suara pria berseragam perawat itu mengintrupsi keheningan di ruangan tersebut.
"Apa kami sudah mendapatkan ruangan VIP yang saya minta?" Tanya Nara.
"Pasien akan dipindahkan ke ruang intermediate terlebih dahulu, karena ruang VIP yang nona pesan masih belum tersedia. Kemungkinan besok pagi adik nona sudah bisa dipindahkan ke ruang VIP" Jelas perawat yang akan membawa Bara.
"Oh begitu" Ucapnya mengerti.
"Ohya nona, untuk di ruang intermediate hanya satu orang yang bisa menemani pasien. Nanti disana juga akan ada perawat yang piket untuk menjaga" Nara hanya menjawab dengan senyuman kecil, mengerti akan maksud dari perawat tersebut.