My love is You

My love is You
6.6 Hari Pertama Magang



***


Singkat cerita...


Sekarang Aldina telah memasuki sebuah perusahaan yang besar, saat ini adalah hari pertama ia memulai magang di perusahaan W'Galaxi bersama teman-temannya.


Di sebuah gedung pencakar langit yang sangat mewah dan besar banyak karyawan yang berlalu lalang dan kebanyakan orang sibuk dengan kegiatannya disitu terdapat seorang gadis bersama teman-temannya tengah menjalani interview di ruang HRD.


Aldina saat ini bersama temannya atau lebih tepatnya Sofi, Dode, dan Andi. Mereka berempat sangat serius menanggapi pihak HRD dan menjawab pertanyaan dengan benar, sampai ketika mereka diterima untuk magang di perusahaan ini.


Mereka berempat keluar dari ruangan HRD dan menuju ruangan tempat mereka bekerja ditemani oleh Kepala Divisi yang menempati mereka di Divisi pemasaran.


Setelah itu mereka diberikan arahan oleh kepala Divisi dalam kantor ini, mereka langsung mencatat hal-hal yang harus dilakukan dan tidak dilakukan.


Setelah mencatat hal-hal yang penting mereka menuju ruang kerja dan memulai untuk bekerja.


Sedangkan di luar perusahaan atau tepatnya di depan perusahaan terdapat mobil mewah keluaran terbatas yang berhenti di depan perusahaan W'Galaxi.


Seorang asisten berlari keluar dan beranjak membukakan pintu untuk tuannya, Han mempersilakan tuannya keluar seraya membungkukkan badannya. Setelah pintu mobil terbuka keluarlah seorang laki-laki yang berperawakan nyaris sempurna dengan wajah datar namun terlihat tampan mengenakan jas yang selaras dengan pakaiannya.


Dia adalah Bastian Alvaro Wijaya CEO dari perusahaan W'Galaxi, para karyawan termasuk Aldina dan teman-temannya yang mendengar kedatangan sang CEO langsung menyambutnya dengan berbaris dan membungkukkan badannya.


Bastian hanya menatap lurus kedepan dan melanjutkan langkahnya menuju lift khusus miliknya.


Tetapi saat ia melewati salah satu karyawan ia seketika berhenti dan membuat asistennya hampir menabrak punggungnya.


"Tuan apakah ada sesuatu?" tanya asisten Han


Bastian tak membalas ucapan asistennya ia hanya memandang gadis yang ada didepannya dan tersenyum sedikit dan itupun tak luput dari penglihatan asistennya.


"kenapa tuan tiba-tiba tersenyum? apakah ia sudah gila?" seperti itulah yang ada di benaknya ia tidak menyadari bahwa tuannya sedang memandang seorang gadis


sedangkan orang yang ditatap oleh Bastian merasakan perasaan yang tidak enak atau kurang nyaman.


"kok perasaan gue gak enak ya, kenapa gue tiba-tiba merinding sih?" batin Aldina karena merasa ada orang yang memandanginya ia memberanikan diri untuk mengangkat wajahnya dan menatap asal orang yang terus menatapnya.


Degh


"what! pantesan perasaan gue gak enak" batinnya sambil menundukkan wajahnya lagi dan berusaha menutupi wajahnya agar tidak terlihat namun usahanya sia-sia karena Bastian sudah melihat wajahnya terlebih dahulu.


"heh berusaha menghindar ya, tapi kamu tidak akan bisa menghindar dari ku" gumannya pelan


Bastian langsung pergi menuju lift khusus dan memasukinya ke ruang CEO, setelah kepergiannya Aldina merasa lega karena kepergian Bastian setelah itu Para karyawan langsung melanjutkan pekerjaannya yang tertunda tadi.


Di lain tempat atau di dalam ruangan Bastian tengah berkutit dengan banyak berkas yang harus ia tanda tangani tak lupa ia juga membacanya dengan teliti agar tidak ada kesalahan sedikitpun. Saat ia tengah sibuk menatap kertas-kertas putih itu suara asistennya mengganggu konsentrasinya.


"Tuan untuk sekretaris tuan saat ini mengambil cuti karena sebentar lagi ia akan melahirkan, apa perlu saya menyuruh pihak HRD untuk membuka lowongan pencarian sekretaris baru?" ucap asisten Han


Mendengar itu Ia ingat bahwa ia tidak memiliki sekretaris dan hal ini membuat peluang untuk mendekati Aldina menjadi semakin besar. ia pun tersenyum jahat.


"Tidak perlu, kau minta pihak kepala divisi pemasaran untuk memanggil karyawan bernama Aldina untuk menjadi sekretaris ku" jawab Bastian


"baik tuan" ucap Han sambil membungkuk dan berlalu pergi


Asisten Han langsung menelepon kepala divisi pemasaran untuk memanggil Aldina keruangannya. kepala divisi langsung menurutinya dan bergegas memanggil Aldina.


"Aldina kamu diminta oleh Asisten Han menuju keruangannya" ucap kepala divisi


"maaf pak ada apa ya?" ucap Aldina sopan


"saya kurang tau mengenai itu lebih baik kamu segera kesana karena Pak Ceo tidak suka menunggu"


"baik pak"


Aldina langsung bergegas keruangan CEO ketika ia sampai di depan ruangan ia disambut oleh asisten Han dan menyuruhnya memasuki ruangan, Aldina saat ini merasa gugup dan takut, gugup karena ia bertemu dengan teman kakaknya dan takut karena bisa jadi teman kakaknya akan membocorkan rahasianya.


"Selamat pagi pak ada apa bapak memanggil saya" ucap Aldina seraya membungkuk rambutnya yang panjang ia gunakan untuk menutupi wajahnya.


Mendengar orang yang ditunggu sudah datang Bastian langsung memutar kursinya menghadap kedepan


"hm kamu tidak mengenal saya" ucap Bastian


"Bapak Adalah CEO disini" ucap Aldina berusaha menahan kegugupannya


Bastian langsung berdiri dan mendekati Aldina ia menyibakkan rambut yang menghalangi wajah Aldina dan mengangkat dagunya agar bisa melihat wajahnya. seketika mata mereka bertemu dan saling menatap begitu lama, kontak mata yang dalam membuat mereka terbuai dengan perasaan masing-masing seketika Aldina tersadar dan langsung mundur beberapa langkah untuk memberi jarak dan itu membuat kecanggungan antara mereka


"hem, kamu menjadi sekretaris saya sementara" ucapnya memecah kecangguangan


"maaf pak saya tidak bisa" tolak Aldina cepat


"saya tidak menerima penolakan kalau kamu mau saya akan sebar berita tentang kamu bahwa anak yang disembunyikan oleh keluarga Firdaus" ucap Bastian menyeringai


" bapak ngancam saya? jawab aldina, ingin sekali dia mencakar wajahnya itu


"bisa dibilang begitu" jawabnya acuh


" hush, baiklah saya terima" ucapnya pasrah


"kalau begitu saya ijin pergi" ucapnya lagi


"mau kemana kamu? kamu langsung kerja menjadi sekretaris saya sekarang" perintah Bastian


"tap.."


"tidak ada bantahan" ucapnya lagi sambil menatap Aldina tajam


"baik pak, saya mau turun ke bawah mengambil barang dan tas saya" Aldina


" tidak perlu biar asisten saya yang mengambilkan , Han!" Bastian


" siap tuan" Han langsung pergi keruang Divisi pemasaran mengambil barang dan tasnya Aldina sesuai perintah tuannya.


.


.


.


.