My love is You

My love is You
Apa Kamu Merindukannya?




Apa Kamu Merindukannya?



...Ada rasa yang berbeda, ketika tak menemukan jejakmu....


...Terasa seperti kehilangan....


...Apakah aku sudah mulai terbiasa dengan hadirmu?...


...Inikah yang dinamakan rindu?...


...Atau sekedar rasa karena terbiasa?...


Nara duduk termenung, di teras depan sebuah rumah minimalis yang ditempatinya sebagai posko KKN nya. Nara duduk sendiri sembari menggenggam ponselnya. Hal yang tak biasa ia lakukan. Karena biasanya, jika Nara berada di rumah, ia akan meletakkan ponselnya di kamar atau di tempat yang mudah di jangkaunya, bukannya selalu menggenggamnya kemana pun. Ia tidak seperti kebanyakan orang yang kemana-mana tak bisa lepas dari ponselnya.


Nara menatap kosong ke arah ponsel dalam genggamannya. Ini hari ketujuh Nara berada di posko KKN nya. Sudah tujuh hari pula Nara tak menerima pesan gangguan dari Adrian. Seharusnya ini bukan suatu masalah. Seharusnya Nara merasa senang karena itu artinya Adrian sudah menyerah untuk mengganggunya. Tapi kenapa rasanya seperti ada yang hilang? Pikir Nara.


"Hey, ngelamun terus" Suara sapaan dari Angga membuat Nara sedikit terkejut. Nara menarik sudut bibirnya ke atas. Menampilkan senyum manisnya, seperti yang biasa ia lakukan jika bersama orang-orang terdekatnya, tak terkecuali Angga. Angga seperti biasa selalu terpesona dengan senyuman Nara, namun ada yang berbeda dengan senyum Nara saat ini. Seperti bukan senyum aslinya, terkesan dibuat-buat, pikirnya.


"Kamu kenapa? Mikirin cowok ya?" Goda Angga, yang spontan membuat Nara mengerutkan dahinya.


"Oh iya lupa, kamu kan jomblo" Lanjut Angga sembari tertawa garing.


Nara menghirup napas panjang, kemudian menghembuskannya kasar.


"Ngga, kamu kan cowok, pasti kamu tau kan ciri-ciri cowok yang serius atau enggak sama cewek?" Angga menaikkan alisnya. Menatap Nara dengan pandangan tak terbaca.


"Kamu enggak lagi nanyain perasaan aku ke kamu kan?" Goda Angga lagi. Nara berdecak kesal, kemudian beranjak dari duduknya, hendak meninggalkan Angga. Hatinya sedang gusar karena Adrian, ditambah lagi Angga yang tak bisa diajak serius.


Angga menarik lengan Nara. Nara spontan berhenti, pandangannya langsung tertuju ke arah lengannya yang ditarik oleh Angga. Ia menatap Angga tidak suka, mengisyaratkan agar Angga melepaskan tangannya.


"Ups sorry" Ucapnya merasa sudah lancang.


"Duduklah!" Pinta Angga sembari menepuk tempat duduk di sebelahnya. Nara tak menjawab, namun ia tetap mengikuti kata Angga. Ia mendudukkan dirinya di samping Angga, sedikit berjarak agar tak menimbulkan fitnah, mengingat ia sedang berada di kampung orang.


"Berceritalah, aku akan mendengarkan. Setelah itu aku bisa menilai, pria macam apa dia!" Ucap Angga memecah keheningan diantara mereka.


"Maksudmu?" Tanya Nara, berusaha menyembunyikan ekspresi terkejutnya mendengar ucapan Angga yang seolah bisa menebak ia sedang memikirkan seorang pria. Yang bahkan Nara sendiri tidak tau keberadaan pria tersebut. Dan apa tujuannya mendekati Nara selama ini.


"Sudahlah, jangan mengelak. Aku tau kamu sedang dekat dengan seorang pria. Dan kamu sedang memikirkannya" Nara membelalakkan matanya. Ia berdehem mencoba menutupi kembali keterkejutannya. Ia menjadi gugup.


"Sebenernya aku tidak merasa sedang dekat dengan siapa pun" Angga menatapnya dengan pandangan tak terbaca. Masih setia menunggu kelanjutan cerita Nara.


"Hanya saja, beberapa waktu lalu, ada seorang polisi yang selalu berusaha mendekatiku. Ntah apa tujuannya. Dia selalu mengirimiku SMS, yang awalnya membuatku begitu terganggu. Tapi..." Nara menggantung kalimatnya, menelan salivanya, merasa berat untuk mengakuinya.


Angga menaikkan alisnya, mengisyaratkan agar Nara melanjutkan ceritanya.


"Ntah kenapa, setelah beberapa hari terakhir ini ia seperti hilang di telan bumi. Seharusnya aku senang dan tak merasa terganggu. Tapi apa yang aku rasakan saat ini, aku seperti kehilangannya. Ntah dirinya atau perhatian yang dikirimnya melalui SMS-SMS itu" Lirih Nara. Nara tertunduk malu, enggan menatap wajah Angga. Angga pasti sedang menertawakannya saat ini, pikirnya.


"Apa kamu merespon SMS nya dengan baik?" Tanya Angga. Nara spontan menggeleng.


"Meskipun begitu dia tidak marah dan tetap memberikanmu perhatiannya melalui SMS?" Nara mengangguk.


"Berapa lama ia bertahan seperti itu?"


"Sekitar dua minggu" Jawab Nara.


"Lumayan lama, tapi sepertinya dia memang harus lebih berusaha untuk meruntuhkan dinding hatimu yang begitu kokoh" Goda Angga.


"Aku saja, sampai saat ini masih belum bisa" lanjutnya. Nara memicingkan matanya menatap Angga yang sedang terkekeh hambar.


"Aku hanya bercanda. Ayolah jangan menatapku seperti itu!" Ucap Angga.


"Kamu itu abangku. Jangan berharap akan naik status!" Ucap Nara dengan ketusnya, namun mimik wajahnya terlihat imut saat berucap, membuat Angga tersenyum melihatnya. Angga tak membantah ucapan Nara. Ia hanya merespon dengan anggukan kemudian ia menatap lurus ke depan, dimana banyak tumbuhan dengan pot warna-warni terpajang disana. Tatapannya kosong. Nara mengikuti arah pandang Angga. Mereka terdiam, kembali berkutat dengan pikiran masing-masing.


"Apa kamu merindukannya?" Kembali suara Angga yang lebih dulu memecah keheningan diantara mereka.


"Hah?" Nara sedikit terkejut dengan pertanyaan Angga. Ia sendiri bingung akan menjawab apa. Perihalnya, ia sendiri tidak tau perasaan apa yang ia alami saat ini. Benarkah ini yang dinamakan rindu? Pikirnya.