My love is You

My love is You
Mana My Polgan?




Mana My Polgan?



Malam harinya setelah meeting evaluasi, para anggota yang masih betah di posisi duduk mereka seperti Nara, Vina dan Ratna, enggan untuk keluar dari ruang tersebut.


"Eh my twin, kok my polgan belum datang ya?" Tanya Ratna pada Nara. Ratna memang sedang gencar-gencarnya melakukan pendekatan dengan Anton si polisi ganteng, idola para ceciwi di kelompok KKN mereka.


"Lagi lembur kalik" Jawab Nara malas.


"Gimana sih my twin, my twin kan deket banget sama dia. Coba my twin telfonin gih siapa tau dia mau angkat telfon dari my twin!" Pinta Ratna.


'Deket apaan? Coba bukan karena Mbak Nia, mungkin sampai sekarang aku enggak akan mau kenal sama dia' Batin Nara.


Awal mula perkenalan Nara dengan Anton, memang karena Mbak Nia pegawai akademik di Fakultasnya yang meminta Nara untuk membimbing dan membantu Anton dalam proses perkuliahannya. Anton yang memang jarang bisa ke kampus karena ia juga berprofesi sebagai polisi yang mengharuskannya tetap siaga dengan kewajibannya dalam bertugas. Sehingga Anton perlu mendapatkan bimbingan lebih. Nara yang ditunjuk sebagai pembimbing Anton, mau tidak mau harus mengetahui jadwal perkuliahan Anton. Nara berkewajiban untuk mengingatkan Anton jadwal perkuliahan setiap harinya, tugas-tugas, bahkan jadwal UTS dan semester. Bahkan Nara juga membantu Anton untuk bisa masuk ke dalam kelompok KKN nya, agar tidak ada yang berani menegurnya jika Anton jarang hadir di setiap kegiatan KKN. Bahkan bisa dibilang, Anton hanya akan datang ke posko di malam hari.


"Ayo dong my twin, telfonin! Kangen nih sama my polgan. Nanti kalau my polgan beneran dateng dalam sepuluh menit, saya kasih uang deh buat kalian beli cemilan" Rengek Ratna dengan manjanya.


"Apaan sih my twin, my polgan? Jijik tau enggak sih dengernya!" Sarkas Vina pada Ratna dengan menampilkan ekspresi jijiknya.


"Apaan sih lu boncel? Nyambung aja!" Kesal Ratna pada Vina.


Nara yang berniat melerai keduanya menjadi urung, karena mendengar dering ponselnya. Sekilas Vina melirik ke layar ponsel Nara. Ia melihat siapa penelfon tersebut.


Nara menggeser tombol hijau pada layar ponselnya.


"Oh sudah di depan ya?" Tanya Nara pada si penelfon.


"Oke wait, Nara kesana!" Imbuh Nara.


Nara mengakhiri panggilannya, kemudian memasukkannya ke dalam saku gamisnya.


"Siapa? My polgan ya?" Tanya Ratna dengan tatapan berharapnya.


"Iya, kenapa? Jealous ya kalau yang ditelfon si Anton itu Nara bukan kamu?" Ejek Vina pada Ratna.


"Bener my twin yang telfon itu my polgan?" Tanya Ratna dengan mata berbinar-binar.


Vina mengedipkan matanya pada Nara. Nara menghela nafasnya. Ia tidak tega berbohong pada Ratna. Tapi Nara juga harus segera menyusul si penelfon yang sedang menunggunya di ujung gang.


"Yaudah saya ke depan dulu ya" Pamit Nara.


'Semoga aja si Anton cepat datang' Batin Nara.


"Tu kan, sebentar lagi si Anton dateng. Jadi mana uangnya? Saya mau beli cemilan nih" Kata Vina menagih janji Ratna.


Ratna merogoh saku celananya, mengeluarkan beberapa lembar uang, yang segera dirampas semuanya oleh Vina.


"Eh jangan ambil semua dong vin!" Seru Ratna pada Vina, yang diabakain oleh Vina karena ia sudah berlari meninggalkan Ratna sendiri.


Ratna merapikan rambut dan pakaiannya. Menunggu sang pujaan hati dengan penuh harap.


Ketika ia mendengar sayup-sayup suara sepeda motor yang persis sama dengan suara sepeda motor Anton, ia segera keluar. Berdiri di depan pintu dengan jantung yang berdebar-debar. Ratna berdiri sembari menampilkan senyum pepsodent, jari jemarinya bertautan untuk meredam rasa gugupnya.


Ketika sepeda motor tersebut tepat berhenti di halaman posko yang tidak begitu luas, menyebabkannya hanya berjarak satu meter saja dari tempat Ratna berdiri. Membuat Ratna bisa melihat dengan jelas siapa yang datang. Senyumnya hilang dengan sempurna.


"My twin mana my polgan?" Bentaknya pada Nara.


"Saya tidak tau. Kenapa kamu terus menanyakannya pada saya?"


"Bukannya tadi yang menelfonmu itu my polgan. Dan my twin menjemputnya di depan gang?"


"Saya tidak pernah mengatakannya! Saya hanya bilang 'sebentar lagi Anton akan datang'. Karena memang ini sudah waktunya dia kembali ke posko, tapi saya tidak tau dia akan terlambat" Jelas Nara.


Vina datang dengan senyum merekahnya. Di tangan kanannya ia membawa sekantung tas pelastik besar berisi berbagai macam cemilan. Ratna menatapnya dengan tajam, seperti sudah siap menguliti manusia di hadapannya.


Vina yang merasa ditatap dengan tatapan horor oleh Ratna, hanya cengengesan.


"Mukanya biasa aja dong! Jangan suka marah-marah nanti keriput di wajahmu makin bertambah!" Seloroh Vina pada Ratna.


"Apa? Keriput katamu?" Teriak Ratna pada Vina.


"Iya. Coba lihatlah!" Vina menyerahkan cermin kecil pada Ratna. Dengan polosnya Ratna menerima cermin tersebut. Pada saat Vina merasa Ratna sedang lengah, ia mengambil kesempatan tersebut untuk lari menuju kamarnya.


"Boncelll....!!!" Teriak Ratna, kemudian berlalu ke kamarnya dengan segumpal kekesalan. Nara yang melihatnya hanya bisa tersenyum geli.


"Cantik" Lirih Adrian, yang melihat Nara tersenyum.