My love is You

My love is You
Masih Mau Menerimaku?




Masih Mau Menerimaku?



Nara melihat ke sekelilingnya, begitu banyak pria berseragam coklat seperti yang dikenakan oleh Adrian di restoran tersebut. Mata Nara terpaku pada saat melihat polisi wanita cantik yang sedang berkumpul makan siang dengan teman-temannya.


"Cantik" Puji Nara dengan spontan. Karena Nara memang selalu memuji orang jika menurutnya orang itu berhak dipuji. Apalagi Nara sangat menyukai melihat wanita cantik. Mengagumi ciptaan Allah SWT. Pikirnya.


"Kenapa dek?" Tanya Adrian yang samar-samar mendengar ucapan Nara.


"Mmm tidak ada" Jawab Nara. Kemudian mengalihkan pandangannya dari polisi wanita tersebut ke arah Adrian.


"Kenapa bang Adrian tidak cari polwan saja?" Tanya Nara dengan polosnya. Adrian mengernyitkan keningnya.


"Maksud adek gimana ya?" Tanya Adrian bingung dengan pertanyaan Nara.


Pada saat Nara akan menjawab, pelayan menghampiri mereka membawakan pesanan mereka.


Setelah pelayan tersebut meninggalkan mereka, mereka makan dalam diam. Adrian menatap ke arah piring Nara. Nara hampir menghabiskan nasi gorengnya, namun ia terlihat tidak menyentuh mie goreng pendamping nasi gorengnya.


"Adek enggak suka mie nya? Tanya Adrian.


"Mmm suka. Tapi... Nara tidak suka makan mie dengan nasi" Jawab Nara kemudian memasukkan suapan terakhirnya.


"Jadi, adek tidak akan memakannya?" Tanya Adrian, yang hanya dijawab dengan gelengan kepala oleh Nara.


Adrian pun mengambil mie yang ada di piring Nara. Nara membulatkan matanya melihat apa yang dilakukan oleh Adrian.


"Lain kali, jangan pesan apa yang tidak adek suka. Mubazir!" Ucap Adrian kemudian menyendok mie yang tadi diambilnya dari piring Nara ke mulutnya.


'Apa dia tidak jijik memakan sisaku?' Batin Nara.


"Kenapa abang memakannya?" Tanya Nara.


"Karena adek tidak memakannya" Jawab Adrian dengan entengnya.


"Abang tau. Lalu kenapa?" Tanyanya enteng. Nara hanya melongo mendengar ucapan Adrian.


Adrian mengelap mulutnya setelah menyelesaikan makannya.


"Sekarang abang mau tanya. Adek serius mau nikah?" Tanya Adrian dengan menatap intens Nara. Nara hanya menjawabnya dengan anggukan malu.


"Begini ya dek. Sebelum adek mau nerima lamaran abang. Biar abang jelasin tentang diri abang. Sebagai pertimbangan bagi adek, berhubung kita belumlah lama saling mengenal" Nara kembali menganggukkan kepalanya. Ia menautkan jemarinya, menahan rasa gugupnya.


"Abang memang polisi, tapi jangan adek pikir bahwa polisi itu punya banyak uang" Adrian menghentikan ucapannya, menatap Nara sebentar hanya untuk memastikan ekspresi Nara. Namun Nara tidak menunjukkan ekspresi apapun, wajahnya masih sama seperti tadi, datar dan cuek.


'Apa dia pikir aku hanya mengincar uangnya? Apa aku terlihat seperti wanita matre?' Gerutu Nara dalam hati.


"Bapakku seorang petani. Dan ibuku seorang ibu rumah tangga. Aku punya tiga adik, dua sedang kuliah dan satu lagi masih SD. Otomatis aku membantu biaya pendidikan mereka untuk meringankan beban orang tuaku. Dulu juga aku pernah pinjam uang di bank untuk membuatkan orang tuaku rumah. Aku tidak akan bisa menjadi seperti saat ini tanpa orang tuaku, jadi aku menghadiahkan mereka rumah tersebut. Dan otomatis gajiku terpotong setiap bulannya. Apa adek masih mau menerimaku?" Tanya Adrian dengan sungguh-sungguh. Ia menatap Nara dengan tatapan yang begitu intens berusaha menilai ekspresi Nara. Nara yang ditatap seperti itu menjadi salah tingkah. Ia menundukkan kepalanya, berusaha menghindari tatapan Adrian.


"Apa yang abang pikirkan? Kenapa bertanya seperti itu? Seolah Nara hanya mengincar uangmu" Ucap Nara ketus.


"Maafkan abang. Abang hanya memastikan. Lalu bagaimana?" Tanya Adrian kembali.


"Tentu saja Nara akan menerimamu" Jawab Nara dengan tersenyum malu. Ia memilin ujung hijabnya yang menjuntai, berusaha melampiaskan kegugupannya pada kain tak bersalah tersebut.


"Tapi kalau kita menikah. Otomatis akan membutuhkan banyak biaya. Abang tidak mau terlalu membebankan orang tua, jadi kemungkinan abang akan meminjam lagi pada pihak bank. Otomatis potongan gaji abang akan bertambah. Kemungkinan gaji abang hanya akan kembali di bawah satu juta. Apa adek sanggup hanya menerima uang saku seratus ribu setiap minggunya?"


"Tentu saja! Uang segitu cukuplah banyak bagi Nara. Nara tidak masalah, asalkan abang tetap di sisi Nara" Jawab Nara dengan pasti. Adrian yang mendengar jawaban Nara, menjadi tersenyum.


"Sudah siap hidup senang dan susah bersama?" Nara yang mendengar pertanyaan Adrian kemudian mengangguk dengan pasti.


"Tentu saja!" Seru Nara dengan semangatnya. Keduanya tersenyum. Merasa lega dan bahagia dengan perasaan masing-masing.


Hai hai... Readers setiaku. Maafkan othor yang hilangnya kelamaan. Kemarin HP othor tiba-tiba ngambek dan sempat mogok nyala, tapi karena kesabaran othor yang tak terbatas dia jadi mau nyala lagi deh. Hehee


Dan sepertinya kemarin othor salah ngasih judul episode. Karena judulnya See You Tomorrow, eh tomorrow nya kepanjangan deh. Karena memang yang namanya tomorrow itu tidak ada habisnya.


Kalau kata guru SMP nya othor nih ya, "Setelah tomorrow masih ada tomorrow tomorrow nya lagi" 😆😅