
Belum Ada Rasa
Nara memasuki ruang VIP tempat Bara dirawat. Ibu tiri Nara menatapnya dengan tatapan yang tidak dapat Nara mengerti. Ibu Tiri Nara terus saja tersenyum. Nara yang melihatnya menjadi bergidik ngeri.
'Kenapa dengan bibi? Apa dia kesurupan penunggu kamar ini?' Batinnya.
"Bibi kenapa?" Tanya Nara yang sudah tidak tahan dengan tatapan ibu tirinya yang mengganggu. Apalagi senyumnya itu.
"Tidak ada. Bibi hanya sedang merasa sebentar lagi akan punya menantu" Ucapnya enteng. Nara mengernyitkan keningnya.
'Menantu?' Batinnya, kemudian pandangannya beralih ke arah Susan yang juga menampilkan senyum yang sama dengan ibu tirinya.
"Kamu mau nikah sis? Kok bisa?" Ucap Nara ceplos.
"Eh anu, maksudku sama siapa?" Lanjut Nara masih terheran, karena setau Nara, Susan masih belum memikirkan pernikahan, ia masih suka berkarir dan menikmati masa mudanya dengan berfoya-foya.
"Heii apaan? Bukan aku, tapi kamu!" Jawab Susan, dengan entengnya.
"Aku?" Nara menunjuk dirinya, masih bingung dengan maksud mereka.
"Sama siapa?" Tanya Nari lagi. Karena ia sendiri tidak merasa sedang menjalin hubungan dengan siapa pun.
'Apa aku sudah dijodohkan?' Batin Nara.
"Ya sama Pak Guru lah, siapa lagi?" Jawab Susan dengan nada yang masih enteng, seenteng daun kering yang tertiup angin.
"What the hell? Siapa yang bilang gitu?" Ucap Nara ketus. Tidak habis pikir dengan ucapan mereka.
"Yah ini sih menurut penerawangan bibi aja sih. Sepertinya kalian akan berjodoh. Lagian bibi suka kok sama dia" Nara menatap ibu tirinya dengan sinis. Susan hanya tertawa terbahak-bahak melihat Nara yang dibully karena baru pertama kalinya Nara mengenalkan seorang pria dan langsung dikira akan segera menikah. Nara berdecak kesal mendengar tawa Susan yang seolah mengejeknya.
"Ya sudah, kalau bibi suka. Bibi saja yang menikah dengannya. Aku tidak suka!" Ucap Nara ketus.
"Kenapa?" Tanya Oma menghampiri Nara.
"Karena dia polisi Oma" Jawab Susan, Nara memicingkan matanya, menatap jengah ke arah Susan. Susan hanya tersenyum mengejek sembari mengendikkan bahunya.
"Kenapa kalau dia polisi?" Tanya Oma dengan lembut.
"Kata siapa?" Tanyanya lembut.
"Menurut pandangan Nara oma. Nara pernah beberapa kali bertemu dengan polisi seperti itu"
"Lalu, apa kamu menemukan sifat seperti itu pada diri Pak guru itu. Eh siapa tadi namanya?"
"Adrian Oma" Jawab Susan.
"Iya, apa kamu pernah Nara?" Tanya oma sekali lagi.
"Belum oma" Jawab Nara lirih.
"Tapi Nara juga baru beberapa kali bertemu dengannya oma. Sekitar empat kali. Dua kali karena tidak sengaja, dua kali karena janjian, termasuk hari ini" Lanjut Nara menjelaskan.
"Tapi menurut bibi. Dia orangnya baik dan tidak neko-neko. Dia bahkan tidak pernah berucap seolah menyombongkan diri. Dia bahkan mau-mau saja duduk di lantai padahal dia polisi loh" Ucap ibu tiri Nara, menekankan pada kata po-li-si. Nara mengingat bagaimana tadi Adrian tidak merasa risih ketika harus duduk di lantai tanpa alas, karena sofa sudah penuh dengan bingkisan orang. Nara tersenyum mengingatnya. Susan yang melihat Nara tersenyum malah ikut mengulum semyumnya.
"Cieee yang senyum-senyum sendiri. Inget babang guru ya?" Goda Susan.
"Apaan sih? Enggak!" Ketus Nara.
"Jadi gimana nih? Beneran enggak mau sama dia?" Tanya ibu tiri Nara memastikan.
"Enggak tau sih bi. Nara belum ada rasa sama dia. Tapi tadi dia sempat nanayain Nara mau mahar apa" Jawab Nara jujur.
"Tuh kan apa aku bilang!" Seru Susan dengan hebohnya, membuat Bara mendesis merasa tidak suka tidurnya terganggu.
"Terus terus?" Tanya ibu tiri Nara antusias.
"Ya enggak ada terus-terus. Cukup sampai disini" Jawab Nara acuh. Meninggalkan semuanya dengan penuh tanda tanya.
Nara menghampiri Bara, menanyakan bagaimana keadaannya. Setelah itu Nara mengambil wudhu', mengaji sebentar di samping Bara. Setelah mengaji Surah Yasin sebanyak tiga kali, Nara memutuskan untuk kembali ke posko yang diantar oleh Susan.
TBC...
Jangan pelit like and comment ya!
Tapi please jangan comment julid, karena hati othor rapuh 🙏🏻😁