My love is You

My love is You
Siapin Hati




Siapin Hati



Sesampainya mereka di kamar, Nara menceritakan semuanya pada Vina. Mulai dari awal percakapannya di telfon malam sebelumnya, sampai percakapannya dengan Adrian di restoran tadi.


Vina mengangguk-anggukan kepalanya.


"Mmm ra kamu serius?" Tanya Vina dengan ragu.


"Aku serius!" Jawab Nara mantap.


"Kalau aku sih kayaknya enggak sanggup dengan uang saku yang hanya segitu" Jujur Vina. Yang membuat Nara membulatkan matanya.


'Jadi dari tadi aku ngomong panjang lebar, dia cuma fokus di uang saku yang ditawarkan Adrian padaku?' Batinnya tidak habis pikir dengan pola pikir Vina.


Nara menghempaskan nafasnya.


"Maksud aku ra. Haloo jaman gini uang saku cuma seratus ribu per minggu itu mau beli apaan?"


"Jajan di kantin kampus yang murah aja ni ya, kalau seratus ribu tu harus sudah diirit-iritin buk!" Imbuh Vina.


"I know. Tapi aku yakin, suamiku nantinya enggak akan pernah biarin aku kelaparan" Jawab Nara dengan tegas. Ia tersenyum kecil menyebutkan kata suami.


"Yaudah sih, terserah kamu aja ra. Aku do'ain semoga keputusanmu ini yang terbaik!" Nara memeluk Vina dengan erat.


'Aku cuma butuh do'a dan dukunganmu vin saat ini! Karena cuma kamu yang sudah aku kasih tau berita ini' Batin Nara.


Dering ponsel Nara membuyarkan lamunan Nara. Ia mengurai pelukannya, kemudian menerima telfon tersebut.


"Assalamualaikum" Ucap Nara.


"Waalaikumsalam" Nara terdiam, kemudian menatap layar ponselnya. Tertera nama penelfon dengan kontak 'Bang Adrian' di layar benda pipih tersebut.


'Bener kok ini nomernya Bang Adrian. Tapi kok suaranya cewek ya?' Batin Nara.


"Halooo. Beneran ini Nara?" Tanya penelfon disebrang sana membuyarkan lamunan Nara. Nara mengernyitkan keningnya.


"Mmm iya. Ini siapa ya?" Tanya Nara ragu. Ia mencoba menguatkan hatinya jika benar yang menelfonnya adalah pacar atau istri dari Adrian.


"Ra, itu adek sepupu abang. Katanya dia pengen kenalan sama Nara!" Suara teriakan seseorang yang sayup-sayup terdengar dari sebrang telfon tersebut. Nara mengenali suara tersebut. Nara tersenyum lega karena apa yang dipikirkannya tidak seperti kenyataannya.


"Apaan sih bang. Pakek ikut ngomong segala. Belum aja Mila prank ceweknya. Takut bener diputusin!" Gerutu perempuan bernama Mila tersebut yang ternyata adalah sepupu Adrian. Sedangkan Adrian hanya menanggapinya dengan terkekeh.


Nara yang mendengarnya hanya bisa mengulum senyumnya.


"Ohya Nara, jadi gimana ceritanya bisa pacaran sama abangku?" Tanya Mila.


"Kami tidak pacaran" Jawab Nara sembari mengulum senyumnya.


"Apa? Masak sih?" Ucapnya tidak percaya.


"Iya" Jawab Nara pasti.


"Abang gimana sih? Katanya ini nomer ceweknya. Kok ceweknya malah nyangkal sih? Ini yang bener siapa?" Gerutu Mila pada Adrian.


Nara menahan tawanya mendengar suara Mila yang terdengar sangat kesal pada Adrian.


"Ini beneran Nara bukan pacarnya Bang Adrian? Kok disini abang ceritanya kalau Nara itu ceweknya?" Tanya Mila pada Nara karena tidak mendapat jawaban dari Adrian.


"Iya gimana mau pacaran? Dianya aja belum nembak saya" Kilah Nara dengan entengnya. Pasalnya Nara ingat perjanjiannya dengan Adrian untuk tidak menceritakan kepada siapapun dahulu masalah rencana pernikahannya. Tapi berhubung Vina orangnya kepo kebangetan, alhasil Nara menceritakannya pada Vina. Selain itu, Nara juga butuh teman berbagi untuk mensuport keputusannya tersebut.


"Oh gituuu. Tuh dengar bang. Itu kode kalau si Nara minta ditembak tu!" Seru Mila pada Adrian.


"Oke tenang aja. Nanti abang tembak kok. Coba tanyain mau pakai peluru jenis apa?" Kelakar Adrian pada Mila, yang masih bisa didengar oleh Nara. Nara sekuat mungkin menahan tawanya agar tidak pecah.


"Tuh denger ra. Nanti abang mau nembak Nara. Siap-siap aja ya. Jangan lupa PJ nya!" (PJ \= Pajak Jadian).


"Siap-siap ngapain ya?" Tanya Nara pura-pura be**k.


"Ya siap-siap aja. Siapin hati nerima abangku yang sudah tuir ini. Soalnya kalau dia belum nikah. Aku jadi enggak bisa nikah. Karena aku sebagai adik yang baik, rasanya enggak sopan kalau ngelangkahin abang sendiri! Kata orang dulu nih, pamali, nanti bisa-bisa dia kagak laku. Jadi bujang lapuk deh" Cerocos Mila. Adrian segera merebut ponselnya dari tangan Nara.


"Jangan didengerin dek, dia lagi kumat!" Ucap Adrian. Nara yang mendengar suara penelfonnya sudah berganti, mulai berani mengeluarkan tawanya. Nara tertawa terbahak-bahak mendengar Adrian yang dikatakan tuir dan bujang lapuk oleh Mila.