
Ini Bukan Mimpi!
Nara tidak bisa tidur padahal malam sudah semakin larut. Nara melirik ke arah pria aneh berseragam perawat yang bertugas jaga malam di ruangan tersebut. Perawat itu terus saja memperhatikan Nara dari kejauhan.
'Wah buset ni orang, tu mata kagak disekolahin kalik ya? Ganggu bener' Gerutu Nara dalam hati. Perawat itu berkeliling, pada saat ia melewati Nara, Nara tidak sengaja melihat ponsel perawat tersebut mengarah ke arahnya, seperti sedang mencuri foto Nara. Nara mulai kehilangan kesabaran, ia mulai mencari cara agar orang tersebut ilfeel. Matanya tertuju ke arah ponselnya yang tergeletak di nakas samping brankar adiknya. Nara mengambil ponselnya kemudian menemukan banyak pesan dari Adrian disana. Seolah mendapatkan ide, Nara segera menelfon Adrian.
"Assalamualaikum, bang" Ucap Nara setelah telfonnya diterima oleh Adrian.
"..."
"Abang belum tidur?" Tanya Nara mulai berbasa-basi. Ia menggigit bibir bawahnya, menahan malu. Tapi sudah kepalang basah, pikirnya.
"..."
"Iya maaf bang, sms nya belum sempat adek balas. Soalnya dari tadi nemenin Bara" Jelasnya dengan nada sok akrab, agar perawat tersebut mengira Nara sedang menelfon suami atau kekasihnya.
"..."
"Abang mau kesini?" Tanyanya sedikit keras, agar perawat tersebut mendengarnya.
"Mmm besok aja bang. Sekarang Bara sedang istirahat. Abang juga istirahat ya. Sudah malam"
"..."
"Iya, ini adek juga sudah mau tidur bang. Assalamualaikum" Ucap Nara mengakhiri panggilannya. Nara pura-pura tersenyum seperti orang yang baru menelfon pujaan hati. Padahal dalam hatinya merutuki aksi gilanya.
'Wah gilak, mau ditaruh dimana ni muka kalau ketemu dia? Ini semua gara-gara perawat aneh itu!' Umpat Nara.
Nara melirik sekilas ke arah perawat tersebut, yang mulai meninggalkan ruangan intermediate dengan wajah masam, hanya tertinggal satu orang perawat wanita yang berjaga di tempatnya.
Adrian menatap bingung pada ponselnya. Pasalnya ia tidak menyangka akan menerima telfon dari Nara selarut ini.
"Apa tadi? Nara memanggilnya abang? Apa aku tidak bermimpi?" Gumam Adrian bermonolog. Adrian menepuk pipinya berulang kali.
"Awww" Ucapnya meringis merasakan sakitnya tamparannya sendiri.
"Ini bukan mimpi!" Pekiknya senang.
Adrian mencium ponselnya berulang kali. Setelah itu ia bersiul senang, menuju ranjangnya. Adrian membaringkan tubuhnya di atas ranjang empuknya. Menatap langit-langit kamarnya dengan senyum yang terus mengembang. Terbayang wajah Nara yang sedang tersenyum manis kepadanya. Ntah berapa lama Adrian melamunkam Nara, sampai ia merasa lelah dan terlelap dengan senyum yang terus terukir di bibirnya.
___
Pagi-pagi sekali Nara sudah pamit kepada ibu tirinya. Nara berniat untuk kembali ke posko sebelum kegiatan briefing dimulai. Hari ini Nara akan menjalankan tugas-tugasnya yang tertunda.
Nara disibukkan dengan banyak kegiatan, terlebih lagi kelompok KKN Nara akan mengadakan lomba untuk persiapan tujuh belas Agustusan.
Dering ponsel Nara terdengar. Nara yang sedang sibuk dengan buku posyandu di tangannya pun menghentikan kegiatannya. Ia merogoh kantung sling bag kecilnya, mengambil benda pipih persegi di dalamnya. Nara tidak begitu memperhatikan nama penelfonnya, karena ia sedang menyerahkan buku posyandu ibu hamil di hadapannya.
"Assalamualaikum" Ucap Nara.
"Waalaikumsalam, Nara apa kamu sibuk?" Nara membelalakkan matanya mendengar suara si penelfon. Ia menjauhkan ponsel tersebut dari telinganya. Nara memperhatikan nama penelfon, tertera nama Bang Adrian disana.
"Bang Adrian" Ucapnya lirih. Nara berdehem dengan pelan, berusaha mengatur suaranya agar terdengar biasa saja.
"Mmm iya. Eh maksudku enggak sibuk banget sih, cuma lagi ada kegiatan posyandu" Jelas Nara sedikit gugup. Ia masih malu dengan tingkah konyolnya semalam. Ia takut Adrian salah paham.
"Kita jadi ketemu hari ini?" Nara mencoba mengingat, kapan ia pernah membuat janji temu dengan Adrian. Tapi ia merasa tak pernah melakukannya.
"Semalem kan waktu kamu telfon abang. Abang ajakin kamu ketemu hari ini, kamu bilang iya" Jelas Adrian mengingatkan Nara, seolah mengerti dengan diamnya Nara. Nara menepuk jidatnya pelan, pasalnya ia tidak memperdulikan ucapan Adrian semalem, ia hanya nyerocos sendiri agar perawat aneh itu berhenti mengganggunya.
Apa tadi? Adrian manggil dirinya Abang? Oh apalagi ini? Pasti dia sudah salah paham! Pikir Nara.