My love is You

My love is You
Gara-gara Pakai Headset




Gara-gara Pakai Headset



"Mmm dek, adek lagi dimana?" Tanya Adrian menghentikan tawa Nara.


"Lagi di posko, tepatnya di kamar" Jawab Nara.


"Sama siapa?" Nara melirik ke arah Vina yang sedari tadi sibuk dengan benda pipih di tangannya.


"Sama Vina" Jawabnya.


"Mmm dek, abang kangen" Kata Adrian. Nara tersenyum malu, pasalnya baru kali ini ia mendengar Adrian mengutarakan rasa rindunya.


"Apaan sih? Tadi siang kan sudah ketemu" Ketus Nara menyembunyikan rasa malunya mendengar pengakuan Adrian.


"Iya tau, tapi sekarang sudah kangen lagi" Ucap Adrian dengan manjanya. Nara menjadi bergidik ngeri.


'Ni orang kenapa sih? Kesambet kalik ya?' Batin Nara.


"Iya udah sih. Terus mau apa?" Ketus Nara. Nara memasang headset di ponselnya, kemudian memasukkan ponsel tersebut ke dalam saku gamisnya. Kabel headseat ia selipkan di balik hijab besarnya untuk menautkan ujung headset tersebut pada telinganya.


Nara berjalan keluar kamar menuju teras depan. Ia duduk dengan tatapan kosong karena fokusnya pada seseorang di sebrang telfon.


"Abang kesana ya?" Kata Adrian.


"Mau kemana?" Tanya Nara.


"Mau ke warung depan" Jawab Anto yang memang sedang berjalan menuju pintu gerbang depan teras.


"Ke poskonya adek sih" Kata Adrian.


"Kapan?" Tanya Nara lagi.


"Ya sekarang. Enggak liat ni saya lagi buka gerbang?" Jawab Anto dengan malasnya.


"Sekarang dek" Kata Adrian.


"Mmm jangan sekarang ya. Nanti malam aja setelah meeting evaluasi!" Ucap Nara.


"Lah gimana? Angga nyuruhnya sekarang. Katanya dia butuh lakbannya sekarang" Jawab Anto bingung dengan sikap Nara. Sedangkan Nara malah meninggalkannya masuk ke ruang tengah.


"Eh dia malah ngeloyor. Tadi ngelarang saya buat ke warung. Sedangkan sekarang dia malah main masuk aja. Enggak jelas bener sih tu manusia satu" Gerutu Anto.


Anto mengurungkan niatnya untuk ke warung. Dengan santainya dia ikut masuk ke ruang tengah bersama Nara yang masih senyum-senyum sendiri.


"Eh udah balik to. Mana lakbannya?" Tanya Angga sembari menengadahkan tangannya pada Anto.


"Ngapain kalian ngeliat saya sampai segitunya?" Tanya Nara dengan polosnya.


"Ra, sejak kapan kamu pakai headset?" Tanya Anto.


"Sejak saya baru akan keluar ke teras. Emang kenapa?" Tanya Nara. Anto menepuk jidatnya.


'Sial, kena tipu aing!' Batinnya. Kemudian ngeloyor pergi, sebelum Angga memarahinya.


Sedangkan Angga hanya geleng-geleng kepala sembari tertawa terbahak-bahak.


"Lah kenapa tu orang?" Tanya Nara pada Angga yang masih tertawa. Tidak mendapatkan jawaban dari Angga, karena Angga masih sibuk dengan tawanya membuat Nara bergidik ngeri melihat Angga yang tertawa tanpa sebab.


"Jangan-jangan si Anto lari gara-gara si Angga kesambet kalik ya?" Ucapnya bermonolog. Dengan segera Nara mengambil langkah seribu keluar dari posko.


Sesampainya Nara di depan gerbang posko, Nara membungkukkan badannya, mengatur nafasnya yang terengah-engah akibat berlari.


Setelah merasa nafasnya kembali teratur ia duduk jongkok di depan gerbang karena merasa pegal berdiri.


Lima menit kemudian, Anto yang baru pulang dari warung menjadi terheran melihat Nara yang sedang berjongkok di depan gerbang.


"Eh ra, ngapain?" Tanyanya.


"Angga kesambet!" Jawab Nara dengan polosnya. Kemudian ia berdiri dari posisi sebelumnya.


"Masak sih? Gimana ceritanya? Bukannya tadi dia baik-baik aja!"


"Lah bukannya tadi kamu juga lari gara-gara si Angga kesambet?"


Hahahaaa Anto tertawa terbahak-bahak.


"Ya enggaklah, tadi saya lari buat beli ini!" Ucap Anto sembari menunjukkan kantung pelastik hitam yang dibawanya.


"Terus kenapa dia tertawa tanpa sebab waktu kamu lari?" Tanya Nara kebingungan.


"Iya itu semua gara-gara kamu pakai headset!"


"Aku?" Tanya Nara sembari menunjuk dirinya sendiri. Bingung, apa hubungannya dia yang pakai headset dan Angga yang tertawa? pikirnya.


Anto pun menjelaskan kejadian di saat Nara yang sibuk menelfon di teras tadi.


Nara yang mendengar penjelasan Anto pun jadi ikut tertawa. Anto berdecak kesal mendengar tawa Nara yang begitu ringannya tanpa merasa berdosa.


"Ketawa aja terus!" Ketus Anto yang kesal dengan Nara.


"Iya iya sorry to. Saya beneran enggak nyadar tadi tu. Sorry ya" Ucapnya sembari menangkup kedua telapak tangannya di depan dada. Nara menghela nafasnya, berusaha mengatur tawanya agar tidak kembali meledak.


"Yaudah sih, lupain!" Jawab Anto malas.