
Hati-hati
Nara melihat seorang pria sedang duduk di atas sepeda motor dengan posisi membelakangi Nara. Nara mengernyitkan keningnya. Benarkah dia Adrian? Pikirnya. Pasalnya pria tersebut berpakaian tak seperti pria lainnya jika akan bertemu kekasihnya, pria tersebut datang dengan mengenakan jaket hitam dan celana pendek berwarna putih. Nara menggelengkan kepalanya 'Hah kekasih? Bahkan kamu bukan siapa-siapanya Nara' Batin Nara.
Adrian mendengar suara langkah kaki yang sedang menghampirinya, membuatnya spontan memutar badannya. Menatap Nara dengan mata berbinar, senyumnya mengembang dengan sempurna. Manis sekali. Seharusnya Nara terpaku dengan senyum pria tersebut. Tapi ada hal yang mengganjal di hatinya, ia terpaku untuk sesaat di posisinya saat ini, seperti enggan untuk lanjut melangkah. Adrian melambaikan tangannya, mengisyaratkan kepada Nara bahwa itu benar dirinya. Namun Nara masih tetap bergeming dari posisinya saat ini, membuat Adrian menghampirinya.
"Hai" Sapa Adrian. Nara masih terpaku di posisinya, menatap Adrian dengan tatapan tak terbaca. Adrian mengerutkan dahinya, karena tak mendapatkan respon dari Nara.
"Maaf sudah menganggu malam-malam" Lanjut Adrian.
"Oh iya" Jawab Nara gugup.
Hening, tidak ada siapa pun yang melanjutkan percakapan. Adrian tidak mengalihkan sedikitpun pandangannya dari wajah cantik Nara. Membuatnya semakin terpaku, dan tak bisa berkata-kata. Adrian yang biasanya memiliki begitu banyak stok kosa-kata jika sedang bersama orang. Kini merasa buntu di hadapan seorang wanita. Yang sayangnya, wanita tersebut yang sudah menyusup ke dalam hatinya.
Nara menautkan jemarinya, memijitnya perlahan untuk menutupi kegugupannya. Pasalnya, pria di hadapannya ini terus saja memandangnya, memperhatikan setiap gerak-gerik Nara.
Nara berdehem, ia bingung harus berkata apa. Ingin rasanya Nara menanyakan tujuan pria di hadapannya ini menemuinya malam-malam, setelah kepergiannya seminggu belakangan ini.
"Sudah malam, pulanglah! Saya takut teman-temanku mencariku" Sayangnya, hanya kalimat itu yang keluar dari mulut Nara. Egonya menentang kata hatinya.
Adrian tersenyum tipis, menatap Nara dengan penuh kerinduan, berharap Nara akan mengerti arti tatapannya.
"Maaf sudah mengganggu malam-malam. Dan terimakasih" Nara hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Masuklah! Saya akan pergi setelah kamu masuk" Nara kembali menganggukkan kepalanya, kini disertai dengan senyuman.
"Selamat malam. Assalamualaikum" Ucap Nara.
Adrian tersenyum tipis. Respon Nara terlalu dingin dan kaku, bagaikan es balok yang membekukan siapa pun yang berusaha untuk mendekapnya.
Setelah punggung Nara menghilang di balik tembok rumah kecil di ujung gang sempit tersebut, Adrian berniat menstater sepeda motornya.
'Bip'
Bunyi nada pesan di ponsel Adrian mengurungkan niat Adrian untuk menstater sepeda motornya. Tertera nama Nara di layar ponsel tersebut. Adrian segera membuka pesan tersebut.
Nara :
Hati-hati
Pesan yang sangat-sangat singkat, padat dan jelas, namun dapat mengukir senyum kebahagiaan di bibir Adrian. Ada secercah harapan baginya. Tatapan sendunya berubah berbinar-binar membayangkan wajah Nara yang sedang tersenyum saat mengucapkannya.
___
Nara, Sisil dan Susan sedang duduk di bibir sungai X yang berada di lokasi KKN Nara. Sisil dan Susan memutuskan untuk mengunjungi Nara ke lokasi KKN nya, setelah mendapat telfon dari Nara yang mengatakan bahwa semalam Adrian menemuinya.
"Jadi bagaimana?" Tanya Sisil memecah kesunyian diantara mereka.
"Tidak ada" Jawab Nara, yang spontan membuat Sisil dan Susan mengernyitkan kening.
"Apanya yang tidak ada?" Tanya Sisil.
"Apanya yang bagaimana?" Balas Nara dengan pertanyaan kembali. Membuat Sisil geram olehnya. Sisil berdecak kesal, kemudian melayangkan tas selempang kecilnya ke kepala Nara. Nara mengaduh. Menatap Sisil dengan jengkelnya.
"What the hell? Are you crazy huh?" Bentak Nara sembari mengelus kepalanya yang terkena pukulan tas Sisil.
"Crazy crazy. Kamu tu yang crazy. Bisanya bikin orang kesel aja!" Omel Sisil.
Susan hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah kekanakan adik-adiknya. "Bocah emang!" Ucapnya pelan.