
Kamu Tidak Tau Saja
"Dia polisi" Kata Nara memecah keheningan diantara mereka.
"I know" Jawab Sisil acuh, masih kesal dengan Nara.
"Dia punya motor" Ucap Nara, yang spontan membuat Sisil dan Susan menatapnya heran. Apa masalahnya dengan punya motor atau tidak? Pikir mereka.
"Well, hampir semua orang punya sepeda motor di dunia ini. Lalu apa masalahnya?" Tanya Sisil.
"Mungkin dia maunya cowok beroda empat sil. Kakak pikir, cewek sepolos kamu enggak punya jiwa matre seperti kakak" Ucap Susan polos.
"Eh apaan? Bukan itu maksudku" Kilah Nara.
"Lah terus?" Tanya Sisil mulai gemas dengan Nara yang mulai berbelit-belit.
"Masalahnya, motornya itu motor gede. Aku enggak suka" Ucap Nara dengan kesalnya. Sisil dan Susan spontan melongo, dahinya mengkerut, bingung mendengar alasan Nara yang tak masuk akal bagi mereka.
"Cuma perihal motor pakek dibesar-besarin kamu dek" Susan tidak habis pikir dengan jalan pikiran adiknya yang menurutnya pintar itu, tapi masalah hati kok terlalu banyak pertimbangannya. Seperti sedang menghitung cost penjualan saja, pikirnya.
"Tapi aku tidak suka" Tegas Nara.
"Apa karena jambret yang jambret kamu dulu itu pakai motor gede?" Tebak Sisil. Nara mengangguk mengiyakan.
"Oh pantas saja, dulu temanmu si Nunung itu pernah kamu minta ganti motor gara-gara dia jemput kamu pakai motor gede" Ingat Susan.
"Nanang sis, namanya Nanang bukan Nunung!" Susan mengendikkan bahunya acuh.
"Stop deh bahas si Nunung atau Nanang! Sekarang ini kita lagi bahas Pak Guru" Bentak Sisil kesal.
"So, keputusannya kamu tidak akan berusaha membuka hati untuk Pak Guru?" Tanya Sisil memastikan. Nara mengangguk lemah, yakin tidak yakin. Fifty-fifty. Pasalnya, ia sendiri sempat merasakan rindu saat Adrian sempat menghilang tanpa kabar. Tapi setelah mengingat bahwa Adrian adalah polisi, terlebih lagi dia pecinta motor gede, membuat Nara meyakinkan dirinya untuk menolak membuka hatinya.
"Terserah! Aku mah apa atuh, cuma remahan rempeyek. Enggak mungkin bisa maksa otak udangmu untuk berpikir jernih" Nara berdecak kesal mendengar ucapan Sisil yang terdengar sarkas.
"Apa hubungannya remahayan rempeyek dengan otak udang?" Tanya Susan polos.
Sisil menghembuskan napasnya kasar.
'Adik sama kakak sama aja. Itu otak pada telmi semua. Waktu pembagian otak mereka kemana sih?' Batin Sisil.
"Jadi kamu sama Pak Guru enggak ada kelanjutannya?" Lanjut Susan, yang masih bingung dengan keputusannya. Nara menarik napas panjang, menghembuskannya pelan. Menatap kakaknya yang cantik dengan gemas.
"Tidak ada! Tapi yang membuatku bingung. Selama ini Adrian tidak pernah mengatakan bahwa dia menyukaiku atau mencintaiku. Malah kalian berdua yang sibuk mendesakku" Ucapnya mengutarakan pemikirannya selama ini.
"Kamu tidak tau saja, Pak Guru itu orang yang lamban dalam hal mendekati. Tapi sebenarnya dia itu suka sama kamu. Tunggu saja tanggal mainnya, dia pasti akan mengatakannya. Makanya kami mau memastikan terlebih dahulu, apa kamu mau menerimanya" Ucap Sisil menjelaskan, karena dia sudah cukup lama mengenal Adrian, apalagi melihat gelagat Adrian selama ini yang selalu menunjukkan perhatiannya terhadap Nara, walaupun hanya lewat pesan singkat. Sisil juga tau, selama ini Adrian mengawasi dan menjaga Nara dari kejauhan. Hanya saja Adrian tidak mau menampakkan diri, apalagi Adrian tau lokasi tempat Nara KKN termasuk ke dalam zona merah.
"Nara" Nara menoleh ke arah sumber suara. Ia melihat Vina menghampirinya sembari terengah-engah.
"Iya vin" Jawabnya, memperhatikan Vina yang masih mengatur nafasnya. Ia menunduk, memegang kedua lututnya. Punggungnya terlihat jelas seperti naik-turun.
"Habis lari maraton?" Tanyanya polos. Vina memicingkan matanya, menatap Nara dengan sorot mata kesal.
"Kamu nih dicariin kemana-mana, taunya disini" Ucap Vina kesal. Nara hanya cengengesan tidak jelas melihat wajah kesal teman sekamarnya itu.
"Eh kita balik dulu ya" Ucap Sisil menyela. Vina jadi merasa tak enak, karena baru menyadari ternyata Nara sedang tidak sendiri. Vina mengulas senyum kepada Susan dan Sisil. Yang dibalas senyuman pula oleh keduanya.
"Eh iya sil. Thanks ya udah nyamperin. Makasih juga sudah ninggalin sampah disini. Lumayan buat bikin kerajinan tangan" Kelakar Nara, menunjuk ke arah sampah dengan matanya. Sisil dan Susan kompak menggaruk tengkuk mereka. Pasalnya, mereka yang berkunjung tidak membawakan Nara apa pun, malah meminta Nara yang mentraktir mereka cemilan dan akhirnya meninggalkan sampah bungkus cemilan mereka begitu saja di bibir sungai itu.