My love is You

My love is You
Jadi Calon Nyonyah




Jadi Calon Nyonyah



Tanpa Nara sadari, ada sepasang mata yang sesekali melirik ke arahnya. Pemilik sepasang mata itu adalah Adrian. Walaupun kini Adrian tengah terlihat sibuk bercengkrama dengan Sisil, namun hatinya menatap ke arah Nara dan otaknya seolah berputar mencari cara agar bisa membuka topik pembicaraan dengan Nara.


Suara deru sepeda motor yang dimatikan terdengar oleh indra pendengaran Nara. Nara yang sedari tadi menunduk dan sibuk menendang-nendang kecil batu krikil di depannya, spontan menoleh ke arah sumber suara. Terlihat seorang pria mengenakan baju kaos biasa yang dipadukan dengan celana jeans selutut. Merasa tidak mengenali pria tersebut, Nara memutuskan untuk mengalihkan pandangannya, ia kembali menunduk dan memilin jemarinya. Merasa bosan, dan jengah akan situasinya saat ini.


'Apa-apaan ini, berada di pinggir jalan bersama dua orang pria dan satu wanita setres yang sayangnya adalah sahabatku sendiri. Bisa dikira double date nih sama orang. Eh double date apaan di pinggir jalan gini? Enggak modal banget' Gerutu Nara dalam hati. Nara memang tipikal orang yang selalu memperhatikan image di depan publik, ia selalu mendengarkan penilaian orang. Dan ia tidak suka dinilai buruk.


"Eh Pak guru, lagi disambangin nyonyah nih rupanya" Sapa pria asing tersebut. Pria tersebut merupakan anggota polisi yang sedang bebas tugas, sehingga ia menggunakan baju preman (istilah yang digunakan jika tidak menggunakan seragam polisi).


'Hah nyonyah apaan? Nyonyah menir? Siapa maksudnya?' Batin Nara sambil melirik sekitar, namun yang terlihat hanya dirinya, Sisil, Adrian dan pria asing yang bertanya barusan.


"Hahaha iya nih, lagi kangen katanya" Jawab Adrian sambil tertawa renyah.


"Yang mana ni guru?" Tanya pria asing itu sambil melirik ke arah Sisil dan Nara bergantian.


"Yang jilbab biru dong" Jawabnya santai. Nara yang menyadari hanya dirinya yang mengenakan hijab di tempat itu, spontan melihat hijabnya yang berwarna biru, senada dengan warna gamis yang dikenakannya. Iya mengangkat wajahnya menatap Adrian dengan tatapan penuh tanya. Yang ditatap hanya cengengesan tidak jelas.


"Wah mantap guru. Kapan nih rencananya nyebar undangan?"


"Ya rencananya sih secepatnya. Do'ain aja semoga dilancarkan!"


"Oke siaap guru"


'Kalok bilang enggak, kasian ni manusia aneh bakalan hilang muka depan temannya. Jawab iya aja kalik ya. Sekali-kali bantuin orang susah enggak apa-apa kan? Toh dia juga cuma becanda, kalok aku jawab enggak ntar dikiranya aku malah seriusan nanggepin becandaannya' Batin Nara. Pria asing tersebut masih menunggu respon Nara. Karena sejujurnya, ia masih tidak percaya jika yang diucapkan Adrian benar adanya, karena seperti biasa Adrian selalu bercanda. Dan setaunya, Adrian tidak pernah dikabarkan menjalin hubungan serius dengan wanita manapun.


"Gimana ra, sudah siap kan jadi nyonyah seorang polisi. Jadi ibu bayangkari?" Adrian menaik nurunkan alisnya, menggoda Nara. Bibirnya berucap dengan santainya tanpa meninggalkan senyumnya yang terus mengembang sedari tadi.


"Eh i iya" jawab Nara terbata, ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Adrian tersenyum puas mendengar jawaban Nara. Kemudian menatap ke arah temannya, yang tidak diketahui namanya oleh Nara.


"Oke sudah guru. Kalok gitu saya masuk dulu ya. Saya mau ketemu senior. Ditunggu undangannya guru" Ucap pria tersebut sembari berlalu meninggalkan mereka bertiga.


Setelah kepergian pria tersebut. Sisil mulai menggoda Adrian dan Nara. Menjodoh-jodohkan mereka. Seolah ia sudah lupa akan kejadian hari ini dan alasannya datang malam-malam ke kantor Adrian.


"Cieee yang sudah jadi calon nyonyah. Enggak nyangka ya secepat itu" Goda Sisil yang hanya ditanggapi kekehan oleh Adrian, sedangkan Nara mencebikkan bibirnya, malas mendebat Sisil.


"Sudah ah, pulang yuk! Ngantuk nih" Ucap Nara.


"Ashiaapp nyonyah" Ucap Sisil lantang. Ia menempelkan telapak tangan kanannya di depan kening, membentuk hormat. Nara berdecih, kesal dengan aksi sahabat gesreknya itu.


___


Adrian menatap lurus ke arah jalan raya yang baru saja dilalui oleh Sisil dan Nara.


"Aku tak pernah salah dalam menentukan pilihan. Sekali aku yakin bahwa kau adalah wanitaku. Maka selamanya kau akan menjadi wanitaku." Ucap Adrian seolah ia masih bisa menatap punggung Nara, yang sebenarnya sudah tak nampak lagi. Ia menggenggam ponselnya sembari tersenyum senang, kemudian memasukkannya ke dalam saku celananya.