
Lihatnya Biasa Aja Dong!
"Maaf mbak, saya mau ambil buku atas Nama Ragil" Ucap ibu muda di hadapan Nara, mengintrupsi Nara. Nara memberikan gestur meminta ibu muda tersebut menunggu sebentar.
"Oh iya, nanti sore ya kita ketemunya. Sepertinya nanti sore Nara sudah free" Jelas Nara untuk mempersingkat telfonnya.
"Oke, dimana?" Tanya Adrian terdengar tidak sabaran. Nara terlihat berpikir, namun pandangannya jatuh ke arah ibu muda tersebut, Nara jadi merasa tidak enak hati sudah membuatnya menunggu lama.
"Nanti Nara kabari lagi ya, sekarang Nara tutup telfonnya. Assalamualaikum" Nara segera mengakhiri panggilannya, bahkan sebelum Adrian sempat menjawab.
Nara segera mencari buku posyandu yang diminta oleh ibu muda tersebut.
"Ini bu. Maaf sudah membuat ibu menunggu lama" Ucap Nara sembari mengulurkan buku tersebut. Ibu muda itu tersenyum menerima buku yang diulurkan Nara.
"Iya mbak, tidak apa-apa" Ucapnya ramah.
___
Sore harinya Nara menelfon ayahnya, meminta ayahnya untuk menjemputnya di posko, karena Nara sudah merindukan Bara. Nara berniat untuk mengisi waktu luangnya dengan menemani adiknya di rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, Nara segera menuju ruang VIP tempat adiknya menginap. Meninggalkan ayahnya yang masih memarkirkan mobil. Pada saat Nara akan membuka pintu, dering ponselnya mengintrupsi.
Nara segera merogoh kantung sling bag kecilnya, mengambil ponsel tersebut.
"Bang Adrian" Ucap Nara setelah membaca nama penelfon yang tertera di layar ponselnya. Seketika Nara menepuk jidatnya, ia baru ingat bahwa ia sudah ada janji sebelumnya dengan Adrian untuk bertemu hari ini.
"Haduh gimana ini? Pakek acara lupa segala. Dia marah enggak ya? Ah bodo amat, mau marah atau enggak" Gumam Nara bermonolog.
Nara menggeser tombol hijau di layar ponselnya.
"Assalamualaikum" Ucapnya bersikap biasa saja.
"Waalaikumsalam dek. Abang sudah di depan gang posko adek" Ucap Adrian. Nara menggigit bibir bawahnya. Rasa bodo amatnya, berubah menjadi rasa bersalah. Pasalnya ia tidak menyangka Adrian akan langsung ke poskonya sebelum dia menelfon. Karena jika dia menelfon sebelum berangkat, Nara bisa mengatakan untuk menggagalkan janji temu mereka. Tapi sekarang nyatanya Adrian sudah berada di gang depan poskonya.
"Halo dek?" Suara Adrian membuyarkan lamunan Nara. Nara menghela nafasnya.
"Siapa yanga sakit?" Tanya Adrian pura-pura tidak tau. Nara yang mendengar pertanyaan Adrian jadi terheran, karena responnya biasa saja. Nara kira, Adrian akan marah-marah karena merasa sudah dipermainkan. Seperti Doni dulu yang sering marah-marah karena sifat Nara yang ceroboh dan pelupa. Nara tersenyum sinis mengingat Doni mantan kekasihnya dulu.
"Dek?"
"Mmm itu, adeknya Nara yang sakit" Jawab Nara.
"Boleh abang kesana? Abang juga pengen jenguk. Sekalian mau kenal dengan keluarga adek" Nara mengkerutkan dahinya. Buat apa? Pikirnya.
"Boleh, sebentar Nara share location ya"
"Oke" Jawab Adrian tanpa mengakhiri panggilannya.
"Mmm, telfonnya bisa dimatiin dulu? Soalnya paket data Nara enggak bisa connect kalau telfonnya belum dimatiin" Jelas Nara. Terdengar suara tawa kecil Adrian.
"Hehee iya dek. Assalamualaikum" Ucapnya.
"Waalaikumsalam" Jawab Nara.
Nara mengirimkan lokasinya kepada Adrian, kemudian membuka pintu ruang VIP di depannya. Disana sudah ada Susan, ibu tirinya dan ibu dari ibu tirinya yang biasa Nara panggil Oma.
___
Dua puluh menit kemudian, Adrian datang. Adrian berbincang dengan keluarga Nara. Sedangkan Nara sibuk menyuapi Bara. Nara melirik ke arah Adrian yang sesekali tersenyum pada saat sedang berbincang dengan ibu tiri dan Omanya, sedangkan Susan sibuk menggoda Adrian. Membuat Nara mengulas senyum melihat aksi salah tingkah Adrian.
Bara menutup mulutnya, kepalanya ia gelengkan pertanda ia sudah tidak mau menerima suapan Nara lagi.
"Kamu sudah kenyang?" Tanya Nara. Yang hanya dijawab dengan anggukan oleh Bara.
"Minum susunya ya" Bujuk Nara. Bara tidak menjawab, namun iya menerima uluran susu kemasan di tangan Nara. Bara meminumnya sedikit, kemudian menyerahkannya kembali kepada Nara.
Adrian yang melihat cara Nara merawat adiknya menjadi terharu, padahal Adrian tau bahwa Nara dan Bara tidak satu ibu.
"Ekheemm" Suara dehaman Susan mengintrupsi Adrian.
"Ciee Pak Guru, liatnya biasa aja dong!" Goda Susan, yang berhasil membuat Adrian menggaruk tengkuknya salah tingkah.
"Pepet terus guru! Saya dukung dari belakang. Saya bantu do'a juga deh" Goda Susan sembari mengedipkan matanya jahil. Adrian yang terus saja digoda oleh Susan hanya tercengir kuda. Oma dan ibu tiri Nara yang melihat aksi Susan menjadi terkikik geli.