My Ketos My Love

My Ketos My Love
Nine



Aisyah mengelap peluh yang membasahi tubuh Kelva dengan handuk bersih. Setelah itu ia memasangkan kaus putih polos tanpa lengan ke tubuh Kelva agar panas tubuhnya bisa keluar. Setelah membujuk Kelva makan dan meminum obat, Aisyah menyuruh putranya kembali beristirahat.


"Tidur lagi" ucap Aisyah mengusap kepala Kelva. Kelva hendak protes, ia tidak ingin tidur.


"Kalau kamu ngebantah Ibu nggak bakal ngasih tau Lia ada dimana" ancam Aisyah membuat Kelva bungkam dan segera membaringkan tubuhnya.


"Jangan kabur" ucap Aisyah sebelum keluar dari kamar Kelva.


~


Luhan memasuki kamar rawat Lia dan mendapati Lia yang sedang melamun menatap keluar jendela yang langsung menampakkan pemandangan taman rumah sakit.


"Hey..." Luhan mendekati Lia dan memberikan kecupan dahi Lia dengan sayang.


"Kemaren kok nggak ke sini?" tanya Lia cemberut.


"Kan ujan, lagian kamu sama Bunda" ucap Luhan.


"Mau sekolah" rengek Lia meraih lengan Luhan dan menggerakkannya.


"Kamu belum boleh pulang" ucap Luhan.


"Ish aku sehat" ucap Lia dengan kesal. Luhan melirik ke arah kantung infus Lia yang tinggal setengah.


"Dateng waktu pertandingan basket aja, kasih kejutan buat Kelva" ucap Luhan.


"Ih kok buat dia sih" ucap Lia dengan wajah merona tipis.


"Udah jangan tsundere gitu, dia kemaren nyariin kamu loh" ucap Luhan jahil.


"Um tapi Dia kan marah sama aku" ucap Lia meremas jarinya sambil mengingat saat Kelva yang tidak ingin bertemu dengannya lagi.


"Oh ya? dia kan marah karena cemburu" ucap Luhan.


"Cemburu?" tanya Lia bingung.


"Dia ngira aku itu naksir kamu" ucap Luhan.


"Lah emangnya dia nggak tau kalau kita kembar?" tanya Lia.


"Nggak, kitakan nggak kembar identik yah pantes dia nggak sadar" ucap Luhan.


"iya juga ya" ucap Lia.


"Mau jalan-jalan?" ajak Luhan. Lia mengangguk, ia bosan berada di kamar. Luhan mengambil Kursi roda yang di sediakan, dia tidak mungkin mengajak Lia yang masih lemas akibat kemoterapi. Setelah membantu Lia duduk dengan nyaman di kursi roda, Luhan mendorong kursi roda itu pelan menuju taman rumah sakit.


"Disini aja" ucap Lia saat mereka sampai di dekat bangku taman yang tepat berada di bawah pohon rindang. Luhan duduk di bangku taman itu sambil menggenggam jemari Lia.


"Bang, nanti kalo Lia pergi-" Luhan membekap mulut Lia saat mendengar pembicaraan yang paling tidak ingin dia dengar. Dia menatap Lia kemudian menggeleng kuat.


"Nggak, nggak bakal ada yang pergi" ucap Luhan tegas.


"Tapi bang aku kan" Lirih Lia.


"Nggak, pokoknya kamu bakal sehat bakal abang lakuin semuanya biar kamu sehat" ucap Luhan menatap mata Lia dalam. Lia membalas tatapan Luhan, kemudian dia tersenyum hangat.


"Tapi, kalau emang udah waktunya abang harus ikhlas ya" ucap Lia sambil tersenyum. Luhan membeku, tidak dia tidak siap kehilangan adik yang hanya beda 5 menit dengannya itu.


~


Kelva merasa tubuhnya sudah membaik, ia pun memutuskan untuk sekolah. Sekaligus melakukan persiapan untuk acara promnight yang akan di adakan besok malam. Siangnya akan di langsungkan pertandingan Basket, dan Kelompok Kelva di pilih sebagai perwakilan sekolah.


"Wih udah sembuh ni bos" ucap Bayu saat Kelva duduk di sampingnya dengan semangkuk mie instan.


"Gimana rasanya sakit?" tanya Reza.


"Coba aja sendiri" ucap Kelva menikmati mie instannya.


"Oh iya, lo tau kabar tentang Luhan?" tanya Bayu mencoba memancing Kelva.


"Nggak" jawab Kelva datar, dia masih marah dengan Luhan yang menyembunyikan Lia darinya.


"Padahal besok kalian tanding" ucap Reza.


"Biar nanti pemain lain yang main" ucap Kelva santai.


"Yah seenggaknya lo coba kirim pesan gitu ngabarin kalo besok tanding" ucap Bayu.


"Nggak perlu, gue ikut" Reza, Bayu dan Kelva menoleh ke belakang mendapati Luhan menatap mereka dengan senyum tampan. Para gadis berteriak histeris melihat senyum Luhan.


"Wah kok gue ngerasa ada aura gelap ya" ucap Bayu yang menyadari aura tak bersahabat dari Kelva untuk Luhan.


"Besok gue mau kita menang" ucap Luhan menatap Kelva malas.


"Gue pergi, masih ada tugas" ucap Kelva meninggalkan ketiga sahabatnya.


"Masih mau ngerjain?" tanya Reza.


"Pasti, besok terakhir" ucap Luhan sambil duduk di samping Reza.


"Kasian tau, kemaren aja ampe demam tinggi dia gegara lo" ucap Bayu menyeruput teh manisnya.


"Biarin, besok dapet kejutan juga dia" ucap Luhan kalem.


"Gimana Lia?" tanya Bayu.


"Udah baikan, cuman masih lemes aja kalo kelamaan berdiri" ucap Luhan.


"Belum ada dapet pendonor sumsun tulang belakang?" tanya Reza.


"Belum, nggak mudah buat dapet sumsum tulang belakang yang cocok" ucap Luhan.


"Lo tenang aja, ntar kita bantu juga doain aja semoga cepet dapet" ucap Bayu.


~


Siska menatap Kelva yang duduk dengan aura suram. Ia rasanya tidak tega melihat betapa berantakannya Kelva karena ingin bertemu Lia. Lidahnya gatal ingin memberitahu sang sepupu dimana lokasi Lia berada.


"Oi lo kenapa?" tanya Siska mencoba mencairkan suasana.


"Nggak" jawab Kelva datar.


"Beh datar banget kayak papan cucian" ucap Siska kesal.


"Sis, lo sahabat Lia kan? lo tau dia dimana?" tanya Kelva berharap Siska bisa memberi tahunya.


"Maaf, gue nggak tau" ucap Sisak bohong.


'Maafin gue Kel' batin Siska.


~


From: Siska


beib, Kelva nanyain lo nih


Oh ya?


From: Siska


Iya, gue nggak tega liat muka dia yang kacau nyariin lo 😭


Lia membaca pesan yang dikirimkan Siska kepadanya, ia sebenarnya juga ingin bertemu dengan Kelva. Dia merindukan tingkah pemuda itu yang selalu menganggunya.


"Kangen" ucap Lia dengan mata yang berkaca-kaca.


"Kangen siapa?" tanya Mersa yang baru masuk ke ruangan Lia dan sempat mendengar ucapan putrinya itu.


"Bunda Lia mau sekolah" rengek Lia.


"Besok aja ya? sekalian nonton Luhan main basket" ucap Mersa.


"Lama" sungut Lia.


"Sabar dong princess, mau ketemu anak tante Aisyah ya?" goda Mersa.


"Nggak!!" teriak Lia sambil menutup wajahnya dengan selimut.


"Ugh anak Bunda udah besar ternyata" ucap Mersa memeluk Lia.


"Ih Bunda jangan goda Lia" ucap Lia.


"Iya nggak kok sayang" ucap Mersa.


"Ayah mana Bun?" tanya Lia.


"Ada yang kangen ayah?" ucap suara baritone dari pria berseragam kantor.


"Ayah peluk" Herman segera memeluk tubuh Lia sambil mengusap kepala anaknya dengan sayang.


"Ugh manja banget sih" ucap Herman gemas.


"Diem ayah, anget Lia ngantuk" ucap Lia sambil memejamkan matanya tanpa melepas pelukannya padahal posisinya sedang duduk.


"Nenek sama Kakek bakal ke sini besok" ucap Herman.


"Lia kangen mereka" ucap Lia.


"Sabar ya sayang" ucap Mersa.


"Ikut pelukan dong" Luhan muncul dan langsung menerjang Lia dengan pelukan hangat.


"Ih jauh-jauh bang" ucap Lia kesal.


Keluarga kecil yang sedang saling melempar lelucon dengan tawa di masing-masing bibir mereka.


"Bunda" Lirih Lia saat meraskan kepalanya berdenyut sakit di sertai darah yang mengalir dari lubang hidungnya.


"LIA" Mersa, Herman dan Luhan panik. Mersa segera mengabil tisu dan mengelap darah yang mengalir dari hidung putrinya. Herman memencet tombol merah di atas kepala ranjang rumah sakit untuk memanggil dokter. Luhan membantu Lia berbaring.


"Astaga, tuan dan nyonya biar kami yang mengurus Putri kalian" ucap seorang dokter dengan beberapa suster dibelakangnya. setelah keluarga pasien menjauh, Dokter dan Suster segera berusaha memberhentikan mimisan Lia.


Mersa menangis melihat keadaan putrinya yang nampak sangat pucat. Luhan mengepalkan tanganya menatap keadaan Lia. Herman menatap Lia sendu. Semuanya bersedih.


"Besok batalin rencana nyuruh Lia sekolah" ucap Herman.


~


Para murid berkumpul di lapangan basket, mereka tidak sabar menonton pertandingan yang akan berlangsung beberapa menit Lagi. Luhan nampak diam dan tidak ada berbicara sama sekali. Begitu juga Kelva, ia berharap ada Lia yang menontonnya.


Para pemain dari dua tim memasuki lapangan, mereka melakukan tos sebagai sapaan. Bayu dan Reza siap dengan spanduk bertuliskan dukungan untuk Para pemain.


"Semangat guys" teriak Reza dan Bayu. Permainan dimulai, para pemain mulai saling berebut bola coklat itu sebisa mereka. Luhan dan Kelva nampak tak fokus dalam bermain sehingga mereka sering lengah.


Tim lawan terus mencetak nilai, meninggalkan tuan rumah yang belum mencetak nilai sama sekali. Semua pemain mengatur napas mereka yang memburu, mendapat istirahat sepuluh menit mereka manfaatkan untuk mengatur strategi.


Bayu dan Reza menatap pemain dari SMA mereka prihatin, andalan di tim itu adalah Luhan dan Kelva tapi keduanya sedang dalam keadaan yang buruk. Bayu dan Reza berharap ada keajaiban. Mereka mencoba menghubungi Siska yang sejak tadi tidak menampakkan batang hidungnya. Permainan kembali berlanjut, kedua tim mulai bersaing kembali.


"KELVA! LUHAN! ayo semangat!!!" teriak Siska dari arah pintu masuk lapangan. Luhan dan Kelva menoleh, mata mereka mebola kaget melihat Siska mendorong kursi roda dan tiang infus. Disana Lia duduk dengan nyaman, wajahnya masih nampak pucat. Tanganya ia kepalakan sambil memggerakkan bibirnya 'Semangat'.


"Ayo semangat!!" ucap Bayu dan Reza.


Luhan dan Kelva saling tatap, mereka mengangguk dan memulai permainan. Tim lawan seketika tidak bisa berkutik saat tim tuan rumah menyusul nilai mereka dengan cepat.


Pritttt


Peluit panjang berbunyi menandakan berakhirnya permainan. Kedua tim saling membari salam sebagai bentum solidaritas. Kemenangan di raih oleh tuan Rumah, Luhan segera mendekati Lia.


"Kenapa kesini? bukannya harus istirahat?" tanya Luhan khawatir.


"Pengen nonton" ucap Lia dengan senyum manis.


"Weh giliran Lia muncul langsung aja semangat" ucap Bayu yang sudah bergabung dengan mereka diikuti Reza.


"Psst..." Siska memberi Kode kepada Luhan untuk meninggalkan Lia dan Kelva berdua. Kelva sedari tadi hanya menatap Lia dalam diam. Luhan mengangguk ia segera mendorong Bayu dan Reza menjauh begitu juga Siska yang meninggalkan Lia.


"Selamat ya" ucap Lia.


Bruk


Kelva memeluk Lia yang sedang duduk di kursi roda, padahal tubuhnya sedang basah bersimba peluh. Dia mengeratkan pelukannya saat Lia mengelus surai hitamnya yang lepek.


"Kemana aja?" lirih Kelva.


"Em istirahat" ucap Lia.


"Kok bisa makek kursi roda?" tanya Kelva tanpa melepas pelukannya.


"Masih lemes" jawab Lia.


"Bau, lepasin" ucap Lia ketus. Kelva menyeringai, dia semakin mengeratkan pelukannya dan mendusel-dusel di leher Lia.


"Kelva" geram Lia.


"Kangen berantem sama lo" ucap Kelva sambil tertawa pelan.


"Sama orangnya nggak?" tanya Lia pelan.


"Oh pd banget mau di kangenin" ucap Kelva melepas palukannya.


"Ih nggak kangen nih? ya udah deh pulang aja gue" ucap Lia.


"Ish becanda kali, kangen banget gue sama lo" ucap Kelva.


Ah biarkan mereka saling melepas rindu sejenak :)


TBC


Maaf Typo 🙏🙏🙏