My Ketos My Love

My Ketos My Love
Seven



Hati Kelva terasa remuk, di depan matanya ia melihat Luhan sedang memojokkan Lia ke tembok. Mereka begitu dekat hampir tak ada jarak. Tangannya mengepal hingga buku tangannya memutih. Posisi keduanya begitu intim membuat Kelva panas.


Tanpa banyak bicara, Kelva segera meninggalkan atap sekolah. Tadi ia mendapat pesan dari Lia bahwa gadis itu ingin bertemu dengannya dan membicarakan sesuatu. Tapi ternyata yang ia dapat adalah hal yang membuat hatinya sakit.


"Kalo emang nggak suka sama gue nggak gitu juga caranya" gumam Kelva. Ia memasuki toilet dan mengunci pintu toilet agar tidak ada yang masuk.


PRANG


Cermin di itu pecah menjadi kepingan-kepingan kecil. darah mengalir dari buku tangan kanan Kelva yang ia gunakan untuk meninju cermin tadi. Emosinya sedang memuncak, mengabaikan darah dan beberapa serpihan kaca yang menancap di tangannya Kelva menjambak rambutnya frustasi.


"Arghhh..."


~


Lia mendekati para anggota OSIS yang sedang berkumpul setelah melakukan latihan untuk ulang tahun sekolah besok. Ia duduk di samping Siska, ia memperhatikan anggota OSIS yang duduk diam.


"Kok pada diem?" tanya Lia, mengabaikan aura suram yang di keluarkan Kelva.


"Ish Lia lo nggak ngerasa apa? suasana lagi suram gini" bisik Siska.


"Nggak, biasa aja tuh" ucap Lia santai.


"Itu si Kelva kayaknya lagi dalam mood jelek deh coba lo ajak ngobrol" bisik Siska.


"Kok gue?" ucap Lia bingung.


"Udah, ajak ngobrol aja kita pergi dulu bye" Siska memberi kode kepada anggota OSIS yang lain untuk beranjak pergi.


"Kel lo kenapa? ada masalah?" tanya Lia setelah di tinggal berdua saja.


"Bukan urusan lo" ucap Kelva dingin.


"Gue nanya baik-baik malah di ketusin" dengus Lia.


"Emang gini harusnya, kita nggak usah kenal" ucapa Kelva membuat Lia bingung.


"Maksud lo?" tanya Lia.


"Lo jangan sok polos deh, lo nyuruh gue ke atap sekolah buat ngeliat lo sama Luhan berduaan kan? Gue tau lo nggak suka sama gue tapi nggak gitu juga caranya" ucap Kelva dengan emosi yang memuncak.


"..." tidak ada respon dari Lia, dia bingung kapan dia meminta Kelva menemuinya di atap?.


"Lo tau nggak? gue udah berusaha deketin lo tapi lo nggak nganggep gue, terus tadi gue ngeliat sendiri cara lo nolak gue dengan kasar..."


"..." Lia tetap diam tak mereapon apapun.


"Ah mungkin gue yang salah, lo sama Luhan emang cocok. Mulai sekarang gue nggak bakal deketin lo lagi, anggap aja kita nggak pernah kenal" ucap Kelva, dia menyadari Ia yang hanya diam tak merespon apapun memilih menyerah.


"Tunggu dulu Kel, maksud lo apa? gue nyuruh lo ke atap?" Lia masih bingung, ia juga tidak terima dengan ucapan Kelva yang hendak menjauhinya. Hey ayolah, setelah pemuda itu membuat dirinya nyaman dan sekarang hendak meninggalkannya begitu saja.


"Udah deh, gue benci sama tampang sok polos lo. Gue harap lo lupain aja tingkah gue belakangan ini, gue malah lebih ngarep lo nggak usah muncul lagi di depan gue" ucap Kelva.


"Tapi Kel, gue sama Luhan itu..."


"Udah, pokoknya gue nggak mau ketemu sama lo lagi" ucap Kelva meninggalkan Lia sendiri.


Lia menatap kepergian Kelva dengan tatapan kosong, tidak bukan ini yang dia inginkan. Dia tidak pernah meminta Kelva menemuinya di atap, bahkan dia tidak memiliki hubungan dengan Luhan seperti yang Kelva kira.


"Kok jadi gini" Lirih Lia sambil menunduk meremas ujung seragam sekolahnya.


~


"Lo kayaknya kelewatan deh Han" ucap Bayu mengintip Lia dan Kelva. Dia tidak sendiri, ada Siska, Reza dan Luhan.


"Biarin aja, kita liat apa respon dia kalo tau yang sebenernya" ucap Luhan.


"Tapi Han, kayaknya mereka malah bakal nggak bakal deket lagi" ucap Siska khawatir. Dia merasa bersalah karena ikut campur tangan dengan aksi yang dilakukan Luhan.


"Kalian diem aja, kita liat gimana Kelva tanpa Lia" ucap Luhan menyeringai.


~


Kelva menenangkan pikirannya di dekat sebuah jembatan. Sebatang rokok terselip di antara bibirnya, hal yang biasa ia lakukan dulu. Tapi, semenjak mengenal Lia ia meninggalkan barang itu. Dan sekarang ia kembali menggunakannya untuk menenangkan diri.


"Hah..." Kelva menghembuskan nafas kasar, ia menatap tangannya yang terluka. Membuang sisa rokok dan mulai menjalankan motornya menuju Rumah.


"Ya ampun Kelva, ini tangannya kenapa?" tanya Aisyah kaget saat Kelva memasuki rumah.


"..." Kelva hanya diam, bingung ingin menjelaskan apa kepada Ibunya.


"Tunggu di ruang tamu, Ibu ngambil air sama handuk dulu" ucap Aisyah, Kelva mengangguk patuh. Ia duduk dengan tenang di atas karpet berbulu menunggu Aisyah.


"Kamu ninju kaca?" tanya Aisyah saat melihat ada kaca yang menancap. Kelva mengangguk, Aisyah menghelas nafas dan segera mengambil kotak P3K.


"Ayo cerita sama Ibu" ucap Aisyah setelah selesai mengobati tangan Kelva. Kelva awalnya enggan bercerita, tapi setelah ia pikir mungkin bercerita dengan ibunya bisa mengurangi emosinya. Mengalir lah cerita dari bibir Kelva, Aisyah mendengarkan secara seksama.


"Kamu udah dengerin penjelasan dari Lia?" tanya Aisyah. Kelva menggeleng menurutnya untuk apa lagi mendengar penjelasan kalau sudah melihat secara langsung.


"Nah itu, kamu salah kenapa nggak dengerin penjelasan dia dulu? gimana kalau dia bener-bener ninggalin kamu? emang kamu rela?" tanya Aisyah.


"Dia udah punya Luhan Bu" ucap Kelva. Aisyah menghela nafas, ingin rasanya ia bercerita yang sejujurnya.


"Yaudah, istiraha gih. Ibu cuman mau bilang, jangan sampe kamu nyesel karna udah nyuruh dia nggak muncul di hadapan kamu lagi" ucap Aisyah menepuk bahu tegap Kelva.


Kelva memikirkan ucapan Ibunya, bagaimana kalau Lia benar-benar pergi darinya?. Mencobah mengenyahkan pikiran tersebut, Kelva melangkah ke arah kamar untuk beristirahat.


~


Kelva memasuki Aula sekolah, sebentar lagi acara pembukaan ulang tahun sekolah dimulai. Siska menghampiri Kelva dengan sebuah map.


"Apaan nih?" tanya Kelva.


"Kata-kata sambutan, lo gantiin Lia" ucap Siska. Kelva ingin bertanya kemana gadis tersebut tapi egonya terlalu tinggi.


"Dia nggak dateng, jadi lo yang gantiin" ucap Siska menjelaskan. Kelva mengangguk, ia mengedarkan padangannya ke penjuru Aula yang sudah diisi oleh para murid dan tamu undangan.


Di pojok ruangan ia melihat Bayu dan Reza, tapi dia tidak mendapati Luhan di sekitar Aula. Lia dan Luhan tidak ada, membuat pikiran negatif Kelva berkembang. Ia berpikir bahwa keduanya sedang berduaan dan memilih tidak sekolah.


~


Tiga hari sudah semenjak acara pembukaan ulang tahun sekolah, beberapa lomba sudah di lakukan. Kelva nampak sibuk mengurus semuanya. Tidak ada Lia yang membantunya, ia begitu kewalahan. Lia sudah beberapa hari tidak ada kabar, begitu juga Luhan.


Kaki yang berbalut sepatu berwarna putih itu melangkah mendekat menuju Kelva yang sedang duduk di meja panitia. Luhan menatap Kelva tajam.


"Ikut gue" Luhan menarik Kelva menuju tempat yang lebih sepi.


"Gila lo ya? main tarik-tarik aja" ucap Kelva kesal setelah mereka berhenti tepat di dekat gudang sekolah.


"Lo ngomong apa aja sama Lia?" tanya Luhan tajam.


"Gue cuman bilang nggak bakal deketin dia lagi" ucap Kelva yang mengerti arah pembicaraan Luhan.


"Lo yakin nggak bakal deketin dia lagi?" tanya Luhan.


"Iya..." jawab Kelva ragu.


"jawaban lo masih ragu, gue tanya sekali lagi lo yakin nggak bakal deketin dia lagi?" tanya Luhan.


"Iya" jawab Kelva mantap.


"Oke, sekarang gue tanya lo sayang sama dia?" tanya Luhan.


"Lo kok nanya gitu? gue udah rela ngalah biar lo bisa sama dia. Gue nggak mau sahabatan kita ancur cuman gara-gara satu cewek" ucap Kelva.


"Gue tanya, lo sayang nggak sama dia?" tanya Luhan masih keukuh dengan pertanyaannya.


"Lo nggak perlu tau" ucap Kelva mengalihkan pandangannya.


"Gue perlu tau" ucap Luhan dengan tatapan intimidasi. Keduanya terdiam, Luhan masih menanti jawaban dari Kelva.


"Jujur, gue masih ada rasa buat Lia. Tapi gue yakin, gue bakal bisa ngelupain dia" ucap Kelva.


"Lo yakin mau ngelupain dia?" tanya Luhan.


"..."


"Jawab gue" ucap Luhan saat tak ada respon dari Kelva.


"Lo udah sama dia, nggak usah mikirin perasaan gue lagi" ucap Kelva muai tak senang dengan pembahasan Luhan.


"Cuman segitu? Cuman segitu usaha lo deketin dia?" tanya Luhan.


"Gue masih mau usaha, cuman gue tau Lo juga suka sama dia" teriak Kelva menahan emosi.


"Asal lo tau, gue yang ngirim pesan ke lo buat nemuin Lia di atap" ucap Luhan.


"Lo?" Kelva tidak percaya ini, Luhan yang mengirimnya pesan melaui nomor Lia.


"Iya gue, kenapa? tujuan gue waktu itu cuman mau bikin lo cemburu, sekalian nunggu respon lo. Tapi, gue malah liat lo muter badan dan kabur cih banci" decih Luhan.


"Lo yang banci, nikung temen sendiri emang itu cowok sejati? malah lo itu kesannya kayak penghianat" ucap Kelva meluapkan emosinya.


"..." Luhan menanti kelanjutan ucapan Kelva.


"Lo tau gue naksir Lia, tapi lo terang-terangan deketin dia di depan gue kayak nggak ada rasa bersalah"


"..."


"..." Kelva mencoba mengatur emosinya, tangannya siap melayang ke wajah Luhan.


"Asal lo tau...


... Gue itu kembaran Lia" bisik Luhan dan melangkah meninggalkan Kelva yang mematung mendengar ucapan Luhan.


Kembaran? Kelva tak pernah melihat tanda-tanda bahwa Lia dan Luhan saudara kembar. Keduanya tidak memiliki ciri fisik yang sama, mereka juga tidak dekat seperti anak kembar lainnya. Berbagai macam pertanyaan berkecamuk di dalam kepala Kelva.


Ia jatuh terduduk sambil bersandar di dinding, tatapannya masih kosong. Tidak percaya dengan apa yang ia dengar barusan. Jadi selama ini ia salah paham dengan hubungan keduanya? rasanya ia begitu bodoh telah memilih menjauhi Lia.


"Mereka kembar? kok gue nggak sadar? nama merekakan akhirnya hampir sama Luhan Andrian sama Lia Andrista" gumam Kelva. Pikirannya mengarah dimana Lia sekarang? kenapa tidak muncul di sekolah selama tiga hari?.


Kelva meraih ponselnya, ponsel yang sudah mati setelah ia marah kepada Lia hari itu.menekan tombol power, dan langsung saja suara notifikasi pesan muncul di layar ponselnya. Ada satu pesan dari Lia, jarinya membuka pesan itu.


From: Bu Ketos😘


Kelva, maaf mungkin lo salah pahan sama hubungan gue sama Luhan. Gue cuman mau bilang kalau gue sama Luhan itu kakak adek, Luhan itu abang gue. Makasih udah mau perhatian sama gue, gue bakal ngabulin perkataan lo yang nyuruh gue nggak mumcul lagi di depan lo. Mungkin ini karma buat gue karna udah ngabain lo, padahal rencananya gue mau bilang kalo gue mulai nyaman sama lo. Tapi kayaknya udah telat 😊


Makasih ya buat semuanya... aku sayang kamu 😊


"Argghhh...." Kelva melempar ponselnya ke dinding hingga hancur.


"Maaf..." lirih Kelva.


TBC


Maaf kalau ada typo πŸ™πŸ™πŸ™