My Ketos My Love

My Ketos My Love
Nineteen



Lia menatap rambutnya yang sudah habis, tangannya meraih wig pemberian Roseta kala itu. Dampak dari Kemoterapi membuat rambutnya rontok dan habis. Dia menatap cermin dalam diam, rasanya dia lelah. Rambut panjang miliknya sudah hilang, padahal dulu dia begitu menyukai rambut panjangnya.


“Hiks hiks...” kamar yang semula hening itu diisi dengan suara isak tangis Lia.


Luhan yang memasuki kamar Lia tersentak kaget karena mendengar Lia menangis. Luhan perlahan mendekati Lia dan memeluknya.


“Abang hiks...” Lia membalas pelukan Luhan dan menangis di dada Luhan. Tangan Luhan mengelus punggung Lia. mereka hanya berdua di rumah, Mersa dan Herman sedang pergi mengurus seuatu.


“Ssst, kenapa hmm?” tanya Luhan lembut.


“Abang Hiks, rambut aku ilang hiks” Lia memeluk Luhan erat.


“Kan ada wig, nanti rambut kamu bakal tumbuh lagi” ucap luhan.


“Aku nggak mau hiks keluar rumah hiks” isak tangis Lia semakin keras.


“Iya iya, nanti abang bilangin sama Ayah” ucap Luhan.


“Abang hiks kalo aku nanti mati gimana?” lirih Lia.


“Nggak, kamu nggak akan mati. Jangan ngomong yang aneh aneh Lia” ucap Luhan.


“Tapi- akh” Lia merintih saat merasakan kepalany berdenyut, darah segar mengalir dari hidungnya membuat Luhan panik. Ia membaringkan Lia di ranjang dan berusaha memberhentikan darah yang mengalir dengan handuk. Luhan bersyukur, kali ini mimisan lia lebih cepat berhenti.


“Tidur ya” ucap luhan.


“Pusing” ucap Lia dengan mata tertutup.


“Istirahat aja, abang ngabarin Ayah sama Bunda dulu” ucap Luhan, Lia mengangguk dengan mata tertutup. Kepalanya tiba tiba memberat.


.


.


.


Kelva menguap bosan karena pelajaran sejarah yang sedang guru jelaskan layaknya dongeng tidur. Ah ia merindukan Lia, tadi pagi kekasihnya itu bilang kalau dia sedang tidak enak badan jadi tidak sekolah.


“Pengen bolos” gumam Kelva.


Setelah jam pelajaran sekolah selesai, Kelva segera menuju ke rumah Lia. saat sampai dia di sambut oleh mersa yang baru selesai memasak makanan.


“Kebetulan nak kelva disini, tolong bujuk Lia makan ya dia dari tadi nggak mau keluar kamar” ucap Mersa, nampak raut khawatir di wajahnya. Kelva mengngguk, ia segera menuju kamar Lia yang tertutup.


“Lia, bukak pintunya ini aku” ucap Kelva karena pintu kamar Lia terkunci.


“...” tidak ada sahutan dari dalam, tapi Kelva mendengar suara isak tangis dari dalam.


“Lia bukak pintunya” Kelva mencoba menggedor pintu kamar Lia.


“Lia bukak atau aku dobrak pintu kamu” ucap Kelva.


Ceklek


“Jangan hiks nanti ayah ngeluarin hiks duit buat gantinya” ucap Lia. kelva hendak tertawa tapi sepertinya waktu yang tidak pas.


“Kok nangis” ucap Kelva mengusap air mata Lia.


“Nggak usah sok romantis” bentak Lia menepis tangan Kelva.


‘Sabar Kel sabar’ batin Kelva. Sepertinya mood Lia sedang tidak bagus.


“Sayang kamu makin jelek kalo nangis” ucap Kelva.


“Biarin, emang kenapa kalo aku jelek? Kamu nggak suka? Yah udah putus aja” ucap Lia sesegukkan. Mereka masih berdiri di depan pintu kamar Lia.


“Loh kok gitu aku nggak mau putus” ucap Kelva, ugh sepertinya dia salah bicara tadi.


“Aku mau putus” teriak Lia memasuki kamarnya, Kelva mengikuti Lia.


“Bilang sama aku, kenapa mau putus hmm? Aku ada salah?” Kelva berusaha berbicara lembut agar Lia tidak meledak ledak nanti.


“Aku mau putus pokoknya putus” ucap Lia mendudukkan diri di tepi ranjang.


“Kasih tau aku alasannya” ucap Kelva tak terima di putuskan tanpa sebab.


“Hiks aku nggak cocok sama kamu Kelva nggak cocok” Lia melepas wignya. Kelva menghela nafas berat, jadi karena ini. Kelva memegang bahu Lia yang bergetar karena menangis.


“Jadi ini alasan kamu?” Lia mengangguk, dia akan menerima jika Kelva ingin mengakhiri hubungan mereka. Jemari Kelva mengusap air mata Lia yang masih mengalir.


“Udah ah, mata kamu udah kayak kacang kenari” ucap Kelva.


“Makan dulu yuk, tante Mersa bilang kamu belum makan dari tadi” ucap Kelva.


“Kelva jangan gini, aku nerima kalo kamu mau putus. Kamu pasti jijik ama aku” lirih Lia.


“Nggak, cuman karena kamu botak aku mutusin kamu? Kamu merasa mider sama aku? Oke aku cukur habis juga rambut aku biar kita samaan” ucap Kelva.


“Jangan, nanti nggak ada yang aku jambak lagi” lirih Lia. Kelva tersenyum dan mnuntun Lia menuju meja makan.


“Sayang kamu bikin Bunda khawatir” uca Mersa memeluk Lia.


“Maafin Lia Bunda” lirih Lia.


“Udah ah, makan dulu Bunda nggak mau anak Bunda nggak Chubby lagi” ucap Mersa.


“Kelva ayo ikut makan juga” ucap Mersa.


“Jadi kita nggak putus?” tanya Lia memainkan jari Kelva di atas meja.


“Kan kamu mau putus" ucap Kelva datar. Mengerjai sedikit tidak apa kan?.


“Oh jadi kita udah putus” lirih Lia menjauhkan dirinya. Kelva terkekeh pelan, ia menarik Lia agar kembali berdekatan


dengannya.


“Kok ngejauh?” tanya Kelva.


“Nggak mau deket deket, pulang sana” usir Lia.


“Ugh gemesin banget sih pacar siapa nih?” goda Kelva.


“Ish kitakan udah putus” ucap lia.


“Hus nggak baik berantem depan makanan” ucap Mersa menegur dua sejoli itu.


“Bunda Kelva yang duluan” ucap Lia.


“Kamu yang duluan, kita kan belum putus aku cuman bercanda tadi” ucap Kelva.


“Kan Bunda liat, dia ngeselin” adu Lia.


Mersa hanya tersennyum, menurut penilaiannya Kelva adalah pemuda yang baik. Jadi dia tidak kan melarang hubungan keduanya jika memang berjodoh. tapi, satu hal yang membuat Mersa tidak enak karena akan ada badai di hubungan keduanya.


“Cepet makannya, abis ini kita jalan jalan” ucap Kelva.


“Aku nggak pede buat keluar” ucap Lia.


“Kan ada aku kamu tenang aja” ucap Kelva.


.


.


.


From:Reza


Mending lo jauhin Lia, gue suka sama dia. gue bakal rebut dia dari lo


Kelva menggerm kesal, ternyata Reza ingin menoba mendekati lia.


“kamu kenapa?” tanya Lia saat mendengar geraman Kelva. Keduanya sedang duduk di tepi pantai beralaskan karpet yang Kelva sewa. Menuggu matahari terbenam di temani dengan dua es kelapa muda dan berbagai macam jenis seafood goreng.


“Nggak papa” ucap kelva. Dia harus berusaha menjauhkan Lia dari reza mulai sekarang.


“Aku seneng, makasih ya” ucap Lia menyandarkan kepalanya di bahu Kelva.


“Apasih yang nggak buat kamu” ucap Kelva mengusap kepala Lia yang di lapisi Wig rambut sebahu.


“Kamu makin imut kalo rambut pendek” ucap Kelva.


“Tapi aku suka rambut panjang” ucap Lia.


“Terserah kamu, asal kamu seneng” ucap Kelva.


.


.


.


“Ayah sama Bunda nggak bisa gini” Luhan tidak terima dengan apa yang baru saja di jelaskan oleh kedua orang tuanya.


“Luhan tenang, ini demi Lia” ucap Mersa.


“Nggak bisa gini, kalian tau Lia udah punya pacar dan itu Kelva sahabat aku kok kalian main jodoh jodohin Lia sama yang lain” ucap Luhan tak terima.


“Ini cuman sebentar” ucap Herman.


“Nggak, aku nggak setuju walaupun sebentar tetep aja kalian mau mutusin hubungan mereka” ucap Luhan.


“Luhan dengerin dulu, semua ini ada alasannya” ucap Mersa.


“Mereka mau Lia tunangan sama Reza beberapa bulan sampai waktu operasi tiba, Reza bakal donorin sumsum tulang belakang dia buat Lia” ucap Herman.


“Kata Keluarga Reza, Reza sedang sakit ginjal dan ginjalnya sudah sangat rusak. Ini permintaan terakhirnya, kami awalnya nolak tapi Reza sampe mohon mohon” sambung Mersa.


“Nak, Ayah harap kamu ngerti” ucap Herman.


Luhan menunduk, penjeasan Herman dan mersa membuat dia syok.


“Jangan bahas ini di depan Lia, biar nanti ku yang bilang sama Kelva berdoa aja dia bisa ngertiin” ucap Luhan memasuki kamarnya. Sial, dia sedang bingung sekarang satu sisi dia ingin menjaga hubungan Lia dan kelva dan disisi lain dia juga ingin Lia sembuh.


Jadi ini yang membuat Reza belakangan jarang berkumpul bersama mereka dan jarang masuk sekolah. Sial, rasanya luhan ingin menghajar habis-habisan sahabatnya satu itu.


“Sial....” geram Luhan.


TBC


Maaf Typo