
Alena mematut dirinya di cermin, pakaian kantor melekat di tubuhnya yang ideal. Hari ini hari pertama kerja dan ia akan membuat Kelva terpesona dengan penampilannya. Bibirnya tanpa henti menyinggungkan senyum senang. Meraih tas kerjanya dan berjalan menuju ruang makan dimana sang sepupu dan bibinya sudah menunggunya. Ya, Alena adalah anak yatim piatu yang tinggal bersama keluarga Cantika.
“Pagi Bi, Pagi Cantika” sapa Alena riang.
“Pagi, seneng banget hari pertama kerja nih ye” goda Cantika pada sepupunya itu.
“Iya dong, oh iya paman mana?” tanya Alena memakan sarapannya.
“Paman kamu udah berangkat ke luar kota, soalnya pembangunan di sana lagi merluin dia” ucap Sang Bibi- Minah. Alena mengangguk mengerti.
“Oh iya, kamu kerjanya di mana?” tanya Cantika ikut
memakan sarapannya.
“Aku kerja di KL Crop, kebetulan punya temen kuliah aku” ucap Cantika.
“KL Crop? Bukannya itu perusahaan punya Kelva? Kamu kenal Kelva?” tanya Cantika.
“Iya kenal, diakan temen kuliah aku. Kamu kenal juga?” tanya Alena.
“Kenal dong diakan temennya Luha waktu SMA” ucap Cantika.
“Luhan?...” Alena memang belum mengetahui bahwa Cantika memiliki hubungan dengan Luhan.
“Itu calon suami Cantika” sahut Minah dengan nada menggoda ke arah putrinya.
“Ish Ibu” Cantika merona saat mendengar ucapan sang Ibu.
“Emang udah lamaran?” tanya Alena.
“Belum sih, cuman dia bilang bakal ngelamar kalo Ayah udah pulang dari luar kota” ucap Cantika.
“Eh kamu bilang kenal sama Kelva, berarti tau dong tentang hal inti tentang dia” ucap Alena.
“Kamu kalo mau nanya kayak gitu bukan sama aku, tapi sama Lia” ucap Cantika.
“Lia? siapa?” tanay Alena.
“Lia itu-“
Ting Tong
Ucapan Cantika terhenti saat bel rumah berbunyi. Cantika membukakan pintu dan mendapati Luhan yang sudah siap dengan stelan kerjanya.
“Masuk dulu, ada Ibu di dalem” ucap Cantika. Luhan masuk dan mecium punggung tangan Minah.
“Aduh pasti mau jemput Cantika ya?” ucap Minah. Alena menganga saat melihat Luhan, pria dengan tubuh atletis dan ideal. Sial sepupunya begitu beruntung.
“Maaf ganggu pagi pagi Bu” ucap Luhan.
“Nggak apa apa kok, oh iya ini Alena sepupunya Cantika yang baru pulang dari luar negeri” ucap Minah memperkenalkan Alena kepada Luhan. Luhan menatap sejenak Alena dan mengangguk sebagai sapaan.
.
.
.
Alena ingin mengajak Kelva makan siang jadi ia mendekati ruang kerja Kelva. Bertepatan saat hendak membuka pintu, Kelva telah membuka duluan pintu tersebut.
“Loh? Alena? Kenapa disini?” tanya Kelva.
“Itu, aku mau ngajak kamu makan siang” ucap Alena.
“Aduh maaf banget, aku udah ada janji sama Bunda aku buat makan siang di rumah dia” ucap Kelva. Alena menyerngit, bukannya kemarin saat di bandara Kelva memanggil Ibunya dengan Ibu, tapi kenapa sekarang Bunda?.
“Oh ya udah nggak papa, besok makan siang bareng ya” ucap Alena.
“Ok besok kita makan siang bareng ajak Mike sama Tiara juga. Aku harus pergi” ucap Kelva.
Alena menghela napasnya, dia harus sabar menanti Kelva sadar dengan perasaanya. Dia menyemangati dirinya sendiri.
Kelva memasuki kediaman Lia dengan cepat dan senyum cerah. Dia tadi mendapat pesan dari Mersa bahwa Lia ingin bertemu di jam makan siang. Saat memasuki dapur, dia melihat Lia duduk dengan segelas ice cream di hadapannya.
“Kelva udah sampe, ayo duduk kita makan siang dulu” ucap Mersa. Kelva mengangguk dan duduk di samping Lia yang asik dengan ice cream coklatnya.
“Ugh kangen akutuh” ucap Kelva gemas memeluk Lia. ia menyadari, tubuh Lia yang tersentak kaget saat di peluknya.
“Tenang ya, aku kan cuman meluk” ucap Kelva menenangkan.
“Ma-maaf aku belum terbiasa” ucap Lia.
“Iya nggak papa” uca Kelva mencomot ice cream Lia dengan sendok lain.
“Ih itu punya aku” ucap Lia.
“Minta dikit” ucap Kelva. Mersa tersenyum, setidaknya putrinya itu mulai mau berinteraksi dengan lawan jenis kecuali pihak keluarga.
“Oh iya, Bunda besok Kelva izin bawa Lia makan siang di luar ya” ucap Kelva menyendok ice cream Lia lagi membuat gadis itu kesal.
“Tapi-“
“Bunda tenang aja, Kelva bakal jagain Lia anggap aja latihan biar dia mau keluar rumah” ucap Kelva. Mersa mengangguk, mencoba berpikir positif bahwa besok akan baik baik saja.
.
.
.
Alena berjalan di sekitar kantor dan menemukan gadis yang kemarin melepaskan rangkulannya pada Kelva sedang menelpon seseorang.
“Iya iya bawel, salah sendiri kenapa sakit kan jadi nggak bisa ikut rapat” ucap Siska kesal karena Bayu terus merengek di sebrang sana karena sedang dilanda demam tinggi. Kegiatan Siska terhenti saat melihat Alena.
“Udah nanti di telpon lagi” Siska menutup sambungan telpon secara sepihak mengabaikan ucapan kekesalan dari Bayu.
“Lo yang kemaren kan?” tanya Siska.
“Lo yang ganggu gue sama Kelva kemaren” dengus Alena.
“Gue sengaja” ucap Siska.
“Lo cemburukan sama gue yang bisa deket sama Kelva? Oh plis deh Kelva itu cuman buat gue bukan buat lo” ucap Alena sombong. Siska terkekeh mengejek, oh rasanya ia ingin meberitahukan bahwa Kelva sudah memiliki Lia. tapi sepertinya bermain sedikit tak apakan?.
“Cemburu? Sama Lo? Najis” ucap Siska datar.
“Udah ngaku aja, lo naksir Kelva kan” ucap Alena memainkan kukunya yang terpoles kutek merah. Rasanya Siska ingin tertawa keras, andaikan gadis di depannya ini mengetahui bahwa Siska hanyalah sepupu Kelva.
“Gue cuan mau bilang, mending lo nyerah aja sebelum hati lo sakit kalao tau satu hal” ucap Siska.
“Masud lo?” tanya Alena.
“Yah lo bakal taukalo udah waktunya” ucap Siska.
“Nggak, gue nggak bakal nyerah” ucap Alena.
“Terserah” ucap Siska acuh. Niat awal ingin melakukan rapat dan memberikan Dokumen titpan Bayu untuk Kelva tapi malah bertemu gadis aneh yang membuatnya muak.
.
.
.
Alena menunggu Kelva dengan tenang di Cafe dekat kantor. Sesekali dia merapikan make upnya.
“Udah cantik kok, udah kayak mau lamaran aja nggak tenang gitu” ucap Tiara.
“Maklum lah Tia, orang baru kasmaran” ucap Mike.
“Berisik” sungut Alena kesal.
“Teman teman maaf lama” ucap Kelva duduk di samping Mike membuat alena kecewa karena berharap Kelva duduk di sampingnya tapi malah berjarak satu kursi.
“Kok lama?” tanya Mike.
“Oh, sekarang mana dia?” tanya Alena.
“Dia lagi di toilet” ucap Kelva.
“Ke-Kelva...” Lia berlari memeluk Kelva dengan wajah ketakutan.
“He-hei kenapa?” tanya Kelva panik.
“Nggak papa” ucap Lia, dia hanya panik tadi saat melewati beberapa pria. Kelva menuntun Lia agar duduk di sebelahnya dan membatasi dia dan Alena. Alena hanya diam saat melihat betapa perhatiannya Kelva terhadap Lia. alena mencoba berpikir positif, mungkin itu sepupunya.
“Dia siapa Kel?” tanya Mike.
“Oh ini Lia” ucap Kelva mengambil buku menu.
“Nah Lia ini temen aku, Mike, Tiara sama Alena” ucap Kelva. Lia melirik Mike takut.
“Tenang, dia nggak jahat kok” ucap Kelva menyadari hal tersebut.
“Kelva mau pesen yang kayak biasa kan” ucap Alena mencoba mengambil perhatian Kelva.
“Kamu mau pesen yang sama kayak aku kan” lirih Lia.
“Alena buat hari ini aku mesen sama kayak Lia aja” ucap Kelva.
“Mau apa?” tanya Kelva kepada Lia. Lia menunjuk menu bergambar pasta cumi dan jus alpukat, Kelva mengangguk dan memberi tahukan pesanannya pada pelayan.
Alena mencengkram sendoknya dengan kuat saat melihat betapa perhatiannya Kelva pada Lia, Kelva bahkan menganggap ia dan kedua temannya tak ada. Lia yang terlihat manja bersama Kelva dan selalu memonopoli
Kelva membuat Alena menyimpulkan bahwa Kelva sebenarnya terpaksa bersama Lia.
“Kelva, biarin dia makan sendiri diakan punya tangan” ucap Alena membuat suasana hening saat Kelva terus terusan menyuapi Lia.
“Loh? Kenapa?” tanya Kelva.
“Aku nggak suka liatnya” ucap Alena dengan lantang. Mike dan Tiara menatap Alena yang sepertinya kesal.
“Loh kenapa nggak suka? Akukan cuman nyuapin Lia” ucap Kelva.
“Soalnya aku-“
“Kelva pulang” ucap Lia dengan kepala tertunduk dalam. Dia tidak suka situasi ini, dia paham sebenarya Alena menaruh hati pada Kelva.
“Loh tapi makanannya belum abis” ucap Kelva.
“Pulang, pengen sama Bunda” ucap Lia. Kelva menghela napas, ia bangkit dan pamit kepada ketiganya.
Alena menggeram kesal, berani sekali gadis itu menyela ucapannya. Ia akan melakukan sesuatu agar Kelva bisa menjadi miliknya. Yah harus melakukan sesuatu, seringai kejam timbul di bibir Alena yang terpoles lipstik merah membuat Tiara dan Mike merinding melihatnya.
Lia memeluk lengan Kelva saat beberapa karyawan Kelva menatapnya. Kelva menyadari itu, ia berdehem sejenak.
“Tolong mata kalian di jaga” ucap Kelva. Semuanya tersentak kaget dan segera mengalihkan tatapan.
“Tenang ya, nggak ada yang jahat kok” ucap Kelva mengusap jari Lia yang bergetar.
“Laper” bisik Lia, dia masih lapar karena acara makannya terganggu oleh ulah Alena tadi.
“Mau makan apa? makan di ruangan aku aja ya?” ucap Kelva. Lia mengangguk.
“Pulangnya nanti aja, nggak papa kan? Aku mau ngajak ke rumah Ibu katanya dia pengen ngobrol sama kamu” ucap Kelva.
“Udah izin sama Bunda?” tanya Lia.
“Udah tadi, baju kamu udah aku siapin juga di mobil” ucap Kelva menuntun Lia memasuki ruangannya.
Kelva memesankan Sate ayam, Soto, Bakso dan es teh unuk Lia. ia akan membuat Lia kembali berisi, tidak kurus seperti sekarang. Kelva melanjutkan kerjanya sementara Lia memakan makananya dengan senang. Seperti anak kecil yang baru saja mendapat mainan.
“Kelva...” Alena masuk ke ruangan Kelva tanpa mengetuk pintu, ia memincing tajam saat melihat Lia yang juga menatapnya.
“Kenapa?” tanya Kelva mengalihkan pandangannya dari Dokumen yang ia baca, menyerngit heran saat melihat pakaian Alena. Kemeja ketat yang sengaja di buka kancing atasnya, rok hitam span yang di naikkan sepertinya
itu terlihat dari adanya lipatan di bagian pinggang. bukannya pakain wanita itu tadi masih normal normal saja,
“Nggak, cuman mau nemenin kamu aja” ucap Alena berjalan mendekati Kelva.
“Lanjutin kerja sana” ucap Kelva malas.
“Nggak malas, kepala aku sakit ngeliat monitor terus” keluah Alena dengan manja.
Uhuk Uhuk
Kelva segera mendekati Lia yang tersedak meihat kelakuan Alena. Kelva membantu Lia meminum es tehnya.
“Pelan pelan makannya” ucap Kelva.
“Uhuk...” Lia mengatur tenggorokannya yang terasa panas.
“Pelan pelan” ucap Kelva. Lia menghela napas dan kembali memakan soto miliknya yang masih tersisa.
“Kelva...” panggil Alena. Kelva mengabaikan, ia masih menatap Lia.
“Kenapa? Mau?” Lia menyodorkan sumpit yang terdapat mie ke depan bibir Kelva. Kelva dengan senang menerima suapan itu membuat Alena geram.
“Kelva...” bentak Alena membuat Kelva menoleh.
“Apa?” tanya Kelva tanpa beranjak dari posisinya di samping Lia.
“Kamu kok ngabain aku sih, emang siapa dia? Kayaknya penting banget buat kamu” ucap Alena kesal.
“Dia ini-“
“Yo guys Bayu yang ganteng datang” Kedatangan Bayu menghentikan ucapan Kelva.
“Sumpah gue nggak kenal dia” ucap Siska yang masuk mengikuti Bayu.
“Liaa gue kangen” ucap Siska memeluk Lia, sudah seminggu mereka tidak bertemu karena kesibukan Siska yang bekerja membantu Bayu.
“Walah Kel lo nyewa cewek? Beh parah lo di depan Lia lo nyewa cewek” ucap Bayu saat melihat Alena.
“Lo nyewa cewek? Sini ‘itu’ lo gue tebas” ucap Siska menatap Kelva horor.
“Gila, nggak lah ngapain gue nyewa cewek dia itu karyawan gue” ucap Kelva meringis membayangkan Siska benar benar memotong ‘itu’nya.
“Oh karyawan, dia temen lo yang kemaren kan?” ucap Bayu duduk di samping Kelva mencomot sesendok Bakso.
“Punya gue” ucap Lia merebut mangkuk bakso.
“Iya nyonya iya” ucap Bayu. Lia tidak takut dengan Bayu? Itu karena Bayu sering berkunjung ke rumahnya bersama Siska jadi dia terbiasa.
“Alena kembali bekerja” ucap Kelva. Alena dengan kesal keluar dari ruangan Kelva.
“Dia naksir lo tuh” ucap Bayu setelah meyakini Alena keluar dari ruangan Kelva.
“Dia cuman temen gue” ucap Kelva sambil menyerahkan tisu ke arah Lia.
“Gue ngerasa dia bakal terus deketin lo deh” ucap Siska membantu Lia menghabiskan Baksonya.
“Gue juga ngeras gitu” ucap Kelva.
“Gimana kalo lo umumin aja kalo lo tunangan sama Lia biar dia tau kalo lo udah ada yang punya” ucap Bayu.
“Gue setuju tuh sama Bayu” ucap Siska.
“Tapi waktu yang pas itu kapan?” tanya Kelva.
“Oh iya, Minggu depan Bang Hanhan mau nikah sama Cantika, nanti malem lamarannya. Ini undangannya” ucap Lia menyerahkan undangab Kepada Bayu dan Siska.
“Sial, udah mau nikah aja nih anak” ucap Bayu menatap undangan tersebut. Undangan yang terukir indah nama Luhan dan Cantika. Tidak lupa foto preweding mereka yang bagus bagus.
“Aku ikut lamarannya yah? Mau liat” ucap Kelva.
“Boleh, bareng aja nanti malem” ucap Lia tersenyum ke arah Kelva.
TBC