My Ketos My Love

My Ketos My Love
Twelve



Lia mematut dirinya di cermin, seragam sekolah sudah terpasang lengkap di tubuhnya. Ia meraih sisir untuk menyisir rambut panjangnya yang baru selesai ia keringkan.


“Udah rontok” gumamnya saat melihat ada beberapa rambutnya yang mulai rontok akibat efek dari kemoterapi yang ia lakukan beberapa waktu lalu. Menggulung rambut yang sudah rontok itu dan membuangnya ke tempat sampah. Lia menatap cermin sejenak dan tersenyum manis, ia meraih tas punggungnya dan turun menuju ruang makan untuk sarapan.


“Pagi semua...” sapa Lia dengan senyum manisnya.


“Pagi sayang” Herman dan Mersa.


“Pagi kembaran cantikku” ucap Luhan. Lia memukul pelan bahu Luhan dan menarik kursi yang tepat berada di samping Luhan. Meraih roti bakar yang di sodorkan oleh Mersa, roti bakar kesukaanya dengan selai kacang.


Ting Tong


“Biar Bunda yang bukain” ucap Mersa seraya bangkit dari duduknya.


Cklek


“Pagi tante” sapa Kelva dengan ramah.


“Aduh mau jemput Lia ya?” goda Mersa.


“Hehehe ya gitu deh tante, Lianya belum berangkat kan tante?” tanya Kelva.


“Belum kok, dia masih sarapan ayo masuk dulu kita sarapan sama sama” ucap Mersa.


“Eh? Nggak usah tante, Kelva udah sarapan tadi” ucap Kelva.


“Yaudah, tunggu Lia di ruang tamu aja” ucap Mersa yang diangguki oleh Kelva.


Kelva menunggu dalam diam, ia mengedarkan pandangannya ke sekitar ruang tamu itu. Banyak figura foto yang ditempel di dinding dan di taruh di meja, mulai dari foto masa kecil Lia dan Luhan hingga remaja. Ada juga foto keluarga di sana yang di pasang di dinding tepat di atas meja tv. Di foto itu terlihat Mersa dan Herman yang duduk di dua sisi dengan Luhan dan Lia di tengah. Herman tepat di samping Lia dan Mersa tepat di samping Luhan. Foto itu sepertinya di ambil saat Lia dan Luhan baru masuk SMA. Ada juga foto Luhan dan Lia dengan seorang pemuda yang lebih tua dari mereka. Siapa? Itulah yang ada di otak Kelva. Ia tidak pernah melihatnya.


“Maaf lama” ucap Lia memasuki ruang tamu dan mendekati Kelva. Kelva tersenyum saat melihat Lia yang nampak kerepotan memasang anting antingnya.


“Sini aku bantuin” ucap Kelva membantu Lia memasang anting antingnya.


“Ekhm maaf ganggu nih tapi, cuman mau ngingetin kalo bel masuk 15 menit lagi” ucap Luhan.


“Lo mah bilang aja iri” ucap Kelva.


“Iri? Sorry nih, gue udah punya gebetan” ucap luhan sombong.


“Gebetan tapi nggak berani ngajak ngomong” ucap Lia. Luhan menatap Lia datar, rasanya ada yang menusuk tepat di hatinya saat mendengar ucapan Lia yang tepat sasaran.


“Udah ah, jangan nindas jomblo yuk berangkat” ucap Kelva menggandeng lengan mungil Lia. Mereka berjalan keluar setelah pamit kepada Herman dan Mersa, meninggalkan Luhan yang pundung.


“Liat tuh Lia aja udah dapet pacar lah kamu belum bawa satupun cewek buat Bunda nilai jadi mantu” ucap Mersa.


“Anak siapa sih? Dulu aja Ayah populer nggak kayak kamu deket sama cewek satu aja nggak” ucap Herman sakartis.


“Hujat aja terus akumah sabar” ucap Luhan kesal, ia keluar rumah dan melaju ke sekolah. Herman dan Mersa hanya mengedikkan bahu acuh melihat tingkah putra mereka.


.


.


.


Siska menatap ban mobilnya yang kempes, 10 menit lagi bel berbunyi dan jaraknya dengan sekolah saat ini masih lumayan jauh. Menghela nafas gusar dan menoleh kiri kanan berharap ada angkutan umum.


Tin Tin


Siska melihat sebuah motor hitam berhenti tepat di depan mobilnya. Ia seperti mengenal pengendara motor tersebut. Dan benar dugaan Siska saat sang pengendara membuka kaca helmnya.


“Kenapa mobil lo?” tanya Bayu.


“Bannya kempes” jawab Siska.


“Ya udah bareng gue aja, bentar lagi bel” ucap bayu.


“Bentar, gue nelpon montir langganan gue dulu” ucap Siska. Siska menelpon montir langganannya untuk datang dan menjemput mobilnya. Ia lalu naik ke boncengan belakang bayu.


“Pegangan, ntar jatoh lo duduk cewek itu” ucap Bayu. Siska memegang bahu Bayu, membuat Bayu tersenyum di balik kaca gelap helmnya. Sedangkan Siska sudah menahan rona merah di wajahnya.


‘Bersyukur banget ban mobil kempes’ Batin Siska. Bayu melajukan motornya dengan kecepatan penuh karena tidak mau terlambat, tapi sayang saat tiba ternyata gerbang sekolah sudah tutup.


“Hadeh telat” ucap Bayu.


“Maaf ya, ini salah gue kalo aja lo nggak nebengin gue mungkin lo nggak bakal telat” ucap Siska merasa bersalah.


“Santai aja, lagian gue juga udah sering telat” ucap Bayu sambil mengacak rambut Siska gemas. Wajah Siska merona hebat, ia segera menutup wajahnya agar Bayu tidak mengetahui bahwa ia sedang merona. Beberapa murid yang terlambat nampak mulai bermunculan.


“Wah banyak juga yang telat” Kelva membuka gerbang sekolah, ia memperhatikan beberapa murid yang telat matanya menangkap Bayu dan Siska.


“Ayo masuk semua, Bu ketos udah nunggu di lapangan” ucap Kelva. Semua murid perlahan masuk ke dalam gerbang termasuk Bayu dan Siska. Lia menghitung berapa banyak murid yang terlambat, ia berhenti di tepat di hadapan Siska.


“Loh? Siska telat? Tumben?” ucap Lia bingung.


“Ban mobil gue kempes” ucap Siska, Lia mengangguk mengerti.


“Sayang nih ada lagi” ucap Kelva sambil menggiring beberapa pemuda dengan cambuk yang pernah Lia pakai dulu saat pertama kali mereka bertemu.


“Hadeh, enaknya kalian di apain nih?” ucap Lia berusaha berpikir hukuman apa yang tepat untuk mereka yang terlambat. Kelva mendekat kepada Lia dan membisikkan sesuatu, Lia nampak mengangguk mengerti.


“Oke hukuman kalian bersiin perpustakaan di lantai bawah” ucap Lia. Semuanya terdiam, membersihkan perpustakaan di lantai bawah adalah hal yang paling di hindari karena perpustakaan itu begitu luas dan berdebu.


“Mampus lo”ucap Kelva ke arah Bayu yang menatapnya tajam.


“Kelva, mau aku hukum juga? Jangan ganggu temen sendiri” ucap Lia.


“I-iya sayang” kini giliran Bayu yang tertawa nista.


.


.


.


Lia menatap Siska yang tersenyum tidak jelas, ia mengira mungkin Siska kerasuka penunggu perpustakaan saat bersih bersih tadi. Saat ini keduanya sedang berada di kantin karena sekarang sedang jam istirahat.


“Kenapa lo?” tanya Lia.


“Hehehe Lia makasih yah hukumannya” ucap Siska dengan aura berbunga bunga.


“Hus hus keluar dari badan Siska dasar setan genit” Lia mengguncang bahu Siska dengan kencang tapi, Siska semakin tertawa aneh.


“Sayang...” Kelva muncul bersama Reza dan Bayu.


“Huee Kelva, Siska kerasukan” ucap Lia menatap Kelva dengan tatapan sedih layaknya anak kucing. Kelva melihat ke arah sepupunya yang tersenyum malu malu ke arah Bayu.


“Sayang, Siska nggak kerasukan dia cuman lagi masa merah muda” ucap Kelva.


“Beneran?” tanya Lia.


“Iya” jawab Kelva, ia duduk di samping Lia diikuti Reza dan Bayu yang duduk di dekat Siska.


“Mau aaa...” Lia membuka mulutnya meminta donat yang Kelva beli. Kelva dengan gemas menyuapi Lia yang suapan besar hingga pipi Lia menggembung karena kepenuhan.


‘Dasar bucin’ dengus Bayu dan Reza.


“Oh itu kebetulan tadi gue ngeliat dia lagi kebingungan gitu di inggir jalan” ucap Bayu. Kelva mengangguk mengerti, ia kembali memotong donat dan menyuapi Lia. Reza menatap Kelva dan Lia dengan tatapan yang sulit diartikan, ia memejamkan mata sejenak dan menghela nafas berat.


“Oh iya Kel, nanti ikut gue sama Reza nggak?” tanya Bayu.


“Kemana?” tanya Kelva mengelus kepala Lia yang bersandar di bahunya. Sepertinya gadis itu sudah puas dengan donat yang Kelva berikan padanya.


“Biasa, tempat tongkrongan” ucap Bayu.


“Nanti gue nyusul udah ngater Lia pulang” ucap Kelva.


“Mau ikut” rengek Lia membuat Kelva gemas.


“Iya, nanti aku ajak” ucap Kelva. Sedangkan Siska, Bayu dan Reza menatap keduanya seolah berkata ‘Dunia serasa milik berdua, inget coy ada jomblo di sekitar kalian’.


“Oh ya, gue nggak ngeliat Luhan dari tadi” ucap Bayu.


“Bang Hanhan lagi di ruang musik, katanya mau belajar main gitar” ucap Lia.


“Gitar? Sejak kapan luhan suka gitar?” tanya Reza angkat bicara.


“Nggak tau” jawab Lia. Kelva menatap Reza dengan tatapan menelisik, ia sedikit curiga dengan Reza karena temannya itu jadi agak pendiam sejak ia jadian dengan Lia.


.


.


.


Bel pulang sudah berbunyi, Kelva dan Lia sedag menunggu Siska, Bayu dan Reza di parkiran. Kelva membuka bagasi mobilnya dan meraih sesuatu di dalam keranjang yang ada di dalam mobilnya.


“Nih ganti dulu gih, nanti seragam kamu kotor” ucap Kelva menyerahkan kemeja miliknya yang ada di dalam mobil.


“Ganti di mobil sana, aku tunggu di luar” ucap Kelva, Lia mengangguk dan mulai memasuki mobil. Cukup lama Kelva menunggu sampai ia mendengar suaar Lia yang sudah mengizinkannya masuk. Wajah Kelva memerah, tubuh mungil Lia terbungkus kemeja kebesaran milik Kelva yang seharusnya hanya berlengan pendek menjadi berlengan sampai ke siku saat Lia memakainya. Sial, kekasihnya itu nampak menggemaskan.


‘Tahan Kel tahan’ batin Kelva.


“Bajunya kegedean” ucap Lia.


“Udah, pakek aja dari pada nanti seragam kamu kotor” ucap Kelva menaruh tas Lia di kursi belakang, ia meraih sebuah bantal yang sering ia gunakan jika ingin istirahat di mobil.


“Nih, kalo kamu capek bisa tidur bentar nanti aku bangunin” ucap Kelva.


“Aku belum ngabarin Bunda” ucap Lia.


“Biar nanti aku kabarin” ucap Kelva, ia megusap kelapa Lia yang bersandar pada sandaran mobil yang sudah Kelva beri bantal.


“Tidur dulu, kamukan baru udah minum obat” ucap Kelva melihat Lia yang menguap kecil karena pengaruh obat.


Setelah memastikan Lia sudah tertidur, Kelva mengecek pesan dari Bayu yang menyuruhnya langsung area tongkrongan. Kelva melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, ia memberhentikan terlebih dahulu mobilnya didepan sebuah cafe untuk memesan makanan dan beberapa jenis donat. Untuk minuman Kelva hanya membeli air mineral.


“Yo Bro kok lama?’ tanya Bayu saat Kelva turun dari mobilnya.


“Beli makanan dulu tadi, Lia kalo bangun nanti pasti nanyain makanan” ucap Kelva.


“Mana Lia?” tanya Siska yang ikut besama Bayu.


“Ada lagi tidur, biarin dulu jangan ganggu” ucap Kelva.


“Kelva...” lirih Lia yag terdengar oleh Kelva karena ia berdiri di samping mobil.


“Iya sayang?” sahut Kelva. Lia berusaha mengumpulkan nyawanya, matanya masih menyipit karena mengantuk.


“Pipis” ucap Lia, Kelva menuntun Lia keluar dan membawa gadis itu menuju toilet umum. Setelah menunggu cukup lama, Lia keluar dengan wajah yang basah dengan air. Sepertinya ia habis mencuci muka.


“Ada tisu?” tanya Lia.


“Ada di mobil” jawab Kelva.


Lia mengelap wajahnya dengan tisu yang ada di mobil Kelva, Siska mendekati Lia dengan sekotak donat yang Kelva berikan kepadanya tadi.


“Nih makan” ucap Siska, Lia megambil satu donat dan memakannya sambil memperhatikan Kelva dan teman temannya sedang bermain skate board.


“Lia” Lia menoleh saat mendengar suara Luhan. Luhan baru saja tiba dengan motor ninja hijaunya, ia mendekati Lia dan mengambil satu donat.


“Tangannya kenapa?” tanya Lia saat melihat banyak luka di jari jari Luhan.


“Kena senar gitar” ucap Luhan.


“Awas Bunda tau nanti” ucap Lia.


“Tenang aja” ucap Luhan.


“Mau nyoba?” tawar Luhan menunjuk tempat penyewaan sepatu roda. Lia nampak berpikir sejenak, ia menatap Luhan sebentar.


Kelva melakukan beberapa aksi dengan skate boardnya, matanya melirik ke arah mobilnya dan hanya mendapati Siska yang sedang duduk santai di bagian depan mobilnya. Ia mencari keberadaan Lia, tapi tidak menemuknnya dimanapun.


Wushh


Sesuatu melewati Kelva dengan cepat, Kelva mencari apa gerangan yang melewatinya. Matanya membola kaget saat melihat siapa yang berdiri di hadapannya dengan sepatu roda hitam tidak lupa dengan alat keamanan seperti helm dan pelindung siku serta lutut.


“LIA???” Kelva terkejut tentu saja, Lia sedang berdiri dengan sepatu roda tanpa ada tanda akan terjatuh sedikitpun. Lia melakukan beberapa aksi di lintasan yang tersedia, rasanya ia sudah lama tidak bermain sepatu roda.


“Jangan kaget, diamah emang jagonya main sepatu roda” ucap Luhan yang berdiri di


samping Kelva.


“Udah sana, deketin ajak tanding pasti dia seneng” ucap Luhan mendorong Kelva.


Kelva dengan pas menangkap tubuh Lia yang sedang asik bergerak. Dia memutar tubuh Lia keduanya saling berhadapan.


“Kok nggak bilang kalo kamu jago main sepatu roda?” tanya Kelva.


“Kamu nggak nanya"jawab Lia. Kelva Terkadang merutuki kebodohannya yang tidak pernah bertanya apa saja yang bisa Lia lakukan.


“Mau dansa?” ajak Kelva.


“Dansa? Makek skeat board sama sepatu roda?” tanya Lia. Kelva mengangguk, Lia pun ikut mengangguk. Keduanya menggerakkan diri dengan melodi yang mereka putar di otak masing masing, mengabaikn keadaan sekitar yang nampak seperti para penonton drama romantis.


“Terkadang pengen marah sama Keromantisan mereka yang nggak inget tempat” ucap Luhan.


“Coba hargai perasaan para jomblo yang melihat” ucap Siska..


“Kapan gue bisa gitu” ucap Bayu yang suda bosan dengan status jomblonya.


“Sama Siska aja nih” ucap Luhan mendororng Siska ke arah Bayu, Bayu dengan sigap menangkap tubuh Siska. Keduanya saling tatap, wajah mereka memerah. Siska segera menjauhkan tubuhnya dari Bayu.


“Dasar Tsundere” dengus Luhan. Reza menatap keduany dalam diam.


‘Mungkin emang sejak awal perasaan ini salah...’


TBC


Maaf Typo