My Ketos My Love

My Ketos My Love
Eight



Kelva menerobos hujan yang sedang deras. Tubuhnya basah kuyup, motornya sesekali tergelincir di jalan yang licin. Tujuan Kelva saat ini adalah rumah Lia, dia terus merutuki kebodohannya yang baru sadar bahwa rumah Lia sama dengan Luhan. Pantas saja dia merasa tidak asing saat menjemput Lia waktu itu. Saat sampai, Kelva memarkirkan motornya sembarang. Ia segera memencet bel rumah Lia.


Ting Tong


Tidak ada yang menyahut sama sekali. Kelva terus memencet tombol bel hingga akhirnya Luhan yang membuka pintu.


"Ngapain lo kesini?" tanya Luhan datar.


"Mana Lia?" tanya Kelva tidak sabaran.


"Dia nggak ada" jawab Luhan tanpa mempersilahkan Kelva masuk.


"Gue mau ketemu sama dia" ucap Kelva.


"Udah gue bilang dia nggak ada" ucap Luhan sambil menutup pintu.


"Gue nggak bakal pergi sebelum ketemu sama Lia" teriak Kelva yang terdengar kecil karena beradu dengan suara hujan.


"Dasar keras kepala" dengus Luhan. Luhan menuju kamarnya untuk memantau Kelva. Bisa ia lihat Kelva berdiri di tengah hujan sambil menatap pintu rumahnya.


"Lo bakal tau kalau udah waktunya" gumam Luhan.


~


"Hoek Hoek ugh" Lia menutup bibir mungilnya setelah memuntahkan isi perutnya ke dalam ember kecil yang telah di sediakan. Di sampingnya sang ibu sedang memijit tengkuk putrinya. Bau obat-obatan tercium di sekitar mereka, dimana lagi kalau bukan rumah sakit.


"Udah?" tanya Mersa. Lia mengangguk sambil menikmati usapan lembut sang ibu di kepalanya.


"Istirahat lagi ya" ucap Mersa. Lia menggeleng, tubuhnya sudah lelah di bawa tidur.


"Duduk aja Bun" lirih Lia. Mersa mengatur ranjang rumah sakit agar Lia merasa nyaman. Setelah itu, Mersa membereskan bekas muntahan putrinya.


"Minum dulu sayang" Mersa membantu Lia meminum air putih yang ada di meja samping ranjang.


"Bunda, bang Hanhan nggak kesini?" tanya Lia yang tidak mendapati sosok Luhan di ruangannya.


"Dia pulang dulu, mau ambil baju ganti" ucap Mersa sambil duduk di kursi.


"Ayah?" tanya Lia.


"Ayah lagi ada kerjaan, nanti ke sini jam lima" ucap Meraa. Lia mengangguk, dia menatap jendela yang berembun karena hujan. tangannya terulur menyentuh permukaan kaca yang dingin.


Pikirannya berkelana, dia baru satu hari selesai melakukan Kemoterapi untuk Leukimia yang ia derita. Lia menatap embun di kaca sejenak dan menoleh ke arah sang Ibu.


"Bunda, HP Lia mana?" tanya Lia, ia ingin mengabari sahabatnya Siska.


"Ada di tas Bunda, kamu mau main?" ucap Mersa.


"Mau ngabarin Siska Bun" ucap Lia. Mersapun mengambil ponsel putih milik putrinya.


"Nih, kabarin baik-baik jangan sampe dia panik" ucap Mersa. Lia mengagguk, ia menekan tombol power dan mencari nomor Siska.


~


Tubuh Kelva menggigil, dia sudah dua jam berdiri di tengah hujan. Tapi, belum ada hasil apapun. Tubuhnya lemas, ia belum makan siang tadi setelah mendapat fakta yang mengejutkan dari Luhan. Kelva menunduk, kepalanya pening dan terasa berat. Tiba-tiba, ia tidak merasakan adanya air hujan yang membasahi tubuhnya.


"Kalo lo mau sakit, jangan disini ntar gue yang ribet" ucap Luhan sambil memayungi Kelva.


"Gue mau ketemu Lia" ucap Kelva.


"Masuk dulu, nanti kita omongin" ucap Luhan.Kelva segera masuk, ia berharap bisa bertemu Lia tapi sayang rumah itu sepi. Hanya ada Luhan dan Kelva.


"Nih ganti" Luhan menyerahkan baju miliknya yang bisa di kenakan oleh Kelva.


"Lia mana?" tanya Kelva.


"Ganti" ucap Luhan datar. Kelva segera meraih baju yang di sodorkan Luhan dan menuju kamar mandi untuk mengganti pakaiannya, setelah itu ia kembali mendekati Luhan yang sedang duduk di sofa ruang tamu.


"Duduk" Kelva segera duduk saat Luhan menatapnya datar.


"Lo nggak usah nyari Lia" ucap Luhan dingin.


"Nggak, dimana dia? gue mau ngomong" ucap Kelva.


"Dia nggak ada disini" ucap Luhan.


"Dimana dia?" tanya Kelva tidak sabaran.


"Gue nggak bisa ngasih tau" ucap Luhan santai.


"Dimana dia?" tanya Kelva mencengkram kerah kaus polos yang di pakai Luhan.


"Lo cari aja sendiri" ucap Luhan menepis tangan Kelva.


"Dan gue harap, lo nggak bakal temuin Lia" ucap Luhan berlalu meninggalkan Kelva yang mematung di tempat.


Kemana? Kemana dia harus mencari Lia?. Luhan bungkam tentang keberadaan Lia, seakan-akan menutupi sesuatu. Kelva bertekat akan menemukan Lia bagaimanapun caranya.


~


Siska meminta Bayu dan Reza mengantarnya ke Rumah Sakit. Setelah mendapat pesan dari Lia yang mengabarkan bahwa gadis itu sedang dirawat membuat Siska panik. Saat tiba di rumah sakit, ia segera bertanya pada resepsionis dimana ruangan Lia. Setelah tahu, ia segera berlari diikuti Bayu dan Reza di belakanganya.


"Lia!!!" Siska segera memeluk Lia yang sedang duduk di atas ranjang.


"Ish ucap salam dulu kek kalo masuk" sungut Lia gemas.


"Lo nggak papa? sehat? gimana Kemonya?" tanya Siska beruntun.


"Nanya satu-satu dong" dengus Lia, matanya melirik ke arah Bayu dan Reza. Memberi senyum sebagai sapaan yang di balas anggukan oleh dua pemuda itu.


"Gue kan khawatir sama lo" ucap Siska dengan air mata yang menggenang di pelupuk matanya.


"Gue baik kok, duh jangan nangis dong liat tuh muka lo makin jelek" ucap Lia.


"Huwee biarin" Siska memeluk Lia erat sambil menangis.


"Ish labilnya kumat" ucap Lia menepuk punggung Siska pelan.


"Iya, tak kirain liburan ternyata sakit toh" ucap Reza.


"Bunda mana?" tanya Siska.


"Lagi makan di kantin" jawab Lia. sesekali Lia melirik ke arah pintu berharap seseorang menjenguknya.


"Ngarep Kelva ya" goda Siska menyadari gelagat Lia.


"Nggak" ucap Lia memalingkan wajahnya yang merona tipis.


"Ih malu nih ye" goda Siska.


"Tadi sih mau ngajak Kelva juga, tapi mendadak dia ngilang nggak tau kemana" ucap Reza yang diangguki Bayu.


"Loh? ada temennya Lia?" ucap Mersa yang baru kembali dari kantin rumah sakit.


"Bundaaa, Siska kangen" Siska menghambur kepelukan Mersa.


"Aduh anaknya Bunda" ucap Mersa membalas pelukan Siska.


"Tante" Sapa Bayu mencium punggung tangan Mersa diikuti Reza. Seketika ruang rawat Lia di penuhi obrolan yang banyak diiringi gelak tawa. Lia tersenyum, setidaknya dirinya merasa terhibur dengan kelakuan Bayu yang membully Reza serta Siska yang membantu Bayu.


"Kangen" gumam Lia menatap hampa ke depan.


~


Aisyah membawa parsel buah dan rantang makanan. Ia berjalan menuju salah satu ruang rawat. Ia sesekali tersenyum saat berpapasan dengan beberapa orang. Ia membuka pintu ruangan bernomor 271 dan mendapati sepasang ibu dan anak yang sedang mengobrol.


"Eh? kayaknya ganggu nih" ucap Aisyah.


"Loh Aisyah? nggak kok nggak ganggu" ucap Mersa menyambut kedatangan temannya itu.


"Hai cantik, gimana kabarnya?" tanya Aisyah kepada Lia.


"Baik tante" jawab Lia dengan senyuman. Ia sudah mengenal Aisyah lama, sejak Aisyah berkunjung ke rumahnya dalam rangkan arisan ala ibu-ibu.


"Nih tante bawain buah sama makanan" ucap Aisyah.


"Duh jadi ngerepotin" ucap Mersa tak enak.


"Santai ajalah, nih makan" ucap Aisyah menyerahkan rantang kepada Mersa.


"Makasih lo Ai" ucap Mersa, Aisyah tersenyum lalu memandang Lia.


"Lia mau nyicip masakan tante?" tawar Aisyah.


"Mau tante" jawab Lia. Aisyah membantu Mersa membuka rantang tingkat itu yang berisi semangkuk sup ayam dengan sayuran, tempe dan tahu goreng dan ayam bakar.


"Nih coba" Aisyah menyuapi Lia sepotong daging ayam Bakar.


"Enak tante" ucap Lia saat merasakan cita rasa bumbu yang pas pada ayam bakar tersebut.


"Abisin dong kalau enak" ucap Aisyah kembali menyuapi Lia.


'Kelva kamu milih cewek yang pas' Batin Aisyah menatap Lia dengan senyun tulus. Tidak bisa ia bayangkan kalau putranya itu kehilangan gadis di hadapannya kini. Sedangkan tidak ada kabar beberapa hari saja Kelva sudah seperti orang gila.


~


Kelva mengusap hidungnya yang memerah, dia terkena flu setelah hujan-hujanan kemarin. Kepalanya tersa berat, ia sudah meminum obat penurun panas dan efeknya belum ada sama sekali. Ingin meminta tolong sang Ibu tapi Ibunya itu tidak ada di rumah.


"Sial, kalo gini malah nyusain buat nyari Lia" geram Kelva.


Pening hebat melanda kepala Kelva, matanya terpejam dengan nafas memburu. Aisyah yang baru pulang dari menjenguk Lia segera menuju kamar putranya.


"Ya ampun" Aisyah panik saat melihat wajah memerah Kelva. Ia mengecek suhu tubuh Kelva dengan punggung tanganya.


"Kamu demam sayang" Aisyah segera mengambil air hangat dan handuk untuk mengompres Kelva.


"Bu" Lirih Kelva dengan mata terpejam.


"Iya sayang ada apa?" tanya Aisyah lembut.


"Lia" lirih Kelva. Aisyah menatap putranya sendu, putranya itu memang belakangan ini sering bercerita tentang merenggangnya hubungannya dengan Lia. Tapi, Aisyah tidak menyangka bahwa dampaknya akan seperti ini.


"Cepet sembuh" Aisyah mengusap sayang kepala Kelva.


"Lia! Lia! Lia!" Kelva terus memanggil Lia dengan mata terpejam.


"Kelva sadar nak sadar" Aisyah mencoba membangunkan Kelva.


"Nggak, jangan pergi Lia!" Kelva kembali menginggau. Nafasnya memburu, matanya terbuka. Mata Kelva memerah karena panas, tatapannya kosong.


"Lia! Lia!" Kelva menatap sekeliling dengan kosong.


"Sayang Lia nggak ada" ucap Aisyah lembut.


"Ibu, Lia mana?" tanya Kelva menatap Ibunya.


"Lia lagi sekolah, kamu istirahat ya nanti dia kesini" ucap Aisyah terpaksa berbohong.


"Kesini?"


"Iya, asal Kelva sembuh" ucap Aisyah.


Kelva nampak antusias, ia segera berbaring dan menyuruh Ibunya mengompresnya lagi. Aisya menuruti kemauan Kelva, yang penting anaknya itu sehat.


"Kamu bakal ketemu dia sayang" gumam Aisyah dengan senyum lembut khas seorang Ibu.


"Kok perasaan aku nggak enak ya?" gumam Lia menggenggam erat buu novel yanh sedang ia baca.


TBC


Maaf typo 🙏🙏🙏🙏