
Kelva membantu Lia turun dari mobil, gadis itu sudah di perbolekan pulang seteah di yakini kondisinya sudah stabil. Saat memasuki rumah, Lia mendudukkan diri di sofa ruang tamu di susul oleh Kelva.
“Kalian duduk dulu aja, Bunda mau narok tas Lia di kamar” ucap Mersa membawa tas yang berisi pakaian Lia selama di rumah sakit.
“Lia, Ayah ke kantor lagi. Jangan lupa minum obat” ucap herman mendekati Lia dan mencium dahi anaknya dengan sayang.
“Hati-hati Yah” ucap Lia.
“Capek banget” gumam Kelva memijat bahunya, menemani Lia beberapa hari di rumah sakit dan tidur di sofa membuat semua tubuhnya sakit. tapi itu bukan berarti dia menyesal menjaga Lia.
“Istirahat aja dulu, numpang di kamar bang Hanhan” ucap Lia menatap Kelva.
“Lia bener, sana istirahat di kamar Luhan” ucap Mersa yang mendudukkan diri di sofa singel sambil menyalakan tv.
“Ah nggak usah tante, bentar lagi juga mau pulang” ucap Kelva.
“Sini...” Lia menurunkan dirinya dan duduk di atas karpet berbulu, menepuk pahanya mengkode Kelva. Kelva segera mengikuti Lia duduk di atas karpet dan membaringkan dirinya berbantalkan paha Lia.
“Tidur, mata panda kamu tuh udah tebel banget” ucap Lia menepuk dahi Kelva cukup kuat.
“Ish sayang, sakit...” sungut Kelva.
“Tidur, kalo nggak tidur aku sumpel obat tidur sebotol” ucap Lia.
“Nanti overdosis dong” ucap Kelva.
“Bagus...” jawab Lia.
“Ntar aku mati karena overdosis, kamunya sama siapa?” tanya Kelva menggoda.
“Nyari yang baru, yang lebih ganteng” ucap Lia ketus.
“Ish pengen marah tapi sayang” dengus Kelva.
“Marah aja...” ucap Lia.
“Udah ah, males ribut mau bobo aja” ucap Kelva perlahan memejamkan matanya.
Mersa yang melihat itu hanya bisa menangis karena tidak bisa bermesraan. Sang suami yang sibuk bekerja membuatnya merasa iri.
Terdengar suara Pintu yang di buka.
“Liaaa, maaf nggak bisa ikut jemput” uca Luhn datang membawa bingkisan martabak.
“Maaf, siapa ya?” tanya Lia polos.
“Ngambek nih? Ugh jangan ngambek lah nih martabak kacang” ucap Luhan.
“Mau nyogok?” cibir Lia menerima bingkisan tersebut.
“Kenapa tuh?” tanya Luhan menunjuk Kelva yang tertidur.
“Kecapekkan” jawab Lia.
“Permisi, maaf mengganggu” sebuah suara lembut mengalihkan atensi semuanya. Di ambang pintu memasuki ruang tamu berdiri seorang gadis cantik.
“Oh iya, ini Cantika pacar aku” ucap Luhan.
“Laku juga kamu” sindir Mersa.
“Hmmm kirain bakal jadi bujang lapuk” ucap Lia.
“Muka biasa aja kok ada yang mau sih?” ucap Mersa.
“Makek pelet apa bang?” tanya Lia.
“wah parah nih anak makek pelet harus coret dari KK nih” ucap Mersa.
Luhan menatap datar Lia dan Mersa yang kompak membullynya, oh ayolah dia menjomblo salah. Memiliki pacar salah, rasanya Luhan ingin membacok Lia dan Mersa lalu membuangnya ke sungai amazon agar di makan oleh binatang buas disana. Ok abaikan, mana mungkin Luhan membunuh dua wanita tersayangnya.
“Hujat aja terus, Bully aja terus sabar akutuh” ucap Luhan. Cantika tertawa pelan, keluarga kekasihnya itu lucu ternyata.
“Wajah kamu emang wajah orang yang harus di hujat” jawab Mersa seadanya.
“Nah cantik, ayo duduk sini siapa nama kamu” tanya Mersa lembut kepada cantika.
“Cantika Aruna tante” jawab Cantika mencium punggung tangan Mersa dengan sopan.
“Nama tante Mersa, yang itu adik kembar Luhan namanya Lia terus yang itu mantu tante Kelva” ucap Mersa.
“Bunda...” wajah Lia memerah saat sang Bunda menyebut Kelva menantu.
“Aduh, kamu itu cantik kok mau sih sama anak tante yang nauzubillah" tanya Mersa.
“Iya bener, bang Hanhan tuh tipe anak cowok mental ager ager. Letoy” ucap Lia.
“Hujat aja terus...” Luhan pundung di pojokkan karena Bunda dan adiknya masih saja menghujatnya.
.
.
.
Lia dan Cantika sedang mengobrol berdua di ruang tamu, Mersa tadi pamit pergi ke arisan teman sosialitanya. Kelva masih tertidur berbantalkan paha Lia dan berselimutkan selimut panjang. Luhan? Dia sedang mandi karena badannya terasa lengket.
“Kalian udah lama pacaran?” tanya Cantika.
“Nggak, baru dua bulan” jawab Lia.
“Pantes masih anget angetnya” ucap cantika.
“Oh iya, makasih ya hadiahnya aku suka” ucap Cantika.
“Santai aja, kebetulan bang Hanhan bilang kamu suka ngelukis yah aku beliin” ucap Lia.
“Semoga kita bisa deket ya Lia” ucap Cantika.
“Lia, makan malam udah siap makan dulu abis itu minum obat” ucap Luhan muncul sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk memberi tahukan bahwa makan malam sudah selesai di masak oleh asisten rumah tangga mereka.
“Iya...” ucap Lia.
“Hey bangun, udah malem” ucap Lia menepuk pipi Kelva. Mata Kelva mengerjab dan menatap Lia dengan mata mengantuk.
“Main sosor aja” Luhan menggeplak kepala Kelva dengan handuk yang ia kenakan untuk mengeringkan rambut.
“Ish lo ngacau” ucap Kelva.
“Sana cuci muka kita makan dulu” ucap Lia. kelva mengangguk dan berjalan ke arah kamar mandi untuk membasuh muka.
“Oh iya, dia siapa?” tanya Kelva duduk di samping Lia sambil menatap Cantika.
“Oh, itu Cantika pacar bang Hanhan” ucap Lia.
“Pfft, gue kira nggak bakal laku lo” ucap Luham.
“Lo ngehujat gue, nggak bakal dapet restu dari gue” ucap Luhan.
“Iya iya...” Kelva lebih memilih fokus pada makanannya.
“Kamu pulang?” tanya Lia di sela sela acara makannya.
“Nginep aja ah besokkan minggu” ucap Kelva.
“Nah kebetulan nih, Cantika juga nginep kita BBQ di taman belakang aja” ucap Luhan.
“Boleh tuh” ucap Kelva.
“Em aku denger kalo malam ini ada hujan meteor, kita sekalian nonton aja” ucap cantika.
“Wah pas banget tuh taman belakang kita kan ngadep langsung ke danau bang jadi pasti keliatan” ucap Lia.
“Tempatnya juga luas, nanti kita nonton sama sama” ucap Luhan.
Sedangkan di tempat lain, tepatnya di dalam sebuah kamar. Dua pria berbeda usi saling berhadapan.
“Permintaan kamu udah selesai...”
.
.
.
Lia dan Cantika duduk di atas Karpet sambil menusuk potongan paprika, kentang, tomat,bawang dan sayuran yang sudah di cuci bersi untuk di bakar nanti. Ada daging sapi, Ayam, dan Sosis yang juga siap untuk di bakar. Luhan dan Kelva menyiapkan bara api dan panggangan.
“Kamu suka ngelukiskan?” tanya Lia yang di angguki oleh Cantika.
“Boleh dong aku ngeliat lukisan kamu” ucap Lia berbinar.
“Ah kebetulan, dua minggu lagi tepatnya hari pertama libur sekolah aku ada pameran di museum kalo mau dateng nanti aku pesenin tiket” ucap Cantika.
“Pameran, wah hebat” ucap Lia kagum.
“Sayang, sayurannya udah?’ tanya Kelva.
“Ini, bakar yang ini dulu sama dagingnya sekalian” ucap Lia memberikan nampan yang sudah terdapat sate sayur.
“Kamu mau pedes atau nggak?’ tanya Kelva.
“Yang banyak sambelnya ya” ucap Lia. Kelva mengangguk dan kemali mendekati Luhan yang sedang mengipas panggangan.
Herman dan Mersa menyusul sambil membawa bantal dan selimut. Hei kalian berdua akan tidur?. Cantika gugup saat bertemu Herman. Herman meneliti Cantika dari bawah ke atas.
“Mas, jangan liatin begitu dia gugup tuh” ucap Mersa membantu Luhan dan Kelva memanggang.
“Kenapa kamu mau sama anak saya? Diakan jelek” ucap Herman.
“Pfft... hidup lo penuh hujatan” ucap Kelva.
“Saya sarankan jangan mau sama dia, dia itu masih suka mengompol saat tidur” ucap Herman.
“Ayahhh” Luhan protes karena ayahnya mengatakan yang tidak tidak tentangnya. Cantika tertawa, ternyata keluarga Luhan cukup menyenangkan jika sudah di kenal.
Kelva menahan kekesalannya saat melihat Herman yang memasang wajah kemenangan karena Lia berbaring di pahanya. Ugh kalau bukan calon mertua rasanya Kelva akan menghabisi wajah yang mengesalkan baginya.
Acara terus berlanjut hingga akhirnya hujan meteor terjadi, semuanya menontong dengan kagum. Luhan menggenggam tangan Cantika, Herman yang memeluk pinggang Mersa dan Kelva yang memeluk bahu Lia. Acara itu di akhiri dengan tidur bersama di bawah langit yang cerah.
Zreshhh
“Kampret ujan” ucap Luhan.
“Sial, kok ujan sih tadikan cerah” umpat Kelva.
Dan yah tidur di luar gagal karena hujan mendadak turun. Padahal sebelumnya langit sangat cerah.
.
.
.
Aisyah menggeram kesal, anak laki lakinya berani sekali menginap di rumah seorang gadis. Ingatkan padanya untuk mencincang anak itu kalau ia mendengar kabar yang tidak menyenangkan nanti.
“Hatsyu...” Kelva mengsuap hidungnya yang gatal, mendadak dirinya merasa merinding.
“Kenapa lo?” tanya Luhan menyerahkan haduk kepada Kelva.
“Kok gue ngerasa bakal ada yang ngabisin gue ya” ucap Kelva.
“Dah lah, sana ganti baju nanti lo masuk angin adek gue yang repot plus mencak mencak nggak jelas” ucap Luhan. Kelva memasuki kamar mandi di kamar Luhan dan bergabti pakaian.
“Nih pakek piyama aku aja” ucap Lia menyerahkan piyama miliknya kepada Cantika.
“Makasih ya...” ucap Cantika menerima piyama pemberian Lia dan menggantinya di kamar mandi.
“Padahal tadi seru banget kok malah hujan sih" gerutu lia menatap jendela kamar yang kacanya di basahi oleh rintik hujan.
Firasatnya mendadak tidak enak.
TBC
Maaf Typo