
Luhan menatap Alena yang bertamu ke rumahnya di tengah malam hanya demi mengetahui keberadaan Kelva dan Lia. Luhan menggeram kesal, jam istirahatnya terganggu karena hal tidak penting.
“Udahlah Mas, kasih tau aja mereka dimana” ucap Cantika berusaha membujuk Luhan.
“Iya, kasih tau aja kamukan suami sepupu saya yang berarti keluarga saya juga. Masa iya dengan keluarga tega nggak ngasih tau” ucap Alena.
“Oh terus Aku dan Lia yang keluarga mendarah daging harus berkhianat begitu? Sudahlah, aku muak” ucap Luhan meraih jaket dan kunci mobilnya. Lebih baik ia pulang ke rumah Mersa dan beristirahat disana,
“Mas, kamu mau kemana?” teriak Cantika.
“Cih, gagal lagi” decih Alena. Dia sudah berusaha menghubungi nomor Kelva dan hanya ada suara operator yang menyahuti.
Luhan mengendarai mobilnya di jalanan yang lumayan sepi, di jam sebelas malam Alena mengganggu waktu irstirahatnya . oh ayolah, tubuhnya lelah setelah bekerja seharian. Luhan menyipitkan matanya saat melihat ada seorang anak kecil yang duduk di pinggir jalan sendirian. Ia memutuskan untuk berhenti.
“Adik kecil, kok kamu ada disini?” tanya Luhan.
“Hiks Om, Naya au puyang” isak bocah perempuan yang menggunakan gaun putih namun nampaknya sudah kotor karena terkena lumpur.
“Eh cup cup cup diem yah, ayo om anter pulang. Rumah kamu dimana?” tanya Luhan menggendong gadis cilik itu.
“Naya ndak au hiks, Naya adi cama Bunda hiks” isak Naya.
“Naya ikut om dulu ya? Nanti kita cari Bunda kamu” ucap Luhan yang di balas anggukan oleh Naya. Luhan membawa Naya ke rumah orang tuanya.
“Astaga Luhan anak siapa yang kamu bawa?” tanya Mersa kaget saat anak sulungnya bertamu dengan seorang gadis kecil.
“Ma, baju Lia waktu masih kecil adakan? Tolong bantuin Luhan mandiin dia” ucap Luhan.
“Dia siapa?” tanya Mersa.
“Nanti Luhan jelasin” ucap Luhan.
“Naya mandi sama nenek dulu ya, om mau nyari Bunda kamu” ucap Luhan.
“Om caliin Bunda Naya campai ketemu” ucap Naya.
~
Herman menatap gadis kecil yang duduk di pangkuannya mengenakan pakaian tidur berupa baju kelinci. Mata bulat itu mengerjab polos menatap Herman.
“Mas jangan liatin dia gitu” tegur Mersa.
“Luhan dia bukan anak kamu kan? Kamu nggak ngehamilin Cantika di luar nikah kan?” tanya Herman tajam.
“Ya nggak lah Ayah” ucap Luhan.
“Terus ini anak siapa?” tanya Herman.
“Anak nemu dijalan” ucap Luhan memejamkan matanya.
“Om, Bunda ana?” tanya Naya.
“Naya sabar ya, nanti Bunda kesini jemput Naya” ucap Luhan. Ia sudah menyuruh polisi mencari keberadaan Ibu dari Naya.
“Nyonya, ada yang bertamu” ucap seorang pelayan.
“Suruh masuk aja mbok” ucap Mersa.
“Bundaaaa...” teriak Naya senang.
“Ya ampun Naya, kamu kemana aja?” seorang wanita muda memeluk Naya.
“Naira?”
“Loh? Pak Luhan?”
“Kalian saling kenal?” tanya Mersa.
“Dia sekretaris aku” ucap Luhan.
“Terima kasih,Bapak sudah menemukan anak saya” ucap Naira.
“Ah sama sama tadi Naya duduk sendirian di pinggir jalan jadi saya ajak pulang soalnya dia nggak inget rumahnya dimana” ucap Luhan menatap Naira.
Mersa menatap interaksi keduanya, dia tidak bodoh dalam mengartikan gerak gerik Luhan yang menunjukkan ketertarikan kepada sekretarisnya itu. Herman sama halnya dengan Alena, dia bisa melihat raut berbeda di wajah putra sulungnya.
Setelah Naira pergi, Mersa dan Herman menahan Luhan yang hendak masuk kamar.
“Kamu nggak pulang? Istri kamu pasti nungguin” ucap Mersa.
“Nggak, Luhan males di rumah” ucap Luhan.
“Bang, jujur sama Bunda. Kamu tertarikkan sama sekretaris kamu” ucap Mersa. Luhan tidak akan berbohong, ketika Mersa sudah memanggilnya Abang itu artinya Mersa sedang serius.
“Iya...” lirih Luhan.
“Nak kamu udah nikah, jangan khianatin istri kamu” ucap Mersa.
“Nggak, Luhan bener” ucap Herman menyahuti.
“Kok gitu Mas? Di keluarga kita nggak ada yang namanya punya dua istri” ucap Mersa.
“Belum saatnya kamu tau sekarang, Biarin Luhan deketin Naira” ucap Herman.
“Ayah bener Bunda, nanti kalo Bunda tau sekarang endingnya nggak bakal seru” ucap Luhan dengan senyum.
~
Lia fokus membentuk pasir pantai menjadi gunung dan orang orangan pasir. Kelva di sebelahny asik meminum air kelapa muda.
“Oh iya, Bulan depan kita di suruh ke Australi” ucap Lia.
“Ngapain?” tanya Kelva.
“Auntie Roseta bakal lahiran bulan besok prediksinya, jadi Grandma mau keluarga semuanya ngumpul” ucap Lia.
“Nanti kita pergi” ucap Kelva.
“Oh iya, kamu mantiin hp kamu ya?” tanya Lia mengambil alih kelapa muda Kelva.
“Kenapa?” tanya Kelva.
“Alena neror aku nanyain kamu dimana” ucap Lia.
“Jangan di ladenin, lagian dia dapet nomor kamu dari mana sih? Udah kayak stalker aja” ucap Kelva.
“Mungkin dari Cantika” ucap Lia.
“Aku kaget loh waktu denger kabar dari Luhan soal Cantika” ucap Kelva.
“Aku juga kaget, nggak nyangka aja dia gitu” ucap Lia.
Kelva memeluk perut rata Lia dari belakang, tangannya mengelus lembut perut itu. Kepalanya menelusup di ceruk leher Lia.
“Aku nggak sabar nunggu perut kamu besar, aku berharap banget anak kita nanti kembar” ucap Kelva.
“Aku mau kembar tiga” ucap Lia.
“Kalo mau kembar tiga harus terus dong bikin adonannya biar beneran jadi” ucap Kelva yang mendapat cubitan gemas dari Lia.
“Ish itumah akal akalan kamu aja, dasar otak Mesum” ucap Lia.
“Mesum sama istri sendiri nggak papa lah” ucap Kelva.
Mereka tertawa, kembali membayangkan hal yang akan terjadi kedepannya.
~
“Kelva kemana sih?” Alena melempar ponselnya begitu saja. Sudah tiga hari lelaki incarannya itu tidak ada kabar dan hilang entah kemana.
“Alena udah dong, Kelva udah nikah stop ngejar dia” ucap Tiara.
“Berisik” ucap Alena kesal.
Sedangkan dilain tempat, Kelva dan Lia sedang dalam perjalanan menuju rumah baru mereka. Lia teridur sepanjang perjalanan karena kelelahan. Saat sampai, Lia kagum melihat keadaan rumah baru mereka yang merupakan rumah impian Lia sedari dulu.
“Kamu suka?” tanya Kelva menarik koper mereka dan menuntun Lia masuk.
“Suka banget, besok beliin bibit bunga sama bibit sayuran aku mau nanem” ucap Lia semangat.
“Siap bu bos” ucap Kelva.
“Wah wah liat ini, pengantin baru pulang dari Honeymoon” Luhan membuka pintu dan menyambut keduanya.
“Bang Hanhan disini?” ucap Lia bingung.
“Yups, yang lain juga ada di dalem. Kelva nyuruh kita semua ngumpul” ucap Luhan.
“Naya, ayo kenalan sama tante Lia dia adik Ayah” ucap Luhan mengankat tubuh Naya ke gendongannya.
“Anak lo?” tanya Kelva.
“Calon...” ucap Luhan dengan cengiran khasnya.
“Muka tante milip cama Ayah” ucap Naya polos.
~
Lia mendudukkan dirinya di kursi setelah mandi. Di meja makan sudah berisi berbagai macam hidangan yang menggiurkan. Lia bisa melihat Naira yang sibuk membantu Bunda dan Ibu mertuanya. Para Ayah? Oh mereka
sedang bermain catur di ruang tamu. Kesya? Sedang di kamar mengerjakan beberapa tugas rumah.
Lia tidak mendapati Cantika disana, dia yakin bahwa Luhan enggan mengajak Cantika dan lebih memilih mengajak Naira. Lia sudah berkenalan dengan Naira tadi.
“Hei jangan melamun” tegur Naira.
“Eh?...” Lia tersenyum saat melihat Naira menaruh ayam panggang di meja makan.
“Bunda tolong Naya, ada monstel Ayah” ucap Naya berlari memeluk kaki Naira dan berlindung dari kejaran Luhan.
“Kesini kamu anak nakal” Luhan menggelitiki Nya sehingga gadis cilik itu tertawa dan berteriak kegelian.
“Sayang keringin rambut aku dong” Kelva datang dengan rambut basah dan sebuah handuk tergantung di lehernya. Lia mengkode Kelva untuk duduk di sampingnya dan mulai mengeringkan rambut suaminya sesekali memberikan pijatan lembut.
Semuanya sudah berkumpul untuk makan malam. Lia memakan Ayam bakar bagiannya tanpa menggunakan nasi, hanya ayam dan sayur selada.
“Buat aku ya?”ucap Lia hendak mengambil bagian Kelva.
“Ambil” ucap Kelva.
.
.
.
Waktu berlau begitu saja, begitu juga tingkah Alena
yang masih gencar mendekati Kelva. Hal itu membua tKelva geram dan memilih
membawa Lia ke kantornya agar Alena tidak mengganggunya.
“Sini aku bantuin” ucap Lia mengambil beberapa dokumen di meja Kelva untuk di periksa.
“Yakin bisa?” tanya Kelva.
“Oh ngeremehin nih?” ucap Lia tak senang.
“Becanda sayang, iya aku tau kok si Bu ketos pasti bisa” ucap Kelva menggunakan kembali panggilannya saat SMA dulu.
Cklek
“Kelvaa” panggil Alena riang memasuki ruang kerja Kelva tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
“Eits, jaga jarak” ucap Lia menghalangi Alena dan langsung duduk di pangkuan Kelva.
“Ish Awas” ucap Alena menarik Lia dari pangkuan Kelva. Tapi Kelva menahan pinggang Lia dengan erat.
“Mau apa?” tanya Kelva mengelus rambut Lia yang sedang mengendus ketiaknya.
“Makan siang bareng yuk, berdua aja” ucap Alena.
“Mas pengen makan Sate Madura” ucap Lia.
“Oke, kita pergi makan” ucap Kelva menggandeng Lia keluar ruangan. Alena pantang menyerah, dia mengikuti dua sejoli itu.
Alena menahan kekesalannya melihat Lia yang memonopoli Kelva. Hei, seharusnyanya Alena sadar apa posisinya. Lia mengajak Kelva makan di warung sate pinggir jalan yang tidak jauh dari kantor Kelva.
“Mau berapa piring?” tanya Kelva.
“Dua aja dulu” ucap Lia mengikat ramut panjangnya agar tidak mengganggu saat makan nanti.
“Cewek kok makannya rakus banget sampe dua piring” ucap Alena.
“Why? Iri? Aau nggak punya uang buat mesen banyak ups” ucap Lia sinis.
“Mending uangnya di tabung dari pada di belanjaain” ucap Alena sok bijak.
“Oh kamu tenang aja, tabungan suami saya banyak jadi mungkin duitna kelebihan buat beli warung sate ini” ucap Lai sombong. Kelva hanya terkekeh, dia senang dengan sikap judes Lia. sudah lama tidak melihat sikap yang membuat Kelva tertarik itu.
“Loh kalian disini juga?” Luhan datang bersama sekertarisnya.
“Wih kebetulan banget nih, makan siang bareng aja” ucap Kelva.
“Kak Naira apa kabar?” tanya Lia.
“Baik kok, kamu gimana? Naya kangen pengen ketemu katanya” ucap Naira duduk di samping Luhan.
“Aku juga kangen, besok deh aku yang jemput Naya ke rumah Kakak” ucap Lia.
“Kok lo bisa ada di sekitar sini? Kantor lo kan jauh” ucap Kelva.
“Tadinya mau ngobrol masalah kantor sama lo, pas liat jam udah masuk jam makan siang nanti aja pikir gue” ucap Luhan.
Luhan dan Kelva asik berbicara begitu pula Lia dan Naira . Mereka mengabaikan Alena yang sedang mendelik kesal.
“Kok Luhan sama cewek lain? Nggak sama Cantika? Selingkuh ya?” tanya Alena sinis.
“Em maaf mbak tapi saya cuman Sekretaris pak Luhan” jawa Naira dengan senyuman.
Pesanan datang, Lia menghabiskan makanannya. Dia juga meminta tambah yang di perbolehkan Oleh Kelva. Kelva terkekeh saat Lia makan belepotan, sehingga dia mengelap sekitar pipi Lia dengan tisu. Alena kesal, dia diabaikan sedari tadi. Bangkit dari duduknya dan mendorong Lia dngan keras hingga terjatuh ke lantai. Naira kaget dan segera membantu Lia yang meringis kesakitan.
“Kamu apa apaan ha?” bentak Kelva.
“Kamu ngabaiin aku buat cewek kayak dia” teriak Alena tak terima.
“Kamu...”
“Astaga Lia darah” teriak Naira melihat darah mengalir di paha Lia yang terbalut gaun selutut.
“Akh sa-sakit” Lia mencengkram perutnya. Kelva yang panik segera membopong Lia menuju mobil untuk di bawa ke rumah sakit secepatnya.
“Dasar wanita sialan” ucap Luhan datar menyusul Kelva dan Lia diikuti oleh Naira.
“Kenapa nggak mati aja sekalian” ucap Alena.
Kelva mengendarai mobil dengan kecepatan di atas rata rata. Rahangnya mengeras saat mendengar rintihan Lia. saat sampai di rumah sakit, Kelva bak orang kesetanan. Dia berteriak kepada para perawat untuk segera menangani Lia.
“Lo yang tenang Kel” ucap Luhan menahan Kelva yang hendak ikut masuk ke ruangan Lia di periksa.
“Sial, bakal gue habisin tu cewek” geram Kelva.
“Naira tolong kabari keluarga saya” ucap Luhan yang segera saja Naira laksanakan.
Dokter keluar setelah sekitar tiga puluh menit memeriksa Lia.
“Gimana Dok?” tanya Kelva tak sabaran.
“Anda suaminya?” tanya sang Dokter yang diangguki oleh Kelva.
“Bapak tenang saja, mereka aman” ucap sang Dokter.
“Mereka?” beo Kelva bingung.
“Ah jangan katakan bapak tidak tau kalau istri Bapak hamil” ucap sang Dokter.
“Hamil Dok? Terus keadaanya sekarang gimana?” tanya Luhan. Kelva masih blank.
“Mereka baik baik saja, untungnya langsung di bawa kemari. Usia kandungannya masih rentan dengan keguguran jadi harap di perhatikan istrinya. Saya permisi” ucap sang Dokter.
“Bro lo gak papa?” tanya Luhan kepada Kelva yang masih Blank.
“Gue bakal jadi Ayah, Luhan gue bakal jadi Ayah” ucap Luhan dengan gemetar karena senang. Dia langsung masuk ke dalam ruangan tempat Lia berada. Dapat ia lihat Lia sedang duduk di bantu oleh perawat.
Grep
“Sayang makasih banyak” ucap Kelva menghujami wajah Lia dengan kecupan.
“Mas kenapa sih?” tanya Lia.
“Kita bakal jadi orang tua” ucap Kelva.
TBC